Sejak kami kedatangan tetangga baru, kampung yang begitu tenang kini berubah menjadi mengerikan. Semua orang takut keluar rumah ketika malam. Makhluk tak kasat mata tidak pernah berhenti datang siang maupun malam. Bahkan mereka mengambil nyawa orang-orang satu per satu.
Kami bahkan tidak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba sakit dan langsung di kabarkan sudah meninggal. Bahkan di tubuh mayat mempunyai bekas telapat tangan yang berwarna keunguan.
Pertanda apa semua ini, aku yang mempunyai kemampuan mengobati, tidak bisa berbuat apapun. Meski aku sering melihat makhluk tak kasat mata, tetapi aku begitu takut. Karena energi mereka begitu besar.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus dilakukan warga di kampungku?
Kami merasa takut ketika setiap bulan, berjatuhan korban yang meninggal. Kepanikanku bertambah ketika adikku sakit, aku khawatir adikku akan seperti korban lain yang hanya mengalami sakit demam dan langsung meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UNI NANNI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mayat Yang Membusuk
Aku dan fani, melihat ke teras rumah. Tidak ada siapapun, tetapi suara jatuh yang kami dengar begitu keras.
"Benar-benar aneh, aku mendengar dengan jelas suara benda jatuh," kataku dengan heran.
Sebuah kertas yang tertempel di pintuku. Aku dan fani mengambilnya dan membacanya. Tulisan seperti cakar ayam, yang entah di tulis oleh siapa. Orang yang menulisnya, benar-benar iseng.
[KAU HARUS MATI]
Aku terkejut ketika membacanya, apa maksud dari tulisan ini. Tidak mungkin bukan, jika mengarah pada keluargaku. Selama ini, tidak pernah ada yang menerorku seperti ini.
"Luis, kau punya musuh?" tanya fani padaku. Aku hanya menggeleng kepala.
"Luis, ini tidak bisa di biarkan. Orang itu, sudah sangat nekat. Jika adikmu yang melihatnya, dia pasti akan kepikiran," kata fani yang membuatku tertegun.
Jika idar yang membacanya, dia mungkin akan takut. Kemarin saja, dia tidak bisa tidur memikirkannya.
"Benar, kemarin saja, adikku tidak bisa tidur memikirkannya,"
"Kemarin, kau di teror saat malam juga?" tanya fani dengan serius.
Aku menganggu, teror pada saat malam hari, jauh lebih menakutkan.
"Luis, kau tidak boleh tinggal diam. Jika tidak menemukan orangnnya, dia akan setiap hari datang menerormu. Ini perlakuan manusia, bukan hantu atau sejenisnya. Hantu tidak mungkin menulis pesan seperti ini,"
"Iya, hari ini juga aku akan menyelidikinya." kataku setelah berpikir panjang. Apa yang fani katakan, benar adanya.
Setelah fani pulang, giliran rian yang datang ke rumahku. Aku membuka pintu dengan malas.
"Ada apa?"
"Cuek banget luis, seperti tidak suka aku datang. Aku membawakanmu roti, ini dari ibuku," kata rian sambil menyodorkan aku sekantong roti.
"Terima kasih," kataku dengan senyum.
"Luis, sebentar sore jadikan temani aku ke air terjun?" ranya rian kembali.
"Iya jadi. Tapi aku pergi melayat dulu,"
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu," terlihat wajah rian dengan senang.
Rian tidak tahu saja, air terjun yang dia maksud tidak ada kesannya sama sekali. Dia akan terkejut jika ke sana.
****
Aku sedang menonton tivi, ayahku dan adikku datang bersamaan.
"Kak, mau pergi melayat?' tanya idar yang duduk menonton di dekatku.
"Iya,"
"Aku dengar kak, mayat istri pak ahmad mengeluarkan bau tidak sedap. Dan banyak kutunya," kata idar dengan jijik.
"Kok bisa?"
"Tidak tahu juga. Banyak temanku yang bilang,"
"Ah, aku jadi penasaran." Di saat aku berbincang dengan idar, ayahku keluar dari kamar dengan pakaian lengkap.
"Ayah mau pergi melayat?"
"Hemm"
"Aku ikut ya," kataku sambil berlari ke kamar berganti pakaian.
Kini, aku sudah berada di depan rumah pak ahmad. Bendera warna kuning datang menyambut kami. Aku masuk ke dalam rumah dengan tertunduk, menahan bau tidak sedap. Seperti bau busuk.
"Ana, kau sudah lama di sini?" tanyaku dan duduk di dekat ana.
"Sudah, kau datang terlambat. Mayat almarhuma sudah mau di kubur," kata ana.
"Ana, bau tidak sedap ini berasal dari mayat?" tanyaku sambil berbisik.
"Iya, padahal sudah di mandikan sebanyak dua kali, tetapi baunya tidak kunjung hilang."
"Kok bisa, sewaktu almarhuma sakit kemarin, aku sempat datang menjengguknya. Tidak ada bau seperti ini," kataku dengan heran.
"Entahlah, baunya baru datang ketika di mandikan. Semakin di mandikan, semakin mengeluarkan bau,"
"Aneh juga, pasti ada yang salah," kataku sambil melihat sekilas mayat yang tidak jauh dariku.
Banyak bintik hitam yang menempel di kain kafannya. Itu seperti kutu, aku yang melihatnya mau muntah. Kutu masih bergerak-gerak.
"Ana, apa mereka tidak membersihkan rambutnya, masih banyak kutu yang menempel," kataku membuang muka, tidak kuat melihatnya lebih lama.
"Semua sudah di bersihkan, rambutnya juga sudah di beri sampo. Bahkan satu botol sampo habis,"
"Ini pertama kalinya, ada kejadian seperti ini." gumanku dalam hati.
Sudah jam setengah satu, pemakaman belum bisa di lakukan. Aku sudah merasa gelisah, seharusnya sedari tadi pemakamannya selesai.
"Luis, kau merasa ada yang ganjal bukan?" bisik ana.
"Ganjal bagaimana?"
"Coba lihat sekeliling. Keadaan sedang sepi, tetapi aku seperti mendengar kebisikan di rumah ini,"
Aku mencoba diam dan fokus mendengar. Ternyata benar, banyak suara tertawa dengan riang. Banyak juga suara langkah kaki. Tetapi, di sini, tidak ada orang tertawa, yang hanya kesedihan yang terlihat.
"Benar, aku juga bisa mendengarnya," kataku yang saling memandang.
Tiba-tiba, ayahku datang dan menyuruhku untuk pulang ke rumah. Wajah ayahku begitu panik, dia terlihat berkeringat. Aku menjadi deg-degkan, terlabih ayahku hanya mengatakan untuk segera pulang. Tidak menjelaskan apapun lagi, walau aku bertanya.
Di perjalanan, ibu ani tetanggaku, datang menghampiriku.
"Luis, cepat pergi ke rumah nenekmu. Dia pingsan," kata ibu ani dengan tergesah-gesah.
Jadi ini, kenapa ayahku menyuruhku pulang. Nenekku sedang pingsan, aku tidak tahu apa penyebabnya. Langkah kakiku, semakin cepat. Ayahku hanya diam sampai akhirnya kami sampai di rumah nenek. Suara menanggis terdengar di telingaku. Aku semakin mempercepat kaki agar segera melihat keadaan nenekku.
Baru saja di depan pintu, idar datang sambil memelukku. jantungku seperti berhenti berdetak, ketika melihat nenekku berbaring di tempat tidur.