Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu di Laboratorium dan Strategi Sambal Ulek
Laboratorium Fisika Molekuler di Technische Universität München (TUM) adalah tempat yang sangat menakutkan bagi seseorang yang nilai Fisikanya baru saja merangkak ke angka 85. Ruangannya penuh dengan tabung gas, kabel-kabel melilit seperti mi instan, dan layar monitor yang menampilkan grafik-grafik yang lebih rumit daripada alur cerita sinetron.
"Arlan, look at this diffraction pattern," ucap Elena sambil menunjuk layar monitor dengan jari-jarinya yang lentik. "Gue rasa ada anomali di tekanan 1.5 Pascal. What do you think?"
Arlan mendekat, wajahnya serius. "Gue setuju. Mungkin ada interferensi dari gelombang elektromagnetik di sekitar sini."
Ghea berdiri di pojokan sambil memegang buku catatan kecilnya. Dia merasa seperti pajangan lemari yang salah tempat. Dia ingin membantu, tapi jangankan menghitung anomali, membaca tulisan di layar monitor saja dia harus menyipitkan mata berkali-kali.
"Ghea, bisa tolong ambilkan beaker glass di lemari steril?" tanya Arlan tanpa menoleh.
"Siap, Bos!" Ghea langsung bergerak semangat. Dia ingin membuktikan bahwa dia asisten yang berguna. Dia membuka lemari kaca, mengambil gelas kimia, dan berjalan kembali ke arah Arlan.
Namun, Elena tiba-tiba memotong jalan Ghea sambil membawa berkas. "Wait, kleine Schwester (adik kecil). Itu gelas untuk larutan asam pekat, bukan untuk air mineral. Dan lo salah ambil ukuran. Arlan butuh yang 250ml, bukan 500ml."
Elena mengambil gelas itu dari tangan Ghea dengan gerakan yang sangat anggun tapi meremehkan. "Mendingan lo duduk aja di sana, bikin kopi atau apa. Science is a bit dangerous for amateurs," ucapnya dengan senyum tipis yang bikin Ghea pengen banget nyubit pipinya pakai tang tangki.
Ghea kembali ke pojokan dengan wajah ditekuk. "Awas lo ya, Noni Pirang. Lo belum tahu aja kalau gue punya senjata rahasia di dalam koper," gumam Ghea pelan.
Siang hari di kantin universitas (Mensa), suasananya sangat ramai. Arlan, Elena, dan Ghea duduk di satu meja. Di depan Elena dan Arlan ada sepiring besar Schnitzel dan kentang rebus.
"Arlan, setelah ini kita harus cek data di perpustakaan pusat. Ada jurnal dari Profesor Schmidt yang harus kita bedah," ajak Elena sambil memotong dagingnya dengan sangat sopan.
Arlan melirik Ghea yang sejak tadi cuma diam menusuk-nusuk kentangnya. "Ghea juga ikut?"
"Oh, of course. Dia kan asisten lo. Tapi mungkin dia bakal bosen karena literaturnya semua dalam bahasa Jerman kuno," sindir Elena halus.
Ghea tidak tahan lagi. Dia mengeluarkan sebuah benda dari kantong jaketnya. Sebuah sachet sambal ulek "Ekstra Pedas" pemberian Juna. Dia merobek bungkusnya dengan gigi, lalu menuangkan seluruh isinya ke atas kentang rebusnya yang hambar.
Aroma pedas menyengat langsung memenuhi meja.
"Ghea, lo beneran mau makan itu? Itu kan pedas banget," Arlan memperingatkan.
"Gue butuh asupan energi, Ar. Biar otak gue nggak beku dengerin bahasa Jerman kuno," jawab Ghea mantap. Dia menyuap kentang penuh sambal itu.
Wajah Ghea langsung merah padam. Matanya berair. Keringat mulai bercucuran di dahinya. Tapi dia tetap mengunyah dengan penuh kemenangan. "Enak banget! Elena, lo mau coba? Ini namanya Power of Indonesia. Biar lo nggak lemes kalau lagi ngitung anomali."
Elena mengerutkan kening, merasa jijik sekaligus penasaran. "No, thank you. My stomach is not a trash bin for spicy things."
"Sampah?" Ghea tersedak sedikit. "Ini bukan sampah, Elena. Ini adalah bumbu kehidupan! Orang Jerman mungkin pinter ngitung atom, tapi orang Indonesia pinter ngatur rasa!"
Arlan diam-diam tersenyum melihat Ghea yang kembali "berisik". Dia tahu Ghea sedang merasa terancam, dan cara Ghea bertahan hidup selalu unik.
Sore harinya, saat mereka di perpustakaan, Elena mulai menunjukkan dominasinya lagi. Dia bicara bahasa Jerman dengan sangat cepat pada Arlan, membahas teori-teori kuantum yang bikin kepala Arlan manggut-manggut.
Ghea yang bosan mulai berkeliling rak buku. Dia melihat sebuah rak buku tua yang berdebu. Tiba-tiba, dia melihat sebuah jurnal lama yang judulnya menarik perhatiannya karena ada gambar alat yang mirip dengan yang ada di laboratorium tadi pagi.
Ghea mengambil jurnal itu, membawanya ke meja. "Ar! Liat deh! Ini bukannya alat yang tadi lo bilang anomali?"
Elena melirik malas. "Itu buku dari tahun 1970, Ghea. Udah outdated."
Tapi Arlan langsung merebut buku itu. Dia membukanya dengan cepat. Matanya membelalak. "Ghe... lo bener. Di sini dijelaskan kalau model spektrometer ini punya kelemahan pada isolator kabelnya kalau suhunya terlalu dingin. Itu sebabnya datanya anomali!"
Arlan menatap Ghea dengan bangga. "Ghea, lo nemuin solusinya! Kita nggak perlu ganti gas, kita cuma perlu isolasi ulang kabelnya!"
Ghea langsung membusungkan dada, menatap Elena dengan tatapan 'Gue bilang juga apa!'. "Tuh kan! Meskipun gue amatir, tapi mata gue terlatih buat nyari sesuatu di tengah debu. Maklum, mantan penjaga ruang arsip!"
Elena terdiam, wajahnya sedikit memerah karena malu. Dia tidak menyangka gadis yang dia anggap "adik kecil" itu justru menemukan kunci dari masalah yang mereka diskusikan seharian.
Malam harinya di apartemen sempit mereka. Suhu di luar turun drastis. Arlan kembali meringkuk di sofa, sementara Ghea sudah nyaman di bawah selimut.
"Ar... makasih ya tadi di perpus," ucap Ghea pelan.
"Makasih buat apa?"
"Karena lo tetep dengerin gue meskipun ada Elena yang lebih pinter."
Arlan bangun dari sofanya, dia duduk di lantai samping kasur Ghea. "Ghe, dengerin gue. Pintar itu bisa dipelajari. Tapi insting dan ketulusan itu bawaan lahir. Elena emang pinter, tapi dia nggak punya 'variabel Ghea' yang selalu bisa liat hal-hal sederhana yang gue lupain."
Ghea tersenyum, lalu dia mengeluarkan sebuah cokelat Ritter Sport yang dia beli di supermarket tadi. Dia mematahkan setengahnya dan memberikannya pada Arlan.
"Ar, gue janji bakal belajar bahasa Jerman lebih rajin lagi. Biar nanti kalau Elena ngatain gue, gue bisa bales pakai bahasa Jerman yang lebih pedas dari sambal ulek Juna."
Arlan tertawa, lalu dia mengacak rambut Ghea. "Gue tunggu momen itu. Sekarang tidur, besok kita harus isolasi kabel laboratorium."
Saat Ghea sudah terlelap, Arlan mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan singkat pada Juna di Jakarta.
Arlan: Jun, sambal ulek lo berhasil menyelamatkan kehormatan asisten gue. Kirim lagi satu dus ke Munich. Biaya gue tanggung.
Juna: SIAP BOS! Hidup Sambal Ulek! Salam buat Noni Pirang!
Arlan kembali ke sofanya yang keras dengan hati yang jauh lebih hangat. Dia tahu, Jerman akan sangat berat, tapi selama Ghea ada di sana dengan segala kegilaannya, Arlan merasa sanggup menghadapi ribuan Elena sekaligus.
Namun, di balik jendela apartemen yang gelap, salju mulai turun makin lebat. Dan di meja kerja Elena di laboratorium, dia sedang menatap foto Arlan dengan tatapan yang tidak lagi soal riset, melainkan sesuatu yang lebih personal.
"Arlan is mine. Physics is our language, and she doesn't speak it," gumam Elena sambil meremas jurnal tua tadi.