NovelToon NovelToon
MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Idola sekolah / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: alfphyrizhmi

"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 03

BAB 03 — Ruang OSIS

Suara speaker di pojok kelas berbunyi. Ada dengung statis sejenak sebelum suara sekretaris sekolah terdengar, jernih dan berwibawa.

"Panggilan ditujukan kepada siswi kelas X-1, Mayang Sari. Harap segera menghadap ke Ruang OSIS di Gedung C lantai 3. Sekali lagi, Mayang Sari, ditunggu di Ruang OSIS sekarang. Terima kasih."

Pengumuman itu menggantung di udara.

Dua puluh pasang mata di kelas X-1 kembali tertuju pada meja paling belakang. Kali ini bukan tatapan mengejek, tapi tatapan heran bercampur kasihan. Dipanggil ke Ruang OSIS di minggu pertama sekolah jarang berarti kabar baik. Biasanya itu berarti masalah administrasi, pelanggaran etik, atau—yang paling parah—pencabutan hak akses fasilitas.

Mayang menutup buku catatannya pelan-pelan. Dia memasukkan pulpen pinjaman Naufal ke dalam kotak pensil, memastikan ujungnya tertutup rapat agar tintanya tidak kering.

“May, lo ada masalah?” bisik Naufal, alisnya bertaut khawatir. “Mau gue temenin?”

Mayang menggeleng. Dia menyelipkan kursi ke bawah meja dengan rapi.

“Nggak usah. Mungkin soal berkas pendaftaran ulang,” jawab Mayang tenang. Padahal jantungnya berdegup tidak karuan. Dia yakin semua berkasnya lengkap. Budhe Sumi bahkan sampai menggadaikan cincin kawin lama untuk memfotokopi dan melegalisir semua dokumen tepat waktu.

“Ati-ati, May. Anak OSIS sini lebih galak dari guru BP,” peringat Naufal.

Mayang mengangguk singkat, lalu berjalan keluar kelas. Langkahnya tidak diseret, tapi juga tidak ringan. Dia berjalan seperti prajurit yang siap menerima hukuman disiplin.

Gedung C adalah area eksklusif. Di sinilah letak perpustakaan digital, laboratorium bahasa, dan markas besar OSIS. Lantai 3 gedung ini dilapisi karpet tebal peredam suara berwarna biru tua. Dindingnya dihiasi lukisan abstrak dan piagam penghargaan internasional dalam bingkai emas.

Mayang naik tangga manual karena dia tidak punya kartu akses untuk lift. Napasnya sedikit terengah saat sampai di lantai 3. Bukan karena lelah fisik, tapi karena tekanan atmosfer di tempat ini berbeda.

Udaranya lebih dingin. Wanginya berbeda. Bukan wangi pembersih lantai, tapi wangi aromatherapy kayu cendana dan kopi arabika.

Di ujung koridor, sebuah pintu ganda dari kayu jati berdiri kokoh. Ada papan nama dari kuningan bertuliskan: STUDENT COUNCIL EXECUTIVE ROOM.

Mayang merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Dia mengetuk pintu. Dua kali. Tegas.

“Masuk.”

Suara itu terdengar dari dalam. Suara bariton yang datar. Bukan suara orang dewasa, tapi memiliki otoritas melebihi orang dewasa.

Mayang mendorong pintu berat itu.

Ruangan itu luas. Lebih mirip lobi hotel atau ruang kerja direktur bank swasta daripada ruang organisasi sekolah. Ada sofa kulit Chesterfield hitam di tengah ruangan, meja rapat panjang dari kaca, dan sebuah meja kerja besar di dekat jendela panorama yang menghadap ke lapangan basket.

Di balik meja kerja besar itu, duduk seseorang.

Vino.

Dia sedang tidak memakai jas almamaternya. Kemeja putihnya digulung sampai siku, memperlihatkan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangan kiri. Di hadapannya menumpuk tiga pilar berkas setinggi jengkal tangan.

Dia sedang membaca dokumen sambil mengetik sesuatu di laptop MacBook Pro-nya dengan kecepatan tinggi.

Mayang melangkah masuk, lalu menutup pintu pelan-pelan di belakangnya. Bunyi klik pintu terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.

Vino tidak mendongak.

“Tutup pintunya yang rapat. AC-nya bocor keluar,” kata Vino tanpa menghentikan ketikan jarinya.

Mayang memastikan pintu sudah tertutup rapat. Dia berjalan mendekat, berhenti tepat dua meter di depan meja kerja Vino. Dia tidak berani duduk karena tidak dipersilakan.

Satu menit berlalu. Dua menit.

Hanya suara tuts keyboard dan desing halus AC yang terdengar. Mayang berdiri tegak, tangannya saling menggenggam di depan rok. Kakinya mulai terasa pegal, tapi dia tidak mengubah posisi berdiri. Dia terbiasa berdiri berjam-jam saat membantu Budhe mengaduk bubur. Menunggu orang kaya menyelesaikan urusannya adalah hal yang biasa baginya.

Di dinding belakang Vino, ada struktur organisasi. Foto Ketua OSIS—seorang siswa tampan dengan senyum ramah bernama Adrian—terpasang di paling atas. Tapi Adrian jarang terlihat. Semua orang tahu, mesin penggerak sekolah ini adalah Wakil Ketua di bawahnya: Vino Al-Fatih.

Lima menit berlalu.

Vino akhirnya menekan tombol Enter dengan keras. Dia menutup laptopnya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kerjanya yang empuk. Dia memutar kursi sedikit, menatap Mayang.

Wajahnya lelah, tapi matanya tajam.

“Mayang Sari,” ucap Vino. Dia tidak bertanya, dia menyatakan fakta.

“Iya, Kak.”

Vino mengambil satu map merah dari tumpukan di sebelahnya. Dia membukanya. Itu data pribadi Mayang. Ada foto paslonya yang kaku, transkrip nilai SMP, dan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan.

Vino membaca berkas itu sekilas, seolah sedang membaca menu makanan yang tidak menggugah selera.

“Duduk,” perintah Vino, menunjuk kursi tamu di depan mejanya dengan dagu.

Mayang duduk. Kursinya empuk, terlalu empuk, membuatnya merasa tenggelam dan semakin kecil.

“Tahu kenapa dipanggil?” tanya Vino. Dia mengambil sebuah pulpen emas, memutar-mutarnya di jari jemari.

“Administrasi saya ada yang kurang?” tebak Mayang.

“Bukan kurang. Tapi janggal.”

Vino melempar map itu ke hadapan Mayang. Map itu meluncur di atas meja kaca dan berhenti tepat di ujung meja.

“Halaman tiga. Kolom kontribusi ekstrakurikuler. Kosong,” kata Vino.

Mayang membuka map itu. Matanya tertuju pada kolom yang dimaksud Vino.

“Saya... saya tidak mengisi karena saya tidak berencana ikut ekskul, Kak,” jawab Mayang jujur.

Vino tertawa pelan. Tawa yang kering. Tanpa humor.

“Sekolah ini bukan tempat les bimbel, Mayang. Kita mencetak pemimpin, bukan robot penghafal rumus. Syarat mutlak beasiswa prestasi adalah aktif minimal di dua organisasi. Satu olahraga, satu akademis atau seni. Itu ada di klausul kontrak yang lo tanda tangani. Lo baca nggak?”

Mayang terdiam. Dia ingat dia menandatangani banyak sekali kertas waktu itu tanpa membacanya detail karena takut beasiswanya dicabut jika terlalu banyak bertanya.

“Maaf. Saya tidak tahu. Kalau begitu, saya akan daftar ekskul Paskibra dan Karya Ilmiah,” kata Mayang cepat.

“Kapan?” tanya Vino.

“Maksudnya?”

“Latihan Paskibra itu Selasa dan Kamis jam 4 sore sampai jam 6. Karya Ilmiah hari Rabu dan Jumat jam yang sama. Sabtu sering ada kompetisi.”

Vino mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Mayang intens.

“Data intelejen gue bilang, setiap jam 4 sore lo harus pulang dorong gerobak bubur di simpang tiga Jalan Merdeka. Benar?”

Mayang tersentak. Darahnya berdesir. Bagaimana Vino tahu sedetail itu?

“Dari mana Kakak tahu?”

“Gue Wakil Ketua OSIS. Gue tahu semua data murid di sini, mulai dari alergi makanan sampai masalah finansial keluarga. Itu tugas gue memitigasi risiko.”

Vino kembali bersandar. Dia menatap Mayang dengan pandangan menilai.

“Jadi, gimana caranya lo mau memenuhi syarat beasiswa kalau waktu lo habis buat ngaduk bubur? Lo mau membelah diri?”

Mayang menunduk. Tangannya meremas rok abu-abunya. Ini pilihan sulit. Jika dia ikut ekskul, siapa yang bantu Budhe? Budhe sudah tua, kakinya sering sakit kena asam urat. Pakle kerja serabutan, pulangnya malam.

“Saya bisa atur waktu, Kak. Saya bisa latihan ekskul, lalu pulang malam bantu persiapan besok paginya,” jawab Mayang, mencoba terdengar yakin.

“Naif,” potong Vino cepat. “Manajemen waktu lo buruk kalau lo pikir tubuh manusia bisa bertahan dengan tidur 3 jam sehari sambil mempertahankan nilai rata-rata 90.”

Vino berdiri. Dia berjalan ke arah jendela, membelakangi Mayang. Dia melihat ke lapangan basket di bawah, di mana murid-murid kaya sedang bermain dengan sepatu Air Jordan terbaru.

“Denger ya, Mayang,” kata Vino tanpa menoleh. “Sekolah ini mahal. Sangat mahal. Lampu kristal di lobi, AC sentral yang dingin ini, kertas HVS gramasi tinggi yang lo pegang... semua itu butuh duit.”

Vino berbalik. Wajahnya serius.

“Beasiswa lo itu... subsidi silang dari SPP gue. Dari SPP Vivie. Dari SPP Naufal. Orang tua kami bayar mahal, sebagian disisihkan buat nanggung biaya lo.”

Kata-kata itu menghunjam dada Mayang lebih sakit daripada hinaan Vivie. Vivie menghina penampilannya. Vino menghina eksistensinya. Vino membuatnya merasa sebagai parasit.

Mayang mengangkat wajah. Matanya panas, tapi dia menahan air mata sekuat tenaga. Dia tidak mau menangis di depan cowok arogan ini.

“Saya tahu, Kak. Saya sadar diri,” suara Mayang pelan tapi tegas.

Vino berjalan mendekat, lalu duduk di tepi mejanya, tepat di depan wajah Mayang. Dia melipat tangan di dada.

“Bagus kalau sadar. Karena di mata gue, lo itu investasi. Dan gue benci investasi bodong.”

“Investasi?” ulang Mayang bingung.

“Iya. Yayasan taruhan duit ratusan juta buat nyekolahin lo sampai lulus. Harapannya, lo bisa bawa piala, naikin reputasi sekolah, atau minimal jadi lulusan terbaik yang bisa dipajang di brosur tahun depan. Itu Return on Investment buat kami.”

Vino menunjuk dada Mayang dengan pulpennya.

“Jadi, kalau lo cuma jadi murid rata-rata yang sibuk cari duit receh di luar dan mengabaikan kewajiban lo di sini... lo cuma beban neraca keuangan. Rugi bandar.”

Kejam. Sangat transaksional. Bagi Vino, manusia adalah angka.

Mayang berdiri. Keberaniannya muncul entah dari mana. Mungkin karena dia lelah diinjak-injak harga dirinya sejak pagi.

“Kak Vino,” panggil Mayang. Dia menatap mata cokelat gelap itu. “Saya bukan angka di neraca Kakak. Dan saya bukan parasit.”

Vino mengangkat alis sebelah. Tertarik dengan perlawanan kecil itu.

“Saya jualan bubur supaya saya bisa makan, supaya saya punya tenaga buat belajar di sekolah mewah ini. Kalau saya nggak kerja, saya mati kelaparan. Mayat nggak bisa bawa piala buat sekolah.”

Napas Mayang memburu. Dia baru sadar dia baru saja membentak Wakil Ketua OSIS.

Vino diam. Dia tidak marah. Malah, sudut bibirnya berkedut sedikit. Sangat sedikit.

Dia turun dari meja, kembali berjalan ke kursi kerjanya.

“Logis,” kata Vino singkat. “Argumen lo diterima.”

Mayang bengong. Dia pikir dia akan dimarahi.

Vino membuka laci mejanya, mengambil sebuah stempel. Dia mengambil map Mayang, lalu menempelkan cap DISETUJUI DENGAN CATATAN di halaman formulir ekstrakurikuler yang kosong tadi.

“Gue kasih dispensasi,” kata Vino sambil menutup map itu. “Lo nggak perlu ikut ekskul fisik yang makan waktu sore hari. Tapi lo wajib ikut satu ekskul akademis: Science Club. Pertemuannya cuma seminggu sekali pas jam istirahat. Jadi jualan bubur lo aman.”

Mayang ternganga. Dispensasi? Dari Vino si kaku?

“Kenapa?” tanya Mayang curiga. “Kenapa Kakak bantu saya?”

Vino menatap Mayang lurus.

“Gue nggak bantu lo. Gue lagi mengamankan aset investasi gue. Gue lihat cara lo ngerjain soal logaritma tadi pagi. Otak lo lumayan. Sayang kalau tumpul gara-gara kebanyakan kena uap dandang bubur.”

Vino menyerahkan map itu kembali ke Mayang.

“Tapi ingat satu hal, Mayang Sari.”

Suara Vino merendah, menjadi peringatan yang berbahaya.

“Usaha tidak butuh diucapkan. Jangan jual cerita sedih kemiskinan lo di sini buat dapat simpati. Nggak ada yang peduli lo makan apa atau tidur di mana. Yang orang peduli cuma hasil akhir.”

Vino menunjuk pintu.

“Buktikan lo layak dibayarin pakai uang bokap gue. Kalau nilai lo turun di bawah 90 bulan depan... gue sendiri yang bakal tanda tangan surat drop-out lo. Mengerti?”

Mayang mengambil map itu. Dia mendekapnya di dada.

“Mengerti, Kak.”

“Keluar. Gue sibuk.”

Vino langsung memutar kursinya, kembali menghadap laptop, dan mulai mengetik lagi seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.

Mayang berbalik, berjalan menuju pintu.

Tangannya sudah memegang gagang pintu ketika suara Vino terdengar lagi.

“Satu lagi.”

Mayang menoleh. Punggung Vino masih membelakangi dia.

“Seragam lo. Kancing kedua dari atas mau lepas. Jahit. Jangan sampai copot di depan umum. Orang miskin boleh jelek, tapi nggak boleh ceroboh.”

Mayang refleks memegang kancing kemejanya. Benar, benangnya sudah longgar. Dia bahkan tidak sadar.

“Terima kasih,” ucap Mayang kaku.

Dia keluar ruangan. Menutup pintu.

Di koridor yang dingin, Mayang bersandar di pintu kayu jati itu. Kakinya lemas. Pertemuan sepuluh menit dengan Vino lebih menguras tenaga daripada mendorong gerobak keliling kampung.

Mayang melihat map merah di tangannya. Di sana ada cap stempel basah dari Vino.

Dia bukan ditolong. Dia sedang diuji. Dia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis yang berwajah malaikat dingin.

Mayang mengepalkan tangan. Matanya menatap lorong panjang di depannya.

“Lihat saja, Kak Vino,” bisiknya pada angin AC yang berhembus. “Aku bakal bayar lunas setiap rupiah uang Bapakmu dengan prestasiku. Sampai kamu nggak berani lagi sebut aku investasi bodong.”

Mayang berjalan menjauh dari ruang OSIS. Langkahnya lebih cepat. Lebih bertenaga.

Dia tidak pulang ke rumah. Dia berbelok ke perpustakaan. Dia akan meminjam buku Fisika lanjutan. Dia harus belajar. Perang baru saja dimulai.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!