NovelToon NovelToon
Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.

Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu Nathan dan Mahira

Layvin dateng ke mansion jam dua siang buat nganterin dokumen yang Nathan butuhin buat rapat besok

Naura lagi duduk ditaman belakang, baca buku atau lebih tepatnya pura pura baca soalnya matanya udah baca halaman yang sama berkali kali tapi otaknya nggak menyerap sama sekali. Pikiran kemana mana, ke Nathan yang makin aneh, ke Mahira yang balik, ke semuanya yang makin berantakan aja

"Nyonya Naura?" suara Layvin dari belakang bikin Naura kaget sampe bukunya hampir jatuh

"Layvin! kamu dateng," Naura langsung berdiri, merapikan rambutnya yang acak acakan

Layvin tersenyum lembut, senyum yang bikin Naura ngerasa sedikit lebih tenang ditengah semua kekacauan ini "Maaf ganggu Nyonya, aku bawa dokumen buat Tuan Nathan tapi katanya dia lagi meeting sampai sore, boleh aku tunggu disini?"

"Boleh dong! Ehm, mau minum apa? teh atau kopi?"

"Teh aja Nyonya, makasih."

Mereka duduk dibangku taman, Bi Ijah ngebawain teh dan kue kue kecil. Ada keheningan canggung beberapa menit sebelum Naura memberanikan diri buka suara.

"Layvin," suaranya pelan, dan terlihat ragu "kamu udah kerja sama Nathan berapa lama?"

"Hampir lima tahun Nyonya, kenapa?"

Lima tahun.

Berarti Layvin tau tentang Mahira dong? Tau tentang masa lalu Nathan?

"Boleh aku tanya sesuatu? tapi kalo kamu nggak mau jawab nggak apa-apa kok, aku ngerti," Naura mengigit bibir bawahnya

Layvin menatap Naura dengan pandangan yang sulit dijelasin, kayak kasihan? atau iba? "Tanya aja Nyonya."

"Nathan dan Mahira, mereka dulu gimana sih? aku cuma pengen tau aja." air mata Naura udah mulai berkumpul dipelupuk mata tapi dia tahan, ga mau keliatan lemah

Layvin mendesah panjang, tangannya menggenggam gelas teh erat erat "Nyonya yakin mau tau? karena ceritanya mungkin bakalan bikin Nyonya sakit."

Naura mengangguk pelan "aku harus tau Layvin, aku istrinya kan meski cuma kontrak tapi aku perlu ngerti kenapa Nathan kayak gini."

Layvin diem beberapa detik, matanya menatap kosong ke taman "Lima tahun lalu.. Tuan Nathan itu orang yang beda banget sama sekarang Nyonya."

"Beda gimana?"

"Dia hangat, suka ketawa, suka bercanda sama pegawai kantor, suka ngajak aku makan bareng habis kerja sambil ngomongin hal hal konyol" Layvin tersenyum tipis mengingat masa lalu itu "Dia hidup Nyonya, bener bener hidup, bukan cuma bernapas kayak sekarang."

Naura mendengarkan dengan dada sesak.

"Semua berubah gara gara Mahira," Layvin melanjutkan. "Nona Mahira itu, dia pacar Tuan Nathan waktu itu, mereka pacaran hampir dua tahun, dan hubungan mereka sempurna Nyonya, aku nggak pernah liat Tuan Nathan sebahagia itu."

"Terus kenapa mereka putus?"

"Mereka hampir nikah, undangannya udah dicetak, venue udah dipesan, semuanya udah siap," Layvin ngusap wajahnya. "Tapi seminggu sebelum pernikahan, Nona Mahira menghilang."

"Menghilang?" Naura nggak percaya.

"Iya Nyonya, dia ninggalin surat pendek, cuma tulisan 'maafkan aku' gitu doang, ga ada penjelasan, ga ada nomor yang bisa dihubungin, keluarganya juga udah pindah keluar negeri, semua kontak diputus total."

Air mata Naura mulai jatuh, bayangin betapa hancurnya Nathan waktu itu.

"Tuan Nathan, dia jadi orang yang beda sejak hari itu," suara Layvin bergetar. "Dia nggak pernah senyum lagi, nggak pernah ketawa lagi, jadi dingin sama semua orang, kerja terus menerus sampe larut malam. Kadang nggak pulang berhari hari," Layvin menatap Naura dengan mata berkaca kaca. "Aku pernah denger dia nangis sendirian diruang kerjanya saat tengah malam, Nyonya. Tuan Nathan yang sekuat itu, menangis kayak anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya."

Naura ga bisa nahan tangisnya lagi, dia nangis terisak isak sambil tutup mulut pake tangan.

"Selama lima tahun ini aku liat Tuan Nathan coba move on Nyonya, coba lupain Nona Mahira, tapi dia ga pernah bisa, ga pernah bener bener bisa," Layvin menggeleng sedih. "Tuan Nathan nggak pernah pacaran lagi, nggak pernah lirik wanita lain, sampe akhirnya dia nikah sama Nyonya karena tuntutan warisan."

"Dia nggam pernah cinta sama aku ya," Naura berbisik diantara tangisnya.

Layvin diem, ga bisa jawab karena jawabannya pasti bakal nyakitin Naura lebih dalem lagi.

"Bahkan pada aku dia ga pernah…" Naura nggak bisa ngelanjutin kalimatnya, terlalu sakit.

"Maafkan aku Nyonya," Layvin bilang pelan "Aku nggak bermaksud bikin Nyonya sakit, tapi Nyonya minta tau jadi."

"Ga apa apa Layvin, aku yang minta kok." Naura usap air matanya tapi air mata terus mengalir nggak berhenti. "Setidaknya sekarang aku tau, kenapa Nathan nggak bisa cinta sama aku. Karena hatinya masih sama Mahira."

"Nyonya Naura," Layvin kayak mau bilang sesuatu tapi dia urungkan.

"Iya?"

"Tidak apa apa."

Tapi Naura tau Layvin mau bilang sesuatu yang penting, matanya itu nggak bisa bohong.

Mereka duduk dalam keheningan yang berat, cuma bunyi angin yang mengoyangkan dedaunan sama isakan Naura yang sesekali keluar.

"Layvin, kalo Mahira balik. Apa Nathan bakal ninggalin aku?" Naura bertanya dengan suara yang hampir nggak kedengeran.

Layvin menatap Naura lama, ekspresinya complicated banget. "Aku nggak tau Nyonya, aku bener bener ga tau, tapi yang aku tau. Tuan Nathan belum pernah berenti nyari Nona Mahira selama lima tahun ini, dia sewa detective swasta, menghubungi semua koneksi keluarga Nona Mahira, ngecek semua kemungkinan tempat dia bisa ada," Layvin berhenti sebentar. "Jadi kalo Nona Mahira bener bener balik dan bilang dia masih cinta sama Tuan Nathan."

Dia nggak perlu ngelanjutin kalimatnya.

Naura udah ngerti.

Nathan bakal pilih Mahira.

Tanpa pikir panjang.

Tanpa ragu.

Karena Mahira itu cinta sejatinya Nathan.

Sementara Naura? Naura cuma istri kontrak yang kebetulan ada.

"Terima kasih Layvin karena udah jujur sama aku" Naura berdiri dengan kaki yang lemes, hampir oleng tapi Layvin langsung bantu pegangan.

"Nyonya mau kemana? wajah Nyonya pucat."

"Aku mau ke kamar, aku capek."

"Biar aku anter sampai atas."

Naura cuma ngangguk lemes.

Layvin nganter Naura sampe depan kamar, pastiin Naura masuk dengan selamat sebelum dia turun lagi.

Begitu pintu kamar tertutup, Naura langsung jatuh terduduk dilantai.

Nangis.

Nangis sampe ga ada suara keluar.

Nangis sampe badan gemetar keras.

Nangis sampe napas sesek ga karuan.

Sekarang semuanya jelas.

Nathan gabisa cinta sama Naura karena hatinya masih dipenuhi Mahira.

Lima tahun Nathan nunggu Mahira balik.

Lima tahun Nathan hidup kayak orang mati karena kehilangan Mahira.

Dan sekarang Mahira balik.

Berarti Nathan punya kesempatan lagi.

Kesempatan untuk dapetin cintanya yang hilang.

Kesempatan untuk bahagia lagi.

Dan Naura? Naura bakal kemana?

Naura cuma penghalang.

Cuma kontrak yang harus diselesaikan dulu sebelum Nathan bisa sama Mahira.

Dua tahun.

Naura harus bertahan dua tahun lagi.

Dua tahun liat Nathan yang masih cinta sama sahabatnya sendiri.

Dua tahun hidup kayak hantu dirumah sendir.i

Dua tahun menanggung sakit yang makin hari makin parah.

"Aku nggak bisa," Naura berbisik sambil memeluk lututnya. "Aku nggak bisa bertahan selama itu, aku nggak bisa."

Tapi dia harus.

Karena kontraknya belum selesai.

Karena ibu masih butuh biaya pengobatan.

Karena Naura udah menjual dirinya dan nggak ada jalan balik.

Naura merangkak ke ranjang, berbaring sambil masih nangis.

Matanya menatap langit langit kamar yang putih bersih.

Bersih tapi dingin.

Megah tapi kosong.

Kayak hidupnya sekarang.

Naura ngambil ponselnya, buka galeri, ngeliat foto foto ibu yang tersenyum.

"Bu, Naura nggak akan menyesel kan, karena udah lakuin ini semua buat ibu?" dia berbisik pada foto itu. "Naura nggak akan menyesel kan Bu, meski Naura sakit setiap hari?"

Tapi foto ga bisa jawab.

Cuma senyum ibu yang tetep disitu, senyum yang dulu selalu bikin Naura kuat.

Tapi sekarang senyum itu cuma ngingetin betapa mahalnya harga yang Naura bayar.

Satu milyar rupiah buat dua tahun pernikahan kontrak.

Kedengerannya banyak.

Tapi sebenernya ga cukup buat bayar semua sakit yang Naura rasain.

Ga cukup buat bayar hati yang remuk redam.

Ga cukup buat bayar air mata yang ngalir setiap malem.

Ga cukup buat bayar kehilangan Naura kehilangan dirinya sendiri.

Naura tertidur dalam tangisan.

Mimpi mimpi buruk tentang Nathan dan Mahira yang bahagia berdua.

Sementara Naura berdiri jauh dilatar belakang, cuma jadi bayangan yang ga ada yang peduli.

Dan sore itu, pas Nathan pulang dan ngeliat Layvin masih nunggu diruang tamu, dia langsung tau ada yang terjadi.

"Kamu ngomong apa ke Naura?" Nathan tanya dengan nada dingin.

Layvin berdiri dan menatap Nathan langsung, nggak takut, "Yang seharusnya dia tau dari dulu Tuan, tentang Anda dan Nona Mahira."

Nathan mengggertakan rahang, "Itu bukan urusanmu."

"Tapi Nyonya Naura punya hak untuk tau, kenapa suaminya nggak bisa cinta sama dia," Layvin bilang tegas, pertama kalinya dia ngelawan Nathan. "Dia manusia Tuan, punya perasaan, bukan robot yang bisa Anda perlakukan sesuka hati."

"KELUAR!" Nathan berteriak. "Keluar sekarang sebelum aku pecat kamu!"

Layvin ngambil tas kerjanya, jalan ke pintu tapi sebelum keluar dia berbalik. "Anda tau Tuan? Nyonya Naura itu wanita yang baik, terlalu baik buat perlakuan dingin Anda, suatu hari Anda bakal menyesel karena udah menyia-nyiakan dia."

Dan Layvin pergi ninggalin Nathan yang berdiri sendirian, diruang tamu dengan tangan mengepal, dan dada yang entah kenapa terasa sesak.

1
Masitoh Masitoh
semoga Naura baik2 saja..pergi mulakan hidup baru..buat nathan menyesal
Leoruna: jangan bertahan dengan laki2 seperti Nathan ya kak🤭
total 1 replies
kalea rizuky
pergi jauh naura
Esma Sihombing
cerita kehidupan yg sangat menarik
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
pergi aza Naura untuk menjaga kewarasan mu,dan bayi mu, buat Nathan menyesal
kalea rizuky
minta cerai aja dan pergi jauh biarkan penghianat bersatu nanti jg karma Tuhan yg berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!