NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegiatan Sosial Itu Harus dari Hati

“Tidak bisa dibiarkan. The Executioners harus lebih dulu bergerak sebelum Kelelawar Hitam bergerak,” gumam Axel.

Dia menulis pesan ke Erick:

“Rick, aku ada ide supaya The Executioners tampil lebih dulu dalam kegiatan sosial daripada Kelelawar Hitam. Ini kesempatan bagus agar The Executioners dapat poin.”

Tak lama kemudian balasan dari Erick masuk:

“Apa itu, bro?”

Axel menjawab pesan WhatsApp Erick:

“Kita akan bagi-bagi sembako di jalan raya dekat sekolah.”

“Tapi kan jalan situ sempit dan ramai?” jawab Erick.

“Tenang aja, selama kita bertujuan baik, nggak akan terjadi apa-apa,” balas Axel lewat WhatsApp.

Erick tidak menjawab. Sepertinya dia tidak senang dan tidak setuju dengan jawaban Axel yang berkesan menggampangkan, serta tidak menunjukkan niat tulus untuk beraksi sosial, hanya sekadar ingin tampil lebih dulu dari Geng Kelelawar Hitam.

Esoknya, Axel mengirim pengumuman ke grup WhatsApp The Executioners:

“Semua anggota The Executioners diharapkan mengumpulkan donasi berupa sembako. Rencananya The Executioners akan mengadakan bakti sosial berupa bagi-bagi sembako ke masyarakat sekitar sekolah.”

Banyak yang berkomentar soal pengumuman dari Axel itu, kecuali Erick.

Beberapa jam setelah pesan itu dikirim, donasi sembako berdatangan. Ada beras, kecap, mi instan, gula, dan lain-lain. Semua sumbangan dikumpulkan di rumah Setyo yang tinggal tidak jauh dari SMA Tunas Bangsa. Semakin hari, sumbangan dari para anggota The Executioners makin banyak. Hari Minggu ini The Executioners sudah bisa menjalankan kegiatan sosialnya. Hal itu membuat Axel menyeringai penuh kemenangan.

Di kantin, Rommy dan Sonny berdiskusi mengenai rencana kegiatan sosial Kelelawar Hitam.

“Rom, kita kalah langkah nih. The Executioners jalan duluan. Mereka mau bagi-bagi sembako ke masyarakat hari Minggu besok, sedangkan kita belum apa-apa,” kata Sonny.

“Tenang aja. Masalah donasi atau kegiatan sosial itu bukan soal dulu-duluan,” jawab Rommy sambil minum es kelapa mudanya. “Ini masalah niat dan hati.”

“Hati siapa?”

Tiba-tiba Mauren muncul, membuat Rommy kembali grogi.

“Ha… hatiku,” jawab Rommy gugup. “Eh, maksudku hatimu…”

Mauren tersenyum sambil berkata, “Jang gagawang, tenang jo.”

Karena Rommy kikuk, Sonny mencoba menjelaskan,

“Begini, Ren. Rommy mau bikin acara bakti sosial di sebuah panti jompo. Katanya, urusan donasi itu bukan sekadar gagah-gagahan, tapi harus pakai niat dan hati.”

“Ooo, itu maksudnya,” kata Mauren. “Kalau perlu bantuan, bilang saja. Aku juga tertarik bantu kalau dibutuhkan.”

Cring!

Tiba-tiba Rommy punya ide. Hanya dia sendiri yang tahu ide itu.

Hari Minggu tiba, dan hari-H acara bagi-bagi sembako The Executioners pun dimulai. Axel menyewa mobil bak untuk mengangkut sumbangan yang sudah terkumpul di rumah Setyo.

Awalnya acara berlangsung lancar. Axel tertawa penuh kemenangan.

Namun makin siang, suasana makin tidak teratur. Orang-orang mulai berebut, bahkan ada yang naik ke bak mobil untuk mengambil sembako sendiri.

“Hoy, baginya jangan klemer-klemer dong!” teriak seorang pria sambil naik ke bak mobil dan mengambil paket sembako.

“Hei, jangan dorong-dorong! Saya mau jatuh!” teriak seorang ibu.

Karena tidak sabar, beberapa orang merebut paket sembako yang akan dibagikan.

Situasi menjadi semakin tidak terkendali, dan beberapa orang terjatuh serta terluka akibat kericuhan itu.

Keesokan harinya, Axel, Erick, dan beberapa pentolan The Executioners dipanggil menghadap Kepala Sekolah, Pak Sajit.

“Saya mendengar dari beberapa guru tentang kekacauan kegiatan yang kalian adakan kemarin. Tolong jelaskan,” tanya Pak Sajit di ruangannya.

Axel menunduk, lalu menjawab, “Kami mengadakan acara itu atas inisiatif kelompok kami sendiri, Pak.”

“Membawa-bawa nama sekolah?” tanya Pak Sajit.

“Tidak, Pak. Murni kelompok kami saja,” jelas Axel.

“Tapi semua atau sebagian besar pesertanya murid sekolah ini?” tanya Pak Sajit lebih dalam.

“Benar, Pak,” jawab Axel terpojok.

“Walaupun tidak mengatasnamakan sekolah, kalau yang mengadakan adalah murid sekolah ini, masyarakat akan menganggap sekolah yang bertanggung jawab,” kata Pak Sajit bijak. “Dan kalian tidak pernah berkoordinasi atau minta izin dengan pihak sekolah.”

Axel dan Erick hanya bisa menunduk.

“Acara itu berlangsung rusuh dan menyebabkan beberapa orang terluka,” lanjut Pak Sajit. “Sekarang Pak Lurah meminta penjelasan dari sekolah. Apa yang harus saya jelaskan?”

“Kami minta maaf, Pak. Kami juga tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini,” jawab Axel pelan.

“Bapak mengerti niat kalian baik,” kata Pak Sajit. “Tapi sekolah juga tidak bisa lepas tangan.”

Erick cuma bisa diam saja. Dalam hatinya, ia merasa nggondok setengah mati karena ikut terkena imbas masalah ini, padahal sejak awal ia sebenarnya sudah tidak setuju.

Siangnya, pihak sekolah mengumumkan bahwa setiap kegiatan yang melibatkan murid SMA Tunas Bangsa, meskipun tidak mengatasnamakan sekolah, tetap wajib meminta izin dan berkoordinasi dengan pihak sekolah.

Pengumuman itu direpost oleh beberapa anggota Kelelawar Hitam ke grup WhatsApp Kelelawar Hitam.

Sepulang sekolah, beberapa anggota Geng Kelelawar Hitam mengadakan rapat darurat di warung bakso dekat sekolah.

“Kita harus ambil pelajaran dari kasus The Executioners,” kata Ricardo.

“Gua sempat panas karena mereka bergerak lebih dulu,” sambung Sonny. “Untung Rommy nggak gegabah.”

“Kan gua bilang, berkegiatan sosial itu bukan soal gagah-gagahan atau kompetisi. Semua harus dari hati,” ujar Rommy. Anehnya, setiap mengucapkan kata hati, wajah Mauren selalu terbayang.

“Pelajaran pentingnya, kita harus minta izin dan berkoordinasi dengan sekolah,” kata Ricardo.

“Gua juga sudah mikirin itu, Ric. Bahkan gua sudah mikir mau dibawa ke mana Geng Kelelawar Hitam ini,” kata Rommy.

“Bisa dijelasin, bro?” tanya Sonny.

“Bakti sosial di panti jompo akan jadi titik balik Kelelawar Hitam,” jelas Rommy. “Dari sekadar geng berandalan jadi kelompok dengan kegiatan positif. Anggotanya pun bukan cuma anak berandalan, semua bisa bergabung.”

“Wah, ini baru ketua,” ujar Fenly yang biasanya pendiam.

“Yang penting, kejadian kayak The Executioners nggak terjadi di bakti sosial kita,” kata Rommy. “Dan gua sudah survei beberapa panti jompo di sekitar sini.”

Rommy lalu mengirim beberapa nama panti jompo ke grup WhatsApp Kelelawar Hitam.

“Kalau ada komentar, tidak setuju, atau masukan, silakan komen,” tulis Rommy di pesan WhatsApp itu.

Sorenya, Rommy, Sonny, dan beberapa anggota Kelelawar Hitam latihan di Sasana Tinju Bulungan. Tampak Mauren sudah hadir dengan pakaian olahraganya, sedang melakukan pemanasan kecil, sementara Coach Barda masih sibuk melatih member yang lain.

Mauren kemudian menghentikan senamnya dan mendekat ke arah Rommy. Rommy berdesir kegeeran karena didekati Mauren.

“Aku sudah dengar persaingan gengmu Kelelawar Hitam dengan geng The Executioners. Sekadar kamu tahu, walau aku penggemar bela diri, aku benci kekerasan,” kata Mauren galak. “Dan aku nggak mau acara di panti jompo jadi ajang gagah-gagahan seperti acara The Executioners kemarin.”

“Ah, eh…” entah kenapa kalau berhadapan dengan Mauren, Rommy—si ketua geng yang biasanya pede—jadi salting.

Sonny yang melihat itu segera paham dan menjelaskan kepada Mauren.

“Maaf, gua boleh nimbrung? Biar gua jelaskan sedikit ke elu, Ren,” kata Sonny.

“Barusan kami rapat di warung bakso dekat sekolah. Belajar dari kasus The Executioners, dalam kegiatan nanti Kelelawar Hitam akan berkoordinasi dan minta izin ke sekolah sebelum melakukan kegiatan sosial di panti jompo,” jelas Sonny. “Nih, ketua Kelelawar Hitam barusan kirim pesan soal itu ke grup WhatsApp Kelelawar Hitam. Baca sendiri kalau nggak percaya.”

Mauren membaca pesan WhatsApp di HP Sonny yang disodorkan kepadanya.

Setelah berhasil menguasai dirinya, Rommy menimpali, “Aku pernah bilang, berkegiatan sosial itu bukan untuk gagah-gagahan, tapi harus dari hati.”

“Awas, bicara hati lagi nanti lemes lagi,” goda Mauren.

“Mari, anak-anak, kita buka latihan sore ini dengan doa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing,” kata Coach Barda sambil memimpin doa.

Ketika mereka berdoa bersama, datang papa Mauren, Logan Korompis, dan kakak Mauren, Andre Korompis, ke sasana itu.

 

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!