Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Hari Pertemuan Yang Menentukan
Matahari sudah tinggi menyinari langit kota Malang ketika Sultan tiba di kantor PT. Citra Kreatif Indonesia yang berlokasi di gedung perkantoran modern di pusat bisnis kota. Dia mengenakan jas biru tua yang rapi dengan kemeja putih bersih, membawa tas kerja yang berisi berkas-berkas lengkap tentang kelompok pelaku usaha kreatif lokal yang akan dia usung dalam pertemuan hari ini. Di sebelahnya, Alya mengenakan baju batik modern warna ungu muda dengan rok panjang hitam, wajahnya bersinar dengan kegembiraan meskipun tubuhnya terlihat sedikit capek karena kondisi kehamilannya yang memasuki bulan kedelapan.
“Apakah kamu benar-benar merasa baik-baik saja untuk ikut hari ini, sayang?” tanya Sultan dengan penuh perhatian saat mereka memasuki lift gedung. Dia menggenggam tangan istri nya dengan lembut, khawatir akan kesehatannya. “Kita bisa saja kamu tinggal di rumah dan saya akan memberitahukan hasil pertemuan nanti.”
Alya menggeleng dan memberikan senyum hangat. “Tidak usah khawatir, sayang,” jawabnya dengan suara lembut namun tegas. “Saya sudah menunggu hari ini dengan sangat lama. Selain itu, saya juga ingin secara langsung menyampaikan ide-ide saya tentang pelatihan yang bisa diberikan kepada para ibu-ibu kelompok kerajinan tangan. Saya merasa lebih tenang jika bisa melihat sendiri bagaimana diskusinya berjalan.”
Sultan tersenyum dan mencium dahi istri nya. “Baiklah, jika itu yang kamu inginkan,” ujarnya dengan cinta. “Namun jika kamu merasa capek atau tidak nyaman sedikit pun, jangan sungkan untuk memberitahu saya ya. Kita bisa pergi pulang kapan saja.”
Ketika lift terbuka di lantai kesembilan, mereka disambut oleh seorang pramugari kantor yang ramah yang langsung membimbing mereka ke ruang rapat yang sudah disiapkan. Ruangan yang luas dan modern dihiasi dengan tanaman hijau yang segar dan lukisan-lukisan karya seniman muda Indonesia. Sudah ada beberapa orang yang sudah berada di sana, termasuk Rina Wijaya yang mengenakan blazer warna merah anggur dengan celana panjang putih, serta beberapa anggota tim dari PT. Citra Kreatif Indonesia.
“Selamat pagi, Pak Sultan, Bu Alya,” ujar Rina dengan senyum profesional saat mereka mendekati meja rapat besar berbentuk persegi panjang. “Sangat senang Anda bisa datang bersama pasangan Anda hari ini. Kami sudah menyiapkan tempat khusus untuk Bu Alya agar merasa nyaman.”
Alya mengucapkan terima kasih dan dengan bantuan Sultan duduk di kursi yang sudah dilengkapi dengan bantal tambahan dan meja sisi yang rendah untuk kenyamanannya. Sultan duduk di sebelahnya, sementara Rina mengambil tempat di ujung meja rapat sebagai pemimpin dari pihak perusahaan.
Tak lama kemudian, beberapa perwakilan dari kelompok pelaku usaha kreatif lokal mulai tiba satu per satu, termasuk Bu Siti yang mengenakan baju batik warna kuning emas dengan tali pinggang renda putih. Wajahnya menunjukkan rasa gugup namun juga penuh harap saat dia melihat lingkungan kantor yang modern dan profesional. Sultan segera berdiri dan mendekatinya untuk membantu dia menemukan tempat duduk, memberikan rasa tenang dengan senyumnya yang ramah.
“Jangan khawatir, Bu Siti,” ujar Sultan dengan suara lembut. “Kita semua di sini untuk bekerja sama dan mencari cara terbaik untuk membantu usaha kalian berkembang. Cukup ceritakan apa yang kalian butuhkan dan apa yang kalian harapkan dari program ini.”
Bu Siti mengangguk dengan rasa lega dan duduk di sebelah Alya, yang segera memberikan senyum hangat dan mulai berbincang santai dengannya untuk meredakan kegugupannya. Ketika semua peserta sudah berkumpul, Rina memulai pertemuan dengan memberikan sambutan dan menjelaskan tujuan dari pertemuan hari ini.
“Selamat pagi kepada semua yang hadir hari ini,” ujar Rina dengan suara yang jelas dan penuh semangat. “Pada hari ini, kita akan membahas tentang program kerja sama antara pemerintah daerah Jawa Timur melalui tim Pak Sultan dengan PT. Citra Kreatif Indonesia untuk mengembangkan industri kreatif lokal. Tujuan utama dari program ini adalah untuk membantu pelaku usaha kreatif lokal mendapatkan akses pasar yang lebih luas, pelatihan yang dibutuhkan, serta dukungan dalam hal pemasaran dan manajemen usaha.”
Dia kemudian memberikan presentasi tentang visi dan misi program, termasuk data tentang pelaku usaha kreatif yang telah dibantu oleh perusahaan mereka di daerah lain di Indonesia. Slide presentasi menampilkan foto-foto produk yang berhasil memasuki pasar nasional bahkan internasional, serta testimoni dari para pelaku usaha yang telah merasakan manfaat dari program serupa.
Setelah presentasi selesai, Sultan naik ke depan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang kondisi pelaku usaha kreatif lokal di Jawa Timur. Dia menunjukkan data tentang jumlah kelompok kerajinan tangan, jenis produk yang mereka hasilkan, serta tantangan yang mereka hadapi sehari-hari. Dia juga menunjukkan foto-foto dari beberapa kelompok kerajinan tangan yang telah dia kunjungi, termasuk karya-karya mereka yang memiliki kualitas tinggi namun kurang mendapatkan perhatian yang layak.
“Seperti yang bisa Anda lihat, para pelaku usaha kreatif lokal kita memiliki keterampilan yang luar biasa dan produk yang memiliki nilai budaya yang tinggi,” ujar Sultan dengan suara penuh semangat. “Namun mereka menghadapi berbagai tantangan mulai dari kurangnya akses bahan baku berkualitas, kurangnya pengetahuan tentang pemasaran dan manajemen usaha, hingga kurangnya akses ke pasar yang lebih luas. Program kerja sama yang kita lakukan hari ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut.”
Setelah itu, giliran diberikan kepada perwakilan dari kelompok pelaku usaha kreatif lokal untuk menyampaikan pendapat dan kebutuhan mereka. Bu Siti adalah yang pertama kali naik ke depan, dengan sedikit gemetar namun dengan suara yang jelas dan tegas.
“Perkenalkan saya Siti dari Kelompok Kerajinan Tangan ‘Citra Nusantara’,” ujarnya dengan penuh kebanggaan. “Kami telah berdiri selama lima tahun dan memiliki sekitar dua puluh anggota yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga. Kami membuat berbagai produk seperti tas anyaman bambu, boneka kain batik, dan aksesoris dari bahan alam lainnya. Meskipun kami bekerja dengan sangat keras, namun hasil penjualan kami masih sangat terbatas karena kami tidak punya akses pemasaran yang memadai.”
Dia kemudian menjelaskan tentang tantangan-tantangan yang mereka hadapi, mulai dari sulitnya mendapatkan bahan baku berkualitas dengan harga terjangkau, kurangnya pengetahuan tentang cara membuat desain yang menarik bagi pasar modern, hingga sulitnya mengikuti perkembangan teknologi untuk memasarkan produk mereka secara daring.
“Kami sangat berharap bisa mendapatkan bantuan dalam hal pelatihan desain dan manajemen usaha,” ujar Bu Siti dengan mata yang berkaca-kaca karena emosi. “Kami juga berharap bisa mendapatkan akses ke pasar yang lebih luas sehingga karya kami bisa dikenal oleh lebih banyak orang dan kami bisa meningkatkan penghasilan keluarga kami.”
Setelah Bu Siti selesai berbicara, beberapa perwakilan lainnya juga naik ke depan untuk menyampaikan pendapat mereka. Ada yang berbicara tentang kebutuhan akan pelatihan teknologi informasi untuk memasarkan produk secara daring, ada yang berbicara tentang kebutuhan akan bantuan dalam hal perizinan dan sertifikasi produk, dan ada juga yang berbicara tentang kebutuhan akan ruang produksi yang lebih baik dan aman.
Alya kemudian naik ke depan untuk menyampaikan ide-ide nya tentang pelatihan yang bisa diberikan kepada para pelaku usaha kreatif lokal. Dia menjelaskan bahwa selain pelatihan teknis dan manajemen usaha, para ibu-ibu juga membutuhkan pelatihan tentang cara mengatur waktu antara pekerjaan kerajinan tangan dengan tugas rumah tangga mereka. Dia juga mengusulkan untuk membuat kelompok belajar bersama dimana para anggota bisa saling berbagi ilmu dan pengalaman satu sama lain.
“Saya juga mengusulkan untuk membuat program pembinaan dimana para pelaku usaha kreatif yang sudah lebih berpengalaman bisa membantu mereka yang baru memulai,” ujar Alya dengan suara yang jelas dan penuh keyakinan. “Dengan begitu, kita bisa menciptakan komunitas yang solid dan saling mendukung satu sama lain.”
Ide-ide yang disampaikan oleh Alya mendapatkan sambutan positif dari semua peserta. Rina bahkan langsung mencatat beberapa poin penting yang dia sampaikan dan mengusulkan untuk menyertakan program tersebut dalam rencana kerja sama mereka.
“Ide Anda sangat luar biasa, Bu Alya,” ujar Rina dengan penuh penghargaan. “Kami di PT. Citra Kreatif Indonesia sangat mendukung konsep pembinaan dan pembentukan komunitas yang solid. Kami akan menyertakan program ini dalam proposal kerja sama kami dan mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukungnya.”
Setelah semua peserta selesai menyampaikan pendapat dan kebutuhan mereka, diskusi masuk ke tahap perencanaan program secara rinci. Mereka membahas tentang jadwal pelatihan yang akan diberikan, lokasi pelatihan yang akan digunakan, materi pelatihan yang akan disampaikan, serta mekanisme pendaftaran dan seleksi peserta. Mereka juga membahas tentang cara kerja sama dalam hal pemasaran produk, termasuk penggunaan platform daring milik PT. Citra Kreatif Indonesia dan kemungkinan untuk memasarkan produk di toko-toko fisik yang bekerja sama dengan perusahaan mereka.
Sultan mengusulkan untuk membuat tim kerja yang terdiri dari perwakilan dari pemerintah daerah, PT. Citra Kreatif Indonesia, dan perwakilan dari kelompok pelaku usaha kreatif lokal. Tim kerja ini akan bertugas untuk mengoordinasikan pelaksanaan program, memantau perkembangannya, dan menyelesaikan masalah-masalah yang mungkin muncul selama pelaksanaan program.
“Dengan membentuk tim kerja yang terdiri dari semua pihak terkait, kita bisa memastikan bahwa program ini berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan yang telah kita tetapkan,” ujar Sultan dengan suara tegas. “Setiap pihak akan memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas, sehingga tidak akan ada kesalahpahaman atau tumpang tindih dalam pekerjaan.”
Rina mengangguk dengan penuh persetujuan dan menyarankan untuk memilih ketua tim kerja yang akan memimpin dan mengoordinasikan aktivitas tim tersebut. Setelah beberapa diskusi, mereka sepakat bahwa Sultan akan menjadi ketua tim kerja, sementara Rina akan menjadi wakil ketua dan Bu Siti akan menjadi perwakilan dari kelompok pelaku usaha kreatif lokal.
“Kita akan mulai pelaksanaan program ini dalam waktu dua minggu ke depan,” ujar Rina dengan suara penuh semangat. “Kami akan segera menyusun proposal kerja sama secara lengkap dan mengirimkannya kepada pihak pemerintah daerah untuk disetujui. Selama waktu tunggu tersebut, kita bisa mulai melakukan survei lapangan untuk mengumpulkan data lebih lanjut tentang pelaku usaha kreatif lokal dan mempersiapkan materi pelatihan yang akan diberikan.”
Sebelum pertemuan berakhir, Haji Mansur tiba-tiba masuk ke ruang rapat dengan membawa beberapa keranjang buah segar dan makanan ringan. Pria berusia lanjut tersebut mengenakan baju koko warna biru tua dengan sarung batik coklat tua, wajahnya terpancar senyum hangat saat melihat semua peserta yang sedang berkumpul.
“Maafkan saya jika mengganggu pertemuan kalian,” ujarnya dengan suara dalam namun penuh kasih. “Saya hanya ingin memberikan sedikit hadiah untuk semua yang telah berkumpul hari ini untuk membahas hal yang sangat penting bagi masa depan industri kreatif daerah kita. Buah dan makanan ini adalah dari kebun saya sendiri, sebagai bentuk dukungan saya terhadap program yang akan kita jalankan bersama.”
Semua peserta memberikan tepuk tangan yang hangat untuk menyambut kedatangan Haji Mansur. Sultan segera mendekati ayahnya dan membantu dia meletakkan keranjang buah di atas meja samping. Alya juga berdiri dengan bantuan Bu Siti untuk menyambut mertuanya dengan hormat.
“Bapak datang tepat waktu,” ujar Sultan dengan senyum bangga. “Kita baru saja menyelesaikan diskusi tentang rencana pelaksanaan program dan sedang berencana untuk memulai dalam waktu dua minggu ke depan.”
Haji Mansur mengangguk dan melihat sekeliling ruangan dengan ekspresi yang penuh kebanggaan. “Saya sangat senang bisa melihat semua pihak berkumpul bersama untuk bekerja sama dalam hal yang baik ini,” ujarnya dengan suara penuh penghargaan. “Saya berjanji akan memberikan dukungan penuh dalam bentuk apapun yang dibutuhkan. Baik itu dalam bentuk modal, tempat pelatihan, atau bantuan lainnya. Saya yakin bahwa program ini akan membawa perubahan yang besar bagi kehidupan banyak orang di daerah kita.”
Setelah memberikan sambutan singkat, Haji Mansur keluar dari ruang rapat untuk memberikan kesempatan kepada peserta untuk melanjutkan pertemuan mereka. Pertemuan kemudian ditutup dengan kesepakatan untuk segera mengumpulkan semua dokumen yang dibutuhkan dan untuk menjaga komunikasi yang baik antar semua pihak terkait.
Ketika semua peserta mulai berpisah, Rina mendekati Sultan dan Alya dengan senyum yang penuh penghargaan. “Hari ini adalah hari yang sangat produktif, Pak Sultan, Bu Alya,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Saya sangat berterima kasih atas kerja sama yang baik dan atas ide-ide berharga yang telah kalian berikan. Saya yakin bahwa dengan kerja sama kita yang solid, program ini akan menjadi sangat sukses dan memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang.”
Sultan memberikan jabat tangan yang erat kepada Rina. “Saya juga sangat berterima kasih atas dukungan dan kerja sama dari PT. Citra Kreatif Indonesia, Bu Rina,” jawabnya dengan senyum. “Kita akan segera menghubungi Anda untuk membahas detail lebih lanjut tentang pelaksanaan program. Saya tidak sabar untuk melihat bagaimana program ini akan berkembang dan membawa perubahan yang positif bagi industri kreatif lokal kita.”
Alya juga memberikan jabat tangan kepada Rina dan menyampaikan harapannya agar program ini bisa segera terlaksana. “Saya sangat ingin segera mulai bekerja dengan para ibu-ibu kelompok kerajinan tangan,” ujarnya dengan suara penuh semangat. “Saya yakin bahwa dengan sedikit bantuan dan dukungan, mereka akan bisa menghasilkan karya-karya yang lebih luar biasa dan meningkatkan kualitas hidup keluarga mereka.”
Setelah semua orang pergi, Sultan dan Alya tinggal sendirian di ruang rapat yang sekarang terasa lebih sunyi. Sultan mendekati istri nya dan membantu dia berdiri dengan hati-hati. Mereka berjalan keluar dari gedung bersama-sama, menikmati udara sore yang segar setelah seharian berada di dalam ruangan ber-AC.
“Bagaimana perasaanmu, sayang?” tanya Sultan dengan penuh perhatian saat mereka berjalan menuju mobil. “Apakah kamu merasa capek?”
Alya menggeleng dan memberikan senyum lebar. “Saya merasa sangat bahagia dan bersemangat, sayang,” jawabnya dengan suara penuh kebahagiaan. “Hari ini adalah hari yang sangat penting dan saya merasa bahwa kita telah mengambil langkah besar menuju terwujudnya impian kita untuk membantu masyarakat sekitar kita. Saya tidak sabar untuk melihat bagaimana program ini akan berkembang dan membawa manfaat bagi banyak orang.”
Sultan membuka pintu mobil untuk istri nya dan membantu dia masuk dengan hati-hati. Setelah dia sendiri masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin, dia melihat ke arah istri nya dengan ekspresi yang penuh cinta dan rasa syukur.
“Kamu adalah wanita yang luar biasa, Alya,” ujarnya dengan suara lembut. “Tanpa dukunganmu, ide-ide ini tidak akan pernah bisa terwujud. Saya sangat bersyukur memiliki pasangan hidup yang tidak hanya cantik namun juga memiliki hati yang baik dan penuh dengan rasa kepedulian terhadap orang lain.”
Alya tersenyum dan menyandarkan wajahnya pada bahu suaminya. “Kita adalah pasangan, sayang,” jawabnya dengan cinta. “Kita harus saling mendukung dan bekerja sama untuk mewujudkan impian kita. Baik itu untuk keluarga kita sendiri maupun untuk masyarakat sekitar kita. Saya tahu bahwa dengan kerja sama kita dan dukungan dari semua pihak yang peduli, kita akan bisa menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua orang.”
Saat mobil mulai bergerak menjauh dari gedung perkantoran modern tersebut, matahari mulai meremang di ufuk barat, memberikan warna jingga dan merah ke langit kota Malang. Di dalam mobil, Sultan dan Alya berbicara tentang rencana-rencana mereka untuk minggu-minggu mendatang, tentang bagaimana mereka akan mempersiapkan pelaksanaan program tersebut, dan tentang harapan-harapan mereka untuk masa depan industri kreatif lokal. Di dalam hati mereka berdua, ada keyakinan yang kuat bahwa mereka telah melakukan hal yang benar dan bahwa program ini akan membawa perubahan yang besar dan positif bagi kehidupan banyak orang di daerah mereka.