NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 3

Matahari pukul satu siang di SMA Andromeda tidak pernah main-main. Panasnya seolah ingin melelehkan aspal lapangan basket, mengubah udara menjadi gelombang uap yang bergetar di kejauhan. Namun, bagi Raka Mahendra, panas ini hanyalah sorotan lampu panggung gratis untuk pertunjukan solonya.

"Lari sepuluh putaran, Mahendra! Dan kalau gue denger lo ketawa lagi, gue tambah jadi dua puluh!" Suara Pak Bowo, guru BK yang terkenal memiliki sumbu kesabaran setipis tisu, menggelegar dari pinggir lapangan.

Di samping Pak Bowo, berdiri Julian dengan tangan bersedekap. Wajah Ketua OSIS itu datar, tapi kilatan matanya memancarkan kepuasan. Menghukum Raka adalah agenda balas dendam tercepat yang bisa dia eksekusi setelah insiden di koridor tadi. Alasan resminya: 'Mengganggu ketertiban umum dan tidak menghormati sesama siswa'. Alasan sebenarnya: Ego Julian butuh tumbal.

Raka? Dia justru menyeringai. Dia mulai berlari, bukan dengan langkah terseret layaknya siswa yang dihukum, melainkan dengan ritme stabil seorang atlet yang sedang pemanasan. Sepatu kets-nya berdecit di permukaan lapangan semen yang panas, menciptakan irama yang konstan.

Satu putaran. Dua putaran. Keringat mulai membasahi seragam putihnya, mencetak punggungnya yang tegap. Beberapa siswi yang 'kebetulan' lewat di koridor lantai satu mulai berbisik-bisik, menjadikan hukuman Raka sebagai tontonan wajib.

Keyra mengamati dari balik pilar koridor dekat kantin. Dia memegang botol air mineral dingin yang mulai berembun di tangannya. Matanya menyipit, menganalisis setiap gerakan Raka. Ada yang salah. Sangat salah.

Dalam ingatan Keyra tentang garis waktu sebelumnya, Raka Mahendra adalah tokoh figuran yang mati muda karena kecelakaan motor di semester dua. Dia tidak pernah seberani ini melawan Julian. Dia tidak pernah menjadi pusat perhatian dengan cara yang begitu provokatif. Raka yang 'dulu' adalah berandalan biasa yang apatis, bukan pemberontak yang penuh perhitungan.

"Lo menyembunyikan sesuatu, Raka," gumam Keyra pelan.

Tanpa mempedulikan tatapan heran beberapa siswa, Keyra melangkah keluar dari koridor teduh menuju neraka panas di tengah lapangan. Dia tidak peduli dengan aturan. Dia butuh jawaban, dan dia butuh sekarang.

Raka baru saja menyelesaikan putaran keempatnya ketika dia menyadari ada bayangan lain yang bergerak di lintasan lari. Dia menoleh sedikit, dan alisnya terangkat kaget. Keyra kini berlari kecil di sampingnya, berusaha menyejajarkan langkah meski napas gadis itu sedikit lebih berat.

"Woy, Nona Peramal!" seru Raka tanpa mengurangi kecepatannya. Napasnya masih teratur, seolah dia memiliki paru-paru cadangan. "Ngapain lo di sini? Mau ikut dihukum? Atau pesona gue terlalu kuat sampe lo nggak tahan buat deket-deket?"

Keyra tidak meladeni candaan itu. Dia fokus mengatur napasnya agar bisa bicara tanpa terdengar lemah. "Gue nggak butuh basa-basi lo. Gue butuh jawaban."

"Jawaban apa? Kunci jawaban Fisika besok? Wah, sorry, gue anak IPS yang tersesat."

"Berhenti pura-pura bodoh, Raka!" Keyra menaikkan intonasi suaranya, memotong angin panas di antara mereka. "Kenapa lo nolongin gue tadi? Kenapa lo mancing Julian? Lo sengaja bikin dia marah biar fokus dia beralih dari gue ke lo, kan?"

Raka tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang terdengar menjengkelkan di telinga Keyra. Dia mempercepat larinya sedikit, memaksa Keyra untuk memacu kakinya lebih cepat. "Analisis lo kejauhan, Nona. Gue cuma nggak suka liat muka sok gantengnya si Julian. Itu aja. Kebetulan aja lo ada di sana."

"Bohong," desis Keyra. Dia memaksakan kakinya melangkah lebih lebar, menolak untuk tertinggal. "Lo natap gue beda. Tatapan lo tadi... itu bukan tatapan orang yang baru kenal. Lo tau siapa gue, kan?"

Langkah Raka goyah sepersekian detik. Sangat tipis. Jika Keyra berkedip, dia pasti melewatkannya. Ritme napas cowok itu berubah sejenak sebelum kembali normal.

"Gue tau siapa lo," jawab Raka santai, matanya lurus ke depan menatap tiang bendera. "Lo Keyra. Cewek yang hampir nyiram gue pake soto, nolak Ketua OSIS di depan umum, dan sekarang hobi lari siang bolong. Lo unik. Gue suka yang unik."

"Bukan itu maksud gue!" Keyra merasa frustrasi. Keringat mulai menetes dari pelipisnya, perih mengenai mata. "Lo... lo ngerasa ada yang aneh nggak sama dunia ini? Sama waktu?"

Pertanyaan itu adalah perjudian besar. Jika Raka hanya siswa normal, Keyra akan dianggap gila. Tapi jika insting Keyra benar...

Raka tiba-tiba berhenti mendadak. Sepatunya berdecit keras, meninggalkan jejak hitam di lapangan. Keyra yang tidak siap hampir menabrak punggungnya, tapi dia berhasil mengerem langkahnya tepat waktu.

Mereka berdiri berhadapan di tengah lapangan yang panas. Julian dan Pak Bowo sudah tidak terlihat, mungkin masuk ke ruang guru yang ber-AC, meninggalkan Raka menyelesaikan hukumannya sendiri.

Raka memutar tubuhnya menghadap Keyra. Senyum jenaka yang sedari tadi menempel di wajahnya perlahan memudar. Dia menunduk, menatap Keyra tepat di manik mata. Jarak mereka begitu dekat hingga Keyra bisa mencium aroma sabun maskulin bercampur keringat dan matahari.

Untuk pertama kalinya, Keyra melihat 'sesuatu' itu. Di balik bola mata cokelat gelap milik Raka, ada lapisan emosi yang sangat tua. Ada kelelahan yang tidak seharusnya dimiliki oleh remaja berusia tujuh belas tahun. Ada kesedihan yang teredam dalam, seperti lautan tenang yang menyimpan bangkai kapal di dasarnya.

"Dunia ini emang aneh, Key," suara Raka merendah, kehilangan nada main-mainnya. "Orang-orang berubah. Takdir bergeser. Kadang, hal yang kita pikir kita tahu, ternyata cuma ilusi."

Jantung Keyra berdegup kencang, bukan karena lari, tapi karena validasi tersirat itu. "Jadi lo... lo juga..."

"Tapi," potong Raka cepat. Senyum tengil itu kembali terpasang di wajahnya secepat kilat, seolah topeng yang sempat retak langsung diperbaiki secara instan. "Tapi kalau lo nanya apa gue penjelajah waktu atau alien, kayaknya lo kebanyakan nonton film sci-fi deh."

Raka membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Keyra. "Saran gue, Key. Jangan terlalu keras mikir. Nikmatin aja pertunjukannya. Garis waktu itu licik. Semakin lo coba lurusin, semakin kusut benangnya."

Sebelum Keyra sempat membalas atau mencengkeram kerah seragamnya, Raka sudah kembali berlari. Kali ini dia melakukan sprint, meledakkan sisa tenaganya dengan kecepatan yang tidak mungkin dikejar oleh Keyra.

"Lima putaran lagi! Semangat, Keyra! Kalau mau ngejar gue, latihan kardio dulu!" teriak Raka sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.

Keyra berdiri mematung di tengah lapangan. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan kasar. Panas matahari semakin menyengat kulitnya, tapi Keyra merasa dingin.

Matanya. Mata Raka tadi berbohong saat mulutnya menyangkal. Kalimat terakhirnya—*"Semakin lo coba lurusin, semakin kusut benangnya"*—itu bukan kalimat acak. Itu peringatan.

Keyra meremas botol air di tangannya hingga penyok. Raka Mahendra bukan sekadar variabel acak. Dia adalah anomali. Dan Keyra bertekad akan membongkar topeng badut yang dipakai cowok itu, bagaimanapun caranya.

Di ujung lapangan, Raka terus berlari. Namun senyum di wajahnya sudah hilang sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi keras dan tatapan tajam yang menyorot kosong ke depan. Dia tahu Keyra tidak akan berhenti. Dan itu membuat segalanya menjadi jauh lebih rumit dari rencana awalnya.

"Sial," umpat Raka lirih di antara deru napasnya. "Kenapa lo harus secerdas itu sih, Key?"

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!