Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri sah musuh dalam selimut
"Dari mana kamu, Mas?" tanya Elina penuh selidik, menatap suaminya yang baru saja memasuki kamar.
Ares sedikit terkejut. Ia mengira Elina sudah tertidur pulas di jam sebegini.
"Aku dari luar," jawabnya singkat.
Elina tersenyum miring, berpura-pura tidak tahu kebenarannya. "Oh, aku pikir kamu cari jajanan di luar," ucapnya santai, lalu kembali menoleh ke ranjang seolah tak peduli.
Ares menghela napas kasar, menahan kekesalan dan kekecewaan yang menggerogoti hatinya. Ia masuk ke toilet, menenangkan diri sebentar, lalu keluar dan menyusul Elina di atas ranjang.
"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Ares sambil memeluk Elina dari samping.
Elina tetap diam, pura-pura memejamkan mata. Tubuhnya tegang, merasa risih dengan pelukan Ares. Hatinya hampir ingin menendang suaminya sendiri, apalagi setelah tahu dari mana sebenarnya Ares pergi—dari pelukan selingkuhannya sendiri.
Dalam kesunyian kamar itu, napas mereka terdengar berat, namun Elina tetap menahan diri. Di balik matanya yang terpejam, pikirannya sudah berjalan seribu langkah ke rencana balas dendamnya.
♡♡♡♡
"Pagi, Mas..." sapa Maya saat melihat Ares membuka pintu.
Ares yang baru keluar terkejut, menoleh ke sekeliling takut Elina melihatnya. "Sayang, ngapain kamu datang pagi-pagi gini," ucapnya pelan, suaranya dipaksakan tenang.
"Anamu, Mas, ingin bertemu papanya," jawab Maya santai. "Mas tenang saja, aku sudah punya ide kalau tiba-tiba Elina datang."
Dari jauh, Elina mengamati tingkah mereka berdua.
"Perempuan itu sekarang sudah mulai berani, dasar tidak tahu malu... Eh, dia kan gak punya malu," gumamnya dingin.
Elina melangkah mendekat.
"Ngapain kamu pagi-pagi datang ke sini, May?" tanyanya datar, menatap Maya tanpa lagi ada kata lembut untuk seorang perebut.
Maya dan Ares yang sedang berpegangan tangan langsung melepaskan tangan mereka.
"Elina, aku mau ngajak kamu shopping. Sudah lama kita gak shopping bareng," ucap Maya, wajahnya polos seolah tak bersalah.
Elina menaikkan alis, lalu tersenyum miring. "Kamu bisa kirim pesan, tidak harus datang ke sini, kan?"
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu pada sahabat kamu?" tanya Ares kesal menatap istrinya.
"Kenapa kamu kesal seperti Mas? Aku hanya mengungkapkan apa yang aku ungkapkan," jawab Elina santai, menahan amarah.
"Sudah lah, Mas. Aku yang salah kok, aku seharusnya menghubungi Elina saja," sahut Maya, wajahnya pura-pura sedih.
Elina menatapnya datar, tak ada rasa iba. "Sejak kapan kamu memanggil Mas Ares dengan kata 'Mas'? Biasanya kamu panggil Ares saja," ucap Elina tajam.
Maya menelan ludah, wajahnya memerah. Ia cepat-cepat tersenyum manis dan mengubah nada suaranya. "Oh... iya, maksudku... karena... biar terdengar lebih sopan sama kamu, El. Kan aku menghormati sahabatku," ujarnya tergagap sambil tersenyum.
Elina menatapnya datar, senyumnya tipis tapi matanya penuh arti.
"Oh, gitu ya..."
"Iya, El. Kamu jangan salah paham," ucap Maya tergesa. "Bagaimana, kamu mau shopping sama aku?" Maya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, hari ini aku ingin ke kantor. Ada yang harus aku beresin," jawab Elina tegas.
"Sayang? Ngapain kamu ke kantor? Semua urusan hari ini biar aku yang handle," sahut Ares.
"Emang ada salahnya aku ke perusahaan ayahku sendiri?" ucap Elina penuh tekanan.
"Gak sih, sayang…"
"Sudahlah, Mas. Aku tidak ingin ribut. Kamu mau mengantar aku atau kamu sama sopir?" potong Elina cepat.
"Maaf sayang, kamu jalan duluan saja. Mas hari ini ada agenda di luar," ucap Ares beralasan, mencoba terdengar santai.
Elina hanya menatapnya malas. Sekali lagi Ares membohonginya. Hatinya terasa panas—mengapa sejak dulu ia begitu bodoh menerima Ares dan keluarganya.
"Ya sudah, aku duluan," gumamnya, lalu melangkah menuju mobilnya.
Di dalam mobil, Elina memperhatikan Ares dan Maya saling bertukar senyum. Bibirnya membentuk senyum miring tipis.
"Gundik dan benalu harus disingkirkan," bisiknya pelan, menekan pedal gas dan meninggalkan kediaman dengan penuh tekad.
"Maya…"
Maya menoleh, saat Amelia menghampirinya dengan wajah berseri.
"Halo, Mah," ucap Maya sambil salim pada Amelia. "Mama, apa kabar?"
"Sangat baik, sayang," jawab Amelia dengan senyum miring. "Kalau cucu Mama, bagaimana?" tanyanya sambil menatap perut Maya yang masih rata.
"Cucu Mama baik dong. Hari ini dia ingin bertemu papanya, jadi aku kemari," jawab Maya tersenyum.
Amelia menatap Ares.
"Ares, Elina sudah pergi kan?"
"Iya, Mah. Aku bisa bermesraan dengan Maya," jawab Ares sambil merangkul Maya masuk ke rumah, diikuti Amelia yang senang bisa bebas.
"Wati…" panggil Amelia pada Bi Wati.
"Iya, Nyonya…" jawab Bi Wati mendekat.
"Kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan. Kalau sampai Elina tahu, anak kamu di kampung akan aku singkirkan," ancam Amelia dingin.
"Iya, Nyonya. Saya paham," jawab Wati, meski hatinya mulai bergetar karena ikut dalam perang mereka, tanpa sadar Elina sudah mengetahui semua.
"Bagus. Sekarang buatkan makanan yang enak dan sehat untuk bumil," perintah Amelia, lalu pergi menghampiri Maya dan Ares yang sedang bermesraan di ruang tamu.
"Nyesal aku ikut perintah mereka."
Dengan langkah berat, Bi Wati menuju dapur, dan tanpa ragu mulai merekam semua kebusukan mereka untuk dilaporkan ke Elina.
♡♡
Di kantor, Elina tersenyum miring saat melihat laporan yang dikirimkan Bi Wati. Tanpa perlu bukti yang banyak, Elina sudah bisa menebak semua yang terjadi, diam-diam ia telah memasang CCTV tersembunyi, sehingga setiap gerak-gerik Ares, Maya, dan keluarga bisa ia amati.
"Mereka mulai berani," gumamnya dingin, seolah setiap kata itu seperti pisau yang diselipkan di udara.
Elina menekan nomor di ponselnya, lalu menunggu beberapa dering. Suara hangat terdengar di seberang.
"Halo, Elina..."
"Halo, Ayah. Ayah masih di Swiss?" tanya Elina dengan nada sopan namun tegas, menyembunyikan kegelisahan di balik senyumnya.
"Iya sayang. Ada apa?" balas Albert, Ayahnya yang sedang berlibur jauh.
"Elina..."
"Katakan saja, sayang. Kamu gak usah sungkan sama Ayah," ucap Albert, mengetahui bagaimana putrinya selalu berhati-hati dalam menyampaikan maksudnya.
"Elina ingin pengangkatan CEO diubah dan undur," jawab Elina tegas.
Di seberang, Albert mengerutkan keningnya. "Kenapa bisa seperti itu, sayang? Minggu depan acaranya sudah dijadwalkan. Semua tamu penting, dewan direksi juga hadir... Apa masalahnya?"
Elina tersenyum tipis, suaranya lembut namun penuh ketegasan.
"Tidak masalah, Ayah. Hanya aku ingin memastikan orang yang tepat memimpin perusahaan. Aku rasa sudah waktunya ada perubahan di jajaran atas."
Albert terdiam sejenak, mencoba menebak maksud putrinya.
"Hmm… baiklah, sayang. Kalau itu keputusanmu, Ayah dukung penuh. Ayah akan menyuruh Arga menangani semuanya, kamu bisa diskusikan apa yang terbaik," ucap Albert akhirnya.
"Baik, Ayah. Makasih sudah mau memenuhi keinginan Elina," jawab Elina dengan senyum tipis.
"Apapun untuk putri Ayah, sayang," ucap Albert. "Elina?"
"Iya, Ayah?"
"Tidak ada masalah, kan, Nak?" tanya Albert lembut, seolah bisa merasakan apa yang dirasakan Elina meski jarak memisahkan mereka.
"Elina baik-baik saja, Ayah," jawabnya berusaha menenangkan diri, meski dadanya berdebar memikirkan langkah-langkahnya ke depan.
"Elina, kamu tahu Ayahkan… Ayah bisa…"
"Ayah, kali ini biar Elina hadapi sendiri. Elina hanya perlu dukungan dari Ayah dan Bunda," potong Elina dengan nada tegas namun santai.
Albert menghela napas berat, tebakannya benar. "Baiklah, Nak. Ayah akan selalu ada di samping kamu," ujarnya penuh keyakinan.
Elina menutup ponselnya perlahan, menatap keluar jendela kantor. Cahaya pagi menyinari wajahnya yang tenang, namun matanya penuh tekad. Di balik senyum tipis itu, ia sudah menyiapkan strategi untuk menyingkirkan pengkhianat di sekelilingnya.