NovelToon NovelToon
Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Status: tamat
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Action / Anime / Sci-Fi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: rexxy_

​"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
​Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
​Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
​Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Pelarian di Bawah Langit Shinjuku

"Ken, Apakah di bengkel ini ada kendaraan yang bisa aku pakai?" tanyaku pada Ken.

"Ada Lex, ini ambillah" ucap Ken memberikan padaku kunci motor yang tergantung di dinding.

Kulihat tubuh Sayuri masih belum sepenuhnya pulih dari kutukan jembatan itu. Tubuh sayuri jadi aneh, kadang kelihatan jelas, kadang terlihat transparan kayap asap yang terhirup oleh angin. Aku takut dia beneran hilang sebelum kami sampai.

Ken langsung menendang pintu gudang samping. Di sana, sebuah motor cruiser tua namun terawat Kawasaki Vulcan hitam berdiri dengan gagah.

"Naiklah! Aku dan Mona akan mengalihkan perhatian mereka lewat pintu depan!" Ken melemparkan helm cadangan padaku.

"Lex, bawa dia pergi ke tempat yang tidak bisa mereka jangkau. Gunakan terowongan bawah tanah Shinjuku jika kau harus!"

"Terima kasih, Ken. Jaga dirimu Miyuki dan Mona!"

Aku naik ke atas jok motor, Mona membantu Sayuri duduk di belakangku. Ia memeluk pinggangku dengan erat, wajahnya disembunyikan di punggungku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan.

"Pegangan yang kuat, Sayuri. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu," bisikku.

VROOOOM!

Mesin motor menderu keras, memecah kesunyian malam di bengkel. Aku menarik gas sedalam mungkin tepat saat pintu besi bengkel dihantam dari luar. Aku tidak menoleh lagi. Kami melesat keluar dari pintu samping, menembus gang sempit, dan langsung bergabung dengan arus lalu lintas Shinjuku yang masih ramai.

Di spion, aku melihat dua mobil hitam mengkilap keluar dari kegelapan gang, mengejarku dengan kecepatan gila. Mereka tidak menyalakan sirine, tapi cara mereka membelah jalanan menunjukkan bahwa mereka bukan polisi. Mereka adalah The Eraser.

"Alexian... mereka semakin dekat," suara Sayuri terdengar lirih di telingaku, tertutup oleh deru angin.

"Tutup matamu, Sayuri!"

Aku melakukan manuver berbahaya, menyelip di antara deretan taksi dan bus kota. Lampu-lampu neon Shinjuku yang berwarna-warni berubah menjadi garis-garis cahaya yang abstrak di mataku.

Hujan kembali turun, membasahi aspal dan membuat jalanan menjadi cermin raksasa yang memantulkan lampu-lampu kota.

Satu mobil musuh mencoba memepetku dari sebelah kiri. Aku melihat kaca jendela mereka turun, dan seorang pria berjas hitam mengarahkan sebuah benda logam berbentuk aneh ke arah ban motorku. Itu bukan pistol biasa benda itu mengeluarkan percikan listrik biru.

ZAP!

Serangan itu meleset tipis, menghantam tiang listrik di pinggir jalan hingga mengeluarkan ledakan bunga api.

"Brengsek!" aku memaki,

memacu motor lebih kencang menuju terowongan bawah tanah.

Aku tahu, jika aku tetap di jalan utama, mereka akan menangkap kami. Aku harus membawa Sayuri ke suatu tempat di mana "Sisi Lain" dan dunia nyata bersinggungan.

Tempat di mana Sayuri bisa menstabilkan dirinya.

"Sayuri, pegang erat" teriakku melawan angin.

Di bawah guyuran hujan dan kejaran maut, aku menyadari satu hal: malam ini, aku bukan lagi seorang resepsionis yang hanya bisa bermimpi. Aku adalah pelindung dari satu-satunya keajaiban yang tersisa di dunia ini.

Terowongan bawah tanah terlewati dengan raungan mesin yang memekakkan telinga. Begitu keluar dari sana, aku langsung membanting setir ke arah distrik taman.

Aku tahu ke mana aku harus pergi. Jembatan merah itu bukan hanya tempat aku menemukannya dalam mimpi, tapi itu adalah pusat gravitasi bagi keberadaan Sayuri.

"Tahan sebentar lagi, Sayuri!" teriakku.

Aku merasakan pelukannya di pinggangku mulai melonggar, tangannya terasa semakin melemah.

Aku memacu motor melewati gerbang taman yang sudah terkunci, melompati trotoar dan masuk ke area hijau yang gelap.

Ban motor mencengkeram rumput dan tanah basah, menciptakan suara decitan yang pilu. Di belakangku, lampu depan mobil-mobil hitam itu masih menyorot tajam, membelah kegelapan taman seperti mata monster yang lapar.

Aku mengerem mendadak tepat di depan jalan setapak menuju Sungai.

"Turun, Sayuri! Lari ke jembatan!"

Aku memapahnya, setengah berlari, setengah menyeret tubuhnya yang kian tak berdaya. Di bawah sinar rembulan yang sesekali tertutup awan mendung, jembatan kayu merah itu berdiri diam, menanti kami.

BRAKK!

Mobil para pengejar itu menghantam pohon di dekat kami, dan empat orang pria berjas hitam melompat keluar. Mereka tidak lagi menggunakan pistol listrik, melainkan memegang tongkat logam pendek yang bergetar dengan energi biru.

"Berhenti, Alexian. Serahin wanita itu sekarang juga!!" teriak pria yang memimpin mereka.

Aku tidak peduli. Kami sampai di tengah lengkungan jembatan. Aku mendudukkan Sayuri di tempat persis di mana aku menemukan pita itu kemarin sore.

"Sayuri, dengarkan aku. Kau harus ingat bau angin ini, kau harus ingat tekstur kayu ini. Ini duniamu sekarang!" ucapku dengan suara parau, kedua tanganku memegang wajahnya yang kini mulai terlihat samar menembus cahaya lampu taman.

Sayuri menatapku dengan mata yang sayu.

"Terlalu kuat... dunia ini masih belum menerimaku, Alexian. 'Jembatan' di dalam diriku sedang runtuh."

"Tidak! Gunakan ini!" Aku melepaskan pita jingga dari pergelangan tanganku dengan kasar.

Aku tidak lagi melilitkannya di tanganku, melainkan aku ikat kuat-kuat pada tangan Sayuri dan pada kayu pagar jembatan itu.

"Aku mengikatmu di sini! Di dunia ini! Di sampingku!"

Seketika, pita itu bersinar terang jingga yang menyala seperti api senja. Cahayanya menyapu seluruh permukaan jembatan, menciptakan gelombang energi yang memukul mundur para pria berjas hitam yang mencoba mendekat.

Pria pemimpin The Eraser itu terbelalak. "Dia menggunakan pita itu sebagai 'Jangkar'?! Kau gila! Dasar manusia bodoh!"

Aku tidak peduli apa kata mereka. Aku memeluk Sayuri erat-erat, menaruh keningku di keningnya.

"Jika kau harus terjebak, maka biarkan aku terjebak bersamamu. Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke kesepian itu sendirian."

Hujan turun semakin deras, namun di sekitar kami, air hujan itu berhenti di udara, membeku menjadi butiran kristal yang memantulkan cahaya jingga dari pita kami.

Aku gak mendengar suara mesin mobil maupun hujan. Dunia seolah berhenti berputar. Aku hanya mendengar nafas sayuri yang begitu pelan di depan muka ku.

1
rexxy_
Terima Kasih banyak kak, Saya selaku Author sangat senang atas pujian kakak.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
𝓗ᥲᥱᥣִᥱᥲꤪꤨꤪᥒᥲ.𝜗𝜚
karyanya bagus btw mampir yah di novelku 🤭
Roulina Damanik
1. Check-in : Melaporkan kehadiran di suatu tempat (hotel/ bandara).

2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.
rexxy_: Terima kasih atas Saran anda.
Saya selaku penulis meminta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan penulisan saya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!