NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Rahasia Leluhur Daeng Tasi

Bab 16: Rahasia Leluhur Daeng Tasi

Pagi itu matahari barus saja naik di atas lereng bukit Padeglang, cahayanya lembut menyusup melalui celah-celah daun rumbia atap rumah Pak Kades, menciptakan garis-garis emas tipis di lantai kayu yang sudah aus. Udara masih sejuk sisa embun malam, bercampur aroma daun teh yang baru diseduh dan tanah basah dari hujan semalam. Di ruang tengah rumah yang sederhana itu, Daeng Tasi duduk bersila di atas tikar pandan, di depannya terbentang kain putih kecil yang biasanya dipakai untuk sajadah. Di atas kain itu, ia meletakkan sebuah benda yang selama ini disembunyikan dalam peti kayu jati tua milik ayahnya: sebuah badik leluhur Bugis-Makassar.

Badik itu bukan senjata biasa. Bilahnya pendek, lurus anggun, terbuat dari besi pamor yang sudah berusia ratusan tahun, permukaannya berpola garis-garis gelap seperti urat kayu yang hidup. Gagangnya dari tanduk kerbau hitam pekat, diukir halus dengan motif sulur-sulur dan Ayam Jantan—simbol kekuatan dan perlindungan dari leluhur Kesultanan Gowa. Konon, badik ini dibuat oleh seorang Pande--semacam empu kalau di Jawa--sakti di zaman Sultan Hasanuddin, ditempa dengan doa dan darah kemenangan melawan VOC. Ayah Daeng Tasi—Haji Daeng Ambo—pernah bilang: “Badik ini bukan untuk membunuh manusia, tapi untuk memotong apa yang tak terlihat—ikatan gaib, tali dendam, dan bayang yang mengikat jiwa.”

Daeng Tasi memegang gagang badik itu dengan kedua tangan, jari-jarinya yang kasar karena tahun-tahun memegang kemudi kapal dan tali tambang terasa dingin menyentuh tanduk tua itu. Di sampingnya, Bang Jaim dan Kang Mamat duduk diam, napas mereka tertahan. Botol kecil air suci dari sumur masjid—yang sudah dibacakan doa oleh Bang Jaim—diletakkan di depan badik. Udara ruangan terasa lebih berat, seperti ada sesuatu yang menunggu untuk dibuka.

“Aku tidak pernah nyentuh badik ini,” gumam Daeng Tasi, suaranya rendah seperti doa. “Ayah bilang... kalau waktunya tiba, badik ini akan bicara sendiri.”

Bang Jaim mengangguk pelan. “Coba kita uji, Kak. Gabungkan dengan mantra dan air suci seperti kemarin malam. Kalau hipotesis mutasi gaib benar, badik ini mungkin bisa ‘melihat’ asal-usul dendam Mbah Saroh.”

Daeng Tasi mengambil botol air suci, menuang sedikit ke telapak tangan kirinya. Air itu jernih, tapi saat menyentuh kulitnya terasa hangat seperti ada kehidupan di dalamnya. Ia mencelupkan ujung bilah badik ke air itu, lalu mulai melantunkan mantra Bugis-Makassar yang diajarkan Bang Jaim semalam—mantra yang bahkan ia sendiri baru hafal sepintas:

“Bismillah... ya Allah, buka tabir yang tersembunyi. Potong ikatan yang mengikat jiwa tersiksa. Tunjukkan kebenaran dari masa lalu, agar hati kami mengerti dan memaafkan. Ya Rahman, ya Rahim... lepaskan bayang yang menutup mata...”

Saat kata terakhir terucap, badik itu bergetar pelan di tangan Daeng Tasi. Getaran itu kecil dulu, seperti denyut nadi, lalu semakin kuat—seolah besi pamor itu hidup, bernapas. Cahaya pagi yang masuk dari jendela tiba-tiba membias di bilah badik, menciptakan pelangi kecil yang berputar di ruangan. Dan dari pelangi itu, muncul visi—seperti gambar kabur yang perlahan jelas di udara.

Mereka bertiga membelalak. Visi itu seperti lukisan hidup yang terbentuk dari asap tipis:

Mbah Saroh muda berdiri di tepi sungai hutan, perutnya membuncit hamil muda, wajahnya cantik tapi penuh air mata. Suaminya—seorang pemuda desa—tergeletak tak bernyawa di tanah, dada ditusuk bayonet patroli Inggris-Belanda yang baru saja menodai Istrinya. Darah masih mengalir segar dari luka itu. Mbah Saroh berlutut, tangannya memeluk tubuh suami, menangis tanpa suara. Warga desa datang, tapi bukan untuk membantu—mereka menuding, “Pembawa sial! wanita penuh noda Suamimu mati karena kau! Pergi dari desa ini!”

Mbah Saroh diusir, sendirian di pinggir hutan. Malam itu, di tepi sungai yang sama, Raja  Biawak muncul dari kedalaman air—tubuhnya licin bersisik hijau kehitaman, mata kuning vertikal menyala, ekor panjang bergoyang pelan. “Manusia... kau punya dendam?” tanya jin itu, suaranya seperti gemuruh air deras. Mbah Saroh menangis, menceritakan semuanya. Raja  Biawak tersenyum—senyum lebar penuh gigi runcing. “Aku beri kekuatan. Tapi kau harus layani aku... tubuhmu, jiwamu... dan jiwa orang lain sebagai tumbal.”

Visi berganti: Mbah Saroh membantu warga dengan ilmu hitam—mengabulkan doa anak, menyembuhkan sakit—tapi selalu dengan janji darah. Ketika janji ingkar, warga marah. Malam pembakaran: obor-obor menyala, jeritan warga, api menjilat gubuk daun rumbia. Mbah Saroh terperangkap di dalam, asap hitam menelan tubuhnya. Tapi Raja Biawak menariknya ke alam gaib, mengubahnya menjadi Nenek Gerandong—roh abadi yang haus keadilan, tapi terperangkap dalam dendam yang tak pernah selesai.

Visi memudar. Badik berhenti bergetar, kembali diam seperti besi biasa. Ruangan kembali hening, hanya suara napas mereka yang tersengal.

Daeng Tasi meletakkan badik itu pelan di kain putih. Matanya basah, tapi suaranya mantap. “Kita lihat sendiri. Mbah Saroh bukan monster dari lahir. Dia korban—suami dibunuh Inggris-Belanda, ia diperkosa beramai ramai, bayi mati dalam kandungan , warga usir dan bakar dia hidup-hidup. Dendamnya lahir dari penderitaan itu. Raja Biawak cuma memanfaatkan luka itu untuk memberikan kekuatan... tapi kekuatan itu malah mengikatnya lebih dalam.”

Kang Mamat mengangguk pelan. “Jadi... cara mengakhiri bukan membunuh dia. Bukan lawan dengan badik dan golok atau mantra untuk hancurkan. Tapi dengan empati. Dengan pengakuan dosa desa. Kita harus tunjukkan kita mengerti penderitaannya.”

Bang Jaim menambahkan, “Badik ini bukti. Dia memotong ikatan gaib—bukan memotong tubuh, tapi memotong ‘pengikat’ dendamnya. Kalau kita masuk hutan lagi, bawa badik ini, bawa air suci, bawa kata-kata maaf yang tulus... mungkin dia melepaskan semuanya.”

Daeng Tasi berdiri, memasukkan badik ke sarung pinggangnya dengan hati-hati. “Kita yakin sekarang. Bukan pertarungan fisik yang akan menang. Bukan kekuatan yang akan hancurkan dendam. Tapi hati yang terbuka, pengakuan atas kesalahan leluhur, dan permintaan ampun yang ikhlas. Besok... kita masuk hutan lagi. Kita temui dia. Kita akhiri ini dengan cara yang benar.”

Mereka bertiga saling pandang, mata penuh tekad baru. Di luar, angin pagi bertiup pelan, membawa aroma hutan yang kini terasa lebih lembut—seolah alam sendiri sedang menunggu akhir dari cerita lama yang penuh luka.

Di suatu tempat yang tak terjangkau cahaya matahari pagi, di kedalaman sungai purba yang mengalir di bawah hutan Durian Berduri, airnya hitam pekat seperti tinta yang tak pernah kering. Di sana, di gua bawah tanah yang dindingnya berlumut hijau kehitaman, Nyai Biawak—atau Raja Biawak, seperti yang ia sebut dirinya sendiri—duduk membungkuk di atas kendi tanah liat raksasa yang permukaannya retak-retak karena usia.

Tubuhnya yang setengah manusia setengah biawak air raksasa berkilau licin oleh air sungai yang terus mengalir dari celah-celah batu. Sisik hijau kehitamannya bergerak pelan seperti napas, mata kuning vertikalnya menyala redup, ekor panjangnya bergoyang lambat di permukaan air, menciptakan riak-riak kecil yang berbau amis belerang dan lumpur purba.

Di hadapannya, bayang Nenek Gerandong melayang samar—rambut kelabu panjangnya mengapung seperti rumput laut busuk, daster putih kotornya basah menempel di tubuh kurus yang penuh luka bakar, matanya merah kini lebih redup, seperti bara yang hampir padam setelah pengorbanan Siti Aisyah malam sebelumnya.

Raja Biawak mengeluarkan suara gemuruh rendah dari mulut lebarnya yang penuh gigi runcing, suara itu seperti air terjun yang jatuh ke dalam gua dalam. “Saroh... kau sudah mendapatkan pengorbanan dari anakmu itu. Tubuh molek Siti Aisyah... kulit kuning langsatnya, payudaranya yang montok, pinggulnya yang penuh... aku masih merasakan getarannya di sisikku. Lidahku masih ingat rasa manis di antara pahanya. Aku ingin kembali menikmatinya. Sekali lagi. Sampai puas.”

Nenek Gerandong diam sejenak, rambut kelabunya bergoyang pelan seperti menolak angin yang tak ada. Suaranya serak, tapi ada nada lelah yang baru muncul setelah doa massal dan pengampunan di masjid. “Raja... kau sudah dapat bagianmu malam itu. Dia bayar demi bayi-bayi. Dendamku mulai lunak. Jangan tambah beban lagi.”

Raja Biawak tertawa—tawa yang menggelegar seperti air sungai banjir yang menghantam batu. “Lunak? Dendammu mungkin mulai pudar, tapi nafsuku tidak. Aku haus tubuh manusia—terutama yang subur, yang punya rahim hangat. Siti Aisyah sudah kugigit sekali. Sekarang aku ingin yang lain.”

Ia meraih kendi tanah liat raksasa di depannya, menuangkan air sungai purba yang hitam ke dalamnya sampai penuh. Air itu bergetar sendiri, seperti hidup. Raja Biawak mencondongkan kepala bersisiknya, mata kuning vertikalnya menatap permukaan air yang gelap. “Mari kita lihat... di mana dia sekarang.”

Air dalam kendi mulai bergolak pelan. Permukaannya seperti cermin hitam yang hidup, lalu gambar muncul samar-samar, semakin jelas seperti lukisan yang dilukis oleh tangan tak kasat mata.

Di sungai kecil dekat desa, sore yang hangat sedang berlangsung. Siti Aisyah dan Sari Wangi berdiri di air dangkal, jarik batik mereka basah menempel ketat dari dada sampai setengah paha, kainnya menonjolkan lekuk payudara montok dan pinggul penuh. Tiga anak Siti Aisyah bermain di sekitar mereka—Cecep dengan pipi tembemnya tertawa lepas saat disiram air oleh adik-adiknya, Ratih dan Lila memercikkan air sambil berteriak kegirangan. Tawa mereka bergema lembut, cahaya matahari sore jingga menyinari kulit kuning langsat Sari dan Siti Aisyah, membuat tubuh mereka berkilau seperti sutra basah. Sari tersenyum—senyum tulus pertama setelah trauma—sambil memeluk Cecep dan mencium pipinya yang empuk, meski anak itu berusaha menolak sambil tertawa malu.

Raja Biawak menatap gambar itu lama, lidah bercabangnya menjulur pelan menjilat udara, matanya menyala lebih terang. Ekornya bergoyang lebih cepat, menciptakan riak besar di kendi.

“Aku ingin menikmati tubuh molek kedua ibu-ibu muda itu sampai puas,” katanya, suaranya gemuruh penuh nafsu. “Siti Aisyah sudah kugigit... sekarang Sari Wangi. Payudaranya lebih montok, pinggulnya lebih lebar, kulitnya lebih lembut. Aku ingin rasakan mereka berdua... di air sungai itu, di bawah cahaya sore. Biarkan aku tarik mereka ke kedalaman... biarkan aku nikmati sampai puas.”

Nenek Gerandong menggeleng pelan, rambut kelabunya bergoyang seperti menolak. “Raja... dendamku mulai pudar. Doa mereka, pengorbanan Siti Aisyah... itu mulai menyentuh hatiku. Jangan tambah dosa lagi. Kalau kau lakukan, dendamku mungkin benar-benar padam... tapi kau akan kehilangan ikatan kita.”

Raja Biawak tertawa lagi, tapi kali ini tawanya lebih dalam, lebih gelap. “Ikatan kita tak akan putus, Saroh. Aku sudah haus terlalu lama. Malam ini... aku akan datang. Dan kau tak bisa hentikan aku.”

Air dalam kendi bergolak hebat, gambar Siti Aisyah dan Sari Wangi di sungai memudar pelan. Nyai Biawak mencondongkan tubuh bersisiknya ke belakang, mata kuningnya menyala penuh nafsu dan ancaman.

Di kejauhan, di sungai yang tenang sore itu, tawa anak-anak masih bergema. Tapi angin sore mulai berubah—membawa bau amis sungai purba yang samar, seperti peringatan bahwa kegelapan belum benar-benar pergi.

***

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!