NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Efek Cinta

Satu minggu berlalu begitu lama, bagi Shahinaz yang hidup tenangnya diganggu oleh orang-orang suruhan Dreven. Di rumah ia diganggu oleh kedatangan Raghav dan Gallenio, di sekolah ia diganggu oleh Kaendra Arzam Latucie yang katanya mendapat titah untuk menjaga Shahinaz. Lalu di toko bunga ia mendapat paket combo, dengan hadirnya Kaendra beserta kedua bawahan Dreven yang terus mengawasinya.

"Bisa nggak lo pada nggak usah pada ngerecokin. Kalau nggak mau bantu, ya udah pulang aja sana. Orderan bunga kali ini bejibun, harus diselesaikan hari ini juga. Mana udah bayar uang muka lagi, jadi gue nggak bisa ngebatalin." keluh Shahinaz yang sudah merasa cukup frustasi dihari libur sekolahnya.

Mungkin seharusnya Shahinaz merasa senang karena rezeki mengalir secara tak terduga, tapi orderan bunga kali ini menghabiskan seluruh bunga di toko yang menjadi pusatnya. Entah siapa yang membeli, Shahinaz harus ekstra kelelahan, bahkan harus memanggil beberapa karyawan dari cabang lain untuk membantunya.

"Lo ngomong apa, Sha?" tanya Kaendra, terlihat sedikit bingung namun tetap tenang. "Gue cuma mau bantu kalau ada yang perlu aja. Kalau nggak ada yang nyuruh, ya ogah gue. Tugas gue udah selesai, gue kesini cuma gabut doang."

Baru satu minggu mereka kenal, tapi Kaendra merasa kalau mereka sudah mengenal cukup lama. Apalagi dia cukup suka ketika Shahinaz bisa diajak berdebat dan tidak ada yang mau mengalah satu sama lain, itu cukup membuat Kaendra merasa terhibur karena ditinggal sendirian oleh para sahabatnya.

"Kalau tugas lo udah selesai, kenapa lo masih ke sini sih? Nggak punya temen ya lo? Makanya kalau sekolah jangan kebanyakan bolos, jadi lo nggak minder karena harus bergaul sama bocil-bocil yang dulunya jadi adik kelas lo." lanjut Shahinaz dengan ketusnya.

Kaendra menggoyang-goyangkan jari telunjuknya, "Gue nggak butuh temen kayak mereka. Lagian alasan gue nggak lulus sekolah kemarin karena gue sibuk ngerintis karir baru aja. Tapi tenang, duit gue banyak. Kalau lo butuh duit, lo bisa ngutang juga sama gue."

"Ngutang sama lo? Ngapain gue harus ngutang? Gue bukan orang yang suka ngutang, apalagi sama orang songong yang baru gue kenal selama satu minggu ini." jawab Shahinaz.

"Ya udah kalau lo nggak mau sih, gue juga nggak maksa. Gue cuma bisa bantu doa ngelihat lo bekerja keras banting tulang kayak gini. Lagipun gue di sini cuma mau mastiin aja, kalau bunga-bunga yang lo buat dikemas dengan bagus dan rapi. Gue nggak mau ada kesalahan setelah bunga dikirim dan ditata secara besar-besaran nanti." ucap Kaendra dengan senyuman lebarnya.

Shahinaz mengorek telinga kanannya untuk memastikan. Mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Kaendra Arzam Latucie, apa laki-laki itu dalang dibalik kesibukannya di hari libur indahnya ini? Jika iya, mau Shahinaz apakan laki-laki itu sekarang?

"Oh, jadi lo yang udah buat gue ekstra kerja keras hari ini kan? Gue dari delapan jam yang lalu udah muak nyusun bunga tau nggak! Dan ternyata lo dalang dibalik kesusahan gue!" Shahinaz angkat tangan tanda menyerah sekarang, apalagi dari satu minggu lalu dia tidak pernah dibiarkan tenang sendirian.

Lalu di hari liburnya, ia ditelepon oleh salah satu karyawan toko bunga yang bekerja pada bagian pusat. Katanya ada yang memborong seluruh bunga di toko tanpa terkecuali, dan mereka langsung memberikan uang muka yang jumlahnya sungguh fantastis, padahal mereka belum sempat menyetujui atau menolak pesanan.

"Bukan gue Sha, suwerrr!" balas Kaendra sambil membuat huruf V dari tangan kanannya. Jujur, memang bukan dia pelaku sebenarnya.

"Dari lagaknya lo ngegangguin selama satu minggu ini, gue jadi nggak percaya. Apalagi pernyataan lo ngebuat gue yakin, pasti ada yang lo sembunyiin dari gue kan? Jujur siapa yang udah ngebuat gue kayak gini?" tanya Shahinaz yang rasa kesalnya semakin menjadi-jadi, "Gue bingung. Entah kenapa selama gue terdampar di tempat aneh ini, darah tinggi gue semakin naik aja!"

Kaendra sebenarnya kurang paham dengan kalimat Shahinaz yang terakhir, tapi dia bodo amat. Mungkin karena Shahinaz sudah lelah, makanya perkataannya ngelantur ke mana-mana.

"Sha, gue beneran bukan pelakunya sumpah. Kalau lo beneran nggak percaya, bentar lagi juga pembelinya bakal ke sini. Habis itu gue janji, gue bakalan pergi dari sini dengan aman sentosa, karena gue udah ngerasa nggak ada tanggungan lagi buat ngejagain lo." kata Kaendra berikutnya.

Shahinaz mengernyitkan dahinya. Untung saja otak dan logikanya termasuk cerdas dalam berpikir cepat. Jadi tanpa pikir panjang, Shahinaz langsung mendapat kesimpulan. Pasti semua pesanan ini ada kaitannya dengan laki-laki gila yang dengan teganya mengobrak-abrik rencana hidup indahnya bukan?

"VK Company itu punya Dreven Veir Kingsley kan? Ayo jawab, gue bener kan? Cowok itu yang udah ngebuat gue semakin stres nggak terkendali kayak gini kan?" tanya Shahinaz menyimpulkan.

Kaendra menatap Shahinaz dengan ekspresi antusias.

Selain pintar, cerdas, dan pekerja keras, logika gadis itu juga benar-benar luar biasa. Kaendra salut dengan pemikiran cepat Shahinaz yang tak meleset itu.

"Lo bener, Sha. VK Company emang milik Bos gue yang tak lain adalah cowok lo. Seratus buat lo." ujar Kaendra sambil mengangkat jempolnya.

"Jadi, ternyata Dreven di balik semua ini. Dengan semua yang terjadi ini, mungkin dia sengaja bikin gue makin stres dan nggak terkendali seperti sekarang. Cita-cita dia kayaknya pengin ngirimin gue ke rumah sakit jiwa deh."

Kaendra melotot sambil menggelengkan kepalanya. Jika Shahinaz mengatakan pernyataan yang serupa di depan Dreven, dia takut namanya dibawa-bawa dan berakhir kesalah pahaman. Dia memandang Raghav dan Gallenio yang sejak tadi membantu merangkai bunga meski banyak berhentinya, berniat meminta bantuan dari mereka lewat kode matanya itu.

Raghav mengangguk, lalu berdiri sambil memamerkan kartu yang ada dari balik sakunya, "Maaf menyela Nona. Untuk alasan pasti, itu karena Nona Shahinaz tidak mau mengambil kartu ini satu minggu yang lalu. Untuk itu Tuan Muda Dreven mengambil langkah lain, agar Nona tetap mendapatkan uang yang dia beri tanpa melukai harga diri Nona."

"Nahhh itu maksud Dreven sebenarnya. Lagian lo ngapain nolak-nolak rezeki nomplok sih, itu blackcard tau! Lo bisa beli apa aja dengan kartu itu." kata Kaendra melanjutkan, "Bunga-bunga lo juga ludes karena Dreven Kan? Harusnya lo bersyukur. Setelah ini harusnya lo juga bisa libur selama satu minggu karena stok bunga lo udah pada habis."

Karena ini ulah Dreven, Shahinaz jadi tidak ingin melanjutkan pekerjaannya lagi, suasana hatinya tiba-tiba memburuk begitu saja. Untung saja pesanannya juga sudah hampir selesai, jadi Shahinaz memutuskan untuk berhenti, biarkan para karyawannya saja yang menghabiskan pekerjaannya.

"Gue mau balik, udah hampir selesai juga. Urusan rapi nggak rapi, lo tinggal komplain aja sama mereka, gue nggak peduli asal lo tetep ngasih gue bintang lima." kata Selengan dengan suara pasrahnya kepada Kaendra, "Dan buat kalian, tenang aja ada bonus dari kerja keras kalian hari ini. Besok libur aja, nggak usah pada masuk. Gaji kalian tetep gue bayar kok."

Kaendra menghalangi jalannya, "Dreven bentar lagi nyampai ke sini. Tunggu dia ya, baru setelah itu lo bisa pergi ke mana-mana."

Shahinaz menyipitkan matanya. Tidak bisakah dia dibiarkan hidup dengan tenang, kenapa ada-ada saja yang harus dia turuti demi seorang Dreven Veir Kingsley itu? Dia ingin lepas dari jeratan laki-laki itu, tapi bagaimana caranya? Kenapa Shahinaz harus terjebak dengan orang-orang yang memiliki kuasa seperti itu?

Teng!

Seseorang masuk ke dalam toko bunga tak lama kemudian. Dan benar saja, sosok Dreven Veir Kingsley berdiri dengan cukup berwibawa di depan sana. Kaendra menyambutnya dengan antusias dan berjalan cepat menghampiri laki-laki itu, sedangkan Shahinaz sudah tidak ada tenaga untuk melakukan apa-apa lagi. Dia akan diam saja, karena memberontak pun sepertinya sudah tidak mampu.

"Apa kabar Bos? Akhirnya lo balik dengan kemenangan juga. Bunga-bunganya udah dibuat sebagus mungkin kok, gue jamin perayaan untuk perusahaan lo akan berjalan dengan meriah." ungkap Kaendra setelah melakukan tos ala mereka sebelum akhirnya berbicara.

"Lo boleh pergi. Sekarang, pastikan pekerjaan di sana bisa terorganisir dengan baik. Raghav, Gallenio, ikut dia." balas Dreven dan dijawab anggukan mantap oleh mereka.

Dreven menatap Shahinaz dengan sirat rindu yang memuncak. Selama satu minggu ini, dia sudah berkerja terlalu keras untuk menyelesaikan semua masalah yang menghalanginya dengan singkat. Selama itu dia terus memikirkan Shahinaz, dia juga mengirimi Shahinaz banyak pesan, tidak ada yang dibalas sama sekali oleh gadis itu.

Rasa cinta yang datang singkat singkat dari dalam hatinya itu benar-benar menggerogoti pikirannya. Presetan dengan Shahinaz atau orang lain yang mengatainya gila, Dreven sudah sangat yakin dengan perasaannya sendiri semenjak dia meninggalkan gadis itu selama satu minggu ini. Dia ingin bertemu, ingin mendengar suaranya, lalu uring-uringan tidak jelas selama Shahinaz tidak berada disisinya.

"Shahinaz," Dreven memulai dengan suara lembut namun penuh kepastian. "Aku minta maaf jika semua ini membuatmu lelah. Tujuan utamaku hanya untuk mendukung bisnismu, bukan menambah beban pikiranmu."

Dreven berdiri di depan Shahinaz dengan tatapan yang penuh dengan perasaan rindu yang membuncah. Sedangkan Shahinaz tidak terlalu mengeluarkan banyak ekspresi, dia sudah kelelahan dan frustasi walaupun hanya menatap Dreven saja.

Dreven pun merasakan ketegangan di udara, namun dia tau bahwa dia harus berbicara dan menjelaskan semua ini dengan cara yang benar. Lagipun, dia harus mengungkapkan rasa rindunya, dan mengatakan secara gamblang kalau perasaan dia benar-benar nyata adanya.

"Oke, aku ngerti. Tapi lain kali jangan kayak gini, dukung sewajarnya aja. Kalaupun toko bunga ini nggak berjalan dengan baik, aku masih bisa menikmati hidup sesuai yang aku inginkan. Kamu nggak perlu merubah apapun di dalam hidup aku." balas Shahinaz yang rasa kesalnya sudah mulai meredam.

Setelah dipikir-pikir, ini bukan salah Dreven, ditambah harusnya dia senang kan ketika bunga-bunga segarnya diborong habis oleh laki-laki itu? Jadi dia untung banyak hari ini.

Dreven mengangguk, merasakan sedikit kelegaan dari respons Shahinaz, "Kedepannya, aku janji nggak akan seperti ini lagi."

Shahinaz mendesah pelan, mencoba mengumpulkan kembali tenaganya yang tersisa, "Udah selesai kan pembicaraannya? Kamu boleh pulang sekarang. Wajah kamu terlihat kelelahan seperti nggak tidur berhari-hari, istirahatlah dengan baik, dan jaga kesehatan."

Dreven berdehem sejenak, perhatian Shahinaz yang tidak seberapa benar-benar membuatnya salah tingkah. Tapi untuk saat ini, bukan pulang yang dia inginkan, Dreven hanya ingin gadis itu disisinya sekarang.

"Can i hug you?"tanya Dreven dengan suara lembutnya.

Shahinaz berdehem singkat. Banyak orang yang sedang memperhatikan mereka, tentu saja Shahinaz malu jika tiba-tiba Dreven memeluknya, "Terlalu banyak orang, kapan-kapan aja. Aku juga mau pulang sekarang. Hati-hati di jalan."

Dreven menarik tangan Shahinaz dengan lembut.

Kalau begitu, bukannya ini momen yang pas. Dia juga ingin pulang, kenapa tidak membawa Shahinaz ke Mansion-nya lagi saja. Ide yang bagus bukan?

"Dreven, jangan aneh-aneh. Aku lagi nggak ingin ribut dengan siapapun hari ini. Jadi kalau mau mengantarku pulang, tolong mengantarku ke rumah yang seharusnya." lanjut Shahinaz yang sudah tau jalan pikir Dreven juga.

Dreven mendengus pelan, kemudian menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang."

Dreven membuka pintu mobil belakang untuk Shahinaz dan membiarkan gadis itu untuk masuk lebih dulu, lalu dia juga akan segera mengikuti. Kebetulan Dreven datang kesini dengan orang kepercayaan yang sekarang sedang beralih profesi menjadi sopir untuknya juga.

Tapi Dreven merasa puas, dia leluasa berdekatan dengan Shahinaz lantaran tidak mengemudi lagi!

"Can i hug you?"tanya Dreven sekali lagi. Ini sudah tidak banyak orang seperti tadi.

"Harus banget ya dapet pelukannya? Tapi oke deh, anggap aja aku lagi baik." jawab Shahinaz pasrah. Dia tau jalan pikir Dreven seperti apa, untuk itu dia tidak akan melakukan sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri jika tidak dituruti.

Dreven tersenyum sekilas dan dengan lembut menarik Shahinaz ke pelukannya. Dia memeluk Shahinaz dengan penuh perasaan, berusaha membuat gadisnya nyaman sambil menghibur dirinya sendiri dengan kehadiran Shahinaz yang sangat diinginkannya.

Sedangkan Shahinaz merasakan kehangatan tubuh Dreven dan aroma khasnya yang menenangkan. Selama beberapa detik, dia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu. Semua kelelahan dan stres tampaknya sedikit berkurang dengan sentuhan lembut Dreven. Namun, dia juga tahu bahwa dia harus kembali ke kenyataan. Jadi Shahinaz mulai memundurkan tubuhnya, dan pelukan itu perlahan-lahan mulai memudar jug.

"Thanks for the hug, but can I kiss you too?" tanya Dreven lagi.

"Makin ngelunjak emang!" balas Shahinaz dengan kesal.

Dreven terkekeh kecil, ekspresi kesal dari Shahinaz juga menjadi hiburan tersendiri baginya. Dia membawa gadis itu kepada pelukannya lagi, lalu memejamkan matanya sembari bersandar pada kursi penumpang dengan nyaman. Mungkin untuk sementara, biarlah mereka seperti ini dulu hingga dia merasa puas dengan sendirinya.

Dreven Veir Kingsley, mungkin dia benar-benar sudah terjatuh dengan pesona gadis itu. Bahkan dengan memeluknya saja, rasa lelahnya mendadak sirna.

Apakah efek cinta semenakjubkan ini?

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!