Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. mencari mitra, mengenalkan hidangan baru
Meskipun tidak mengerti dengan permintaan aneh dari ‘pemuda’ di depannya, A Ming tidak berani menunda. Apalagi sosok pemuda ini mengatakan jika ia ingin membahas kerjasama.
Su Ran kembali duduk selama hampir 5 menit ketika A Ming keluar dengan diikuti oleh seorang pria paruh baya yang terlihat sedikit lesu. Tentu saja karena memikirkan omset toko yang selalu menurun saban hari.
Juga, ada pula lelaki paruh baya lainnya yang memiliki tubuh yang sedikit gemuk. Yang Su Ran tebak sebagai koki di restoran ini.
Su Ran mengamati dua orang yang dibawa pelayan A Ming dengan lebih intens. Keduanya memiliki mata yang jernih dan terlihat seperti orang yang jujur dan setia.
Contoh saja koki ini. ia masih saja bertahan meskipun rekan – rekan lainnya sudah direkrut oleh restoran seberang.
Lalu, pria paruh baya satunya, yang sepertinya adalah manajer toko. Ia juga tetap mempertahankan restoran ini dan sepertinya sangat mempertahankannya meski tahu sebenarnya ia tetap merugi.
“ Entah apa yang ingin pemuda ini bicarakan dengan kami para paruh baya,” sikap tidak meremehkan dan tidak banyak berbasa – basi langsung membuat Su Ran semakin yakin untuk memberikan ‘sambal cabainya’ ke restoran ini.
“ Maafkan saya karena sudah menyita waktu dua paman sekalian,” Su Ran sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada dua paman di depannya.
“ Tidak – Tidak. Membuat pemuda ini harus melihat lelucon. Anda juga tahu sendiri jika restoran ini ... Haaahh, situasinya semakin terpuruk,” ada nada kesedihan yang ditangkap oleh Su Ran dalam jawaban Paman ini.
“ Oh iya, perkenalkan. Nama keluarga paman adalah JIANG, lalu dia ini koki ‘satu – satunya’ restoran kami, paman Feng. Lalu yang disana, pelayan sekaligus penjaga kasir kami panggil saja A Ming,” sedikit rasa bangga terselip dalam pengenalan ini. mereka bertiga adalah orang – orang yang bertahan sampai akhir.
Paman Jiang merasa jika restoran ini tidak akan bertahan lama, tetapi ia ingin meminta pada pemilik untuk tetap mempertahankan kedua teman sejawatnya ini.
“ Paman, Aku tidak akan berbasa – basi. Jika aku memiliki cara untuk membuat restoran kalian ini kembali ramai, Apakah paman semua akan percaya?” Su Ran juga tidak berbasa – basi. Ia langsung masuk kedalam inti pembicaraan.
“ Benarkah?” tanya kedua paman serempak.
Wajah kedua paman juga pelayan A Ming sedikit terkejut. Sesaat Su Ran bisa menangkap cahaya harapan pada mata mereka tetapi begitu cepat memudar, sepertinya mereka sedikit tidak memiliki harapan apapun.
“ Begini saja, bolehkah saya meminjam dapur paman?” Su Ran segera memutar otaknya, ia memang harus ‘memperlihatkan’ keajaiban bahan yang ia bawa.
Meskipun sedikit bingung dan Ragu – Ragu, paman Jiang dan paman Feng saling berpandangan sebelum akhirnya meminta Su Ran untuk mengikuti mereka berdua menuju area Dapur.
Su Ran mengikuti keduanya sambil melihat – lihat, begitu memasuki area Dapur, Su Ran sedikit kagum. Dapur luas dan juga tampak bersih dan Rapi, tampak jelas jika paman Feng begitu mencintai pekerjaannya.
Bahan – bahan juga tertata dengan jelas. Rai dan tampak segar meskipun situasi restoran sedang sepi. Ikan, ayam, bahkan daging sapi tersedia di dalam ruang es ( berubah wadah seperti sterofoam yang dipenuhi dengan bongkahan es batu).
Piring, sendok, dan juga sumpit – sumpit tertata dengan rapi. Jumlah yang sangat banyak menandakan jika restoran ini pernah memiliki masa yang jaya.
Semangat dalam diri Su Ran mendidih dan bergejolak. Ia sangat yakin jika ‘senjata’nya ini akan membuat restoran ini menjadi ramai.
“ Silahkan, Nak. Eh, siapa namamu?” paman Jiang masih menyelipkan nada bercanda.
“ Ran, namaku Su Ran. Paman – paman bisa memanggilku xiao Ran,” jawab Su Ran sambil melangkah maju. Dengan percaya diri, ia memilih bahan. Ikan dan ayam, lalu sejumput bawang merah dan putih, daun jeruk nipis, daun salam dan beberapa bumbu lainnya.
Di Rak sayur, Su Ran dengan terampil mengambil dua batang wortel, beberapa lembar daun kubis dan juga jagung muda.
Paman Feng/ Koki Feng sedikit mengerutkan kening, mencoba menebak apa yang ingin dimasak oleh pemuda di depannya.
Su Ran bekerja dengan rapi dan sistematis.
Mula – mula ia menyiapkan bumbu untuk membuat capcay sederhana. Selain duo bawang, ia juga mengambil beberapa cabai dari keranjang bambu tangan yang dibawanya. Sedari tadi, keranjang ini ditutupi sehingga tidak ada seorangpun tahu apa yang ada didalamnya.
Bahkan paman Jiang dan Paman Fen mengira jika didalamnya berisi kain hasil sulaman dan sejenisnya.
Su Ran juga mulai menyiapkan bumbu untuk ayam sambal atau ayam balado dan juga tumis pedas ikan.
Bumbu – bumbu semua disiapkan sementara ayam, ikan dan sayur dicuci lalu dipotong sesuai selera.
Su Ran membelakangi Kedua paman. Jiang Ran dan Feng Yu sedikit banyak merasa penasaran dengan apa yang dimasak oleh pemuda kurus tersebut.
Tetapi mereka menghargai jika Su Ran ingin menyembunyikan resep masakannya dari mereka. Bagaimanapun, sebuah resep bisa membuat 1 generasi kaya.
Setelah 15 menit, keduanya samar – samar mulai mencium bumbu yang ditumis. Dua tungku kompor menyala bersamaan dan masing – masing berisi wajan yang sedang bekerja.
Koki Feng sangat terusik dengan aroma harum tetapi sedikit ... pedas dimata? Apa ini? bahan apa yang ditambahkan oleh pemuda itu? Jika Jiang Ran tidak berusaha menahannya, Feng Yu pasti akan menebalkan wajahnya untuk mengintip!
Su Ran tidak tahu tentang niat rusuh dari Koki Feng. Ia sedang fokus dengan ikan yang ada di tangannya. Sambil mengaduk dan sesekali mencicipi dua hidangan lainnya, Su Ran juga sedang memarinasi ikan dan bersiap menggorengnya setelah capcay sayurnya matang.
Hampir 1 jam lebih berkutat, akhirnya tiga hidangan telah siap. Su Ran bahkan berhasil menambahkan sup lobak yang ia ambil dari sisa barang jualannya tadi.
“ Ini sangat harum, paman Jiang,” entah sejak kapan A Ming berada di sela – sela antara Jiang Ran dan Feng Yu.
Keduanya tersentak kaget dengan keberadaan A Ming tetapi hanya bisa melotot tajam kepada pelayan kesayangan mereka.
Su Ran datang dengan membawa nampan yang berisi mangkuk – mangkuk kecil berisi dengan hidangan yang .... menakjubkan mata ketiga orang didepan meja hidang.
( Meja hidang : ( Fiktif ) meja untuk persinggahan sementara makanan yang sudah matang sebelum akhirnya disajikan kepada pelanggan...)
“ Xiao Ran, ini adalah ...” sebagai koki yang sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun, Koki Feng tentu saja sangat penasaran dengan hidangan indah di depannya. Apakah semua ini bisa .. Dimakan?
Warnanya sangat kaya. Potongan ayam yang sama rata, dipadukan dengan irisan daun bawang hijau dan benda terang berwarna merah menyala membuat ayam ini tampak tenggelam di cairan merah yang aromanya menggugah selera.
Lalu ada juga potongan sayur – sayuran yang warnanya tidak hanya hijau pucat seperti yang biasa ia masak. Di mangkuk kecil ini, warnanya sangat serasi. Ada hijau, kuning dan lagi – lagi ada warna merah yang misterius.
Koki Feng sangat penasaran, ia langsung mengambil potongan besar cabai.
Sebelum Su Ran sempat menahannya, ia sudah memasukkan potongan besar kedalam mulut dan mengunyahnya.
“ Paman, Jang...’
“ Huaaaahhhh.. apha inhi...”