Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Jangan Tunggu Lama-lama
Bab 25
Hampir jam dua belas, Yuli sudah santai meski masih berada di meja pemeriksaan. Hari ini hanya ada satu pasien melahirkan dan masih berada di ruang perawatan. Mungkin sore sudah diperbolehkan pulang kalau tidak ada keluhan. Pemeriksaan ibu hamil pun tidak sampai 10 orang. membuka ponselnya untuk membahas sesuatu di grup chat.
...Tim Pencari Kitab Suci🤸...
Yuli Imut : Guys, tadi gue bantu pasien melahirkan --
Beni Ganteng : 🙄
S4pri : Saya tadi bantu-bantu bersihkan puskes mbak
Rama P. : Sapri bener tuh. Lagian nggak aneh kalau lo bantu pasien melahirkan. Emang udah tugas kali, si Jule kangen gue peluk kali ya
Yuli Imut : idih, ogah. Bukan masalah melahirkannya.
Asoka Harsa : Sayang, udah baikan belum?
Rama P. : Salah kamar dok. Pengen banget teriak, aku sekarat njiir
S4pri : Jadi malu
Lisa Kanaya : Udah makin enakan, semoga nggak dapat kabar yang bikin nggak enakan.
Rama P. : Pindah kamar napa, kasihan Sapri nanti pengen
Yuli Imut : Tadi ada si Encep
Beni Ganteng : Iya, aku lihat waktu dia lewat. Buru-buru kali dia
Rama P. : Yul, gue cip0k beneran nih. Kalau cerita tuh yang runtut, jangan menggantung kayak gini. Sakit tahu digantungin
Yuli Imut : Nggak jelas. Tadi Encep ke puskes mau lihat bayi yang baru lahir
Lisa Kanaya : Pak Kades punya bayi lagi
Asoka Harsa : Sayang, nggak usah kepo masalah Mr. C
Rama P. : Sayang, bisa nggak ceritanya jangan dipotong-potong kayak bebek angsa
Yuli Imut : Cucu, gue bantu lahiran cucunya si Encep
Terdengar ketukan pintu, Yuli menoleh. Ternyata Dadang.
“Kenapa Kang?”
“Nggak pa-pa, pengen ke sini aja. Mau ngobrol,” seru Dadang langsung duduk di kursi yang digunakan pasien untuk konsul.
Ingin sekali Yuli memukul kepala si Dadang, bisa-bisanya malah ingin ngajak ngobrol perempuan lain sedangkan istrinya baru saja berjuang dengan taruhan nyawa melahirkan anak mereka.
Mengabaikan ponsel yang terus bergetar, pastinya ramai di grup tim karena ceritanya belum selesai dan sudah ditinggalkan begitu saja menambah penasaran anggota grup.
“Saya sibuk tidak terima obrolan dengan keluarga pasien. Kang Dadang baiknya kembali ke kamar istrinya, temani dia. Pasti lelah baru melahirkan.”
“Biar saja teh, sudah ada ibunya yang menemani. Maaf ya saya panggil teteh, habis bapa juga manggil teteh.”
Yuli bersedekap menatap Dadang yang tidak jelas menurutnya.
“Teteh udah lama di sini? Kok saya nggak tahu kalau di desa Singajaya ada bidadari.”
Sumpah, Yuli rasanya ingin olab. Bukan bangga dengan pujian Dadang. Kalau yang memuji Rama atau pria lain mungkin agak percaya, kalau yang ini bau-bau buaya.
“Kang, saya mau periksa istrinya. Kalau sudah normal semua, sudah boleh pulang.” Yuli beranjak, enggan menanggapi gombalan anak buaya buntung.
“Loh, nanti saja teh. Kita ngobrol dulu.”
***
Istri Dadang berpindah dari kursi roda ke mobil. suasana puskes sudah sepi, hanya Ujang yang berjaga karena sudah sore. Cecep ikut menjemput cucunya, meski menggunakan mobil yang berbeda.
“Teh, nanti kita ketemu lagi ya,” ujar Dadang lalu kepalanya digeplak oleh Cecep.
“Masuk sana!”
Dadang akhirnya masuk ke mobil dan perlahan kendaraan itu melaju meninggalkan puskes. Meninggalkan Yuli, Cecep dan asisten bapak kades.
“Tadi pagi saya tidak lihat teh Lisa, kemana ya?”
“Oh, nggak ada pak. Lagi cuti dulu.”
“Cuti, kenapa?”
“Cuti menikah mungkin,” jawab Yuli sambil mengedikan bahu. “Permisi ya, pak. Saya mau pulang.”
“Eh, tunggu. Bisa minta kontak Lisa.”
Yuli pun mengangguk dan menyebutkan nomor ponsel. Cecep dengan sigap mengetik di layar dan menyimpannya.
“M4mpus lo. Cepet nelpon, paling lo disemprot air.” Yuli terkekeh sudah menjauh dari Cecep, dia memberikan nomor damkar kecamatan yang dia ingat karena tertera di meja kerjanya. sering dilihat membuat dia hafal.
Sampai di rumah, semua calon orang sukses yang sedang merantau itu berada di ruang tengah dengan televisi menyala. Sepertinya bukan menonton tv, tapi ditonton tv karena semua sibuk berbincang masing-masing.
“Hai, aku pulang. Kangen nggak.”
Sapri dan Beni duduk berjarak bersandar pada tembok kamar Asoka, sedangkan Asoka duduk bersisian dengan Lisa. Bahkan tidak berjarak. Lisa duduk selonjoran bersandar tembok kamarnya, lengkap dengan baju tangan panjang dan selimut menutupi kaki sampai pinggang.
Rama berbaring tidak jauh dari pintu lorong yang menjadi penghubung ruang tamu dengan ruang tengah.
“Sini lo, bisa-bisanya nggak tanggung jawab bikin semua orang bertanya-tanya sama cerita lo yang nggak jelas itu.” Rama sampai beranjak duduk lalu menepuk karpet di sampingnya agar Yuli mendekat.
“Hah, capek.” Menghempaskan tubuh di samping Rama, bahkan menyandarkan kepala di pundak pria itu.
“Pak Kades ke puskes Yul?” tanya Lisa membuat Asoka langsung waspada.
“Ngapain kepo masalah pak Kades."
“Bukan kepo, aku tanya doang,” tutur Lisa. Pandangan Asoka masih menatapnya tidak suka karena menanyakan si encep.
“Nanti dulu Lis, biarkan si Yuli ini bercerita. Sebelum aku kurung dia di toilet. Gara-gara dia tidak jelas bikin ponsel aku bergetar terus.”
“Jadi gini ….” Yuli menegakkan tubuhnya mulai bersuara dan menceritakan kejadian hari ini pada semua anggota tim yang sangat khusyuk mendengarkan termasuk Sapri.
“Ya ampun, udah punya cucu masih nanyain gue. Nggak banget ih.” Lisa bergidik.
Rama sudah berdiri, raut wajahnya mirip orang menahan mules.
“Mau kemana Mas?” tanya Sapri.
“Parang mana Pri, parang. Heran gue, nggak bapaknya nggak anaknya kok mirip-mirip. Nargetin Yuli sama Lisa.”
"Sabar, mas. duduk dulu, kendalikan emosi," ujar Sapri menenangkan Rama.
“Udah ah, nggak usah ngomongin masalah itu. Lisa, lo udah baikan? Gue nggak sempat tanya, hari ini lumayan sibuk.”
“Nggak pa-pa, udah enakan kok. Besok juga udah bisa tugas lagi.”
Anggota tim pun bubar. Beni langsung ke kamar karena mengantuk. Sapri melipir ke depan rumah mencari angin. Yuli pamit untuk mandi dan Rama ke dapur untuk masak mie instan.
“Yakin besok udah kuat?”
Lisa mengangguk.
“Istirahat sehari lagi, ‘kamu ….”
“Apaan sih dok, sudah sehat aku,” Lisa menjauhkan kepalanya dari tangan Asoka yang terulur menyentuh dahi.
“Besok jangan jauh-jauh dari aku.”
Lisa berdecak sambil melirik Asoka di sampingnya. Apa lagi ini, lebay sekali bapak dokter kita. “Terus dokter mau ke wc harus aku ikuti juga?”
“Ya nggak gitu. Pak Kades pasti besok datang.”
“Emang sekolah kedokteran ada materi cenayang?”
Asoka berdecak pelan, tangannya menjawil pipi Lisa karena gemas.
“Kalau dikasih tau, suka ngeyel. Aku tuh laki-laki. Kadang naluri kami sesama laki-laki bisa sama, meski penyalurannya berbeda. Cecep itu penasaran sama kamu, dia pasti datang lagi karena tadi nggak ketemu kamu.”
“Dia nggak tahu rumah ini ‘kan? Kok, aku ngeri ya dok.”
“Ngeri kenapa? Memang nggak cukup ada 4 laki-laki di rumah ini untuk melindungimu. Ada aku disampingmu, Rama dan yang lain biar di depan.”
“Ck, kirain mau lindungi aku segenap jiwa raga, malah orang lain suruh jadi tameng. Dokter lama-lama ketularan Rama tahu nggak sih. Nggak jelas.”
Kali ini Asoka malah terkekeh geli.
“Udah ah, aku mau tidur.” Lisa siap beranjak, tapi ditahan oleh Asoka.
“Tunggu dulu, sayang. Aku masih kangen. Katanya udah baikan, tidur nanti dulu ya.”
Entah percakapan mereka terdengar atau tidak oleh Rama yang berada di dapur dengan jarak beberapa meter juga hanya ada sekat dinding tanpa pintu.
“Jangan tunggu lama-lama nanti lama-lama aku diambil orang.” Rama malah bernyanyi, liriknya mengejek pasangan yang sedang kasmaran itu.
“Nyanyi apaan sih,” keluh Yuli.
“Sstt, sini dulu temenin gue makan mie. Hitung-hitung dengerin podcast kisah sepasang kekasih, tapi secara live.”
“Rama!” teriak Lisa.
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur