Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Latihan Extreme
Seminggu telah berlalu sejak insiden dengan Bajak Laut Kuro. Luka goresan di lenganku sudah sembuh sempurna—rupanya tubuh pengguna Buah Iblis memiliki regenerasi yang lebih baik dari manusia biasa.
Pagi ini, aku berdiri di hutan belantara bagian utara Pulau Kumo. Tempat ini jauh dari desa, penuh dengan pepohonan raksasa dan medan yang berbahaya. Sempurna untuk latihan ekstrem.
"Oke," aku meregangkan tubuh. "Hari ini fokusnya adalah kecepatan dan presisi."
Aku sudah membuat rencana latihan yang ketat untuk diriku sendiri. Setiap hari, aku akan fokus pada aspek berbeda dari kekuatanku. Hari ini: kecepatan perpindahan dan akurasi tembakan jaring.
Aku menandai sepuluh pohon dengan cara menggarit kulitnya menggunakan batu tajam. Setiap pohon berjarak sekitar 30 meter dari yang lainnya, membentuk jalur zigzag yang kompleks.
"Target ditetapkan," gumamku. "Sekarang, aku harus menyentuh semua pohon dalam waktu kurang dari 20 detik."
Aku mengambil posisi start. Napas dalam. Fokus.
"Mulai!"
Aku menembakkan jaring ke pohon pertama dan menarik diriku dengan kekuatan penuh. Tubuhku melesat seperti peluru. Saat sampai di pohon, aku menyentuhnya sekilas dengan tangan, lalu langsung menembak jaring ke pohon kedua.
Tidak ada jeda. Tembak, ayun, sentuh, tembak lagi. Gerakanku harus mulus seperti aliran air.
Pohon ketiga, keempat, kelima—aku bergerak semakin cepat. Angin menerpa wajahku dengan keras, tapi aku tetap fokus.
Pohon keenam ada di posisi yang lebih rendah. Aku harus mengubah arah secara drastis. Aku melepas jaring di udara, melakukan salto, lalu menembak ke bawah.
Berhasil! Aku menyentuh pohon keenam.
Tapi pohon ketujuh ada di belakangku. Aku harus berbalik 180 derajat dalam sekejap. Aku menggunakan momentum ayunan untuk berputar, menembakkan jaring sambil masih dalam putaran.
Jaring menempel! Aku terseret ke pohon ketujuh.
Tiga pohon tersisa. Kedelapan, kesembilan—
Pohon kesepuluh ada di balik jurang kecil. Jarak sekitar 50 meter. Aku harus lompat jauh.
Tanpa ragu, aku berlari di cabang pohon kesembilan, melompat dengan kekuatan penuh, dan menembakkan jaring ganda untuk momentum ekstra.
Tubuhku melayang melintasi jurang. Angin bertiup keras. Jaring menarikku lebih cepat—
Aku menyentuh pohon kesepuluh dengan ujung jariku!
"Hah... hah..." aku mendarat dan langsung mengecek waktu mental. "Delapan belas detik! Dua detik lebih cepat dari target!"
Tapi aku tidak puas dengan itu. "Lagi. Kali ini 15 detik."
Aku mengulangi latihan yang sama. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap putaran, aku mencoba bergerak lebih cepat, lebih efisien. Mengurangi gerakan yang tidak perlu. Membuat jalur jaring yang lebih optimal. Meningkatkan timing pelepasan dan penembakan.
Putaran kelima belas: 16 detik.
Putaran kedua puluh: 14 detik.
Putaran ketiga puluh: 12 detik!
"Bagus!" aku tersenyum puas meski tubuhku mulai lelah. "Tapi ini baru pemanasan."
Latihan berikutnya: presisi tembakan.
Aku mengumpulkan buah kelapa yang jatuh dan melemparnya ke udara satu per satu dengan interval tidak teratur. Targetku: menembak setiap buah kelapa dengan jaring dan membawanya kembali ke tanganku tanpa merusaknya.
Lemparan pertama. Buah kelapa melayang tinggi. Aku menembakkan jaring tipis—terlalu tipis, buah kelapa terpotong!
"Sial, terlalu banyak tenaga," gumamku sambil mengatur kontrol.
Lemparan kedua. Kali ini aku menggunakan tenaga lebih sedikit. Jaring menempel sempurna di buah kelapa. Aku menariknya perlahan, dan buah itu mendarat di tanganku tanpa rusak.
"Itu dia!"
Aku melanjutkan latihan. Dua buah kelapa sekaligus. Lalu tiga. Lalu lima. Lalu sepuluh buah kelapa dilempar ke udara dari berbagai arah!
Tanganku bergerak cepat. THWIP THWIP THWIP THWIP! Sepuluh jaring melesat, masing-masing menangkap satu buah kelapa. Aku menarik semuanya bersamaan, dan kesepuluh buah kelapa berkumpul di depanku tanpa ada yang jatuh.
"Sempurna!" teriakku kegirangan.
Tapi latihan belum selesai. Sekarang bagian yang paling penting: mengasah Spider Sense.
Spider Sense adalah kemampuan paling berharga yang kumiliki. Di dunia One Piece, ini mirip dengan Observation Haki tingkat dasar—kemampuan untuk merasakan bahaya sebelum datang.
Tapi sekarang Spider Sense ku masih pasif. Dia hanya bereaksi saat ada bahaya langsung. Aku perlu membuatnya lebih sensitif, lebih akurat, dan lebih cepat responnya.
Untuk itu, aku menciptakan latihan yang... ekstrem.
Aku membuat sistem perangkap sederhana menggunakan jaring, batu, dan kayu. Beberapa batu tergantung di jaring elastis. Saat aku menarik pemicu tertentu, batu-batu itu akan dilontarkan ke arahku dari sudut acak.
"Ini akan sakit kalau kena," gumamku sambil menyelesaikan pengaturan. "Tapi itulah intinya. Spider Sense hanya berkembang saat benar-benar ada bahaya."
Aku berdiri di tengah area perangkap, menutup mataku. Aku harus mengandalkan Spider Sense sepenuhnya.
Aku menarik tali pemicu.
WUSH!
Spider Sense berdering! Dari kiri atas! Aku melompat ke kanan—batu melewati kepalaku dengan selisih sentimeter!
WUSH! WUSH!
Dua bahaya lagi! Dari depan dan belakang! Aku melakukan split di udara—dua batu melewati tubuhku dari atas dan bawah!
WUSH! WUSH! WUSH! WUSH!
Empat bahaya bersamaan! Ini yang paling sulit! Spider Sense ku berdering dari semua arah!
Aku memutar tubuh sambil menembakkan jaring ke pohon di atas, menarik diriku naik dengan cepat. Keempat batu menghantam tanah di bawahku.
"Hah... hah..." aku mendarat dengan napas terengah. "Spider Sense bekerja. Tapi responsnya masih terlalu lambat untuk serangan bersamaan."
Aku perlu lebih banyak latihan.
Aku mengatur ulang perangkap dan mengulanginya. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap kali, aku menutup mata. Setiap kali, aku hanya mengandalkan Spider Sense. Tubuhku harus belajar bereaksi secara instingtif tanpa berpikir.
Putaran kesepuluh: aku kena tiga kali.
Putaran kedua puluh: aku kena satu kali.
Putaran ketiga puluh: aku berhasil menghindari semua serangan!
"Ya!" aku berteriak kemenangan. "Spider Sense berkembang!"
Tapi aku tidak berhenti. Aku membuat perangkap lebih kompleks. Lebih banyak proyektil. Timing yang lebih acak. Sudut yang lebih sulit.
Siang berganti sore. Tubuhku penuh keringat, beberapa bagian lebam karena kena batu. Tapi aku terus berlatih.
Karena aku tahu—di dunia One Piece, musuh tidak akan peduli apakah kau lelah atau tidak. Mereka akan menyerang dengan niat membunuh. Aku harus siap untuk itu.
Saat matahari mulai terbenam, aku akhirnya berhenti. Tubuhku gemetar kelelahan, tapi hatiku penuh kepuasan.
"Hari ini produktif," gumamku sambil duduk bersandar di pohon. "Kecepatan meningkat 40%. Presisi mendekati sempurna. Spider Sense lebih responsif."
Tapi masih belum cukup. Aku tahu itu.
Aku membuka dan menutup tanganku, merasakan aliran energi Spider Fruit di dalam tubuhku. Kekuatan ini luar biasa, tapi dia punya batas. Dan aku belum menemukan batasnya.
"Besok," kataku pada diriku sendiri. "Besok aku akan fokus pada kekuatan jaring. Aku perlu bisa membuat jaring yang lebih kuat, lebih tahan lama, dan lebih bervariasi."
Aku berdiri, siap kembali ke desa. Tapi saat hendak melangkah, aku merasakan sesuatu yang aneh.
Seperti ada yang mengamati ku.
Spider Sense ku tidak berdering—jadi bukan bahaya langsung. Tapi ada sesuatu... atau seseorang... di sekitar sini.
Aku menoleh ke segala arah. Hutan sudah gelap. Bayangan pohon menciptakan ilusi yang membingungkan.
"Siapa di sana?" teriakku.
Tidak ada jawaban.
Hanya angin yang berdesir.
Tapi aku yakin—ada yang mengamatiku. Aku bisa merasakannya.
Setelah beberapa detik, perasaan itu hilang. Seolah-olah kehadiran itu menghilang begitu saja.
"Aneh," gumamku sambil menggaruk kepala. "Mungkin hanya perasaanku saja?"
Tapi instingku mengatakan berbeda. Ada sesuatu—atau seseorang—yang tertarik padaku. Apakah itu karena pertarunganku dengan Bajak Laut Kuro? Apakah beritanya sudah menyebar?
"Aku harus lebih berhati-hati," pikirku sambil berayun kembali ke desa menggunakan jaring.
Tapi kekhawatiranku tidak berlangsung lama. Saat tiba di desa, aku disambut oleh anak-anak yang berlari ke arahku.
"Kak Kenji! Kak Kenji!"
"Ada apa?" tanyaku sambil tersenyum.
"Pak Yamada bilang ada kapal dagang yang datang!" teriak salah satu anak. "Mereka bawa barang-barang baru! Ada permen juga!"
Kapal dagang? Ini jarang terjadi. Pulau Kumo memang jalur dagang, tapi kapal biasanya hanya datang sebulan sekali.
"Ayo kita lihat!" ajak anak-anak itu sambil menarik tanganku.
Aku tertawa dan mengikuti mereka ke pelabuhan. Memang benar, ada kapal dagang besar berlabuh di sana. Para pedagang sedang menurunkan barang-barang mereka—kain, peralatan, makanan, dan berbagai barang lainnya.
Pak Yamada sedang berbicara dengan kapten kapal—seorang pria paruh baya dengan jenggot lebat dan topi sailor.
"Ah, Kenji!" Pak Yamada memanggilku. "Ayo ke sini! Ada yang ingin kubicarakan."
Aku mendekati mereka. Kapten kapal menatapku dengan pandangan menyelidik.
"Jadi ini bocah yang mengalahkan Bajak Laut Kuro?" tanya kapten itu. "Tidak kusangka dia masih sangat muda."
Aku terkejut. "Berita itu sudah menyebar?"
"Tentu saja!" kapten itu tertawa. "Anak buah Kuro melarikan diri ke pulau terdekat dan menceritakan bagaimana mereka dikalahkan oleh 'bocah laba-laba'. Berita seperti itu cepat menyebar di antara para pelaut."
"Bocah laba-laba...?" aku mengangkat alis. "Julukan yang... kreatif."
Pak Yamada tersenyum. "Kenji, kapten Rodger di sini membawa informasi penting. Dia bilang ada kabar tentang seorang bajak laut muda yang sedang naik daun di East Blue."
Jantungku langsung berdebar. "Bajak laut muda? Siapa?"
Kapten Rodger mengeluarkan selembar poster buronan dari sakunya dan memberikannya padaku.
"Namanya Monkey D. Luffy. Bounty 30 juta Berry. Dia baru saja mengalahkan Arlong di Arlong Park dan menyelamatkan desa Cocoyashi."
Tanganku gemetar saat memegang poster itu.
Di sana, aku melihat wajah Luffy yang tersenyum lebar dengan topi jeraminya yang ikonik.
"Luffy..." gumamku. "Dia sudah memulai petualangannya."
"Kau mengenalnya?" tanya Pak Yamada penasaran.
"Tidak," aku menggeleng sambil masih menatap poster. "Tapi... aku ingin bertemu dengannya."
Kapten Rodger tertawa. "Haha! Banyak anak muda yang ingin bertemu dengannya! Dia sudah jadi legenda kecil di East Blue! Mendengar dia mengalahkan Buggy the Clown, Kapten Kuro—eh tunggu, itu yang berbeda—dan sekarang Arlong!"
"Kapten Kuro yang dia kalahkan berbeda dengan yang menyerang pulau ini," jelas Pak Yamada. "Yang di Syrup Village itu adalah Kuro yang asli, bajak laut terkenal dengan kecepatan tinggi."
Aku mengangguk pelan, otakku bekerja cepat. Jika Luffy sudah mengalahkan Arlong, berarti mereka sebentar lagi akan menuju Loguetown, lalu masuk ke Grand Line.
Aku harus bergerak cepat. Jika aku ingin bergabung dengan mereka, aku harus menemuinya sebelum mereka masuk ke Grand Line!
"Kapten Rodger," aku menatapnya serius. "Apakah kalian tahu di mana Luffy sekarang?"
"Hmm, terakhir kudengar, mereka sedang menuju Loguetown," jawab Kapten Rodger. "Tapi itu sudah berita seminggu yang lalu. Mungkin mereka sudah sampai atau bahkan sudah berangkat."
Loguetown. Kota tempat Gol D. Roger dieksekusi. Kota terakhir sebelum memasuki Grand Line.
"Pak Yamada," aku menatap ketua desa itu. "Aku... aku harus pergi."
Pak Yamada menatapku lama, lalu tersenyum lembut. "Aku sudah tahu kau akan mengatakan itu suatu hari nanti. Lebih cepat dari yang kukira, tapi... aku mendukungmu, Kenji."
"Tapi aku—"
"Tidak ada tapi," Pak Yamada mengangkat tangannya. "Kau punya impian, Kenji. Impian untuk berlayar, untuk menjadi lebih kuat, untuk bertemu dengan bajak laut yang kau kagumi. Kami tidak akan menahanmu."
Air mata mulai menggenang di mataku. "Terima kasih, Pak Yamada."
Kapten Rodger menepuk bahuku. "Kalau kau butuh tumpangan, kapalku akan berangkat besok pagi menuju pulau dekat Loguetown. Aku bisa mengantarmu sampai sana."
"Benarkah?!" aku menatapnya dengan mata berbinar.
"Tentu! Mengantar pahlawan muda sepertimu adalah kehormatan!" Kapten Rodger tertawa keras.
Malam itu, aku hampir tidak bisa tidur. Pikiranku penuh dengan rencana, kegembiraan, dan juga kekhawatiran.
Besok, aku akan meninggalkan Pulau Kumo. Tempat yang menerimaku, melindungiku, dan memberiku kehidupan kedua.
Besok, aku akan memulai petualangan sesungguhnya.
Besok, aku akan mulai mengejar Monkey D. Luffy dan Kru Topi Jerami.