Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Kedua
Tiga bulan setelah lamaran, hari pernikahan akhirnya tiba. Nayara bangun subuh dengan deg-degan luar biasa. Hari ini dia akan nikah lagi. Nikah sama Bima.
Pernikahan kali ini beda banget sama pernikahan pertama dulu. Gak mewah. Gak pake gedung besar. Cuma di rumah orang tua. Sederhana tapi penuh cinta.
Bu Siti udah sibuk dari jam empat pagi. Masak ini itu buat tamu nanti. Pak Hasan bantuin pasang tenda putih di halaman depan. Tetangga-tetangga bantuin susun kursi.
Nayara duduk di kamar sambil natap cermin. Makeup artist dateng jam tujuh. Dandan Nayara simpel. Makeup natural, hijab putih gading dengan hiasan bunga-bunga kecil, kebaya broken white dengan bordir halus.
Cantik tapi gak menor.
"Mama cantik!" Aldi bilang sambil plok-plok tangan. Dia pake baju koko putih kecil yang lucu banget. Peci hitam di kepalanya agak miring.
Nayara senyum. Angkat Aldi, cium pipinya berkali-kali. "Terima kasih sayang. Aldi juga ganteng."
"Nayara, udah siap? Sebentar lagi acaranya mulai," Bu Siti masuk kamar dengan mata berkaca-kaca.
"Siap Bu," Nayara jawab walau dadanya masih deg-degan.
Bu Siti peluk Nayara erat. "Ibu do'ain kamu bahagia kali ini ya Nak. Bahagia yang beneran."
"Aamiin Bu. Aku juga do'ain gitu," Nayara bisik sambil nahan nangis. Makeupnya bisa rusak nanti.
Jam sembilan, tamu udah mulai berdatangan. Gak banyak sih. Cuma keluarga deket, tetangga, sama beberapa temen Nayara.
Bima dateng jam setengah sepuluh. Pake jas putih gading, peci hitam, sepatu pantofel mengkilat. Ganteng banget. Senyumnya lebar kayak orang yang lagi paling bahagia sedunia.
"Assalamualaikum," Bima salam sama Pak Hasan dan Bu Siti.
"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah kamu dateng tepat waktu. Masuk sini dulu, kita mulai sebentar lagi," Pak Hasan ngajak Bima masuk.
Akad nikah dipimpin sama Ustadz Yusuf. Ustadz yang sama waktu Nayara nikah sama Gilang dulu.
Nayara duduk di pelaminan sederhana yang dipasang di ruang tamu. Kain putih, bunga-bunga segar, bantal-bantal cantik. Sederhana tapi hangat.
Di sebelahnya ada Bu Siti gendong Aldi. Aldi rewel dikit tapi tenangin sama nenek-nya. Bima duduk di depan. Di sebelahnya ada wali nikah, Pak Hasan. Terus ada dua saksi, temen Pak Hasan dari mesjid.
"Bismillahirrahmanirrahim," Ustadz Yusuf mulai dengan suara khusyuk.
Semua hening. Fokus.
"Saudara Bima Argantara, apakah Saudara bersedia menikahi Nayara Salsabila binti Hasan dengan mahar berupa seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah, dibayar tunai?" Ustadz Yusuf nanya dengan jelas.
Bima menarik napas dalam. Matanya natap ke arah Nayara sebentar. Senyum.
"Saya terima nikahnya Nayara Salsabila binti Hasan dengan mahar seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah, dibayar tunai."
Sekali ucap.
Jelas.
Mantap.
"Sah!" Ustadz Yusuf bilang sambil senyum.
Takbir langsung berkumandang. "Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!"
Semua orang tepuk tangan. Ada yang nangis haru. Bu Siti nangis sambil peluk Aldi. Pak Hasan ngelap air matanya diam-diam.
Nayara nangis juga. Tapi bukan nangis sedih. Nangis lega. Lega karena dia dapat kesempatan kedua. Kesempatan buat bahagia lagi.
Bima berdiri, jalan ke arah Nayara. Salam sama Bu Siti dulu, cium tangan. Terus duduk di samping Nayara.
"Alhamdulillah, kamu jadi istriku sekarang," Bima bisik pelan cuma buat Nayara.
"Alhamdulillah," Nayara balas sambil senyum walau air matanya masih ngalir.
Mereka foto-foto bareng. Sama keluarga. Sama Aldi. Sama tamu-tamu.
Acaranya berlangsung sampe sore. Makan bareng, ngobrol, ketawa-ketawa. Hangat banget. Beda banget sama pernikahan pertama Nayara yang mewah tapi dingin. Pernikahan ini sederhana tapi penuh cinta.
Sore-nya, Bima bawa Nayara dan Aldi ke rumah kontrakan yang udah dia siapin. Rumah sederhana dua kamar tidur di daerah Depok. Gak gede, tapi bersih dan nyaman.
"Ini rumah kita. Masih ngontrak sih. Tapi insyaallah nanti aku usahain beli rumah sendiri," Bima bilang sambil buka pintu.
Nayara masuk sambil gendong Aldi. Liat-liat sekeliling. Ada ruang tamu kecil dengan sofa cream, TV, meja makan kayu sederhana. Dapur bersih dengan kompor gas dan kulkas kecil.
"Bagus Bima. Aku suka," Nayara bilang dengan tulus.
"Beneran? Gak kecewa? Aku tau ini jauh dari rumah Gilang yang mewah," Bima bilang dengan nada khawatir.
"Enggak. Justru aku lebih suka yang begini. Yang penting kita bahagia," Nayara senyum.
Bima senyum lega. Peluk Nayara dari samping. Aldi yang di tengah ketawa-ketawa. Malem itu setelah Aldi tidur di kamar sebelah, Nayara dan Bima masuk kamar utama.
Nayara gugup banget. Jantung berdebar kenceng. Tangan gemetar.
"Kamu gak usah takut. Aku gak akan kasar," Bima bisik sambil pegang tangan Nayara yang dingin.
Nayara ngangguk pelan. Bima matiin lampu utama. Cuma nyalain lampu tidur yang remang-remang.
Dia duduk di tepi kasur, tarik Nayara buat duduk di sampingnya.
"Nayara, aku tau kamu punya trauma sama Gilang. Jadi kalau kamu belum siap, gak papa. Kita bisa nunggu," Bima ngomong dengan lembut.
"Enggak. Aku, aku siap," Nayara bisik walau suaranya gemetar.
Bima mengelus pipi Nayara pelan. "Oke. Tapi kalau kamu gak nyaman, bilang ya. Kita berhenti."
Nayara mengangguk. Bima mulai dengan perlahan. Cium kening Nayara. Cium pipi. Cium bibir dengan lembut.
Tangannya buka hijab Nayara pelan-pelan. Rambut Nayara jatuh terurai. Hitam panjang mengkilap.
"Cantik," Bima bisik sambil mengusap rambut Nayara.
Dia bantuin Nayara lepas kebaya. Satu per satu kancing dibuka dengan sabar. Gak buru-buru. Nayara nutup mata. Napasnya sesak. Deg-degan campur takut campur, entahlah. Perasaan campur aduk.
"Tenang. Aku di sini," Bima bisik di telinga Nayara.
Mereka berbaring di kasur. Bima di atas Nayara tapi gak langsung, masih ngasih waktu buat Nayara bernapas.
"Kamu yakin?" Bima tanya lagi.
"Iya," Nayara jawab pelan.
Bima mulai dengan sangat lembut. Berbeda banget sama Gilang yang dulu kasar dan egois. Bima perhatian banget sama perasaan Nayara.
"Sakit gak?" Bima nanya berkali-kali.
"Enggak. Lanjut," Nayara jawab sambil megang bahu Bima.
Mereka menyatu dengan penuh kehati-hatian. Bima geraknya pelan, gak terburu-buru. Matanya terus natap Nayara, mastiin Nayara gak kesakitan.
Nayara ngerasa, ini beda. Beda banget. Gak ada paksaan. Gak ada kekerasan. Cuma ada kelembutan. Selesai, Bima langsung peluk Nayara erat. Nafasnya ngos-ngosan tapi dia tetep mengelus rambut Nayara.
"Terima kasih," bisik Bima.
"Terima kasih juga," Nayara balas sambil bersandar di dada Bima.
Mereka berbaring berhadapan. Bima mengelus pipi Nayara dengan jempol. Natap mata Nayara dalam-dalam.
"Nayara, aku mau bilang sesuatu," Bima ngomong dengan serius.
"Apa?"
Bima tarik napas dalam. "Aku janji akan menjagamu sampai akhir hayat."
Nayara diem. Dengerin.
"Walau aku bukan yang pertama buat kamu, tapi aku akan jadi yang terakhir buat kamu sayang," Bima melanjutkan dengan suara lembut tapi tegas.
Air mata Nayara mulai keluar. Kata-kata itu, kata-kata itu menyentuh banget.
"Dan, dan di antara ribuan bintang, hanya kamu yang paling terang," Bima ngomong sambil mengelus air mata Nayara. "Di antara beribu cinta, pilihanku hanya kamu sayang."
Nayara nangis. Nangis keras di pelukan Bima. Bukan nangis sedih. Nangis karena bahagia. Bahagia karena akhirnya dia nemu cowok yang beneran cinta sama dia.
"Aku sayang kamu Bima," Nayara bisik di sela tangisannya.
"Aku juga sayang kamu. Sangat sayang," Bima balas sambil cium puncak kepala Nayara berkali-kali.
Mereka tidur dalam pelukan satu sama lain. Hangat. Nyaman. Penuh cinta. Nayara ngerasa, ini awal yang baru. Awal yang lebih baik. Dia berharap, pernikahan kali ini beda dari yang pertama.
Dia berharap, Bima beneran jadi yang terakhir buat dia. Dia berharap, kebahagiaan ini gak cuma di awal tapi sampai akhir.
Ya Allah, Nayara berdoa dalam hati sebelum tidur. Jagain pernikahan ini. Jadiin Bima suami yang baik. Jadiin aku istri yang sholehah. Aamiin. Dan Nayara tertidur dengan senyum di bibir. Senyum bahagia yang udah lama gak dia rasaka.
***
begitu lah kalau org candu judi🤭
nayara jg keras kepala ngapain takut gagal lgi emang sdh nasib jln satu2 nya lebih baik plg ke rmh ibu dari pada mati di tangan bima kasian aldi trauma seumur hidup 🤭🤣🤣🤣
langsung kabur plg ke rmh ibu nya 🤭
bima tak bakal berubah nama jg sdh kecanduan judi 🤭
nayara plg aja ke rmh ibu tinggal kan aja bima biar tau rasa 🤭