Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Di Bawah Kendali
Arkan sudah berada di sana sejak pukul 19.00.
Mobil hitamnya terparkir rapi di sudut parkiran restoran. Mesin sudah lama dimatikan, namun ia tidak keluar. Ia duduk diam di kursi pengemudi, satu tangan di setir, pandangan lurus ke depan.
Ia jarang menunggu. Dan ia tidak suka menunggu.
Namun malam ini berbeda.
Jam di dashboard menunjukkan waktu berjalan terlalu lambat. Setiap menit terasa lebih panjang dari biasanya. Arkan mengepalkan rahangnya pelan. Ia ingin Yura tiba. Sekarang.
Perasaan itu muncul tiba-tiba sebuah dorongan yang tidak ia rencanakan. Bukan karena urusan bisnis. Bukan karena kontrak. Karena kehadiran Yura sendiri.
Kenapa aku ingin melihatnya secepat ini?
Arkan menghela napas pendek, lalu membuka pintu mobil dan turun. Ia bersandar di samping mobil, menyalakan sebatang rokok sesuatu yang jarang ia lakukan. Tatapannya tak lepas dari gerbang masuk. Lampu parkiran redup. Angin malam berembus dingin.
Tak lama, sebuah mobil berhenti.
Pintu terbuka.
Yura turun.
Arkan langsung tahu. Di saat yang sama Yura berdiri di depan restoran, menatap bangunan itu dengan dahi berkerut.
Tempat itu… aneh.
Terlalu sepi.
Lampu-lampu menyala, tapi tidak hangat. Tidak ada suara tawa. Tidak ada keramaian. Hanya kesunyian yang terasa berat.
Yura merapatkan cardigannya.
Bulu kuduknya meremang.
Ini benar restoran?
Ia melangkah pelan, menoleh ke sekeliling. Perasaannya tidak enak. Seperti ada sesuatu yang salah, meski ia tidak tahu apa.
Langkahnya terhenti ketika ia menyadari ada seseorang berdiri tak jauh darinya. Di bawah lampu parkiran.
Arkan. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, Yura lupa bernapas. Dan Arkan menunggu akhirnya berhenti menunggu..
Arkan lebih dulu memecah keheningan. “Silakan masuk.” Suaranya datar. Tidak ramah. Tidak pula mengundang.
Tanpa menunggu jawaban Yura, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam restoran. Langkahnya mantap, seolah yakin Yura akan mengikutinya. Dan Yura… terpaksa mengikuti.
Restoran itu jauh lebih sunyi dari luar. Kursi-kursi tertata rapi, meja-meja kosong, hanya ada satu area yang lampunya menyala lebih terang di bagian tengah.
Arkan langsung menuju satu meja. Ia menarik kursi, duduk, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Satu gerakan tenang, penuh kontrol.
“Duduk,” katanya singkat.
Yura menelan ludah. Ia duduk di seberang Arkan, punggungnya terasa kaku. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Kenapa tempatnya seperti ini? …
Yura melirik ke sekeliling.
Tidak ada pelayan. Tidak ada tamu lain. Tidak ada suara dapur. Hanya mereka berdua.
Rasa aneh itu makin kuat.
Bisnis apa yang harus dibahas sampai sesunyi ini?
Kenapa harus tertutup?
Kenapa harus… hanya kami berdua?
Yura berusaha menjaga wajahnya tetap tenang, meski pikirannya mulai penuh tanda tanya. Ia mengangkat pandangan, menatap Arkan dengan hati-hati.
“Pak Arkan…” suaranya pelan namun tegas, “kerja sama apa yang sebenarnya ingin Bapak bahas malam ini?”
Arkan menyandarkan tubuhnya ke kursi, menautkan jemari di depan dada. Tatapannya lurus, tajam, seolah sedang membaca setiap reaksi Yura.
“Tenang saja,” katanya. Nada suaranya tetap dingin. “Semua akan dibahas.” Ia berhenti sejenak, menatap Yura lebih lama dari yang seharusnya. “Di sini.”
Sunyi kembali turun di antara mereka.
Dan Yura sadar satu hal Ia sudah duduk terlalu jauh… untuk berpura-pura ini hanya sekadar urusan bisnis biasa.
Arkan menggeser map tipis berwarna hitam ke tengah meja. “Kerja sama ini sederhana,” ujarnya pelan. “Perusahaan saya butuh partner yang… bisa dipercaya.”
Yura segera menangkap celah itu. Ia membuka map tersebut, memusatkan perhatian pada dokumen, bukan pada mata Arkan. “Kami siap membahas detail teknisnya, Pak. Ruang lingkup proyek, timeline, dan pembagian tanggung jawab,” jawabnya profesional.
Arkan tidak langsung menanggapi.
Alih-alih membuka dokumen, ia justru mencondongkan tubuh ke depan, siku bertumpu di meja. “Kepercayaan,” ulangnya. “Bukan cuma soal angka.”
Yura mengangkat wajahnya sedikit. “Dalam bisnis, kepercayaan dibangun lewat kontrak dan kinerja,” katanya tenang. “Itu yang selalu kami pegang.”
Sudut bibir Arkan terangkat tipis.
“Begitu ya menurutmu?”
Ia menatap Yura lekat-lekat, membuat Yura kembali menurunkan pandangan. “Kalau begitu,” lanjut Arkan, “kenapa saya justru lebih tertarik pada orangnya… daripada perusahaannya?”
Jantung Yura berdegup lebih cepat. Ia menutup map itu perlahan, lalu menatap Arkan dengan sorot serius. “Pak Arkan,” ucapnya tegas, “saya di sini mewakili perusahaan. Kalau pembicaraannya di luar itu, saya rasa tidak perlu.”
Ruangan kembali sunyi.
Lampu di atas meja terasa terlalu terang, menyoroti wajah Arkan yang kini tidak lagi tersenyum. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Yura dari ujung mata. “Kamu berani,” katanya datar. “Banyak orang akan langsung menyesuaikan diri.”
Yura menghela napas kecil, berusaha menenangkan diri. “Saya hanya melakukan pekerjaan saya,” jawabnya. “Dan saya ingin pembicaraan ini tetap profesional.”
Arkan mengetukkan jarinya ke meja pelan, teratur. “Baik,” katanya akhirnya. “Kita bicara profesional.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah,
“Mulai dari fakta bahwa mulai sekarang… kamu yang akan menjadi penghubung utama saya.”
Yura terdiam. Ia tahu. Inilah bagian dari “syarat” itu. Dan batas profesional yang ia jaga… mulai ditekan dari segala arah.
Arkan kembali membuka map hitam itu. “Tidak rumit,” katanya tenang. “Saya hanya ingin semua komunikasi proyek ini lewat kamu. Tidak ada perantara. Tidak ada pengganti.”
Yura menahan diri agar tidak langsung bereaksi.
“Itu tidak lazim, Pak,” ujarnya. “Biasanya perusahaan”
“Saya tidak biasa,” potong Arkan ringan, tapi matanya dingin. “Dan kontrak ini cukup besar untuk membuat perusahaanmu… patuh.”
Kata patuh membuat dada Yura mengencang.
Ia menghela napas, menegakkan bahu.
“Dengan segala hormat, ini terasa tidak profesional.”
Arkan tersenyum kecil, seolah komentar itu menghiburnya. “Profesional itu relatif,” katanya pelan. “Selama hasilnya tercapai.”
Yura hendak menjawab ketika ponselnya bergetar di atas meja. Nama Ayah tertera di layar.
Alis Yura berkerut. Ayahnya tidak pernah menelepon, apalagi malam hari. “Maaf,” katanya singkat, lalu mengangkat panggilan itu.
“Ibu Yura?”
Suara di seberang bukan suara ayahnya.
Datar. Asing. Terlalu tenang.
“Iya… ini siapa?”
“Saya Dokter yang bertugas di ruang rawat inap ayah Anda.”
Dunia Yura seperti berhenti bergerak.
Tangannya refleks mencengkeram ponsel lebih kuat.
“Ada apa, Pak?” suaranya bergetar tanpa ia sadari.
Di seberang, suara itu menarik napas.
“Kami sudah melakukan tindakan sesuai prosedur. Tapi… beberapa menit yang lalu, saya menyatakan ayah Anda tidak lagi bernapas.”
Kata-kata itu tidak langsung dipahami Yura.
Seolah otaknya menolak menerima arti sebenarnya.
“Ma… maksudnya?” bisiknya.
“Mohon Ibu Yura segera datang ke rumah sakit.”
Panggilan itu terputus.
Ponsel terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas meja dengan bunyi pelan.
Yura membeku.
Napasnya tercekat. Dadanya terasa sesak, seolah udara di ruangan itu mendadak menghilang.
“Yura.”
Suara Arkan terdengar samar, jauh.
Air mata Yura akhirnya tumpah.
Bukan isakan keras tapi tangisan tertahan yang merobek dari dalam.
“Ayah saya…” suaranya pecah. “Ayah saya…”
Tubuhnya melemah, bahunya gemetar hebat.
Untuk pertama kalinya sejak awal pertemuan, Yura benar-benar rapuh. Dan Arkan yang sedari tadi dingin dan terkontrol menatapnya dengan sorot mata yang berubah. Ini bukan lagi sekadar bisnis. Ini adalah momen di mana Yura kehilangan pegangan terakhirnya.