NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Tamu dari Masa Lalu

Gedung baru Rumah Sakit Pusat berdiri megah dengan arsitektur kaca yang memantulkan lampu-lampu kota yang gemerlap. Karpet merah membentang dari lobi hingga ke auditorium utama, tempat para elit politik, pemegang saham medis, dan jurnalis berkumpul.

Malam ini bukan sekadar peresmian sayap rumah sakit, ini adalah panggung kemenangan bagi Direktur Aris.

Di dalam mobil limosin hitam yang bergerak perlahan menuju pintu masuk, Kayra meremas jari-jarinya. Cincin safir pemberian Harry terasa dingin di kulitnya, seolah mengingatkannya pada realitas berbahaya yang sedang ia jalani.

Di sampingnya, Harry duduk dalam kegelapan kabin, mengenakan setelan tuksedo pesanan khusus yang menyembunyikan rompi antipeluru dan senjata api di balik pinggangnya.

"Bernapaslah, Kayra," ujar Harry pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan di tengah keheningan mobil. "Kau punya hak untuk berada di sana lebih dari siapa pun."

Kayra menoleh, menatap Harry yang tampak sangat tenang. "Bagaimana kau bisa begitu yakin? Aris bukan pria bodoh. Begitu dia melihatku, dia akan tahu bahwa aku tidak benar-benar mati."

Harry meraih tangan Kayra, ibu jarinya mengusap punggung tangan wanita itu dengan gerakan yang menenangkan namun posesif. "Itulah intinya. Kita tidak datang untuk bersembunyi. Kita datang untuk menunjukkan padanya bahwa dia gagal menghancurkanmu. Aku akan berada di telingamu sepanjang waktu."

Harry menunjuk ke arah earpiece mikro yang tersembunyi di balik rambut Kayra. "Enzo dan timku sudah menyusup ke sistem keamanan internal. Begitu kau masuk, fokuslah pada Aris. Biarkan dia ketakutan melihat bayang-bayang masa lalunya."

Mobil berhenti. Pintu dibuka oleh petugas valet. Kayra menarik napas panjang, menguatkan tulang punggungnya, dan melangkah keluar.

Kilatan lampu kamera jurnalis langsung menyambutnya. Dengan gaun hitamnya yang elegan dan aura dingin yang baru, Kayra benar-benar menjelma menjadi Kayra Valeska, seorang perwakilan misterius dari otoritas medis internasional.

Harry tetap di dalam mobil, memperhatikan Kayra masuk ke gedung melalui jendela yang gelap. Begitu Kayra menghilang di balik pintu kaca, Harry mengaktifkan radionya. "Enzo, aku masuk lewat jalur servis. Pastikan semua umpan di posisi masing-masing."

"Dimengerti, Tuan. Area arsip rahasia di lantai lima belas sedang dalam proses jamming," jawab Enzo dari seberang.

Di dalam auditorium, Direktur Aris sedang berdiri di podium, memberikan pidato tentang "kemajuan medis untuk kemanusiaan." Wajahnya yang tampak kebapakan dan penuh senyum membuat perut Kayra mual. Pria itu bicara tentang etika, sementara tangannya bersimbah darah dan pengkhianatan.

Kayra berjalan melewati kerumunan dengan dagu terangkat. Beberapa kolega lama yang dulu memalingkan muka saat skandalnya pecah, kini menatapnya dengan penuh tanya, terpesona oleh kecantikan dan otoritas yang ia pancarkan.

Mereka tidak mengenalinya. Elara telah mengubah sorot matanya yang lembut menjadi tajam seperti pisau bedah.

Saat pidato berakhir dan sesi ramah tamah dimulai, Kayra bergerak mendekat ke lingkaran elit di sekitar Aris.

"Direktur Aris, pidato yang sangat menyentuh," suara Kayra terdengar stabil, sedikit berat dan penuh penekanan.

Aris berbalik, senyum profesionalnya masih terpasang. Namun, saat matanya bertemu dengan mata Kayra, senyum itu membeku selama sepersekian detik. Pupil matanya melebar, dan Kayra bisa melihat keringat dingin mulai muncul di pelipis pria tua itu.

"Terima kasih. Dan Anda adalah ...?" tanya Aris, suaranya sedikit bergetar, mencoba mempertahankan topengnya.

"Kayra Valeska. Perwakilan Otoritas Medis Global," Kayra mengulurkan tangannya yang mengenakan cincin safir. "Saya di sini untuk memastikan bahwa dana investasi yang Anda terima benar-benar digunakan untuk ... kesehatan, bukan untuk hal lain."

Aris menjabat tangan Kayra, jemarinya terasa dingin dan sedikit gemetar. "Nama yang menarik. Anda mengingatkan saya pada seseorang yang pernah bekerja di sini. Tapi dia sudah ... tiada."

"Benarkah?" Kayra tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Mungkin dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali, Direktur. Terkadang, mayat bisa bangkit jika hutangnya belum lunas."

Kayra bisa mendengar suara Harry melalui earpiece-nya. "Bagus, Kayra. Dia mulai goyah. Pertahankan dia di sana selama lima menit lagi. Aku hampir sampai di brankas digitalnya."

Sementara itu, Harry bergerak lincah di lorong-lorong gelap lantai lima belas yang sedang dalam renovasi. Ia menghindari sensor gerak dengan presisi seorang bayangan. Di tangannya terdapat perangkat decrypter milik Profesor Elena. Begitu sampai di depan pintu arsip rahasia, Harry menempelkan alat itu.

"Ayo, Elena, berikan aku kuncinya," gumam Harry.

Pintu berdesis terbuka. Harry masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi server pendingin. Ia tidak mencari berkas fisik, ia mencari log komunikasi antara Aris dan Luca dua tahun lalu. Di dunianya, Harry tahu, bukti adalah mata uang yang paling berharga.

Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard konsol. "Ketemu."

Data-data itu mulai mengalir, instruksi Aris untuk memalsukan hasil operasi pasien bernama Marco yang merupakan salah satu letnan Luca, dan bagaimana Kayra dijadikan kambing hitam saat operasi itu gagal karena kondisi pasien yang memang sudah kritis. Aris telah menjual integritas Kayra hanya untuk mendapatkan kucuran dana dari sindikat Luca.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar. Harry mencabut flashdisk-nya dan bersandar di balik bayangan lemari besi tepat saat dua penjaga bersenjata masuk.

"Aku mencium bau asap," ujar salah satu penjaga.

Harry tidak menunggu. Dengan gerakan secepat kilat, ia keluar dari persembunyiannya. Tanpa suara, ia melumpuhkan penjaga pertama dengan hantaman siku ke leher, lalu memutar lengan penjaga kedua hingga terdengar suara tulang retak. Harry tidak membunuh mereka, dia tidak ingin menimbulkan alarm sebelum Kayra selesai, tapi dia memastikan mereka tidak akan bangun dalam waktu dekat.

"Kayra, aku sudah mendapatkan buktinya," bisik Harry ke radio. "Keluar dari sana sekarang. Situasi mulai memanas."

Di auditorium, Kayra melihat Aris yang mulai tampak panik. Beberapa asisten Aris mulai berbisik-bisik, menatap Kayra dengan curiga. Aris mencoba menjauh dari Kayra, namun Kayra menghalangi jalannya dengan tenang.

"Anda tampak terburu-buru, Direktur. Apakah ada sesuatu yang Anda sembunyikan di lantai atas?" tanya Kayra, suaranya cukup keras untuk didengar oleh beberapa investor di dekat mereka.

"Saya tidak tahu apa maksud Anda, Nona Valeska!" desis Aris, wajahnya memerah karena marah dan takut. "Sekuriti! Tolong antar wanita ini keluar, dia mengganggu acara kami!"

Dua sekuriti berbaju hitam mendekati Kayra. Kayra tidak bergerak. Ia justru menatap langsung ke arah kamera jurnalis yang mulai menyorot ke arah mereka.

"Sebelum saya pergi, Direktur," Kayra merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah pemancar kecil, sebuah alat yang terhubung langsung dengan layar proyektor besar di belakang panggung auditorium. "Mungkin para tamu ingin melihat 'prestasi' lain yang Anda capai dua tahun lalu."

Layar besar itu berkedip. Dokumen-dokumen malpraktik asli, rekaman suara Aris, dan aliran dana dari organisasi Luca mulai terpampang jelas di depan ratusan mata. Keheningan yang mengerikan menyelimuti ruangan itu sebelum akhirnya meledak menjadi kegemparan.

"Itu palsu! Itu fitnah!" teriak Aris histeris.

Kayra melangkah mundur, matanya tetap mengunci Aris dengan kepuasan yang dingin. "Keadilan tidak pernah mati, Aris. Dia hanya sedang menunggu detak jantung yang tepat."

Tiba-tiba, lampu auditorium padam selama tiga detik. Saat lampu menyala kembali, Kayra sudah tidak ada di posisinya. Harry telah menariknya ke balik tirai panggung sebelum sekuriti bisa menyentuhnya.

"Ayo!" Harry menarik pergelangan tangan Kayra, membawa wanita itu berlari melalui jalur evakuasi darurat.

Mereka berlari menuruni tangga menuju basement, napas mereka memburu di udara malam yang dingin. Begitu sampai di mobil limosin yang sudah menunggu, Harry mendorong Kayra masuk dan segera melompat ke sampingnya. Mobil melesat pergi tepat saat sirene polisi mulai mendekati gedung rumah sakit.

Di dalam mobil yang gelap, Kayra bersandar di kursi, dadanya naik turun karena adrenalin. Ia menatap Harry, dan untuk pertama kalinya, ia melihat senyum bangga yang tulus dari pria itu.

"Kau melakukannya, Kayra," ujar Harry. Ia meraih tangan Kayra, kali ini tidak melepaskannya. Harry membawa tangan itu ke wajahnya, menyandarkan pipinya di telapak tangan Kayra yang masih gemetar. "Kau baru saja meruntuhkan sebuah dinasti."

Kayra menatap cincin safirnya, lalu menatap Harry. Rasa sakit yang ia bawa dari Elara seolah mulai terangkat. "Ini baru permulaan, kan?"

"Ya," Harry menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan kota yang kini menjadi medan perburuan mereka selanjutnya. "Luca akan segera tahu bahwa asetnya hancur. Dan dia akan memburu kita dengan segala yang dia punya. Tapi untuk malam ini ... kau adalah pemenangnya."

Harry menarik Kayra ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan di tengah badai yang baru saja mereka ciptakan. Kayra memejamkan mata, menyadari bahwa meski jalannya masih panjang dan berdarah, dia tidak lagi berjalan sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!