NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Bandara

Untung saja Albert bergerak cepat menangkap tubuh Lea yang hampir terjatuh. Jika terlambat sedikit saja, kepala wanita itu pasti sudah membentur keramik. Tanpa membuang waktu, Albert menggendong Lea dan membaringkannya di atas ranjang pasien. Beruntung, perusahaan itu memang menyediakan fasilitas medis yang lengkap, termasuk sebuah tempat tidur khusus untuk keadaan darurat.

Kiki yang mendengar salah satu perawat mengatakan bahwa wanita yang baru saja masuk dalam keadaan pingsan, segera bangkit dari tempat duduknya dan bergegas masuk ke dalam ruangan. Benar saja, ia mendapati Lea terbaring di atas ranjang dengan mata terpejam, sementara Albert tengah menangani kondisinya.

“Astaga, Dok. Ada apa dengan Lea?” tanya Kiki cemas.

“Dia tadi pingsan,” jawab Albert singkat, lalu mengambil stetoskop untuk memeriksa kondisinya. Saat alat itu ditempelkan ke area dada, Albert mendengar detak jantung Lea yang berdebar sedikit lebih cepat dari normal.

“Sepertinya dia ketakutan,” ungkapnya.

“Betul, Dok. Lea memang takut dengan jarum suntik,” timpal Kiki sambil menggenggam tangan Lea yang masih terasa dingin.

Albert mengangguk pelan. “Baiklah. Karena dia sedang tidak sadar, ini kesempatan untuk mengambil sampel darahnya,” ucapnya sebelum meraih alat suntik yang masih baru.

Pandangan Kiki sempat tertuju pada sebuah suntikan berukuran besar di atas meja. Ia sudah bisa membayangkan betapa ketakutannya Lea jika melihat benda itu, padahal yang digunakan Albert hanyalah suntikan dengan tabung kecil.

Tak lama kemudian, pengambilan sampel darah selesai. Albert lalu mengoleskan minyak aromaterapi di bawah hidung Lea.

“Nona,” panggilnya pelan agar Lea segera tersadar.

Kiki ikut membantu dengan menepuk pipi Lea secara perlahan. Beberapa saat kemudian, Lea akhirnya membuka mata. Kiki pun mengembuskan napas lega.

“Akhirnya, kau sadar juga,” ucapnya dengan suara penuh kelegaan.

Lea mengerjap pelan, lalu pandangannya jatuh pada pergelangan sikunya yang kini telah tertutup kapas dan plester. Ia menatap lengannya dengan dahi sedikit berkerut.

“Dokter sudah mengambil darahmu saat kamu pingsan, supaya kamu tidak merasakan sakit dan ketakutan,” ujar Kiki lebih dulu sebelum Lea sempat bertanya.

“Aku pingsan?” tanya Lea lirih. Ingatannya kembali pada momen saat ia baru memasuki ruangan dan matanya menangkap bayangan suntikan besar. Setelah itu, kepalanya terasa berputar dan pandangannya mengabur.

“Syukurlah Anda sudah sadar. Tadi Anda pingsan sesaat setelah masuk ke ruangan ini,” ucap Albert dengan nada ramah.

Lea membalasnya dengan senyum kecil. “Apa pemeriksaannya sudah selesai, Dok?”

Albert mengangguk. “Sudah. Anda boleh kembali bekerja,” katanya sambil membantu Lea turun dari ranjang pasien.

Kiki yang menyaksikan sikap perhatian Albert hanya bisa tersenyum sendiri, seolah menangkap sesuatu yang lebih dari sekadar profesionalitas seorang dokter.

Merasa situasi ini tidak baik, Bianca segera mengenakan pakaiannya dengan tergesa. Ia tak peduli jika nanti akan menjadi pusat perhatian karena model baju yang terbuka. Di tepi tempat tidur, ia sengaja meletakkan kartu hitam milik Alex. "Aku harus segera keluar dari sini," gumamnya dalam hati.

Dengan penuh kewaspadaan, Bianca melangkah menuju pintu dan perlahan menekan gagangnya. Ia memilih tidak mengenakan alas kaki agar lebih leluasa bergerak, mengingat sepatu berhak tinggi miliknya justru akan memperlambat langkah. Begitu berada di luar kamar, Bianca langsung berlari menuju lift.

Namun langkahnya mendadak terhenti saat melihat indikator lift menunjukkan seseorang sedang naik ke lantai tempat ia berdiri. 'Jangan-jangan asistennya sudah kembali," insting Bianca memperingatkan. Tanpa ragu, ia segera bersembunyi di balik pintu menuju tangga darurat.

Beberapa detik kemudian pintu lift terbuka. Benar saja, asisten Alex keluar sambil menenteng beberapa paper bag dan berjalan menuju kamar pria itu. Setelah yakin pria tersebut masuk ke dalam kamar, Bianca pun keluar dari persembunyiannya. Ia melangkah cepat menuju lift dan menekan tombol. Saat pintu terbuka, Bianca masuk dan segera menekan tombol menuju lantai dasar.

“Persetan dengan kartu hitam itu,” umpatnya lirih ketika akhirnya tiba di lobi.

Beruntung, di depan hotel ada sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Bianca segera berlari ke arahnya agar tidak tertinggal.

“Antar aku ke Apartemen Bells,” ucapnya begitu masuk ke dalam mobil, napasnya masih terengah-engah.

“Baik, Nona,” jawab sopir taksi itu singkat.

Taksi pun melaju meninggalkan hotel. Dari dalam mobil, Bianca terus mengamati keadaan sekitar dengan penuh kewaspadaan, berjaga-jaga jika Alex atau asistennya mencoba mengejar. Pandangannya tak lepas dari kaca spion hingga bangunan hotel itu benar-benar menghilang dari pandangan.

Alex yang baru saja selesai membersihkan diri tertegun saat melihat kartu hitam miliknya tergeletak di tepi tempat tidur. Alisnya langsung berkerut. Pandangannya menyapu ruangan yang kini terasa kosong.

Ia melirik Joe, asistennya, yang sejak tadi duduk menunggu dengan sikap tenang.

“Ke mana perempuan itu?” tanyanya dingin.

Joe menggeleng pelan. “Saya tidak tahu, Tuan. Saat saya masuk, perempuan itu sudah tidak ada. Saya pikir dia bersama Anda di dalam,” jawabnya jujur.

Alex segera mencari ponselnya untuk menghubungi Bianca. Semalam ia dan Bianca sempat bertukar nomer ponsel. Namun panggilan tersebut tidak tersambung karena Bianca telah memblokir nomer nya.

"Sialan! Kenapa perempuan itu pergi. Bianca kau ingin bermain-main dengan ku? Hah!" Gerutu nya sendirian.

"Apa perlu saya mencari nya Tuan?"

Alex mengangguk, "Tentu, cari dia. Semalam dia mengatakan jika dia tinggal di salah satu apartemen bells. Mungkin dia sedang dalam perjalanan pulang ke sana". Titah nya.

"Baik, Tuan". Joe segera undur diri

Meninggalkan Alex yang masih tersulut emosi, di kediaman lain Dave dan Elia tengah bersiap menuju bandara. Angel dan Billy sudah lebih dulu menunggu di sana. Penerbangan mereka memang dijadwalkan pukul tujuh malam, namun bersiap lebih awal terasa lebih aman untuk mengantisipasi antrean panjang atau hal-hal tak terduga.

Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah. Di sepanjang perjalanan, Elia tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Sudah sangat lama ia tidak berlibur, semenjak kepergian sang ibu. Dan kini, akhirnya waktunya tiba.

“Sepertinya kau senang sekali,” ucap Dave sambil melirik istrinya sekilas, senyum tipis terukir di wajahnya.

Elia membalas dengan senyum manis. “Tentu saja. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa naik pesawat lagi,” ujarnya penuh antusias.

Dave terdiam sejenak sebelum kembali bertanya, “Kapan terakhir kali kau naik pesawat?”

Elia sempat terdiam. Pandangannya lurus ke depan sebelum akhirnya menjawab pelan, “Saat mengantar Mom ke Singapura untuk berobat.”

Seketika, rona bahagia di wajahnya memudar, berganti dengan kesedihan yang sulit disembunyikan. Dave pun langsung merasa bersalah.

“Eh... maaf, Elia. Bukan maksudku mengingatkan tentang hal yang membuatmu sedih,” ucapnya dengan nada menyesal.

Elia menoleh ke arahnya, lalu menggeleng pelan. “Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Aku hanya teringat… di dalam pesawat waktu itu, ibu sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tanganku. Ia sangat takut,” ungkapnya.

Suasana di dalam mobil kembali hening. Dave memutar lagu melalui ponselnya yang terhubung ke sistem audio mobil, memilih deretan lagu balada bertempo pelan. Alunan musik dengan suara lembut itu membuat Elia mengantuk. Mata nya terasa berat, lalu menyadarkan kepala nya pada sandaran kursi.

"Dasar, dia malah tidur" gerutu Dave pelan.

Sementara itu, Bimbim yang tengah fokus menyetir hanya bisa menyaksikan interaksi keduanya melalui kaca spion.

Kondisi lalu lintas tampak cukup padat. Mungkin karena waktu telah memasuki jam sore, banyak para pekerja yang sedang dalam perjalanan pulang. Akibatnya, laju kendaraan pun menjadi lebih lambat.

Dave melirik ke arah Elia. Wanita itu tertidur dengan posisi kepala yang hampir terjatuh karena keseimbangannya berubah. Tak lama kemudian, kepalanya bergerak ke arah kanan, mendekati Dave.

Tanpa sadar, Elia merebahkan kepalanya di pundak Dave. Rasa kantuk yang begitu berat membuatnya sama sekali tidak membuka mata, seolah tak menyadari apa yang sedang terjadi.

Dave memperbaiki posisi kepala Elia di bahunya agar terasa lebih nyaman. Tak masalah baginya jika bahunya akan terasa pegal. Meski Dave sendiri tak mengerti dengan pikirannya, ia seakan tak ingin membiarkan Elia terjatuh atau membentur dinding mobil akibat posisi tidurnya.

“Hoam…” Dave menguap, kedua matanya mulai terasa berat. Arloji di pergelangan tangannya menunjukkan bahwa perjalanan mereka masih cukup jauh. Jadi, tak ada salahnya jika ia memejamkan mata sejenak.

Tubuh kekar itu tetap dalam posisi tegap. Bahu nya yang kini menjadi sandaran kepala Elia harus tetap seimbang, seolah ia tengah berjaga meski terlelap.

Diam-diam, Bimbim mengambil potret keduanya menggunakan kamera ponselnya, bertepatan saat mobil berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah.

Setelah berhasil mendapatkan gambar itu, Bimbim kembali ke posisinya semula. Ponsel tersebut ia simpan kembali ke dalam saku jasnya, lalu kedua tangannya kembali mantap memegang setir.

Akhirnya, mobil berwarna putih itu tiba di pintu masuk bandara. Bimbim menoleh ke kursi belakang kedua majikannya masih terlelap dengan posisi tidur yang nyaman.

“Nyonya, Tuan, kita sudah sampai,” ucap Bimbim dengan suara hati-hati.

Dave yang peka terhadap suara itu membuka matanya perlahan. Ia melirik ke samping, Elia masih terlelap dalam tidurnya.

“Elia, bangun,” serunya sambil menepuk pelan pipi Elia.

Beberapa saat kemudian, Elia terbangun. Matanya tampak memerah, menandakan ia masih sangat mengantuk. "Apa kita sudah sampai?" tanya Elia dengan suara nya yang masih berat.

"Kita sudah sampai di bandara, ayo turun" seru Billy. Elia meregangkan tubuhnya sesaat lalu merapikan rambutnya yang berantakan sebelum keluar dari dalam mobil.

Bimbim turun dari mobil dan berlari kecil menuju bagasi untuk menurunkan barang-barang. Setelah memastikan tak ada satu pun yang tertinggal, Dave dan Elia pun melangkah masuk ke dalam bandara.

Angel mengirimkan pesan, memberi tahu bahwa ia dan Billy tengah berada di ruang VIP bandara.

Beralih ke kantor perusahaan Dave. Lea baru saja menyelesaikan pekerjaan ia melihat waktu sudah menunjukan pukul 6 sore itu tandanya ia harus bergegas pulang.

Beralih ke kantor perusahaan Dave. Lea baru saja menyelesaikan pekerjaannya ketika ia melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Itu tandanya ia harus segera pulang.

Hari ini, ia akan pulang bersama Kiki menggunakan sepeda motor. Lumayan untuk mengirit pengeluaran, mengingat Lea belum genap satu bulan bekerja dan artinya belum menerima gaji.

Keduanya turun bersamaan menuju lantai dasar.

“Sebentar ya, aku ambil sepeda motorku dulu,” ucap Kiki.

Lea mengangguk sambil tersenyum. Pandangannya sempat tertuju pada mobil kantor yang dibawa Nick, yang baru saja meninggalkan area perkantoran.

Tak lama kemudian, Kiki muncul dengan sepeda motornya dan langsung menyerahkan helm kepada Lea. Keduanya pun segera beranjak, menyusuri jalan raya yang mulai padat.

“Apa kau lapar, Lea?” tanya Kiki.

“Lumayan,” jawab Lea singkat.

“Bagaimana kalau kita makan dulu?”

Lea terdiam. Baru beberapa hari bekerja, ia harus benar-benar menghemat pengeluarannya sampai menerima gaji pertamanya.

Kiki melirik lewat kaca spion, menangkap wajah Lea yang tampak murung. “Biar aku yang traktir,” ucapnya, seolah memahami diam Lea.

“Jangan, Kiki. Aku tidak mau merepotkan mu,” kata Lea sungkan. Padahal, ia sama sekali tak berharap untuk dibayari.

“Tidak apa-apa. Santai saja, kita ini kan satu tim,” balas Kiki sambil tertawa kecil dan sedikit mempercepat laju motornya. Hingga membuat Lea menepuk pelan bahu temannya itu.

Di antara para karyawan lainnya, hanya Kiki yang terasa begitu hangat pada Lea. Wanita berkacamata itu tampak ramah dan peduli, membuat Lea merasa nyaman dan tak sungkan untuk berteman dengannya.

Di lobi apartemen, Bianca terkejut bukan main saat kembali untuk mengambil mobilnya yang masih terparkir sejak semalam di bar. Baru saja ia hendak kabur, asisten Alex sudah lebih dulu menghadangnya.

Dengan tubuh gemetar, Bianca memberanikan diri berbicara kepada Alex. “Kita sudah tidak punya urusan apa pun. Kartu hitammu sudah aku simpan kembali,” ucapnya tegas.

Saat Bianca hendak melangkah pergi, Alex tiba-tiba menarik tangannya dengan kuat hingga membuatnya meringis kesakitan. “Lepaskan, atau aku akan berteriak!” ancam Bianca.

Alex akhirnya menyerah. Ia terpaksa menahan emosinya daripada harus membuat kekacauan jika Bianca benar-benar berteriak.

“Bianca, sepertinya aku jatuh hati padamu,” ucap Alex dengan nada yang terlalu berterus terang.

Bianca mengernyit, menelisik kedua mata pria itu, mencari tanda-tanda kebohongan di sana.

“Semalam aku hanya sedang bersedih karena kekasihku mengabaikan ku. Sekarang semuanya sudah normal. Lupakan kejadian semalam,” ucap Bianca dingin.

“Tidak!” bantah Alex. “Sejak tadi malam, kau adalah milikku, Bianca.”

Tanpa peringatan, Alex memeluknya. Tindakan itu langsung membuat Bianca merasa risih dan terancam.

“Alex, kumohon lepaskan aku. Kita tidak ada hubungan apa-apa,” ucap Bianca berusaha menahan amarah.

“Tapi kau sudah membuatku gila,” balas Alex. “Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama.”

Kata-kata itu justru membuat Bianca jijik. Pria di hadapannya tampak bukan hanya tertarik, melainkan terobsesi.

“Jika kau tetap berada di sisiku, aku akan memberikan apa pun yang kau mau,” lanjut Alex, kali ini memeluk Bianca semakin erat. Bianca tak tahan lagi. Ia berteriak sekuat tenaga hingga membuat beberapa penghuni apartemen di lantai itu keluar dari unit mereka.

“Tolong! Dia mencoba melecehkan ku!” serunya.

Tak lama kemudian, seorang penjaga bertubuh tinggi dan tegap muncul. Tanpa banyak bicara, ia menarik Alex menjauh dan menyeretnya keluar dari area lobi.

Menyadari keadaan sudah tak memungkinkan, Alex dan asistennya pun segera meninggalkan apartemen.

“Apa Anda baik-baik saja, Nona?” tanya penjaga itu.

Bianca mengangguk. “Saya baik-baik saja. Tolong jangan biarkan orang itu masuk ke apartemen ini lagi. Dia tidak waras,” ucapnya tegas.

Malam kian menjelang, dan waktu keberangkatan pun tiba. Elia, Dave, Angel, serta Billy kini telah berada di dalam pesawat.

“Hebat sekali kita bisa berada dalam satu kabin dengan kelas yang sama,” ucap Angel sambil menoleh ke kursi belakang, tempat Dave dan Elia duduk.

“Benar. Sepertinya semua sudah diatur oleh semesta,” timpal Billy.

Elia yang masih dilanda kantuk memilih untuk kembali terlelap, meninggalkan Dave yang sibuk menatap layar tabletnya. Meski sedang dalam perjalanan liburan, pria itu tetap tak mampu mengabaikan pekerjaannya.

Sial, penjualan kosmetik semakin merosot saja, gerutunya dalam hati. Pikirannya kembali melayang pada niat untuk meminta bantuan Elia. Namun, Dave juga harus mempertimbangkan ulang kompensasi yang diminta wanita itu. Bukan berupa harta benda, melainkan nafkah batin.

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!