Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang dan putus
Ketukan pintu terdengar diikuti suara lembut.
“Masuk,” panggil Ravela.
Pintu terbuka, dan Letnan Dua Kirana masuk membawa map tebal. Meski sahabat dekat, di markas ia tetap memanggil Ravela dengan panggilan resmi, dan Ravela memanggil Kirana sesuai jabatannya.
“Izin, Komandan. Ini laporan latihan hari ini,” ucap Kirana sambil menyerahkan map ke Ravela.
“Letakkan saja di meja, Letda,” kata Ravela sambil menepuk beberapa dokumen lain agar Kirana menaruh dokumen yang dibawanya disana.
Tangannya masih sibuk mengacak tasnya, matanya tidak lepas dari setiap lipatan yang mungkin menyimpan kartu nama.
Kirana menaruh map di meja, lalu menatap sahabatnya dengan mata penuh perhatian. “Komandan, kamu terlihat cemas. Ada apa?”
Ravela menegakkan punggungnya sejenak, menatap sahabatnya, lalu memutuskan membuka cerita. “Tadi pagi aku sempat mengalami kecelakaan kecil di jalan, itu yang membuatku datang sedikit terlambat ke markas.”
Mata Kirana membulat. “Kecelakaan kecil? Apa yang terjadi? Kamu tidak apa-apa, kan?”
Ravela menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Tadi aku hampir menabrak kucing yang tiba-tiba menyeberang, jadi aku mengerem mendadak. Mobil di belakangku tidak sempat menghindar dan menabrak bagian belakang mobilku, membuat bagian depan mobil orang itu sedikit penyok. Aku ingin bertanggung jawab, tapi kartu namanya malah hilang.”
“Tapi serius, kamu tidak terluka, kan?” tanya Kirana, wajahnya terlihat khawatir.
“Tidak, Kirana. Aku baik-baik saja,” jawab Ravela pelan. “Sekarang aku bingung gimana cara menghubungi orang itu untuk mengganti kerusakan mobilnya.”
Kirana mengernyit, mencoba memahami. “Sebelumnya kamu simpan di mana kartu itu?”
“Di tas ini,” jawab Ravela sambil menunjuk tasnya. “Tapi sekarang entah kenapa tidak ada di semua saku atau lipatan. Aku sudah cek berulang kali.”
“Mungkin saja kartu nama itu jatuh di mobilmu, atau terselip di kursi. Jangan terlalu panik dulu. Nanti pasti ketemu.”
Ravela menarik napas panjang, mengangguk pelan. “Iya, mungkin kamu benar.”
Kirana menatap Ravela sebentar, lalu berkata, “Baiklah, Komandan. Aku pamit dulu, ada beberapa peleton yang menunggu instruksi latihan berikutnya.”
“Baik, Letda. Terima kasih,” jawab Ravela sambil menatap sahabatnya pergi, lalu kembali fokus pada laporan di mejanya.
Tak lama kemudian, ponsel Ravela berdering.
Nama yang muncul di layar ponsel membuatnya sedikit tersenyum, Jovan, kekasihnya. Tujuh tahun mereka menjalin hubungan, namun belakangan Ravela merasa semuanya berjalan di tempat, datar, tanpa kepastian dari Jovan.
Ravela mengangkat telepon. “Ya, sayang?”
“Ravela... nanti aku ingin mengajakmu makan malam,” suara Jovan terdengar datar. “Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”
“Apa yang ingin kamu katakan?”
“Nanti saja saat kita ketemu biar lebih jelas,” jawab Jovan.
“Oke, aku tunggu. Sampai nanti, ya.” Ravela menutup telepon dan menaruh ponsel di atas meja.
Ia kembali menatap laporan latihan, Ravela tetap sibuk menandai catatan penting. Tapi pikirannya sesekali melayang pada pria yang menabrak mobilnya pagi tadi.
Ravela hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, bagaimana ia harus menepati tanggung jawabnya jika kartu nama itu benar-benar hilang.
Malam itu, restoran tidak terlalu ramai. Ravela duduk di seberang Jovan, piring kosong di depannya menandakan makan malam sudah selesai. Ia menatap lurus, menunggu apa yang akan dikatakan Jovan.
“Ravela, aku ingin kita putus,” kata Jovan tiba-tiba, dengan wajah datarnya.
Ravela menatap Jovan terkejut tak percaya. “Apa?! Kenapa tiba-tiba kamu memutuskan ku? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”
Jovan menggeleng. “Tidak, kamu tidak salah. Tapi orang tuaku tidak merestui hubungan kita. Mereka tidak ingin aku menikah dengan seorang tentara. Mereka ingin aku bersama perempuan yang menurut mereka setara dengan keluarga kami. Sekarang, aku sudah menemukannya, dan orang tuaku merestui hubungan kami.”
Ravela menatap Jovan, matanya tajam, lalu tertawa pelan, bukan tawa bahagia, tapi sinis. “Jadi selama tujuh tahun ini aku menunggu, berharap, dan menanti ternyata semua sia-sia karena orang tuamu tidak setuju?”
Ravela menunduk sebentar lalu menatap Jovan lagi, “Dan karena itu kamu tidak melamar ku sampai sekarang? Kamu bahkan bilang, kamu sekarang sedang dekat dengan wanita lain? Kamu waras? Seharusnya kamu bilang dari awal, supaya aku tidak menunggu kepastian dari kamu!” ucapnya dengan nada tegas.
“Ravela, aku tidak ingin menyakiti dan membuatmu menunggu. Aku ingin orang–”
Ravela mengangkat tangan, menghentikan Jovan berbicara. “Sudah cukup,” katanya. “Aku paham semuanya.”
Ravela kini berdiri di hadapan Jovan mengulurkan tangannya, wajah tetap tenang tapi tatapan matanya menusuk.
Jovan bingung, menatap tangan Ravela sejenak, lalu membalas uluran itu.
"Selamat atas hubunganmu dengan wanita itu. Semoga kamu bahagia bersamanya.” Ravela menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan genggaman itu. Tanpa aba-aba, tangannya mengepal dan meninju wajah Jovan dengan keras.
BUGH!
Jovan seketika tersungkur ke lantai, bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Beberapa pengunjung menoleh, beberapa menahan napas.
“Apa maksudmu memukul ku, Ravela?!” kata Jovan marah sambil memegang wajahnya.
Ravela menatap Jovan datar. “Anggap saja ini hadiah perpisahan dariku. Kamu masih beruntung karena aku tidak membunuhmu.”
Ravela mengambil tasnya, melirik sebentar Jovan yang masih terkapar di lantai, lalu berbalik pergi tanpa ragu keluar dari restoran.
Tidak ada emosi, tidak air mata yang keluar dari mata Ravela. Hanya ada perasaan kecewa yang dalam tertanam di hatinya.
Mobil Ravela berhenti di halaman rumah. Ia turun, merapikan tas di bahunya, lalu melangkah masuk.
Begitu pintu terbuka, langkahnya melambat. Di ruang tamu, orang tuanya tampak sedang mengobrol dengan sepasang suami-istri paruh baya.
Saat Ravela masuk, semua percakapan terhenti. Empat pasang mata menoleh ke arahnya, lalu senyum-senyum ramah pun muncul.
“Akhirnya kamu pulang juga,” ucap Nadira sambil tersenyum. “Duduk sini dulu nak,” lanjutnya.
Ravela berjalan mendekat. Ia lebih dulu menyalami ayah dan ibunya dengan hormat, lalu beralih ke tamu di hadapannya. Tangannya terulur dengan sopan.
“Selamat malam, Om, Tante,” ucapnya sambil menyalami Aditya dan Keisha bergantian.
“Selamat malam,” balas Aditya ramah.
Keisha menggenggam tangan Ravela sejenak, senyumnya hangat. “Selamat malam, Nak. Ini Ravela, ya?” tanyanya memastikan.
“Iya, Tante,” jawab Ravela singkat sambil tersenyum.
Nadira ikut menimpali, “Iya, Kei. Ini Ravela, anak sulungku. Ravela, kenalkan, ini Tante Keisha dan Om Aditya. Sahabat Ayah sama Bunda.”
“Salam kenal, Om, Tante,” kata Ravela dengan sopan dan duduk di samping Ibunya.
“Salam kenal juga, Ravela. Akhirnya kami bisa bertemu langsung denganmu,” ucap Aditya.
Aditya lalu menoleh ke arah Dharma. “Anakmu ini mengikuti jejakmu sebagai tentara, kan, Dhar?”
Dharma tersenyum kecil. Beliau merupakan pensiunan TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. “Benar, Dit. Sekarang dia sudah menjadi Kapten,” ucapnya bangga.
“Wah, hebat sekali. Di usia semuda ini sudah berpangkat Kapten,” ujar Keisha dengan nada kagum.
Ravela hanya tersenyum tipis. “Terima kasih, Tante.”
“Itu bukan pencapaian yang mudah. Apalagi untuk perempuan,” timpal Aditya.
“Iya, Om. Semua butuh proses dan kerja keras,” balas Ravela berusaha untuk tetap sopan.
Obrolan pun berlanjut. Ravela hanya sesekali menimpali, lebih sering mengangguk dan tersenyum. Ia berusaha terlihat tenang, menyembunyikan kekecewaan yang baru saja ia terima dari Jovan.
“Kai sekarang benar-benar pegang semua urusan perusahaan,” ucapnya pelan. “Sejak aku sakit, dia hampir tidak pernah melepas tanggung jawab itu.”
Dharma mengangguk. “Saya dengar, sejak Kaivan yang memegang langsung, perkembangan Wiratama Group cukup pesat.”
“Iya. Kerjanya nyaris tidak kenal waktu. Pulang sering larut, bahkan kadang lupa makan. Aku sebagai ibunya tentu khawatir,” timpal Keisha.
Nadira tersenyum tipis. “Anak laki-laki memang sering begitu kalau sudah tenggelam dengan pekerjaannya.”
Keisha menghela napas pelan. “Yang membuat kami makin khawatir, umurnya sudah tiga puluh dua, tapi soal menikah selalu dihindari. Setiap kami singgung, jawabannya cuma ingin fokus kerja.”
Aditya tersenyum kecil, ada lelah di matanya. “Padahal kalau soal tanggung jawab, Kai tidak pernah lari. Cuma untuk urusan hati, dia terlalu tertutup.”
“Mungkin belum menemukan orang yang tepat,” ujar Dharma hati-hati.
Ravela tetap diam. Ia mendengarkan semua pembicaraan tentang Kaivan tanpa menyela, seolah hanya menjadi pendengar biasa.
Tak lama, Ravela melirik jam di pergelangan tangannya.
“Bunda, Ayah. Aku izin ke kamar. Ada beberapa berkas yang ingin aku periksa,” ucap Ravela.
Nadira mengangguk. “Iya nak, jangan sampai begadang.”
“Iya, Nak. Silakan,” kata Keisha.
Ravela berdiri. “Permisi dulu, Om, Tante,” pamitnya, lalu melangkah menuju kamarnya, meninggalkan ruang tamu yang kembali dipenuhi obrolan orang-orang dewasa.