NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Antara Dominasi, Teror Micin, dan Ancaman Bagaskara

Malam di apartemen itu benar-benar menjadi saksi bisu betapa "berbahayanya" seorang Antares Bagaskara ketika teritorinya terusik. Di bawah temaram lampu kamar, Zea sudah tidak berdaya. Ia meracau, memohon ampun, hingga suaranya serak, namun Antares seolah tuli.

"Mas... udah... ampun, Mas Antar," isak Zea pelan, tangannya yang lemas mencoba mendorong bahu kokoh suaminya. "Aku capek, Mas... besok ada kelas pagi..."

Antares justru makin mengunci pergerakan Zea. Ia membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Zea meremang. "Kamu punya tenaga buat dengerin tantangan Raka di kantin, Zea. Kamu punya tenaga buat biarin Sarah teriak-teriak soal status kamu. Jadi, kamu pasti punya tenaga buat saya malam ini."

Antares mengabaikan semua rintihan manja Zea. Baginya, setiap desahan Zea adalah pengakuan kepemilikan. Ia "menghukum" Zea dengan cara yang paling intens, memastikan bahwa setiap inci tubuh istrinya hanya mengingat sentuhannya, bukan gangguan dari cowok-cowok di kampus.

Keesokan paginya, Zea bangun dengan perasaan seperti habis ditabrak satelit. Ia menatap cermin dengan horor. Lehernya penuh dengan "stempel" merah keunguan yang sangat mencolok.

"Gila... Mas Antar bener-bener gila," umpat Zea sambil mati-matian menempelkan concealer tebal dan memakai baju turtleneck meskipun suhu Jakarta sedang tidak bersahabat.

Di kampus, Zea berusaha jalan secepat mungkin menuju studio, tapi takdir berkata lain. Di tengah koridor, Raka dan geng basketnya sudah menghadang. Raka, dengan gaya sok kerennya, memutar bola basket di telunjuknya.

"Pagi, Ze. Tegang amat? Tadi gue liat lu pucet banget, abis begadang ngerjain maket atau begadang sama 'level dewa'?" tanya Raka sambil menyeringai sinis.

Zea mencoba menghindar, tapi Raka menyodorkan sebuah botol minuman dingin. "Nih, minum dulu biar seger. Lu kelihatan butuh asupan energi."

Puk!

Tiba-tiba sebuah tangan besar merebut botol itu dari tangan Raka. Itu Antares. Dia berdiri di belakang Zea, auranya begitu dingin hingga Raka refleks mundur selangkah. Antares langsung membuang botol itu ke tempat sampah terdekat tanpa ekspresi.

"Dia tidak butuh minuman dari kamu, Raka," ucap Antares tegas. "Zea Anora, masuk ke kelas sekarang. Kamu terlambat tiga menit."

Raka tertawa hambar. "Wah, protektif banget ya, Pak Dosen. Ada apa nih? Kok kayaknya bapak emosian banget?"

Antares menatap Raka dengan tatapan "Bagaskara" yang mematikan. "Saya tidak suka melihat mahasiswa saya membuang waktu untuk hal sampah di koridor saya. Pergi ke lapangan kamu sebelum saya panggil Dekan untuk meninjau beasiswa atlet kamu."

Raka terdiam, nyalinya menciut. Setelah Raka pergi, Antares menoleh ke Zea. "Masuk," perintahnya singkat.

Interogasi Sarah dan Rahasia yang Terancam

Begitu sampai di studio, Zea langsung menarik Sarah ke pojokan. "Sar! Lu bener-bener ya! Kenapa lu harus bilang gue udah ada yang punya di kantin? Lu tau nggak Raka jadi makin nyari gara-gara!"

Sarah meringis, wajahnya penuh rasa bersalah. "Aduh Ze, maaf! Gue tuh emosi denger mereka ngatain lu simpenan! Gue refleks bilang lu punya cowok level dewa."

"Gara-gara mulut lu, semalam gue 'dihukum' habis-habisan sama Mas Antar, Sar!" Zea keceplosan.

Sarah melotot. "Hah? Dihukum gimana? Wah... pantesan lu pake turtleneck di cuaca panas begini. Mas Antar ternyata... ganas juga ya?"

"BERISIK!" Zea menutup mukanya yang merah padam.

Namun, ketenangan mereka tidak bertahan lama. Dari kejauhan, Raka yang masih penasaran ternyata tidak benar-benar pergi. Dia memperhatikan interaksi Zea dan Sarah dari balik pintu. Raka merasa ada yang sangat tidak wajar antara dosen astronomi itu dengan mahasiswi arsitektur ini.

"Level dewa... Dr. Antares... Bagaskara," gumam Raka sambil mencari nama 'Bagaskara' di mesin pencari ponselnya.

Mata Raka membelalak saat melihat hasil pencarian teratas: "Bagaskara Health Group: Dinasti Medis Terbesar di Indonesia." Dan di sana, tertera nama Antares sebagai pewaris tunggal yang "menghilang" dari dunia bisnis demi ilmu pengetahuan.

Raka menyeringai. "Jadi ini rahasia kalian? Menarik. Mari kita lihat gimana reaksi kampus kalau tau dosen kesayangan mereka adalah pangeran Bagaskara yang sudah punya istri mahasiswinya sendiri."

Ketegangan di koridor antara Antares dan Raka belum benar-benar reda ketika tiba-tiba suasana kampus menjadi sangat riuh. Sebuah iring-iringan tiga mobil sedan hitam mewah bermerek Mercedes-Benz berhenti tepat di lobi utama gedung fakultas. Beberapa pria tegap berbaju safari turun, menghalau mahasiswa yang sedang lewat.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas custom-made yang memancarkan aura otoritas mutlak keluar dari mobil tengah. Tuan Baskoro Bagaskara. Pemilik imperium kesehatan terbesar di negeri ini.

Raka yang tadinya sok jagoan langsung mematung. Siapa pun di Indonesia tahu wajah pria itu.

"Siapa itu, Ze?" bisik Sarah sambil gemetaran di samping Zea.

Zea tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Ia menatap Antares, dan ia melihat suaminya itu mengepalkan tangan begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Tuan Bagaskara berjalan mendekat, setiap langkahnya seperti detak jam menuju eksekusi. Ia berhenti tepat di depan Antares dan Zea. Matanya yang tajam menatap Zea dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah sedang melakukan CT-scan mental.

"Antares," suara Tuan Bagaskara berat dan tenang, namun tidak bisa dibantah. "Ikut Papa pulang. Sekarang. Bawa istrimu juga."

DEG.

"Istrimu?" bisik mahasiswa di sekitar yang mendengarnya. Kasak-kusuk langsung menyebar seperti api di tengah padang rumput kering.

Antares maju satu langkah, menutupi tubuh Zea. "Papa sedang apa di sini? Jangan bawa urusan pribadi ke tempat kerja saya."

"Urusan pribadi kamu sudah jadi tontonan satu kampus lewat video murah itu, Antares," balas Tuan Bagaskara dingin. "Kamu punya dua pilihan. Masuk ke mobil dengan tenang, atau Papa perintahkan orang-orang ini untuk menggendong istrimu masuk ke dalam mobil secara paksa."

Antares menggeram rendah. Ia tahu ayahnya tidak pernah main-main. Akhirnya, ia menoleh ke Zea dan menggenggam tangannya erat. "Ayo. Jangan jauh-jauh dari saya."

Di Rumah Utama Bagaskara: Sidang Tertutup

Rumah utama keluarga Bagaskara lebih mirip istana daripada tempat tinggal. Begitu sampai di ruang kerja pribadi yang luas, Tuan Bagaskara duduk di kursi kebesarannya, sementara Antares dan Zea berdiri di depannya.

"Jadi, gadis ini yang bikin kamu nekat nikah siri tanpa izin Papa?" tanya Tuan Bagaskara sambil menatap Zea intens.

"Bukan dia yang bikin nekat. Keadaan yang memaksa," jawab Antares ketus. "Dan Zea adalah istri sah saya secara agama. Saya bertanggung jawab penuh."

Zea cuma bisa nunduk sambil remas ujung bajunya. Dia bener-bener ngerasa kayak butiran debu di tengah dua raksasa ini. "Ma-maaf, Om... eh, Papa..." cicit Zea takut-takut.

Tiba-tiba, Tuan Bagaskara menghela napas panjang. Ekspresi kerasnya mendadak runtuh. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap langit-langit ruangan.

"Dua puluh tahun Papa nunggu kamu bawa cewek ke rumah ini, Antares. Kamu selalu nolak perjodohan, selalu asyik sama bintang-bintang di langit sampai Papa takut kamu bakal hidup sendirian tanpa keturunan," ucap Tuan Bagaskara dengan nada yang jauh lebih manusiawi. "Jujur, Papa lega. Setidaknya ada satu manusia di bumi ini yang bisa ngeruntuhin dinding es kamu."

Antares terpaku. Ia tidak menyangka ayahnya akan bicara seperti itu.

Tuan Bagaskara bangkit berdiri, berjalan mendekati Zea, lalu menepuk bahu Zea pelan. "Zea, ya? Terima kasih sudah mau ngurus anak kaku ini. Papa nggak masalah kamu siapa, tapi karena video itu sudah viral, Papa nggak mau nama Bagaskara dibilang skandal. Minggu depan, kita buat resepsi resmi. Papa mau dunia tahu kalau kamu adalah menantu Bagaskara yang sah."

"Resepsi?! Tapi Zea belum lulus, Pa!" protes Antares.

"Biar satu dunia tahu dia milik kamu, Antares. Bukannya itu yang kamu mau? Biar nggak ada lagi kroco-kroco kampus yang gangguin istri kamu?" Tuan Bagaskara tersenyum miring—senyum yang persis seperti Antares saat sedang licik.

Zea melongo. Dari dosen posesif, sekarang dia punya mertua yang jauh lebih posesif.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!