Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Fondasi yang Tak Tergoyahkan
Malam itu, Senja tidak tidur. Ia duduk di depan meja kerjanya, bukan untuk menggambar maket, melainkan untuk menyusun strategi perang.
Ancaman Rangga tentang "video dokumenter pribadi" dari masa-masa mereka di Bali memang sempat membuatnya mual, tapi itu justru menjadi katalisator bagi Senja untuk berhenti bersikap defensif.
"Kamu pikir aku masih wanita lemah yang takut pada bayangannya sendiri, Mas Rangga?" bisik Senja di kegelapan malam.
Senja membuka laptopnya. Ia mulai mengumpulkan semua bukti transaksi keuangan selama beberapa tahun terakhir. Ia mencatat setiap perak yang ia keluarkan untuk membayar hutang-hutang Rangga, biaya hidup keluarga Rangga di kampung, hingga uang saku yang ia berikan pada Doni, semuanya tanpa ada yang Senja lewati. Ia juga mendokumentasikan semua pesan ancaman yang masuk beberapa hari terakhir.
Pagi harinya, alih-alih pergi ke kantor untuk memohon agar tidak dicuti-kan, Senja justru mendatangi kantor hukum ternama yang spesialis dalam menangani kasus pencemaran nama baik dan kejahatan siber.
"Saya ingin melakukan konferensi pers hari ini juga," ucap Senja pada pengacaranya.
"Saya ingin membuka tabir ini sebelum mereka menarik saya lebih dalam ke lumpur."
Sore harinya, di sebuah ruangan hotel yang telah disewa, puluhan wartawan media hiburan dan gaya hidup sudah berkumpul. Mereka mengira akan melihat Senja yang meminta maaf atau menangis tersedu-sedu. Bahkan Aditya, yang baru mendengar kabar ini, datang dengan wajah cemas dan berdiri di barisan belakang.
Senja melangkah masuk dengan gaun hitam yang sangat elegan. Tidak ada raut takut di wajahnya. Ia berdiri di belakang podium, menatap lurus ke arah kamera.
"Selamat sore semuanya. Saya berdiri di sini bukan untuk membela diri atas foto yang viral kemarin, karena kebenaran tidak butuh pembelaan yang berlebihan. Saya di sini untuk memberikan edukasi tentang bagaimana sebuah kebaikan bisa disalahgunakan oleh para parasit," suara Senja terdengar tenang tapi menggelegar melalui pengeras suara.
Senja mulai menampilkan slide di layar besar di belakangnya. Bukan gambar bangunan, melainkan bukti-bukti transfer dan laporan audit keuangan pribadinya selama bertahun-tahun.
"Wanita yang ada di foto itu, yang bersimpuh di kaki saya, adalah Sinta. Mantan sahabat saya yang mengkhianati kepercayaan saya demi pria yang saat itu status legalnya suami saya. Sinta menyombongkan dirinya, bisa merubah tabiat Rangga lalu menampungnya dan mereka tinggal di satu atap yang sama, merasa dirinya manusia paling berhati malaikat di bandingkan saya yang tega membuang suami begitu saja, saya tidak akan melakukan hal tersebut tanpa alasan. Sinta bersimpuh bukan karena saya tindas, tapi karena dia akhirnya menyadari bahwa pria yang dia tolong dan meremehkan saya telah menghancurkan hidupnya juga, sama seperti dia menghancurkan hidup saya dulu."
Ruangan menjadi hening. Para wartawan sibuk memotret layar.
"Terkait ancaman penyebaran video pribadi oleh mantan suami saya yang saat ini berada di penjara, saya sudah menyerahkan bukti rekaman telepon pengancamannya kepada pihak kepolisian pagi ini. Saya tidak takut. Karena jika video itu tersebar, itu hanya akan membuktikan satu hal: betapa jahatnya seorang pria yang mencoba menghancurkan wanita dari kenangan indahnya sendiri demi uang."
Senja berhenti sejenak, matanya mencari sosok Aditya di kerumunan.
"Kepada klien-klien saya dan mitra bisnis saya, termasuk Artha Group. Saya adalah seorang arsitek. Saya membangun bangunan dengan perhitungan yang matang. Dan hidup saya saat ini sedang dalam proses renovasi besar-besaran. Jika Anda ragu pada integritas saya karena fitnah seorang narapidana, maka silakan tarik kontrak Anda. Saya tidak akan memohon. Karena pilar yang saya bangun hari ini terbuat dari kebenaran, dan kebenaran tidak pernah takut pada badai."
Konferensi pers itu meledak. Narasi publik berubah total dalam hitungan jam. Netizen yang tadinya menghujat Senja, kini berbalik mendukungnya. Tagar #StandWithSenja mulai bermunculan.
Senja bukan lagi dilihat sebagai "bos yang sombong", tapi sebagai "wanita tangguh yang melawan balik".
Di dalam penjara, Rangga yang menonton berita itu dari televisi di ruang bersama, mengamuk hebat. Ia melempar benda apa saja ke arah layar. Rencananya gagal total. Senja tidak bisa lagi diancam dengan rasa malu. Senja justru memeluk rasa malunya dan menjadikannya tameng.
Sementara itu, Aditya mencoba mengejar Senja saat ia keluar dari hotel.
"Senja! Tunggu!" Aditya menahan pintu mobil Senja. "Apa yang kamu lakukan tadi... itu sangat berani. Aku minta maaf karena sempat meragukan cara kita menangani ini."
Senja menatap Aditya dengan tatapan yang berbeda. Tidak ada lagi binar kekaguman, yang ada hanyalah jarak profesional yang sangat tebal.
"Kamu benar, Adit. Kamu harus bersikap profesional. Begitu juga aku. Masalah cuti itu, aku akan mengambilnya. Bukan karena perintah dewan komisaris, tapi karena aku butuh waktu untuk memastikan semua parasit ini masuk ke liang kuburnya masing-masing secara hukum. Setelah itu, aku akan memutuskan apakah aku masih ingin bekerja sama dengan Artha Group atau membangun firman-ku sendiri."
"Senja, jangan begitu... aku melakukannya untuk melindungi kamu."
"Melindungi itu berarti berdiri di depanku saat peluru datang, Adit. Bukan menyuruhku sembunyi di gudang supaya nama kamu nggak kena percikan darah," sahut Senja dingin sebelum menutup pintu mobilnya.
...----------------...
Malam itu, Sinta menelepon Senja. Kali ini Senja mengangkatnya.
"Mbak... Mbak hebat banget tadi di TV. Aku... aku nggak nyangka Mbak berani buka semuanya, termasuk soal aku," ucap Sinta sambil terisak.
"Ini saatnya kita berhenti sembunyi, Sin. Kamu juga. Kalau kamu mau benar-benar tobat, besok datang ke kantor polisi. Kasih kesaksian kamu soal semua kebohongan Rangga. Jangan jadi pengecut lagi."
"Iya, Mbak. Aku janji. Aku akan bantu Mbak," jawab Sinta mantap.
Senja menutup teleponnya. Ia merasa sebuah beban besar akhirnya benar-benar terangkat. Tapi, ia tahu Rangga belum habis. Rangga masih punya satu kartu terakhir, yaitu ibunya yang kini sedang dalam perjalanan menuju Jakarta, berniat melakukan aksi "drama ibu terzalimi" di depan kantor Senja.
awas jangan smpai nyesel iya
rangga udah keterlaluan
bawa semua bukti" nya kalau rangga itu ga baik biar segera diproses