NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit

Gerhana Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".

Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.

Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.

"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemunculan Gerhana

Dingin.

Itu adalah sensasi pertama yang merayap masuk ke kesadarannya. Rasa dingin yang bukan berasal dari hembusan angin musim dingin, melainkan rasa dingin yang menusuk dari lantai batu yang lembap dan keras. Perlahan, kelopak matanya yang terasa seberat timah mulai bergetar.

"Di mana...?"

Suaranya serak, asing di telinganya sendiri.

Ia tidak berada di kamar apartemen sempitnya yang penuh dengan tumpukan novel web dan mie instan. Ia berada di sebuah gubuk kayu reyot yang lembap. Aroma jamur lapuk dan keringat menyengat hidungnya. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah dinding kayu yang berlubang, menyinari debu-debu yang menari di udara.

Tiba-tiba, gelombang ingatan asing menghantam otaknya tanpa ampun. Ingatan itu bukan miliknya, tapi sekarang menjadi bagian dari dirinya.

Nama: Han Luo. Identitas: Murid Luar Sekte Pedang Awan. Kultivasi: Pembentukan Qi Tingkat 3. Bakat: Akar Roh Campuran Lima Elemen (Sampah).

"Han Luo..." gumamnya, matanya melebar saat realitas menghantamnya.

Dia segera bangkit, mengabaikan pusing yang mendera, dan mencari permukaan yang bisa memantulkan bayangan. Di sudut ruangan, ada ember air setengah penuh. Dia menatap ke dalam air yang tenang itu.

Wajah yang menatap balik padanya adalah wajah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun. Kurus, pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menunjukkan kurang tidur dan gizi buruk. Wajah yang biasa-biasa saja. Wajah yang akan dilupakan orang dalam sekali kedip.

Wajah seorang NPC.

"Sialan," umpatnya, lalu tertawa getir. Tawa itu kering, tanpa humor. "Dari semua novel... kenapa harus 'Legenda Dewa Pedang Langit'?"

Han Luo tahu dunia ini. Dia tahu dunia ini lebih baik daripada dia tahu sejarah negaranya sendiri. Dia telah membaca novel 'Legenda Dewa Pedang Langit' sebanyak lima kali, mengkritiknya di forum, dan menulis esai panjang tentang betapa dia membenci ketidakadilan narasi di dalamnya.

Di novel ini, protagonis bernama Long Tian adalah anak emas semesta. Jika Long Tian jatuh ke jurang, dia akan menemukan warisan kuno. Jika Long Tian dibenci, musuhnya akan menjadi bodoh secara tiba-tiba dan menyerahkan leher mereka untuk dipenggal.

Dan Han Luo?

Tokoh yang tubuhnya ia tempati sekarang adalah karakter figuran. Di Bab novel asli, Han Luo akan dituduh mencuri 'Pil Pengumpul Qi' milik Tetua Sekte. Han Luo akan disiksa, dantian-nya dihancurkan, dan dia akan mati di penjara bawah tanah, dilupakan, sementara Long Tian akan menggunakan insiden itu untuk membuktikan "kebenaran" dan mendapatkan perhatian dari Heroine utama.

"Aku hanya batu pijakan agar Long Tian bisa terlihat keren di awal cerita." Bisik Han Luo, mencengkeram pinggiran ember hingga buku-buku jarinya memutih.

Dia mengepalkan tinjunya dan memukul permukaan air, memecahkan bayangan wajahnya yang menyedihkan itu.

"Tidak."

Kemarahan dingin mulai merambat naik dari perutnya. Bukan kemarahan yang meledak-ledak, tapi jenis kemarahan yang tenang dan mematikan. Dia membenci Long Tian. Dia membenci penulis novel ini. Dan yang paling utama, dia membenci "Dao Langit"—entitas yang mengatur takdir busuk ini.

Han Luo berdiri tegak, menyeka air dari wajahnya. Dia menutup matanya sejenak, menelusuri kalender mental di kepalanya.

Berdasarkan ingatan tubuh ini, hari ini adalah tanggal 3 Bulan ke-3.

Long Tian, sang protagonis, baru akan tiba di gerbang Sekte Pedang Awan tiga hari lagi untuk pendaftaran murid baru. Insiden pencurian pil itu akan terjadi dua minggu setelah kedatangan Long Tian.

"Aku punya waktu tiga hari," gumam Han Luo. Matanya yang tadinya layu kini berkilat tajam, seolah ada iblis tua yang baru saja bangun di dalam tubuh pemuda lemah itu. "Tiga hari sebelum roda takdir mulai menggilingku menjadi debu."

Dia tidak bisa berkultivasi secara normal. Bakat tubuh ini terlalu sampah. Butuh sepuluh tahun baginya hanya untuk mencapai Tingkat 4 Pembentukan Qi dengan metode normal. Dia butuh jalan pintas. Tapi dia tidak punya Cheat atau Sistem.

Tapi dia punya informasi.

Han Luo berjalan keluar dari gubuknya. Udara pagi Pegunungan Awan Selatan terasa segar, mengandung energi spiritual tipis yang menyegarkan pori-pori. Di kejauhan, puncak-puncak gunung yang tertutup kabut menjulang tinggi, dengan bangau-bangau putih terbang melintas—pemandangan yang seharusnya indah jika saja Han Luo tidak tahu betapa kejamnya dunia di balik keindahan itu.

Para murid luar lainnya sedang sibuk. Beberapa membawa ember air menaiki ribuan anak tangga, beberapa sedang berlatih pedang dasar di lapangan tanah liat. Tidak ada yang memperhatikannya. Bagi mereka, Han Luo hanyalah udara.

Han Luo menundukkan kepalanya, menyembunyikan kilatan di matanya, dan mulai berjalan menuju bagian belakang gunung.

Tujuannya bukan area latihan, melainkan 'Tebing Penyesalan'.

Dalam novel aslinya, di Bab 400-an, penulis menyebutkan dalam sebuah kilas balik (flashback) tentang seorang kultivator jahat bernama "Wajah Seribu Iblis" yang mati ratusan tahun lalu di area belakang Sekte Pedang Awan. Long Tian tidak pernah menemukan mayatnya karena Long Tian sibuk menyelamatkan wanita cantik di arah yang berlawanan.

Tapi Han Luo ingat koordinatnya.

Perjalanan itu menyiksa. Tubuh Pembentukan Qi Tingkat 3 ini lemah. Paru-parunya terasa terbakar setelah mendaki selama satu jam. Kakinya gemetar saat melewati jalan setapak yang licin dan berlumut. Semak berduri merobek jubah murid luarnya, menggores kulit, tapi Han Luo tidak berhenti.

Rasa sakit fisik ini adalah pengingat bahwa dia masih hidup.

Setelah tiga jam perjalanan, dia sampai di sebuah celah sempit di antara dua batu besar yang tertutup tanaman merambat liar. Jika seseorang tidak tahu apa yang mereka cari, mereka hanya akan melihat dinding batu.

Han Luo menarik napas dalam-dalam, menyibakkan tanaman merambat itu.

Bau amis dan busuk langsung menyambutnya.

Itu adalah gua alami yang kecil dan lembap. Di ujung gua, duduk sebuah kerangka manusia yang masih mengenakan sisa-sisa jubah hitam yang sudah lapuk. Kerangka itu duduk dalam posisi meditasi, kepalanya tertunduk seolah sedang meratapi nasib.

Di pangkuan kerangka itu, tergeletak sebuah slip giok berwarna abu-abu kusam, tertutup debu berabad-abad.

Jantung Han Luo berdetak kencang. Dia melangkah maju dengan hati-hati, takut ada jebakan. Namun, pengetahuannya mengatakan bahwa "Wajah Seribu Iblis" mati karena luka dalam, bukan karena formasi jebakan.

Han Luo berlutut di depan kerangka itu.

"Senior," bisik Han Luo, suaranya menggema pelan di gua sempit itu. "Kau mati dalam kebencian, dikejar oleh orang-orang munafik yang menyebut diri mereka 'Jalan Kebenaran'. Aku tidak tahu siapa namamu, tapi hari ini, warisanmu akan digunakan untuk menghancurkan mereka semua."

Dia membungkuk hormat tiga kali. Ini bukan sekadar ritual; di dunia kultivasi, karma adalah hal nyata. Menghormati pemilik warisan bisa mengurangi risiko serangan balik sisa jiwa.

Tangan Han Luo gemetar saat meraih slip giok itu.

Begitu jari-jarinya menyentuh permukaan giok yang dingin, sebuah informasi membanjiri otaknya. Bukan suara sistem, melainkan teks kuno yang rumit dan kejam.

SUTRA SERIBU WAJAH TANPA RUPA.

"Manusia hidup dengan satu wajah, terikat oleh satu takdir. Untuk menipu Langit, seseorang harus melepaskan wajahnya, melepaskan identitasnya, dan menjadi Ketiadaan. Jadilah seribu orang, dan Langit tidak akan tahu siapa yang harus dihukum."

Han Luo tersenyum. Senyum itu perlahan melebar hingga menjadi seringai yang mengerikan di wajah polosnya.

Ini bukan teknik kultivasi biasa yang meningkatkan kekuatan tempur. Ini adalah teknik pendukung tingkat surga yang paling licik.

Teknik ini memiliki tiga tahap:

Kulit Palsu: Mengubah wajah fisik.

Tulang Hantu: Mengubah struktur tubuh (tinggi, berat, jenis kelamin).

Jiwa Cermin: Meniru aura kultivasi dan temperamen orang lain (hingga batas tertentu).

"Sempurna," desisnya.

"Jika Long Tian adalah matahari yang disinari oleh Dao Langit, maka aku akan menjadi Gerhana yang akan menelan cahayanya," gumam Han Luo. Matanya yang sebelumnya redup kini berkilat dengan kecerdasan yang tajam.

Dia tahu dia tidak bisa mengalahkan Long Tian sekarang. Bahkan jika dia mencoba membunuh Long Tian saat ini, Dao Langit pasti akan menciptakan 'kebetulan' untuk menyelamatkannya. Mungkin pisau Han Luo akan patah, atau seorang tetua tiba-tiba lewat. Melawan Long Tian secara langsung saat dia masih memiliki Karma Emas yang tinggi adalah tindakan bunuh diri.

Satu-satunya cara adalah dengan melemahkannya secara berkala. Menghilangkan sumber dayanya, menyelamatkan orang-orang yang seharusnya ia kalahkan untuk memperkuat dirinya sendiri, dan membangun sebuah kekuatan yang tidak terdeteksi oleh radar takdir.

Dia akan membentuk sebuah aliansi. Bukan aliansi pahlawan, tapi aliansi bagi mereka yang dibuang oleh takdir. Aliansi Gerhana.

Namun, sebelum semua itu terjadi, dia harus melewati tahapan paragraf terakhir dari pendahuluan teknik tersebut, senyumnya sedikit memudar.

"Syarat Pertama Latihan: Praktisi harus menahan rasa sakit pembentukan ulang tulang wajah yang setara dengan dikuliti hidup-hidup setiap kali berganti wajah, sampai tahap 'Kulit Palsu' sempurna."

Han Luo menatap kerangka di depannya, lalu menatap tangannya sendiri yang kurus. Rasa sakit? Dia sudah mati sekali di kehidupan sebelumnya. Rasa sakit fisik hanyalah harga kecil untuk sebuah kesempatan membalikkan meja permainan.

"Long Tian..." Han Luo menggenggam slip giok itu erat-erat, matanya menatap tajam ke arah pintu gua, ke arah di mana Sekte Pedang Awan berdiri megah di bawah sinar matahari.

"Nikmatilah tiga hari terakhirmu sebagai protagonis yang tak tersentuh. Karena ketika kau datang, bayangan sudah menunggumu."

Han Luo duduk bersila di depan mayat itu, mengabaikan perutnya yang lapar dan tubuhnya yang lelah. Dia menempelkan slip giok ke dahinya.

Dunia mungkin menginginkan dia menjadi figuran yang mati konyol. Tapi hari ini, figuran itu memutuskan untuk menulis naskahnya sendiri.

Gerhana baru saja dimulai

1
Jeffie Firmansyah
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Budi Andrianto
g8
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hentooopz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Cerdik🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🔥🌽Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Njoooooost 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
Ahhhh.... lagi seru seru nya .... abis cerita nya... tunggu update.. terimakasih Thor 💪💪💪💪
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
jadi tdk sabar tunggu update nya 😄👍💪
Jeffie Firmansyah
kasian amat Han luo..... pendekar miskin ,dan terpaksa menjarah kekayaan cincin orang 2 kaya🤣🤣🤣
Efendi Riyadi
cerita macam apa ini guru, season 1-3 sangat menarik knapa season ke 4 jdi gini ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!