Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Gempa di Negeri Kangguru
BAB 20: Gempa di Negeri Kangguru
Sepuluh hari sejak kapal MV Oceanic Star meninggalkan pelabuhan Tanjung Priok, ruko Matahari Food berada dalam kondisi "siaga satu". Nayla hampir tidak bisa duduk diam. Di tahun 2026 yang serba instan, menunggu kabar dari kapal laut terasa seperti menunggu kepastian takdir yang berjalan sangat lambat. Namun, di tengah penantian itu, Nayla tidak membiarkan waktunya terbuang percuma. Ia mulai menyadari bahwa mengelola perusahaan ekspor tidak bisa lagi menggunakan insting semata.
"Nay, ada tamu di depan. Katanya dari Business Excellence Center," lapor Ranti sambil merapikan hijabnya.
Nayla mengernyitkan dahi. Seorang pria paruh baya dengan kemeja batik yang rapi namun santai masuk ke ruangan. Namanya Pak Baskara, seorang pensiunan CEO perusahaan makanan multinasional yang kini menjadi mentor bagi UMKM potensial.
"Mbak Nayla, saya melihat wawancara Anda di TV minggu lalu. Keberanian Anda membuka dapur secara transparan itu sangat brilian. Itu taktik kelas dunia," puji Pak Baskara sambil menjabat tangan Nayla.
"Terima kasih, Pak. Saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar," jawab Nayla rendah hati.
Pak Baskara duduk dan mulai meneliti alur kerja di ruko Nayla. "Mbak, produk Anda bagus, tapi sistem Anda masih sangat bergantung pada figur Anda. Jika Anda sakit, bisnis ini berhenti. Jika Anda ingin bersaing di Melbourne, London, atau Tokyo, Anda butuh Standar Operasional Prosedur (SOP) yang bisa dijalankan siapa saja tanpa Anda harus ada di tempat."
Nayla terdiam. Kata-kata Pak Baskara menghujam tepat di titik lemahnya. Selama ini, ia memang masih mengontrol segalanya, mulai dari suhu minyak hingga desain label. Ia belum benar-benar mendelegasikan kepercayaan. Pertemuan itu membuka mata Nayla bahwa untuk menjadi matahari yang besar, ia butuh planet-planet yang juga bekerja sesuai orbitnya.
Namun, di tengah pelajaran manajemen itu, ponsel Nayla berdering. Kode telepon internasional: +61. Itu dari Australia.
"Halo, Mbak Nayla? Ini Hendra dari Nusantara Mart Melbourne," suara di seberang sana terdengar sangat berisik, seperti suara kerumunan orang.
"Iya, Pak Hendra. Bagaimana? Apa kontainernya sudah sampai di gudang?" tanya Nayla dengan jantung yang berdegup kencang.
"Bukan cuma sampai di gudang, Mbak! Kami baru saja melakukan soft launching di rak utama toko kami tiga jam yang lalu. Mbak tahu apa yang terjadi? Antreannya sampai ke trotoar! Diaspora kita di sini benar-benar rindu camilan asli yang rasanya tidak 'palsu'. Bahkan penduduk lokal Australia banyak yang suka varian Sambal Ijo Anda!"
Nayla menutup mulutnya dengan tangan. Air mata spontan mengalir.
"Stok dua ribu bungkus yang Mbak kirim itu... saya prediksi akan habis dalam waktu kurang dari satu minggu! Mbak harus segera siapkan pengiriman kedua, lewat jalur udara kalau perlu, karena permintaannya gila-gilaan!" lanjut Pak Hendra dengan nada sangat antusias.
Nayla terduduk lemas di kursinya. Pak Baskara yang melihat kejadian itu hanya tersenyum tipis. Ia tahu, sebuah bintang baru baru saja lahir di pasar internasional.
Malam harinya, Nayla mengadakan syukuran kecil-kecilan di ruko bersama seluruh karyawan dan keluarganya. Ia memesan makanan enak untuk semua orang. Di tengah acara, Nayla berdiri memberikan sambutan.
"Teman-teman, perjuangan kita di jam tiga pagi tidak sia-sia. Basreng kita sekarang sedang dimakan oleh orang-orang di Australia. Tapi ini baru awal. Pak Baskara akan membantu kita menata ruko ini menjadi pabrik yang sesungguhnya. Kita akan belajar disiplin yang lebih ketat, bukan untuk menyiksa, tapi agar kita bisa memenuhi permintaan dunia."
Ibu-ibu karyawan bertepuk tangan meriah. Ibunya memandang Nayla dengan tatapan yang kini sepenuhnya penuh dukungan, bukan lagi keraguan. Nayla telah membuktikan bahwa basreng bukan sekadar camilan murah, tapi martabat yang bisa dikirim ke seluruh penjuru bumi.
"Malam ini, di bawah langit tahun 2026 yang cerah, saya menyadari bahwa takdir bukan hanya tentang berpindah dari kemiskinan ke kekayaan. Takdir adalah tentang transformasi jiwa. Dari seorang gadis yang takut diusir, menjadi seorang pemimpin yang harus belajar melepaskan kendali demi pertumbuhan yang lebih besar. Melbourne hanyalah titik awal. Sinar matahari tidak pernah berhenti di satu benua. Ia akan terus berputar, menyinari setiap sudut bumi yang merindukan kehangatan rasa yang jujur. Terima kasih, Fajar, karena selalu membangunkan ku tepat waktu."
Ia berjalan ke arah jendela ruko, menatap bulan yang bersinar terang. Di luar, truk logistik baru saja datang membawa bahan baku bakso ikan segar. Nayla tidak lagi harus turun tangan sendiri mengangkutnya, tapi ia tetap di sana, mengawasi dengan bangga.