NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #20: Perawatan

Di luar tembok Paviliun Pengobatan Langit, Kota Jeokha sedang demam.

Bukan demam penyakit, tapi demam gosip. Cerita tentang kejadian di distrik gudang menyebar lebih cepat daripada kebakaran hutan di musim kemarau.

"Kau dengar? Gudang Silvercrane itu ternyata sarang penyelundupan!"

"Katanya ada mayat hidup yang memakan manusia!"

"Untung ada Murid Sekte Wudang... tapi hei, aku dengar yang membunuh mayat-mayat itu bukan Wudang."

"Benar! Katanya ada seorang pemuda kurus... seingatku julukannya The Emaciated Demon... "

"Dia orang yang sama dengan yang membunuh pemimpin bandit Gang-dol??"

Rumor menyebar. Semakin banyak menyebarnya, semakin terpelintir faktanya.

Bagi rakyat jelata, Geun adalah pahlawan. Sosok misterius yang muncul dari kegelapan untuk menumpas kejahatan yang bahkan penjaga kota tidak berani sentuh.

Namun, di kedai-kedai teh tempat para praktisi Murim berkumpul, nadanya berbeda.

"Teknik apa yang dia pakai? Mematahkan sendi mayat besi? Itu tidak masuk akal."

"Tidak ada catatan tentang aliran bela diri seperti itu di Tujuh Sekte Besar maupun Empat Klan Agung."

"Apakah dia aliran sesat? Atau... monster baru?"

Dunia Murim bingung. Mereka tidak tahu harus menaruh Geun di kotak mana. Dia bukan Ortodoks, bukan Unortodoks, dan untuk saat ini, belum terbukti Sesat.

Sementara dunia di luar sana sibuk berdebat, di dalam kamar perawatan, Geun sedang sibuk dengan urusan yang jauh lebih penting.

"Satu... dua... tiga..."

Geun menghitung koin perak yang dijanjikan.

Tiga murid Sekte Wudang, Baek Mu-jin, Seo Yun-gyeom, dan Jang Min-seok, duduk di kursi tamu, memperhatikan tingkah Geun dengan ekspresi campur aduk.

Geun sudah menghitung ulang kantong uangnya tiga kali.

102 Tael Perak dan 25 koin tembaga. Utuh.

Dan yang paling membuat mata Geun berbinar sampai hampir keluar air mata haru adalah kantong kecil tambahan di sebelahnya.

Dia membukanya. Terpancar cahaya kuning keemasan memantul ke matanya.

Sepuluh keping.

Sepuluh Tael Emas.

Satu tael emas setara dengan seratus tael perak di pasar umum, atau bahkan lebih jika ditukar di pasar gelap.

Total kekayaan Geun sekarang sekitar 1.102 Tael Perak.

"Cukup," gumam Geun, suaranya bergetar. "Ini cukup buat beli rumah besar di desa, dua petak sawah, dan... beberapa kerbau."

"Kami senang kau puas, Saudara Geun," kata Baek Mu-jin tersenyum tipis, meski wajahnya masih agak pucat akibat luka dalam.

"Puas? Aku mau menyembah kalian!" seru Geun. Dia mencoba membungkuk, tapi punggungnya kaku, jadi dia hanya mengangguk-angguk cepat seperti ayam mematuk beras. "Wudang memang paling top! Paling kaya! Paling dermawan!"

Jang Min-seok, yang duduk di paling ujung, mendengus pelan.

"Kau harus berterima kasih pada Kakak Mu-jin. Dia sampai berlutut dan merengek pada Tetua Luar agar mencairkan dana darurat untuk hadiah jasa ini. Dia bilang kalau tidak dikasih, nama baik Wudang akan tercoreng karena mempekerjakan orang luar tanpa bayaran."

Wajah Baek Mu-jin memerah padam. "Min-seok! Tutup mulutmu!"

Geun menatap Mu-jin. Pandangannya berubah.

Dari sumber uang berjalan menjadi sumber uang berjalan yang baik hati

"Terima kasih, Saudara Baek," kata Geun tulus. "Kau orang baik. Kalau kau mau pijat, nanti diskon 50 persen."

Mu-jin berdehem, berusaha mengembalikan wibawanya.

"Ehem. Uang itu pantas kau dapatkan. Tanpa bantuanmu, kami bertiga mungkin sudah mati di gudang itu."

Ekspresi Mu-jin berubah serius.

"Tapi kami datang bukan hanya untuk mengantar uang. Ada berita penting."

Geun segera menyembunyikan uangnya di balik selimut, dekat selangkangannya, tempat paling aman menurut logika gembelnya.

"Berita apa? Jangan bilang aku harus balikin uangnya."

"Bukan," jawab Seo Yun-gyeom. Dia membuka gulungan kertas kecil. "Tentang Silvercrane."

"Cabang Jeokha sudah musnah. Jo Chil-sung mati di tanganmu. Sisa-sisa pengawal dan staf administrasi sudah ditangkap oleh penjaga kota. Dan pagi ini, surat perintah resmi dari Aliansi Murim sudah keluar. Kantor Pusat Grup Dagang Silvercrane di Provinsi Cheonghae sedang digeledah dan dibekukan asetnya."

"Bagus," komentar Geun. "Biar bangkrut sekalian."

"Ada satu hal lagi," tambah Yun-gyeom. "Klan Namgoong sudah bergerak."

"Namgoong? Siapa lagi itu?" tanya Geun polos.

Ketiga murid Wudang itu saling pandang. Mereka lupa kalau Geun buta total soal peta kekuatan Murim.

"Klan Namgoong adalah salah satu dari Empat Klan Agung," jelas Mu-jin sabar. "Mereka penguasa pedang di wilayah Timur. Dari informasi sekte pengemis sebelumnya, karavan lain yang hilang karena diserang itu adalah karavan milik Klan Namgoong."

Geun menelan ludah. "Ah. Karavan yang mati kering..."

"Ya. Klan Namgoong sangat murka. Anggota keluarga mereka dibunuh dan dijadikan pakan mayat hidup. Mereka sudah mengirim surat resmi ke Wudang untuk mengajak kerja sama memburu dalang di balik pembuatan Jiangshi ini."

Geun mengangguk-angguk. "Bagus, kan? Orang-orang kuat saling bantu. Berarti aku aman, kan? Masalah selesai?"

Mu-jin menggeleng pelan.

"Justru sebaliknya, Saudara Geun. Masalah baru dimulai."

Mu-jin mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Musuh kita bukan hanya pedagang nakal. Pembuat Jiangshi itu... orang yang memesan mayat-mayat itu... mereka masih ada di luar sana. Dan sekarang, pasokan mereka terputus, rahasia mereka terbongkar, dan eksperimen mereka hancur."

"Mereka akan mencari kambing hitam," sambung Yun-gyeom dingin. "Dan saksi mata utama yang melihat cara kerja Jiangshi mereka, sekaligus orang yang menghancurkannya... adalah kau."

Ruangan menjadi dingin.

Geun meremas selimutnya.

"Tapi kan ada kalian? Ada Namgoong?"

"Mereka tidak akan menyerang Wudang atau Namgoong secara terbuka," kata Mu-jin. "Mereka akan mengincar target yang paling lunak. Yang tidak punya sekte. Yang sendirian."

Geun menatap kakinya yang terbungkus selimut. Kaki yang tidak bisa dia gerakkan sama sekali.

Dia lumpuh. Dia sendirian. Dan baginya, dia sekarang kaya karena uang banyak, meskipun uang yang dimilikinya tidak seberapa Dimata praktisi bela diri.

Itu adalah resep sempurna untuk mati dirampok dan dibunuh.

"Jadi... aku harus gimana?" tanya Geun, suaranya mengecil. "Aku nggak bisa lari. Kakiku mati rasa."

"Karena itu kami menawarkan solusi," kata Mu-jin.

Dia mengeluarkan sebuah token kayu berukir simbol kura-kura dan ular.

"Ikutlah bersama kami ke Provinsi Jiangnan. Ke Balai Penjaga Jalur Tengah."

"Balai apa?"

"Itu adalah kantor cabang utama Wudang di wilayah tengah," jelas Mu-jin. "Bukan Gunung Wudang pusat, tapi benteng yang sangat aman. Di sana ada fasilitas medis yang lebih lengkap, dan dijaga oleh ratusan murid."

"Kami menawarkan perlindungan penuh dan perawatan lanjutan sampai kau sembuh," lanjut Mu-jin. "Sebagai gantinya, kau hanya perlu tinggal di sana dan... tersedia jika kami butuh informasi tambahan."

Geun menatap token itu.

Otak bekerja.

"Perlindungan? Terdengar bagus. Tapi tersedia? Itu bahasa halus untuk tahanan rumah. Mereka mau mengawasiku. Mereka mau menelitiku. Mereka takut aku jadi gila dan membunuh orang lagi." batin Geun.

Tapi Geun melihat realita.

Dia menatap kakinya yang tidak berguna.

Jika dia keluar dari klinik ini sendirian sekarang, dia tidak akan bertahan satu malam. Pembunuh, atau bahkan preman pasar biasa yang tahu dia punya emas pasti akan menghabisinya.

"Makanannya gimana?" tanya Geun tiba-tiba.

Mu-jin terkedip. "Eh? Makanan?"

"Iya. Di Balai Penjaga itu. Makanannya ditanggung kan?"

"Tentu saja. Tiga kali sehari."

"Ada dagingnya?"

"Kami... mayoritas vegetarian, tapi untuk pasien yang butuh pemulihan, daging disediakan," jawab Mu-jin ragu.

Geun menghela napas panjang.

"Ya sudah. Aku ikut."

Dia menyandarkan kepalanya ke bantal empuk.

"Tapi ingat ya. Aku bukan murid kalian. Aku tamu. Begitu kakiku sembuh, aku pergi. Aku mau beli sawah."

"Sepakat," kata Mu-jin tersenyum lega.

"Kapan berangkat?"

"Besok pagi. Kereta kuda sudah disiapkan," jawab Yun-gyeom.

Ketiga murid Wudang itu pamit undur diri untuk mempersiapkan keberangkatan.

Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Geun menghilang.

Dia menatap langit-langit yang dilukis indah.

Dia merasa seperti burung yang baru saja masuk ke dalam sangkar emas.

Aman dari kucing, tapi tidak bisa terbang.

"Nggak masalah," hibur Geun pada dirinya sendiri sambil menepuk kantong emas di selangkangannya. "Anggap saja liburan gratis. Begitu aku bisa jalan, aku kabur lewat jendela."

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!