Azalae Djadmika, gadis 22 tahun. Dia berpikir telah menikah dengan seorang pria lajang berstatus duda. Ternyata tidak. Syafira Bella, isteri Zayn Putra Maliq yang di beritakan telah meninggal Dunia satu tahun yang lalu. Tiba-tiba kembali dan mengambil semua cinta yang singgah pada Lea.
Apalagi Zayn merasakan cintanya pada Bella tidak pernah memudar seiring waktu hilangnya isterinya. Kehadiran istrinya kembali, membuat Zayn kembali seperti pria muda yang sedang kasmaran dan jatuh cinta sekali lagi pada Bella.
Oleh karena itu, sikap Zayn mulai berubah, dia mulai mengabaikan kehadiran Lea. Apalagi bisikan Bella menuntut agar Zayn segera menceraikan Lea.
***
Karya ini menggunakan nama tokoh yang di usulkan oleh teman baikku, Lele. Alur cerita dan pokok pikirannya pun di sumbangkan oleh temanku yang comel itu.
Selamat membaca 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TSO-26
Lea mengedipkan matanya. Menunduk dengan sangat dalam, hanya melihat setiap ujung jemari kakinya. Dia berharap mampu membuat dirinya tuli seketika. Setiap ejekan datang dari setiap orang yang tidak dia kenal. Hanya Bella yang berdiri membela untuknya.
Terima kasih Ka Bella, kau menghargai kehadiranku yang hanya merupakan orang ketiga dalam rumahmu.
"Jangan menyebut karma, Selly! Dan ...Benny, Lea bukan wanita penggoda!" interupsi Bella dengan nada yang di buat ketus. "Lea, wanita tehormat. Zayn, tidak akan salah memilih karakter wanita di sisinya. Aku menghormati dan menghargai keputusan suamiku," sambung Bella terdengar sangat patriot.
"Salam kenal, Lea. Maaf, jika aku ketus. Aku hanya membela Bella. Aku simpatik dengan sikap halus Bella. Jika aku menjadi Bella ... Kau akan kubakar hidup-hidup!" komentar Selly dengan sepasang tangan yang terlipat menyilang di depan dadanya, dan sepasang bola mata yang terlihat naik turun menilai untuk menghina setiap penampilannya.
"Selly! Tolong jangan berkata seperti itu!" interupsi Bella lagi.
"Tidak apa, Ka Bella," ucap Lea berusaha menenangkan suasana. Lea merasakan dengkur napas Bella turun, seakan dia menurunkan emosi ke titik nol.
Sementara Lea menelan isaknya, seorang wanita berkacamata datang dengan mengenakan pakaian Snelli datang menghampiri. Dia tersenyum ramah kepada setiap orang di ruang tamu, sambil menganggukan kepalanya untuk membalas sapaan senyuman setiap orang, dan memperkenalkan dirinya, "Perkenalkan aku adalah Dokter Psikiater. Namaku Diva Ann."
Diva Ann. Psikiater? Lea teperanjat akan sebutan spesialis Dokter yang di tujukan untuknya.
Bella menyipitkan matanya saling bertukar isyarat mata dengan Diva. Dia telah banyak membeli kehidupan Diva dengan membakar banyak uang, agar Diva mau bekerjasama dengannya untuk menjerumuskan Lea dengan Diagnosa yang menyakinkan Zayn nanti.
"Ada keperluan apa, Dok?" umpan Bella membuka topik, dan matanya saling mengedar memberi isyarat pada semua temannya.
Lea, babak penderitaan selanjutnya, akan mulai kau rasakan.
Diva mengalihkan perhatiannya. Menatap lurus pada Lea, dan berkata, "Saya berkunjung karena diminta Pak Zayn langsung, untuk bertemu Azalae Djadmika. Berdasarkan ciri-cirinya, apakah anda bernama Azalea?"
Lea menganggukan kepalanya satu kali, dan terus menunduk kembali menatap seluruh jemari-jemari kakinya. Kedua telinganya berdiri tegak lebih panjang, komentar dan bisikan teman Bella mengguncang dadanya. Dia ingin meledak dalam tangis panjang akan setiap ejekan dan dugaan negatif di lempar kepadanya.
"Psikiater. Dia membutuhkan Psikiater? Apakah dia sudah gila?"
"Ada apa dengannya? stress karena anak?"
"Ini hidup. Jangan meratap untuk sosok yang belum lahir."
"Aku rasa Zayn cukup tepat mengundang Psikiater."
"Luka fisik mudah sembuh. Luka hati ... tidak!"
"Dia gila! Oh dia gila. Ya Tuhan!"
Mendengar setiap kalimat terlontar. Lea menitikkan air matanya jatuh membasahi setiap jemari kakinya.
Aku tidak gila. Zayn, apa yang kau lakukan padaku? Beginikah caramu mencintaiku.
Dokter Diva mengulurkan tangannya, dan mengajak pergi, "Mari kita berbicara di ruang yang nyaman."
Lea menundukkan kepalanya. Namun, menerima uluran tangan sang dokter. Dia pun mengikuti setiap langkah dokter tersebut. Masuk ke dalam ruangan yang di persilahkan oleh Raden.
Ruang Mini Rapat
Biasanya ruangan ini di gunakan Zayn untuk melaksanakan video converence dengan bawahannya di kantor.
Diva membukakan kursi untuk Lea, dan mempersilahkan, "Jangan malu, duduklah."
Lea dan Diva duduk berhadapan di titik tengah meja. Mereka saling bertukar tatapan sebentar.
Lea menahan diri untuk kuat berjalan. Sedari tadi dia belum makan. Dia baru bangun tidur, dan kini dia di menuangkan dengan berbagai masalah. Di sebut wanita penggoda. Kini, di sebut wanita gila.
Oh, Tuhan ... kuatkan ku menghadap masalahku, batin Lea memohon pada yang Maha Kuasa.
Diva menatapnya sesaat. Dia memperbaiki posisi kacamatanya, dan mulai bertanya.
"Apa yang kau rasakan saat ini?"
"Aku merasa baik."
"Kau tidak jujur."
Lea mengerutkan keningnya dalam.
"Aku merasa diriku baik."
"Tetapi, fisikmu menunjukkan hal yang berbeda. Kau tampak layu."
Lea terdiam. Dia pikir akan menemukan seorang psikiater yang terlihat ramah, ternyata tidak. Wanita di depannya selalu menyudutkannya dengan pertanyaan dan jawabannya yang berbeda dengan yang di ucapkan Lea.
"Sekarang lihatlah setiap kartu gambar, dan jawablah setiap apa yang kau rasakan."
Lea menganggukan kepalanya seperti robot yang berjalan di tekan remote kontrol oleh pemiliknya. Dia menatap semu gambar, dan menjawab seperti apa yang dia lihat.
Namun, wanita berkacamata di depannya terlihat menghela napas, dan mengkoreksi kembali, "Kau harus melihat setiap gambar itu dengan mengingat sumber kesedihanmu bukan logikamu. Apa kau mengerti?"
Lea menggelengkan kepala. Tidak mengerti.
Tiba-tiba Diva meraih tangan Lea, dengan tutur halus dia berkata, "Aku melihatmu tadi. Kah di sudutkan. Aku ingin membantumu. Maka kau harus menunjukkan sikap yang bertentangan dengan logika mu?"
Lea merasa heran dan bingung sekaligus.
"Jika kau ingin tetap di dalam rumah ini. Jawablah segala sesuatu dengan kesedihan dan perasaaan yang dalam menunjukkan traumatis. Agar aku bisa memberitahu keluargamu, kau hanya butuh dukungan dan perhatian, agar kau cepat sembuh."
Dukungan dan perhatian.
Lea tertegun akan dua kata tersebut. Benar, dia sangat membutuhkan Zayn mendukungnya dan memperhatikan dirinya. Dia menginginkan hal itu, dengan antusias dia menjawab, "Aku tidak ingin jauh dari Zayn."
Diva menganggukan kepala, dan mengedipkan mata, "Maka ikutilah instruksiku ... tentanglah seluruh logikamu. Lihatlah segala sesuatu itu terlihat bewarna biru. Dengan begitu kau menunjukkan kesedihanmu yang dalam, atau warna merah, dengan begitu kau menunjukkan kemarahanmu yang terpendam."
Lea menganggukan kepalanya. Dia setuju.
"Maka semakin kau traumatis, maka perawatan terbaik adalah tinggal bersama keluargamu," sambung Diva dengan sepasang mata gelap yang bersembunyi dalam bingkai kacamatanya.
Lea tersedak menelan isaknya. Benar, yang dia inginkan hanya di sisi Zayn. Dia akan sembuh secepatnya.
"Apakah aku benar-benar sakit?"
Diva menggelengkan kepala, "Fisik tidak jauh dari otak. Jika tubuhmu terus sakit, maka otakmu akan mengikutinya."
Lea terdiam dan memohon, "Bantulah aku!"
Diva meremas tangan Bella, "Ketika pak.Zayn datang. Kau harus mengikuti setiap jawaban yang seperti telah koreksi selama trial tadi."
Trial? Lea mengerutkan keningnya, berpikir keras. Namun, apa yang dia pikirkan segera buyar. Ketika, tiga ketokan pintu terdengar.
Kret! Pintu terbuka. Tampak Zayn dalam setelan double breasted blazer bewarna abu-abu melangkah masuk, dan duduk di kursi di dekat ujung kepala meja.
Diva datang pada Zayn, dan menyerahkan satu angket dan pulpen pada pria yang terlihat dingin dan angkuh. Untuk pertama kalinya, Lea merasakan kehangatan Zayn, telah menguap naik ke udara.
Lea menatap kehadiran suaminya. Namun, pria itu mengabaikannya begitu saja, dia hanya membalas dengan satu pandangan, dan melewatinya begitu saja.
Lea tertunduk. Di bawah meja, dia bermain dengan kukunya. Resah dan gelisah mengisi dadanya.
Apakah kau pulang ke rumah dengan cepat? hanya untuk mengujiku, apakah aku sehat atau tidak, Zayn?
......................
Bersambung ...
Sebenar jatuh cinta itu mudah. Tersulit adalah mempertahankannya? Apakah Lea akan tetap mencintai Zayn? Sulitkan. Logikanya sih, lebih baik berhenti mencintai jika hal itu membawa luka. Teapi, jika sudah menikah. Seorang wanita baik akan berpikir seribu kali, meninggalkan lebih dulu.
setiap hari selalu mengecek kelanjutan cerita TSO..
Up dunk Thor.. plisssss
kapan terungkapnya sih😭😂