Kampung Angker
Namaku Luisa, aku biasa di panggil Luis. Aku dianugerahi sebuah kekuatan yang tidak semua orang lain punya. Bisa melihat hantu dan menyembuhkan orang sakit. Ketika anak tetangga sakit, mereka kadang ke rumah dan meminta bantuan padaku. Tetapi itu dulu, sejak ibuku meninggal, aku dilarang ayahku untuk menggunakannya.
"Percuma saja kamu gunakan, tidak akan membantu. Ibumu saja tidak bisa kau sembuhkan apalagi orang lain!" Kata ayahku yang selalu mengingatkanku.
Apa yang di katakan ayahku benar, ibuku meninggal karena di santet oleh adik ayahku sendiri. Entah apa yang dilihat mereka sehingga tega melakukannya. Terlebih ibuku selalu ramah dan baik padanya.
Sejak saat itu, tidak ada orang lagi yang datang ke rumahku meminta bantuan. Walau aku tidak bisa menyembuhkan orang sakit, tetapi mataku masih bisa melihat dan merasakan kedatangan tak kasat mata. Baik hantu dan semacamnya.
Hari ini, ibu Ratna menjual rumah yang berada di dekat rumahku. Bu Ratna butuh uang untuk biaya kuliah anaknya, mau tak mau dia harus menjual rumah.
"Luis, Ibu minta permisi. Ibu mau pindah ke kota, susul anak ibu yang kuliah," kata ibu Ratna yang datang ke rumahku.
"Oh, rumahnya sudah terjual bu?" Tanyaku.
"Sudah, mereka dalam perjalanan ke sini. Katanya mau segera ditempati!"
"Terima kasih banyak, Bu, sudah membantu aku ketika Ibu masih bertetangga denganku. Kalau ada salah, tolong di maafkan," kataku sambil mencium tangan ibu Ratna.
Ibu Ratna bukan hanya sebatas tetangga, dia sering membantuku dan keluargaku dalam masalah perekonomian meskipun dirinya dalam keadaan susah. Jarang loh ada orang sebaik itu.
"Sama-sama, Ibu juga senang bisa ketemu dan berkenalan dengan keluarga sepertimu," kata Ibu Ratna dengan senyum.
"Kalau begitu, Ibu pamit. Mobil yang Ibu kendarai ke kota sudah datang menjemput," kata Ibu Ratna sambil berlari ke mobilnya.
Begitu berat melepas tetangga yang sangat baik seperti Bu Ratna. Harus bagaimana lagi, dia tidak bisa tinggal di rumahnya lagi. Rumahnya sudah terjual.
"Ah, aku tidak perlu memikirkannya. Semoga Bu Ratna selamat sampai tujuan," kataku sambil tersenyum.
Aku tinggal di desa yang lumayan jauh dari kota. Perjalanan bisa sampai delapan jam. Meski begitu, kami hidup rukun di desa, bergotong royong dan saling membantu.
Keluargaku hanya mengelola pertanian, jadi wajar jika hidup serba cukup. Apalagi sejak Ibuku meninggal, aku yang harus lebih pandai mengatur keuangan. Aku anak kedua, dari empat bersaudara. Kakakku tinggal di kota jadi aku yang menggantikannya untuk mengurus adik-adikku.
Saat aku menyapu halaman rumah, kulihat mobil pick up yang membawa banyak barang bertumpukan. Itu pasti tetangga baruku. Tidak lama, turun seorang Wanita cantik dengan pakaian terlihat mewah. Seksi, membuat lekukan tubuhnya terlihat.
"Astagfirullah Al-Azim..." Sontak aku memegang dadaku.
Turun lagi seorang laki-laki dan anak perempuan dari mobil yang berbeda. Mereka seperti ayah dan anak yang seumuran denganku. Pakaian mereka terlihat simpel dan stylish. Anak menggunakan rok yang sangat pendek, bahkan sampai di atas lutut.
Aku bukan terkaget dengan wajah mereka yang cantik, melainkan aku sedikit tidak percaya. Cantik tetapi berpakaian seperti wanita malam.
"Astagfirullah Al-azim..." Kataku lagi.
"Aku tidak boleh berpikiran negatif dengan tetangga baruku," kataku dalam hati.
Aku tersenyum kepada anak perempuan yang melihat ke arahku. Tetapi dia tidak membalas senyumanku. Aku merasa tidak enak, apa karena aku tidak selevel dengan mereka.
Satu per satu barang mereka di pindahkan ke rumahnya. Ibu-ibu yang lewat jadi mampir di rumahku.
"Ibu-ibu kenapa ke sini? mau gosip lagi?" Tanyaku yang menebak.
Aku sudah paham betul dengan ibu-ibu sekampungku. Selalu penasaran dengan urusan orang lain. Meski itu tidak penting baginya, mereka tetap merekapnya menjadikan bahan gosip.
"Mereka pasti orang kaya, pakaiannya saja bermerek," Kata ibu Ani yang memulai.
"Iya bu, beruntung kita punya orang kaya di sini. Semoga saja bisa membantu warga di sini kalau lagi butuh" Ujar Bu Lisa.
"Aamiin!" Sahutku.
"Luis, kamu beruntung punya tetangga kaya. Kalau lagi susah, tinggal ke tetangga minta bantuan,"
"Aamiin bu, kalau mereka juga mau bantu," kataku.
"Masa sih mereka tidak mau bantu, dari pakaian mereka terlihat punya banyak uang kok!"
"Ibu-ibu, kalian lanjut gosipnya di rumah masing-masing. Aku mau lanjut menyapu!" kataku mencoba mengusir Ibu-ibu. Kalau tidak diusir, sampai magrib mereka bergosip.
"Yah, kita diusir,"
Aku hanya tersenyum, sudah biasa bagi Ibu-ibu melihatku mengusirnya secara halus. Mereka hanya menganggap sebagai candaan.
Setelah Ibu-ibu pergi, kulihat tetangga baru masuk ke rumahnya. Setelah membawa semua barang-barangnya. Aku melanjutkan menyapu.
Ketika berada di samping rumah yang merupakan perbatasan antara rumahku dan rumah tetangga, aku merasa ada yang aneh. Bulu-bulu kudukku merinding walau masih sore. Angin tipis bertiup tetapi sangat menyengat. Aku bisa merasakan hawa yang tidak biasa.
"Ada apa ini, aku merasa sangat takut" Gumamku dalam hati.
Aku menghentikan menyapu, melihat sekeliling. Mencari sesuatu yang belum aku tau apa itu. Tanpa sadar, aku melihat sosok Nenek-nenek yang menunduk sambil berjalan. Rambut putih dan menggunakan tongkat. Aku tidak pernah melihat orang seperti itu di kampungku. Aku mengenal semua orang di kampungku tetapi tidak pernah melihat nenek-nenek yang menggunakan tongkat.
"Mungkin Nenek tetangga yang pulang," kataku mengalihkan pandanganku. Aku tidak mau berpikir negatif.
Saat aku mengambil sapu ku, kulihat bayangan berada di belakangku. Aku yakin itu bukan bayanganku, rambut panjang dan tubuh yang begitu tinggi. Aku bahkan tidak bisa melihat bayangan kakinya. Yang membuatku yakin, rambutku pendek jadi tidak mungkin mempunyai bayangan yang berambut panjang.
Di tambah, matahari mulai tenggelam. Sinarnya sudah tidak terlihat lagi, bagaimana bisa aku melihat bayangan. Aku berdiam diri sebentar. kakiku gemetar seperti sesuatu yang di belakang ku bukan manusia. Aku bisa merasakan energi yang sangat kuat.
Aku menghela nafas panjang kemudian berbalik sambil menutup mata. Saat aku membukanya, aku terkejut. Dia......
Tidak ada apapun, bahkan bayangan yang aku lihat sudah menghilang. Aku mematung mencoba merenung.
"Perasaan kampung ku sudah lama tidak muncul makhluk tak kasat mata. Kenapa sekarang tiba-tiba muncul dan energinya begitu kuat?" gumamku.
"Kenapa kau masih menyapu, sudah mau magrib. Cepat masuk!" Teriak Ayahku yang berada di depan pintu.
Aku berhenti melamun dan berlari masuk ke rumah. Aku kunci pintu rapat-rapat sambil mengintip di jendela. Sempat aku melihat bayangan itu kembali. Tetapi sudah tidak ada.
Aku mulai berpikir mungkin karena sudah mau magrib jadi aku melihat hal aneh. Di kampung halaman ku, mereka mempercayai jika waktu magrib, para setan, hantu, iblis bahkan guna-guna atau santet mulai datang. Makanya kita diharuskan untuk menutup pintu rumah serapat mungkin dan tidak berkeliaran di waktu magrib.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Dance Seaweed
aku membuat karya latihan judul nya tolong jangan takut tolong mampir dan komentar
2022-08-04
2
IG: _anipri
Semangat Thorrr, ceritanya bagus
2022-07-16
1
Inru
Mampir jg dong kk di novel ku
2022-07-15
1