NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Layar laptop yang retak di sudut kiri itu menjadi satu-satunya sumber cahaya dominan di ruangan apartemen sewaan yang sempit itu. Angka jam digital di pojok layar menunjukkan pukul 02.15 pagi, tetapi adrenalin membuat kantuk menjadi konsep yang asing bagi Keyra dan Raka.

Raka mengetuk tombol *enter* dengan jari telunjuk kirinya—satu-satunya jari di tangan itu yang tidak gemetar menahan nyeri. Di sebelahnya, perban yang baru saja dibalut Keyra sudah terlihat sedikit merembeskan noda merah tipis, bukti bahwa luka bakar akibat serpihan ledakan di gudang tadi bukanlah cedera main-main.

"Sinyalnya memantul lagi," gerutu Raka, suaranya serak. Dia melempar punggungnya ke sandaran kursi kayu yang keras, frustrasi jelas tergambar di wajahnya yang pucat. "Julian pakai VPN berlapis. Dia tahu kita bakal nyari jejak digitalnya begitu dia kabur dari lokasi kebakaran."

Keyra berdiri di samping meja, kedua tangannya memegang cangkir kopi instan yang uapnya mengepul di udara dingin ruangan ber-AC itu. Matanya tidak lepas dari barisan kode yang bergulir cepat di layar hitam. Dulu, di kehidupan-kehidupan sebelumnya, Keyra tidak pernah perlu repot-repot memahami *coding* atau pelacakan GPS. Dia hanya perlu mengingat kapan Julian akan muncul, lalu menghindar. Semudah menghafal kunci jawaban ujian.

Namun sekarang, melihat kursor yang berkedip tanpa hasil, rasa sesak itu kembali mencekik lehernya. Ketidakpastian adalah monster yang jauh lebih mengerikan daripada monster yang sudah kau hafal bentuk giginya.

"Coba cek transaksi kartu kredit bayangan yang pernah lo sebutin dulu," ujar Keyra tiba-tiba, meletakkan kopi di meja dengan bunyi *klotak* yang cukup keras. "Waktu di putaran ke-tiga... atau mungkin ke-empat, gue lupa... Julian pernah keceplosan soal akun di Cayman Islands buat bayar 'pembersih'."

Raka menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Lo ingat nama banknya?"

"Nggak," jawab Keyra cepat, lalu menggigit bibir bawahnya. "Tapi gue ingat logonya. Biru tua, ada gambar burung camar abstrak."

Tanpa banyak bicara, Raka menegakkan tubuhnya lagi, mengabaikan rasa sakit di bahu dan tangannya. Jari-jari tangan kanannya menari lincah di atas *keyboard*. "*Offshore banking*... logo camar biru..." gumamnya seperti mantra. "Oke, kita persempit pencarian ke bank-bank swasta di karibia yang punya afiliasi di Asia Tenggara."

Suasana hening kembali menyelimuti ruangan, hanya diisi oleh bunyi ketikan keyboard yang agresif dan *humming* rendah dari pendingin ruangan. Keyra berjalan mondar-mandir di belakang Raka. Setiap langkahnya terasa berat. Bayangan gudang yang terbakar, seringai Julian, dan koper misterius itu terus berputar di kepalanya seperti film rusak.

"Gimana kalau kita telat, Ka?" tanya Keyra, langkahnya terhenti di dekat jendela yang tertutup tirai tebal. "Gimana kalau isi koper itu adalah sesuatu yang bisa bikin kita masuk penjara sebelum kita sempat ngelawan? Atau lebih parah... gimana kalau itu bom waktu harfiah?"

Raka tidak langsung menjawab. Matanya terpaku pada layar yang kini menampilkan peta digital Jakarta dengan beberapa titik merah berkedip. "Ketemu," bisiknya tajam.

Keyra langsung melompat mendekat. "Apa?"

"Bukan lokasi *real-time* Julian, itu mustahil dalam waktu sesingkat ini. Tapi gue nemu jejak transaksi pembelian tiket kereta eksekutif dua jam lalu pakai akun samaran yang logonya lo deskripsiin tadi. Tujuan Surabaya."

"Dia kabur ke luar kota?" Keyra membelalak.

"Atau dia mau kita berpikir dia kabur ke luar kota," koreksi Raka. Dia menunjuk titik lain di peta, kali ini di area pelabuhan Tanjung Priok. "Ada *login* singkat ke sistem keamanan kargo di area ini, sepuluh menit setelah tiket kereta dibeli. IP address-nya sama."

"Pengalihan," desis Keyra. "Dia mau polisi nyari dia di Stasiun Gambir, padahal aslinya dia ada di pelabuhan."

"Pintar," puji Raka dengan nada sinis yang dingin. "Dia mau menyelundupkan koper itu lewat laut. Jalur internasional. Kalau barang itu sampai keluar dari perairan Indonesia, kita tamat. Kita nggak punya yurisdiksi, nggak punya paspor palsu, dan nggak punya dana buat ngejar sampai ke luar negeri."

Keyra merasakan lututnya lemas. Pelabuhan Tanjung Priok itu luasnya bukan main. Mencari satu orang dengan satu koper di antara ribuan kontainer adalah definisi mencari jarum di tumpukan jerami—sambil mata tertutup.

"Kita harus lapor polisi," kata Keyra, suaranya mulai bergetar lagi. "Kita kasih info ini ke Inspekturadi."

"Dan jelasin dari mana kita dapat info ini?" potong Raka cepat, memutar kursinya menghadap Keyra. Tatapannya keras, tidak memberi ruang untuk keraguan. "Kita ini buronan juga, Key, secara teknis. Kita ada di lokasi kebakaran sebelum pemadam datang. Kalau kita muncul sekarang tanpa bukti fisik koper itu, kita yang bakal ditahan buat interogasi. Sementara kita diinterogasi, Julian udah berlayar sambil minum *cocktail*."

Keyra merosot duduk di tepi tempat tidur yang berantakan. Tangannya menjambak rambutnya sendiri. Napasnya mulai pendek-pendek. Serangan panik itu datang lagi, merayap naik dari perut ke dada. "Gue nggak bisa... Gue nggak tahu harus apa... Dulu gue selalu tahu langkah selanjutnya. Gue tahu di mana dia sembunyi, gue tahu kapan dia lengah. Sekarang? Gue buta, Raka! Gue buta total!"

Dia menatap telapak tangannya sendiri seolah mencari contekan yang tidak pernah ada di sana. "Kalau salah langkah, kita mati. Lo bisa mati gara-gara gue. Gue nggak mau ngulangin lihat lo mati lagi!"

Raka berdiri. Dia mengabaikan rasa sakit yang menyengat saat dia bergerak tiba-tiba. Dia berjalan mendekati Keyra, lalu berjongkok di hadapan gadis itu sehingga pandangan mereka sejajar. Dia tidak menyentuh Keyra—dia tahu Keyra sedang *overwhelmed*—tapi kehadirannya cukup dekat untuk memblokir pandangan Keyra dari kekacauan di sekeliling mereka.

"Lihat gue," perintah Raka. Suaranya rendah, tapi otoriter.

Keyra mengangkat wajahnya, matanya basah dan liar karena panik.

"Lo bukan Tuhan, Keyra," kata Raka tegas. "Selama ini lo hidup dengan beban seolah-olah lo sutradara alam semesta. Lo pikir karena lo tahu masa depan, lo bertanggung jawab atas setiap detiknya. Itu arogan, dan itu yang bikin lo hancur setiap kali ada hal kecil yang meleset."

"Tapi setidaknya gue bisa nyelamatin orang!" bantah Keyra, air mata menetes di pipinya.

"Dan lo juga kehilangan diri lo sendiri dalam prosesnya," balas Raka cepat. Dia menghela napas, melembutkan ekspresinya sedikit. "Dengerin gue. Ketidaktahuan itu bukan kutukan. Itu normal. Itu cara kerja dunia buat 99,9 persen manusia lain, dan mereka bertahan hidup. Kita juga bakal bertahan."

"Gimana caranya? Kita cuma dua orang lawan sindikat Julian."

"Dengan berhenti mencoba memprediksi badai dan mulai belajar cara berlayar di dalamnya," jawab Raka. Dia menunjuk dada Keyra dengan telunjuknya yang tidak diperban. "Lo panik karena naskah di kepala lo hilang. Lo panik karena halaman selanjutnya kosong."

Raka meraih spidol hitam yang tadi dipakai Keyra untuk menulis di papan tulis. Dia mencabut tutupnya dengan gigi, lalu menarik tangan Keyra. Di atas perban putih yang membalut lengan kiri Keyra—luka goresan kecil dari pelariannya—Raka menuliskan sesuatu. Gerakannya pelan tapi pasti.

Keyra menunduk melihat apa yang ditulis Raka. Sebuah simbol sederhana: tanda titik dua, diikuti tanda kurung tutup. Sebuah senyum *smiley* sederhana, digambar dengan tinta hitam tebal di atas kain kasa putih.

"Dunia nggak berakhir cuma karena lo nggak tahu *ending*-nya," kata Raka, menatap lurus ke dalam mata Keyra. Dia meletakkan spidol itu di tangan Keyra, lalu menutup jari-jari gadis itu menggenggam spidol tersebut.

"Sekarang kita tulis cerita sendiri," ucap Raka, suaranya terdengar seperti janji yang sakral di tengah ruangan sempit itu. "Tanpa spoiler. Tanpa pengulangan. Kalau kita menang, itu karena usaha kita, bukan karena bocoran. Kalau kita kalah, kita kalah sambil berjuang, bukan karena pasrah sama takdir."

Kata-kata itu menggantung di udara. *Sekarang kita tulis cerita sendiri.*

Keyra merasakan genggamannya pada spidol itu mengerat. Sensasi plastik dingin di kulitnya terasa nyata. Lebih nyata daripada ingatan samar tentang masa depan yang tidak pernah terjadi. Raka benar. Selama ini dia hanya aktor yang mencoba menghafal naskah yang terus berubah. Dia lelah menjadi aktor. Dia ingin menjadi penulisnya.

Napas Keyra perlahan melambat. Detak jantungnya yang tadi berpacu seperti kuda liar mulai menemukan ritme yang stabil. Dia menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangan.

"Naskah kosong," gumam Keyra pelan. "Artinya gue bisa nulis apa aja, kan?"

"Apa aja," Raka mengangguk, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang menenangkan. "Termasuk bagian di mana kita nendang pantat Julian di pelabuhan subuh nanti."

Keyra tertawa kecil. Tawa yang kering, tapi tulus. "Lo kasar banget buat ukuran orang yang lagi sakit."

"Sakit fisik itu sementara, Key. Nyerah itu permanen," Raka bangkit berdiri, mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Keyra berdiri. "Jadi, Tuan Putri Penjelajah Waktu yang sudah pensiun, apa perintah selanjutnya?"

Keyra menyambut uluran tangan itu. Dia berdiri tegak, merasakan kekuatan baru mengalir di kakinya. Dia menoleh ke papan tulis, lalu ke layar laptop yang masih menampilkan peta pelabuhan.

"Kita nggak bisa masuk lewat gerbang depan," kata Keyra, otaknya kini bekerja dengan mode analitis, bukan panik. "Sistem keamanan kargo yang lo retas tadi... lo bisa bikin *glitch* palsu nggak? Sesuatu yang bikin alarm bunyi di sektor timur, supaya penjaga fokus ke sana sementara kita masuk lewat sektor barat?"

Raka menyeringai lebar, seringai yang membuat wajah pucatnya terlihat berbahaya sekaligus menawan. "Gue suka cara pikir lo. Pengalihan dibalas pengalihan. *Classic*."

"Berapa lama waktu yang lo butuhin buat siapin itu?"

"Lima belas menit. Tapi gue butuh lo buat nyiapin rute kabur. Gue nggak bisa lari cepet dengan kaki kayak gini, jadi kita butuh kendaraan yang *standby* di titik buta CCTV."

"Oke," Keyra mengangguk mantap. Dia mengambil jaket denimnya yang tersampir di kursi. "Gue bakal cari denah drainase pelabuhan. Biasanya itu satu-satunya jalur yang jarang dijaga ketat."

Raka kembali duduk di depan laptop, jari-jarinya kembali menari di atas keyboard dengan semangat baru. Tidak ada lagi keraguan di ruangan itu. Ketakutan masih ada, tentu saja. Julian masih berbahaya, dan mereka masih kalah jumlah. Tapi atmosfer keputusasaan telah menguap, digantikan oleh tekad baja yang dingin.

Keyra menatap punggung Raka sejenak sebelum fokus pada ponselnya untuk mencari denah. Dia menyadari satu hal penting malam ini: Masa depan yang tidak diketahui memang menakutkan, tapi itu juga satu-satunya tempat di mana harapan benar-benar bisa tumbuh. Karena jika semuanya sudah tertulis, untuk apa berharap?

"Raka," panggil Keyra pelan tanpa menoleh.

"Hm?" gumam Raka tanpa menghentikan ketikannya.

"Makasih. Karena udah maksa gue buat megang pena-nya."

"Simpan makasihnya buat nanti," sahut Raka, matanya berkilat memantulkan cahaya layar. "Saat kita udah berhasil bikin Julian nyesel karena pernah main-main sama waktu."

Di luar jendela, langit malam mulai menampakkan semburat ungu tipis di ufuk timur. Fajar akan segera tiba. Halaman baru sudah terbuka, dan tintanya baru saja menetes.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!