NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibawah Hujan

Satu tahun berlalu dengan ritme baru yang pelan namun pasti, seperti detak jantung yang telah pulih setelah trauma. Musim hujan kembali, membasuh Jakarta dalam aroma petrichor yang segar. Tapi hujan kali ini tidak lagi terasa seperti penjara bagi Amara; ia terasa seperti pembersihan.

Di Studio A.M.R.A yang sekarang lebih ramai dengan karya, poster besar bertuliskan

“RENEWAL: Pameran Seni Kontemporer”

tergantung di dinding, dengan nama “Amara S. Dewanto – Fragments & Wholeness” tercetak jelas di antara nama-nama seniman lain.

Pamerannya akan dibuka dua minggu lagi. Karya-karyanya sudah selesai: panel-panel tekstil besar yang menceritakan sebuah perjalanan dari kekakuan ke kelenturan, dari monokrom ke warna, dari jahitan yang tersembunyi ke jahitan yang dirayakan sebagai bagian dari keindahan.

Rafa, melalui terapi konsisten dan langkah karir yang lebih mindful, telah menemukan keseimbangan baru. Dia tidak lagi di perusahaan lama yang penuh tekanan, tapi memimpin sebuah divisi kecil di perusahaan startup yang lebih manusiawi.

Dia terlihat lebih ringan, lebih hadir saat bersama Luna. Wajahnya yang dulu selalu tegang kini sering ditemani senyum kecil yang lebih mudah.

Ulang tahun Luna yang ke-11 adalah bukti dari ritme baru mereka. Mereka merayakannya bukan di ballroom hotel, tapi di taman kota dekat apartemen Amara, dengan tenda sederhana, kue buatan sendiri, dan beberapa teman dekat Luna.

Ibu Marni datang dengan gaun sederhana, membawa hadiah berupa set alat lukis profesional untuk cucunya. Hubungannya dengan Amara kini dingin namun sopan, sebuah gencatan senjata yang dibangun di atas cinta yang sama untuk Luna. Mereka bertukar senyum dan sedikit pembicaraan tentang sekolah Luna.

“Terima kasih sudah mengatur ini, Amara,” bisik Ibu Marni saat mereka menyaksikan Luna meniup lilin. “Dia terlihat sangat bahagia.”

“Dia memang anak yang kuat,” jawab Amara. Dan mereka berdua tahu, kekuatan Luna itu juga dibentuk oleh badai yang mereka lalui.

Pesta berlangsung lancar. Suara tawa anak-anak, teriakan kegembiraan saat bermain, percakapan hangat antar orang tua.

Amara dan Rafa berbaur dengan natural, mengarahkan permainan, membagikan kue, berfoto bersama Luna. Tidak ada ketegangan.

Tidak ada pandangan menyalahkan. Mereka seperti dua planet yang telah menemukan orbitnya masing-masing, tidak lagi bertabrakan, tetapi secara harmonis mengelilingi matahari yang sama: Luna.

Saat tamu mulai pulang dan langit mulai kelabu, tetesan pertama hujan mulai jatuh.

Gerimis ringan yang cepat menjadi curah yang stabil. Mereka buru-buru membereskan sisa pesta di bawah teras taman. Luna, yang sudah lelah namun senang, berdiri di antara mereka, memandangi hujan.

“Hujannya deras, ya,” gumam Luna, mengantuk.

“Iya, Sayang. Tunggu sebentar ya, nanti Papa antar kamu pulang kalau hujan reda,” kata Rafa.

“Aku mau tidur di sini aja,” rengek Luna, memeluk pinggang Amara.

“Jadwalnya malam ini di rumah Papa, nak,” ujar Amara lembut sambil membelai rambutnya.

“Besok kan ada latihan renang pagi dari sana lebih dekat. Nanti Mama jemput siang.”

Luna mengangguk, menerima logika jadwal yang telah menjadi bahasanya yang kedua. Dia tertidur di bangku teras, kepalanya bersandar pada tas milik Amara.

Dan kemudian, mereka berdua tinggal sendirian. Amara dan Rafa. Berdiri di tepi teras, memandangi tirai hujan yang menyapu taman yang kini sepi.

Suara hujan menghantam atap seng, menciptakan musik latar yang konstan. Udara yang hangat digantikan oleh hawa dingin yang lembap.

Rafa memecah keheningan pertama, suaranya tenang di balik gemuruh hujan. “Aku lihat poster pameranmu di media sosial Sari. Keren. Luna bilang dia mau bantu pasang lampu di galeri.”

Amara tersenyum, melihat bayangan mereka di genangan air. “Iya. Dia yang pilih warna untuk beberapa kain perca di karya ketiga. Biru laut dan emas. Katanya kayak langit malam.”

“Dia memang punya mata yang bagus,” Rafa tersenyum kecil. Lalu diam sebentar. “Aku… aku bahagia melihatmu seperti ini. Bahagia untukmu.”

Kalimat itu diucapkan dengan tulus yang mengejutkan. Bukan pujian yang mengharapkan balasan. Bukan nostalgia yang menyakitkan. Hanya sebuah pengakuan. Sebuah pemberian.

Amara menoleh, memandanginya. Di bawah cahaya lampu taman yang temaram, dia melihat perubahan pada Rafa. Kerutan di dahinya tidak lagi dalam.

Tatapannya tidak lagi menghindar. Ada sebuah kedamaian yang belum pernah ada sebelumnya, sebuah penerimaan.

“Aku juga lihat kau lebih tenang,” jawab Amara, sama tulusnya. “Sehat?”

Rafa mengangguk. “Masih minum obat, masih terapi sebulan sekali. Tapi sekarang lebih seperti pemeliharaan. Aku masih belajar, Aku belajar… untuk tidak melawan semua perasaanku sendiri. Untuk mendengarkan. Sulit, tapi… lebih ringan.”

Hujan mulai mereda, dari curahan deras menjadi rintikan yang malas. Suara gemuruh berkurang, digantikan oleh tetesan yang teratur dari atap.

Dalam keheningan yang lebih lembut itu, Rafa menarik napas dalam-dalam, seperti mengumpulkan keberanian untuk sesuatu yang terakhir.

“Mara,” ucapnya, suaranya rendah namun jelas. “Maafkan aku. Untuk segalanya.”

Ini bukan permintaan maaf pertama. Tapi ini yang terakhir. Dan terasa berbeda. Ini bukan permintaan maaf yang berharap rekonsiliasi.

Ini adalah permintaan maaf sebagai sebuah penutupan. Sebuah peletakan beban.

Amara memandangi hujan yang hampir berhenti. Dia menarik napas, merasakan udara segar yang masuk ke paru-parunya. Di dalam dirinya, dia mencari sisa-sisa amarah, luka, kepahitan.

Masih ada bekasnya, seperti garis halus di permukaan kulit. Tapi yang dia temukan hanyalah sebuah kelegaan yang dalam dan sebuah penerimaan.

“Aku sudah tidak marah lagi, Rafa,” katanya, menatapnya langsung. Matanya jernih. “Aku sudah memaafkan. Bukan… bukan karena apa yang kamu lakukan bisa dimaafkan. Tapi karena memendam kemarahan itu… terlalu berat. Aku memaafkan untuk diriku sendiri."

"Agar aku bisa berjalan lebih ringan. Dan aku memaafkan untuk Luna. Agar dia tidak perlu membawa beban kebencian antara orang tuanya.”

Pengakuan itu melayang di antara mereka, diserap oleh udara basah. Rafa mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca, tapi dia tersenyum. Sebuah senyum sedih, namun damai. Dia mengerti. Memaafkan bukanlah hadiah untuknya. Itu adalah pembebasan untuk Amara.

“Terima kasih,” bisiknya. Itu saja.

Mereka tidak berpelukan. Tidak ada sentuhan.

Hanya sebuah anggukan yang saling dipahami, sebuah pengakuan diam bahwa perjalanan pahit mereka telah usai. Mereka berdua selamat dari kapal karam.

Mereka mungkin tidak bersama di sekoci yang sama, tetapi mereka berdua akhirnya mencapai daratan, masing-masing dengan luka dan pelajaran, tetapi hidup.

“Hujannya sudah hampir berhenti,” ucap Amara.

“Iya. Aku akan bawa Luna.”

Rafa dengan lemah lembut menggendong putri mereka yang masih tertidur. Luna merintih kecil, lalu menempelkan wajahnya ke bahu ayahnya.

“Sampai jumpa besok siang,” kata Rafa.

“Sampai jumpa. Hati-hati di jalan.”

Amara menonton mereka pergi, Rafa yang melangkah pelan dengan Luna di gendongannya, menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh. Sebuah gambar keluarga yang berbeda, tetapi tetap penuh kasih.

Dia sendiri berjalan ke mobilnya. Saat dia duduk di kursi pengemudi, untuk sesaat, dia melihat ke kaca spion. Di kejauhan, melalui jalan berliku yang basah, dia bisa melihat atap kompleks perumahan tempat rumah lamanya berdiri.

Sebuah rumah yang sekarang ditempati oleh keluarga lain. Sebuah museum kenangan yang sudah tutup.

Dulu, memandang ke arah itu akan menimbulkan rasa sesak. Sekarang, hanya ada sebuah ketenangan. Sebuah pengakuan bahwa tempat itu pernah menjadi rumahnya, pernah menjadi medan pertempurannya, dan kini telah menjadi bagian dari sejarahnya—bukan takdirnya.

Dia menyalakan mesin. Lampu dashboard menyala, menerangi senyum kecil di wajahnya. Dia tidak mengemudi ke apartemennya yang kosong (Luna di rumah Rafa). Dia mengemudi menuju studio A.M.R.A.

Di sanalah “rumah”-nya yang sebenarnya sekarang.

Studio itu hangat dan berbau kain serta cat saat dia masuk. Karya-karya untuk pameran sudah dibungkus rapi, siap untuk diangkut ke galeri besok. Di tengah meja kerja yang berantakan oleh proses kreatif, tergeletak sketchbook biru tua yang sudah hampir penuh. Dia membukanya.

Halaman-halaman terakhir penuh dengan sketsa kasar untuk koleksi berikutnya—ide-ide yang lebih berani, lebih eksperimental, penuh dengan warna-warna yang dia takuti dulu.

Dia duduk, mengambil pensil. Di halaman kosong terakhir, dia tidak menggambar. Dia menulis:

“Akhir dari sebuah bab bukanlah akhir dari cerita.

Ia hanyalah hujan yang membersihkan debu perjalanan, memberi kita langit yang lebih jernih untuk melihat bintang-bintang baru.

Rumah bukanlah tempat kamu meletakkan barang-barangmu.

Rumah adalah saat kamu bisa meletakkan bebanmu, dan masih merasa ringan saat bangun keesokan paginya.

Dan malam ini, aku di rumah.”

Dia menutup sketchbook itu, memeluknya. Di luar, hujan sudah benar-benar berhenti, meninggalkan kota yang bersih dan berkilauan di bawah lampu jalan.

Suara tetesan terakhir dari talang berbunyi pelan, seperti titik akhir yang sempurna.

Amara mematikan lampu studio, meninggalkan hanya cahaya jalan yang temaram menyusup dari jendela.

Dia tidak merasa menang. Tidak merasa kalah. Dia hanya merasa… cukup. Dan setelah segala yang telah dilewati, merasa cukup adalah sebuah kemenangan yang paling manis.

Dia mengunci pintu studio, turun menuju mobil, dan mengemudi menuju apartemennya yang menunggu. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia tidak bermimpi tentang masa lalu.

Dia tidur dengan damai, dan bangun dengan semangat untuk hari baru—sebuah hari yang sepenuhnya miliknya, dalam rumah yang dia bawa di dalam dirinya sendiri.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!