Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Suara dari Masa Lalu
Bau karbol rumah sakit perlahan mulai kalah oleh aroma bunga lili putih yang Arlan bawa setiap pagi. Tiga hari telah berlalu sejak malam kritis itu. Cahaya matahari pagi Jakarta masuk malu-malu melalui celah tirai ruang perawatan VIP, menyentuh wajah Ibu Maya yang perlahan mulai kembali berwarna.
Maya sedang menyuapi ibunya bubur sumsum saat Arlan masuk. Pria itu sudah tidak lagi memakai baju rumah sakit. Ia mengenakan kemeja biru navy dengan lengan digulung, tampak rapi meski perban di tangannya masih terlihat menonjol.
"Pagi, Bu," sapa Arlan dengan suara rendah yang sopan.
Ibu Maya, Ibu Sarah, menoleh perlahan. Matanya yang sayu menatap Arlan lama sekali, seolah sedang mencoba mencocokkan wajah pria dewasa di depannya dengan bayangan pemuda kurus yang dulu sering menjemput anaknya di depan gang.
"Arlan?" suara Ibu Sarah parau, hampir seperti bisikan angin.
Maya meletakkan mangkuk buburnya, tangannya gemetar. "Iya, Bu. Ini Arlan. Dia yang... dia yang membantu kita selama ini."
Ibu Sarah memberi isyarat agar Arlan mendekat. Arlan duduk di kursi samping tempat tidur, membungkuk dengan hormat. Tangan Ibu Sarah yang lemah bergerak menyentuh perban di lengan Arlan.
"Kamu terluka... karena anakku lagi?" tanya Ibu Sarah, setitik air mata mengalir di sudut matanya yang keriput.
Arlan menggeleng cepat. Ia menggenggam tangan Ibu Sarah dengan sangat lembut. "Ini bukan luka, Bu. Ini bukti kalau saya tidak akan membiarkan Maya terluka sendirian lagi. Maafkan saya karena sempat menjadi asing bagi kalian selama lima tahun ini."
Ibu Sarah tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan rahasia. Ia kemudian melirik Maya, memberi kode agar anaknya itu keluar sebentar.
"Maya... Ibu mau bicara berdua dengan Arlan. Tolong belikan Ibu air mineral yang baru di bawah," pinta Ibu Sarah.
Maya ragu sejenak, menatap Arlan dengan penuh tanda tanya. Arlan hanya mengangguk pelan, memberinya keyakinan melalui tatapan matanya. Maya akhirnya keluar, meninggalkan keheningan yang padat di dalam ruangan itu.
"Arlan," Ibu Sarah memulai setelah pintu tertutup. "Kamu tahu kenapa Maya benar-benar pergi malam itu? Bukan cuma soal uang."
Arlan terdiam, jantungnya berdebar. "Sandra bilang... Maya menerima uang untuk bayar rumah sakit Ibu."
"Sandra?" Ibu Sarah terkekeh pahit. "Wanita itu yang mengirim orang untuk meneror kami setiap malam. Tapi Maya pergi karena dia tidak ingin kamu tahu kalau ayahnya terlibat dalam kasus penggelapan di perusahaan keluargamu sendiri, Arlan."
Arlan tersentak. Seluruh badannya membeku. "Maksud Ibu?"
"Ayah Maya bukan penjahat, dia dijebak. Tapi dia memegang dokumen yang bisa menghancurkan Dirgantara Group saat itu. Maya takut kalau dia tetap bersamamu, orang-orang di perusahaanmu akan membunuhmu untuk menutup mulut Maya. Dia memilih menjadi 'asing' agar kamu tetap bisa menjadi 'pangeran' di tahtamu."
Dunia Arlan seolah berputar. Selama ini ia mengira Maya pergi karena masalah ekonomi atau dijebak Sandra di hotel, tapi ternyata skalanya jauh lebih besar. Maya telah mengorbankan seluruh hidup dan cintanya demi menyelamatkan posisi Arlan di perusahaannya sendiri.
"Dia sangat mencintaimu, Arlan. Lebih dari nyawanya sendiri," bisik Ibu Sarah. "Jangan tanya dia soal ini. Biarkan ini jadi rahasia yang terkubur. Tapi berjanjilah satu hal... jangan pernah buat dia merasa sendirian lagi."
Arlan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata jatuh ke punggung tangan Ibu Sarah. Rasa bersalah yang selama ini menghantuinya kini berubah menjadi rasa hormat yang luar biasa pada Maya.
Tepat saat itu, pintu terbuka. Maya masuk membawa botol air, wajahnya tampak cemas. "Ada apa? Kenapa suasananya jadi sedih begini?"
Arlan langsung berdiri dan menghambur ke pelukan Maya. Ia memeluk Maya begitu erat, seolah jika ia melepaskannya, Maya akan menguap seperti embun.
"Eh? Lan? Ada apa? Malu dilihat Ibu!" Maya mencoba melepaskan diri, wajahnya memerah.
"Biarkan saja," bisik Arlan di ceruk leher Maya. "Aku cuma baru sadar kalau aku adalah pria paling beruntung karena punya wanita sehebat kamu. Mulai detik ini, tidak akan ada lagi rahasia, tidak ada lagi kontrak, dan tidak ada lagi jarak. Kamu dengar itu?"
Maya tertegun, lalu perlahan tangannya membalas pelukan Arlan. Ia tidak tahu apa yang dikatakan ibunya, tapi ia bisa merasakan perubahan suhu dalam pelukan Arlan. Pelukan itu kini terasa seperti sebuah sumpah.
"Iya, Arlan. Aku dengar," sahut Maya pelan.
Di ranjang rumah sakit, Ibu Sarah tersenyum damai. Ia tahu, tugasnya menjaga rahasia itu sudah selesai, karena kini putrinya sudah menemukan pelabuhan yang sesungguhnya.
Namun, di luar sana, di lorong rumah sakit yang sepi, sesosok bayangan berpakaian serba hitam sedang mengawasi mereka dari balik kaca kecil pintu. Orang itu merogoh ponselnya dan mengetik sebuah pesan:
"Target masih hidup. Dan Arlan sudah tahu sebagian kebenarannya. Laksanakan rencana cadangan."