Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berani Mengambil Sikap
Abah Kosasih meletakkan cangkir seng-nya, lalu menatap tajam ke arah putra sulungnya, Kang Jaka, dan menantunya, Mira.
"Kalau memang begitu bunyinya, kalian berdua berangkatlah besok," suara Abah berat namun tenang.
"Tapi ingat pesan Abah, sing ati-ati. Buka mata lebar-lebar. Jangan sampai lengah. Orang kalau sudah gelap mata karena harta, akalnya bisa mati. Jangan sampai kalian diakali."
Mak Sari yang duduk di bale-bale sambil menambal baju ikut menimpali, jarum di tangannya berhenti bergerak sejenak.
"Sepupumu si Siska itu akalnya banyak, Nduk. Heran Mak, gadis masih bau kencur kok ya bisa-bisanya ngincar suami orang. Mira, kamu yang waspada. Jangan sampai kamu disetir sama omongan manis mereka. Ingat, ular berbisa itu jalannya tenang, nggak grusa-grusu."
Mira mengangguk takzim. Ia bukan wanita bodoh.
Mira langsung paham arah pembicaraannya.
Hatinya menghangat menyadari betapa keluarga suaminya ini begitu melindunginya.
"Inggih, Mak. Saya bakal jaga rumah tangga saya. Mak sama Abah tenang saja," jawab Mira tegas.
Tangannya tanpa sadar meremas ujung kebaya lusuhnya, menyalurkan tekad.
Mak Sari menghela napas lega. Sejujurnya, ia tidak ingin hubungan Mira dengan keluarga pamannya putus total—bagaimanapun itu masih kerabat.
Tapi kalau pihak sana sudah tidak punya unggah-ungguh, Mira harus berani mengambil sikap.
Peringatan Sulastri yang masih bocah itu terlalu nyata untuk diabaikan. Kalau cucunya saja sudah gelisah, berarti marabahaya memang sedang mengintai.
"Ya sudah, diputuskan begitu saja. Nanti kalian rembukan lagi di kamar," tutup Abah Kosasih bijak.
Tangannya beralih mengambil sepotong tempe goreng, menaruhnya di piring seng milik Sulastri yang duduk anteng di pangkuan Kinar.
"Makasih ya, Nduk, Lastri. Wis, sekarang makan yang banyak," ucap Abah lembut.
Abah dan Mak Sari sebenarnya sudah tahu tentang keanehan Sulastri lewat cerita Kinar.
Namun, mereka sepakat menutup rapat hal ini.
Mereka tidak mau cucu kesayangan mereka dianggap aneh oleh warga desa, atau lebih buruk lagi, dimanfaatkan orang pintar demi nomor togel. Bagi mereka, Lastri adalah berkah, bukan alat.
Selesai makan malam, Mira hendak membereskan piring, tapi Mak Sari menahan tangannya.
"Sudah, biar Mak sama Kinar saja. Kamu masuk kamar, bicara sama suamimu. Perkara besok itu butuh kepala dingin."
Kang Jaka pun mengajak istrinya masuk ke kamar.
Ada strategi yang harus disusun sebelum menghadapi 'medan perang' esok hari.
Sementara itu, Sulastri yang perutnya sudah kenyang meluncur turun dari pangkuan ibunya.
Dengan semangat 45, ia menarik tangan Abah Kosasih yang keriput.
"Mbah Kung! Mbah Kung! Lihat, Lastri sudah bisa nulis lho! Tadi Lastri belajar cepat sekali!" serunya bangga, matanya berbinar seperti bintang kejora.
Abah Kosasih terkekeh, alis putihnya naik karena gemas.
"Walah, mosok to, Nduk? Baru tadi siang diajari, masa sudah bisa?"
Sulastri baru lima tahun.
Di desa ini, anak-anak baru kenal huruf kalau sudah masuk SD Inpres tempat dulu Abah Kosasih mengabdikan diri puluhan tahun.
Di dalam kamar berdinding bilik bambu yang sederhana, Mira duduk bersisian dengan suaminya.
Kang Jaka menggaruk kepalanya yang tak gatal, wajah polosnya tampak bingung.
"Dik, menurutmu Bulik Rini sama Siska itu kesambet apa? Kok bisa-bisanya naksir aku? Aku ini cuma buruh tani, tampang pas-pasan, harta juga nggak punya."
Sejak siang tadi, Jaka merasa omongan Siska—sepupu istrinya itu—memang aneh.
Tatapannya lapar, tapi bukan tatapan cinta.
Lebih seperti tatapan pedagang melihat barang dagangan.
Mira menunduk, memainkan ujung selimut kain perca.
Suaranya lirih namun tajam.
"Mas, mereka itu bukan naksir sampeyan. Mereka naksir duit gono-gininya Dik Kinar."
Jaka terbelalak.
"Lha? Kinar kan sudah pisah KK, duitnya juga sudah dibelikan sawah sama buat obat Lastri yang mahal itu. Lagian, aku ini kakaknya, bukan suaminya Kinar. Masa aku mau makan duit adik sendiri? Gendeng apa mereka?"
Jaka memang orang desa yang lurus, tapi dia punya prinsip sekeras batu karang.
Dia merasa aneh.
Kalau Siska memang gila harta, harusnya dia cari juragan tembakau atau minimal kerawat desa. Kenapa malah mengejar Jaka yang notabene masih numpang di rumah orang tua?
"Mas, aku merasa ada yang nggak beres. Siska itu dari dulu memandang kita sebelah mata. Dulu waktu kita nikah, dia bilang Mas Jaka itu 'nggak punya masa depan'. Sekarang kok tiba-tiba ngebet?"
Mira menatap suaminya lekat.
"Pasti ada udang di balik batu. Siska itu kembang desa Cikur, masa mau sama suamiku yang cuma petani?"
"Kalau gitu kita nggak usah datang aja, Mas?"
Mira mulai cemas, memikirkan kemungkinan terburuk.
"Jangan," potong Jaka cepat.
"Kalau nggak datang, nanti mereka koar-koar ke tetangga kalau kamu anak nggak tahu diuntung, keponakan durhaka. Tante Rini lagi sakit kok nggak ditengok. Kita nggak salah, jangan sampai jadi salah karena omongan tetangga."
Jaka memegang bahu istrinya erat, menyalurkan kekuatan.
"Gini aja Mas. Besok kita berangkat bar subuhan. Sebelum ke rumah Bulik Rini, kita mampir ke tempat si Lasmi. Kita korek info dulu. Pasti ada sesuatu yang Siska lakuin atau pamerin belakangan ini."
"Iya dik, begitu saja."
Mira mengangguk, merasa sedikit tenang dalam dekapan suaminya.
Kehangatan tubuh Jaka adalah benteng terkuatnya.
"Tenang wae, Mas Jaka ini tenaganya kuat. Juragan Suryo yang katanya pejabat di kota aja takut sama kita, apalagi cuma Siska dan ibunya. Kita lihat besok, setan belang macam apa yang mereka sembunyikan!" hibur Jaka sambil membusungkan dada, mencoba melucu.
Mira tersenyum tipis, menyandarkan kepala di dada suaminya yang bidang.
"Mas Suryo itu menang duit doang, Mas. Kalau soal laki-laki sejati, Mas Jaka juaranya."
"Walah, bisa aja kamu ini," Jaka terkekeh, suasana tegang pun mencair.
Malam itu, mereka tidur dengan hati yang waspada namun saling menguatkan.
Di kamar sebelah, Lastri tidur meringkuk di ketiak ibunya.
Tanpa sadar, bunga melati di pot dekat jendela kamar mereka mekar serentak malam itu, menyebarkan wangi semerbak yang menenangkan.
Ayam jantan baru berkokok sekali saat langit masih biru gelap.
Mak Sari sudah sibuk di dapur, merebus telur ayam kampung di panci loreng.
"Ini buat bekal di jalan. Makan kalau lapar, jangan jajan sembarangan," kata Mak Sari sambil membungkus telur hangat itu ke dalam kain bersih, menyerahkannya pada Mira.
Abah Kosasih menatap kepergian anak dan menantunya dari beranda.
"Gusti Allah, lindungilah anak-anakku. Jauhkan dari marabahaya dan fitnah," gumamnya lirih.
Jaka dan Mira berjalan kaki menembus kabut pagi.
Embun masih membasahi ujung kain sarung Jaka.
Mereka menuju Desa Cikur, tempat keluarga Siska tinggal. Perjalanan memakan waktu hampir dua jam jalan kaki, melewati pematang sawah dan jalan berbatu yang mulai ramai oleh petani.
"Dik, kita tanya siapa nanti?" tanya Jaka sambil menyeka keringat.
Matahari mulai naik, terik khas musim kemarau mulai menyengat kulit.
"Si Lasmi. Teman mainku dulu. Dia tetanggaan sama Siska. Anak itu 'lambe-nya' agak ember, tapi informasinya biasanya valid," jawab Mira yakin.
Sesampainya di Desa Cikur, hari sudah beranjak siang.
Mira mengajak suaminya ke arah kali di pinggir desa, tempat biasa ibu-ibu mencuci.
Benar saja, di sana terlihat punggung seorang perempuan kurus sedang menyikat baju di atas batu kali dengan tenaga lemah.
"Mas tunggu di bawah pohon nangka itu ya. Nggak enak kalau laki-laki ikut nimbrung di tempat cucian ibu-ibu," bisik Mira.
Mira melangkah pelan, lalu menyapa.
"Numpang nyuci, Dik!"
Perempuan itu menoleh, wajahnya kaget.
"Lho? Mbak Mira? Kapan datang?"
Itu Lasmi. Usianya baru empat belas tahun tapi wajahnya sudah layu menanggung beban kerja orang dewasa.
Mira langsung jongkok di sebelahnya, mengambil satu kain jarik kotor tanpa canggung.
"Sini Mbak bantuin. Mumpung airnya lagi bening."
"Eh, jangan Mbak! Nanti kebaya Mbak kotor," tolak Lasmi sungkan.
"Halah, kayak sama siapa saja. Ayo kita kebut biar kamu bisa cepat pulang makan," Mira tersenyum luwes.
Sambil tangannya cekatan menggilas cucian, mulutnya mulai bekerja.
"Las, Sepupuku, si Siska itu, dua bulan ini ada kabar aneh-aneh nggak? Kan dia sudah wayahnya nikah, ada yang ngelamar nggak? Atau dia lagi pamer barang baru?"
Lasmi mendengus pelan, membilas busa sabun batangan.
"Halah, Mbak. Si Siska itu dari dulu kan begitu. Lagaknya kayak putri keraton. Kemarin sih ibuku ngomel, katanya Siska itu matanya ketinggian. Nolak pemuda desa, maunya sama orang gedongan."
Lasmi mengecilkan suaranya, celingukan sebentar memastikan tidak ada mata-mata.
"Sebulan lalu, dia heboh banget Mbak. Pamer kalung liontin batu merah. Katanya itu jimat keberuntungan mahal, pemberian orang pintar dari kota. Dia bilang harganya bisa buat beli sawah dua hektar! Dia sesumbar sebentar lagi bakal jadi Nyonya Besar, terus aku mau dijadiin babunya."
Mira mengernyit.
Liontin? Jimat?
"Kami sih iya-iya aja, Mbak. Wong kami orang kecil nggak ngerti barang mahal.
Tapi anehnya, habis pamer itu, nggak ada tuh orang kaya yang datang ngelamar.
Malah sekarang sepi-sepi aja."
"Jadi cuma omong kosong?" pancing Mira.
"Kayaknya sih gitu. Eh tapi Mbak, dua minggu terakhir ini aku jarang lihat dia keluar rumah.
Katanya sakit."
Informasi ini berharga.
Berarti 'sakitnya' Rini dan menghilangnya Siska ada hubungannya dengan kegagalan rencana mereka sebelumnya.
Lasmi menatap Mira dengan mata berbinar, sedikit basah.
"Mbak Mira enak ya, suaminya Mas Jaka. Katanya Mas Jaka itu rajin, nggak pernah main tangan. Mertua Mbak juga baik."
Mira tersenyum simpul, namun hatinya perih melihat nasib temannya.
"Alhamdulillah, Las. Rezeki orang beda-beda."
Wajah Lasmi berubah sendu.
"Coba nasib kakakku, Yanti, kayak Mbak. Mbak Yanti itu baru lahiran anak kedua, perempuan lagi. Belum kering darahnya sudah disuruh ke sawah sama mertuanya. Katanya anak perempuan nggak guna, buang-buang nasi."
Di era itu, di desa terpencil, anak laki-laki masih dianggap investasi, sementara perempuan seringkali dianggap beban jika tidak membawa untung.
Mira terdiam, teringat nasib Kinar yang dibuang karena melahirkan Lastri.
"Sing sabar ya, Las. Doakan Yanti kuat."
"Iya, Mbak. Eh, Mbak Mira ngapain balik ke sini? Jangan bilang mau nengok Bulik Rini? Jangan mau dimintain duit lho, Mbak!" Lasmi memperingatkan dengan tulus.
"Katanya Bulik Rini sakit parah, tiga hari nggak bisa masuk nasi," jawab Mira datar.
Lasmi seketika mencibir, matanya membelalak.
"Sakit apanya? Kemarin sore aku lihat dia makan Rujak Bebek di belakang rumah kok! Makannya lahap banget sampai nambah kerupuk!"
Mira tersenyum puas.
Kena kau.
Setelah pamit dan memberi sedikit uang jajan untuk Lasmi, Mira kembali ke tempat persembunyian Jaka.
"Gimana, Dik?" tanya Jaka sambil mengelap keringat dengan handuk kecil.
"Dapat, Mas. Pertama, Siska gagal dapat suami kaya lewat jalur 'jimat'.
Kedua, Bulik Rini nggak sakit, kemarin masih makan rujak.
Jadi sepertinya mereka butuh 'korban' baru buat nutup malu atau butuh duit cepat karena utang jimat itu."
Jaka mengangguk-angguk, wajahnya mengeras menahan amarah.
"Dasar lintah darat. Berarti sakit itu cuma akal-akalan buat mancing kita datang."
"Terus gimana, Mas? Kita pulang saja?"
Jaka berdiri tegak, membusungkan dadanya.
"Enak saja. Kita labrak. Tapi dengan gaya halus. Kita bawa telur rebus ini sebagai 'oleh-oleh'. Kita lihat sandiwara macam apa yang mau mereka mainkan di depan kita. Tenang saja, Dik, suamimu ini sudah siap menghadapi ular-ular itu."
Mira tersenyum bangga melihat ketegasan suaminya.