Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah dengan Pria Beristri?
Lily menikmati makanannya tanpa sedikit pun menaruh perhatian pada orang lain. Garpu dan pisaunya bergerak tenang, tak membiarkan tatapan sinis dari dua orang di depannya merusak nafsu makannya.
Pangeran Alaric melirik roti panggang dengan saus amber di piring Lily, aromanya lembut namun menggoda. Cara Lily menyuapkan makanan ke mulutnya, membuat perut kecil Alaric bergejolak.
Pangeran Adric merasakan hal yang sama. Tenggorokannya bergerak pelan saat menelan ludah. Padahal di depan mereka tersaji hidangan serupa, namun entah mengapa… piring wanita yang mereka sebut 'nenek sihir' itu tampak jauh lebih menggugah selera.
“Kenapa makanannya terlihat sangat enak?” batin mereka bersamaan.
Lily tersenyum tipis, menyadari arah pandang mereka. Dengan gerakan anggun, ia memutar tubuhnya sedikit, membuat mata kedua bocah itu terpaku semakin dalam.
“Rasakan,” batinnya penuh kepuasan.
King Cristopher meletakkan sendoknya ke piring. Ketika sang raja melakukannya, anggota keluarga lain langsung mengikuti. Namun tidak dengan dengan Lily yang memilih untuk tetap makan, perutnya lebih penting dari apa pun.
“Anda makan dengan sangat lahap, Your Majesty.” suara Jandice terdengar lembut namun beracun. “Hutan memang tidak menyediakan makanan semewah ini.”
Lily menelan suapan terakhirnya dengan sempurna. Ia menyeka sudut bibirnya perlahan lalu menoleh, bukan pada Jandice, melainkan pada Cristopher.
“Apa Anda tidak pernah mendidik anggota keluarga kerajaan untuk memahami etika di meja makan, Your Majesty?” ucap Lily tenang, nyaris dingin.
Ia melirik Jandice, melihat penampilannya yang dibalut gaun mewah dan perhiasan berkilau.
“Ia dibalut kemewahan istana, namun pembawaannya tidak lebih dari manusia jalanan.” lanjut Lily datar, tidak berapi-api tapi menusuk.
Pengawal dan pelayan di dalam ruangan saling melihat. Jandice, wanita yang biasanya berkuasa di dalam istana, kini tak ada apa-apanya dibanding Queen Liliane.
“Kau…!” Jandice berdiri mendadak, kursinya berderit keras. Ia bermaksud untuk menyulut amarah gadis hutan itu, namun amarah itu justru berbalik padanya.
Punggung Lily tetap rileks, tak ada emosi di wajahnya.
“Aku tidak terbiasa berurusan dengan betina serakah.” katanya tersenyum miring, “Jadi lebih baik tutup mulutmu, sebelum aku menutupnya dengan caraku sendiri.”
Jandice bergetar menahan amarah. Ia menoleh cepat pada Cristopher, suaranya berubah lirih dan lembut.
“Kakak…” panggilnya menyedihkan. “Dia mengancamku secara terang-terangan. Tolong berikan aku keadilan.”
Cristopher menatap meja makan tanpa ekspresi. “Duduk!” perintahnya dingin.
Suasana di meja makan seketika menegang. Jandice duduk kembali di kursinya, dadanya naik turun menahan amarah. Ia sangat yakin, King Cristopher akan menghukum ratunya. Keyakinan itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
Namun suara Cristopher mematahkan harapan itu berkeping-keping.
“Aku tidak suka menjelaskan sesuatu yang sudah tertulis jelas dalam hukum kerajaan.” ujar Cristopher datar.
Lily mengangkat wajahnya, tatapannya lurus dan tidak meminta belas kasihan.
“Liliane adalah Queen Kingdom Conqueror,” lanjut Cristopher. “Perintahnya adalah kewajiban setelah perintah raja.”
Senyum Jandice runtuh seketika.
“Kakak…” suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca. Namun sang raja bahkan tidak menoleh padanya.
Cristopher bangkit berdiri, lalu menoleh pada kedua pangeran. “Pangeran Adric! Pangeran Alaric! Segera ke Royal Palace sekarang.”
Kedua bocah itu membeku, wajahnya seketika memucat. Tubuh kecil itu gemetar sebelum akhirnya turun dari kursi tanpa suara.
“Baik, Your Majesty.”
Lily meletakkan serbetnya dengan tenang di atas meja. “Kalau begitu, aku juga akan kembali ke kediamanku.”
“Queen Liliane!” Suara Cristopher menghentikan langkah Lily.
“Kau juga ikut ke Royal Palace. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.” Suaranya dingin, tak ada celah untuk tawar menawar.
“Kalau begitu aku juga ikut, Kakak.” sela Jandice cepat, tidak ingin tertinggal.
Tatapan Cristopher menyambar tajam ke arahnya.
Sandra langsung berdiri dan menarik tangan putrinya. “Jangan memancing murka Raja.” bisiknya cepat, suaranya rendah namun penuh peringatan.
Jandice mengepalkan tangannya di balik gaun. Dadanya panas, harga dirinya tercabik-cabik. Namun ia terpaksa diam, tak ingin Cristopher kehilangan ketertarikan padanya. Kali ini ia akan membiarkan mereka bersama, tapi tidak untuk besok dan setelahnya.
Cristopher melangkah lebih dulu meninggalkan ruang makan. Para pengawal segera menunduk hormat, membuka jalan bagi sang raja.
Lily mengikuti bersama kedua pangeran kecil di belakangnya. Wajahnya datar, jelas tidak antusias. Baginya, kembali ke Royal Chambers dan menghabiskan waktu bersama Eri jauh lebih menyenangkan daripada harus berurusan dengan pria dingin tanpa emosi itu.
Mereka tiba di Royal Palace. Ketika pintu tertutup dari luar, keheningan menyelimuti ruangan. Cristopher berdiri dengan kedua tangan terlipat di belakang. Tatapannya tajam, menghujam kedua anak di hadapannya.
“Kenapa kalian tidak menghadiri kelas etiket hari ini?” tanyanya dingin, nadanya mengandung penghakiman. Jelas sang raja sudah mengetahui apa yang terjadi, sebelum menyidang keduanya di sini.
Pangeran Adric dan Alaric saling pandang, lalu melirik ke arah Lily. Lily sendiri tidak menunjukkan minat apa pun. Ia berdiri tenang, mengamati tanpa ikut campur. Sekali lagi, ia tidak ingin menambah masalah dalam kehidupannya yang sudah kacau ini.
Cristopher meraih sebatang kayu dari atas meja tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua pangeran. “Tidak ada yang mau bicara?” tanyanya menekan, ada ancaman dalam kalimatnya.
Pangeran Adric mengepalkan tangannya, “Kami tidak mau belajar etiket lagi!” teriaknya di depan Cristopher, meski suaranya bergetar menahan takut.
Tatapan Cristopher mengeras. “Berani sekali kau meninggikan suara di hadapanku.”
Plak! Kayu itu menghantam betis Adric tanpa kendali.
“Ah…!”
Tubuh kecil itu terhuyung ke lantai, wajahnya meringis menahan sakit.
Saat itu juga Lily membola, tubuhnya bergerak spontan mendorong Cristopher menjauh.
“Apa kau sudah kehilangan akal?!” bentaknya marah. Ia memang tidak menyukai anak-anak, namun kekerasan tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya sejak ia kecil. Melihat anak-anak diperlakukan seperti itu, membuat nuraninya terusik.
Adric menangis tertahan, sementara Alaric langsung terisak melihat kakaknya kesakitan. Adric menggenggam tangan adiknya erat, seolah mengatakan ia baik-baik saja tanpa suara.
Cristopher menarik tangan Lily kasar. “Siapa kau berani ikut campur urusanku! Apa kau lupa batasanmu, Liliane?” katanya penuh amarah.
Lily menghempaskan tangannya. “Aku tidak peduli apa pun yang kau lakukan,” balasnya dingin namun tajam, “tapi jangan lakukan itu di depan mataku.”
Alaric tiba-tiba maju, lutut kecilnya menghantam lantai.
“Maafkan kami, Papa…” katanya lirih sambil bersujud. “Tolong jangan pukul kakak lagi.”
Papa?
Lily membeku.
“Pa… pa?” gumamnya pelan. Matanya berpindah dari Alaric, ke Adric, lalu Cristopher.
Anak-anak ini… anaknya? Berarti aku menikah dengan pria beristri? Kepalanya berdenyut hebat. Ia baru saja menyadari betapa sedikit yang ia ketahui tentang pria yang kini terikat namanya.
Cristopher menatap kedua putranya tanpa ekspresi.
“Pergi ke halaman!” perintahnya dingin. “Berdiri di sana sampai besok. Kalian tidak diizinkan tidur di kamar malam ini.”
“Baik, Papa.” kata Alaric mengangguk patuh, lalu segera membantu Adric berdiri.
Tanpa membantah lagi, keduanya berjalan tertatih menuju tempat yang sudah terlalu familiar. Tempat hukuman demi hukuman yang mereka dapatkan, setiap kali melakukan kesalahan.
Lily menatap punggung kecil itu miris. Istana ini… benar-benar tidak waras.
Ayahanda…
Ibunda…
Takdir apa yang sedang kujalani sekarang?
Semangattt terus mbak penulis sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹
Terimakasih up nya hari ini 🙏🙏
Aq kasih kopi biar tambah semangat mengerjai raja yang ingin mengerjaimu Lili💪
Dan zonk lah harapan Chris untuk berduaan dengan Liliane 😛🔥