NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 – LANGKAH YANG KEMBALI

Malam itu, Defit Karamoy berdiri lama di ujung jalan.

Rumah besar milik keluarga Armand terlihat dari kejauhan lampu-lampunya menyala redup, seperti mata yang setengah terpejam tapi tetap mengawasi. Angin membawa bau tanah basah dari halaman belakang, bau yang sama dengan bau di bawah pohon tua itu.

Dadanya terasa berat. Bukan rindu. Bukan marah.

Lebih seperti tarikan yang tidak bisa ditolak.

“Aku cuma mau ambil sisa barangku,” bisiknya pada diri sendiri. Alasan yang terdengar lemah, tapi cukup untuk membuat kakinya melangkah.

Setiap langkah mendekat membuat kulitnya merinding. Lampu jalan berkedip ketika ia lewat. Seekor kucing melintas, lalu berhenti mendadak, menatapnya dengan mata membulat sebelum lari terbirit-birit.

Defit berhenti.

“Ada yang salah…” gumamnya.

Namun tubuhnya tetap bergerak.

Gerbang belakang rumah tidak dikunci. Engselnya berderit pelan saat ia mendorongnya. Suara itu terdengar terlalu keras di telinganya. Ia menunggu tidak ada yang keluar, tidak ada teriakan.

Rumah itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Defit melangkah ke halaman belakang. Pohon tua berdiri di sana, siluetnya gelap melawan cahaya bulan. Akar-akarnya terlihat lebih menonjol dari biasanya, seperti urat yang membengkak.

Ia mengalihkan pandangan cepat. Jangan lihat ke sana.

Pintu dapur tidak terkunci. Defit masuk perlahan. Udara di dalam rumah terasa dingin, lebih dingin dari luar. Bau familiar kopi, kayu mahal, parfum Bu Ratna bercampur dengan sesuatu yang lain. Bau lembap yang samar, seperti ruang tertutup lama.

“May?” panggilnya pelan, tanpa sadar.

Tidak ada jawaban.

Ia melepas sepatu, berjalan menyusuri lorong menuju ruang tamu. Setiap langkahnya terasa bergema, seolah rumah itu kosong tapi mendengarkan.

Di ruang tamu, sebuah lampu meja menyala. Pak Armand tertidur di sofa, kacamata masih di wajahnya. Napasnya berat. Di lantai, koran berserakan.

Defit berhenti. Jantungnya berdebar.

Ia tidak berniat bertemu siapa pun.

Ia berbalik, hendak menuju gudang bekas kamarnya ketika suara pelan terdengar dari lantai atas.

Tok… tok… tok…

Langkah kaki.

Defit menahan napas.

Tangga kayu berderit. Seseorang turun. Bayangan muncul di dinding, lalu sesosok tubuh terlihat di bawah cahaya lampu.

Maya.

Rambutnya tergerai. Wajahnya pucat. Matanya sembab.

Keduanya saling menatap dalam diam yang panjang.

“Defit…” suara Maya bergetar. “Kamu… kenapa di sini?”

Defit membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ada banyak jawaban. Tidak satu pun terasa benar.

“Aku cuma ambil barang,” katanya akhirnya.

Maya menuruni tangga pelan. Setiap langkahnya ragu. Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, ia berhenti.

“Kamu tidak seharusnya kembali,” katanya lirih. “Ayah kalau tahu”

“Aku tidak akan lama,” potong Defit cepat. “Aku janji.”

Maya menatapnya lama. Ada ketakutan di sana. Bukan hanya pada ayahnya tapi pada Defit sendiri. Seolah ia merasakan perubahan yang sama seperti orang-orang lain.

“Kamu… kelihatan berbeda,” katanya.

Defit ingin tertawa pahit. “Kamu juga.”

Maya menggeleng. Air mata jatuh. “Semuanya jadi salah sejak kamu pergi.”

Defit merasakan nyeri tajam di dadanya. Dorongan gelap itu berdenyut, seperti ingin menyela. Ia menarik napas dalam-dalam, menekannya.

“Aku tidak mau bertengkar,” katanya pelan. “Aku hanya ingin selesai.”

Maya mengangguk pelan. “Ambil saja. Lalu pergi.”

Defit melangkah ke gudang. Pintu terbuka dengan mudah. Ruangan itu masih sama sempit, dingin, tak ramah. Ia mengambil beberapa buku dan jaket lama.

Saat ia berbalik, terdengar suara keras dari ruang tamu.

Brak!

Defit dan Maya tersentak. Mereka berlari ke ruang tamu.

Pak Armand terbangun, berdiri terpaku menatap rak pajangan. Salah satu patung keramik mahal jatuh dan pecah di lantai retakannya mirip jaring laba-laba.

“Siapa?” bentaknya. “Siapa yang di sini?!”

Matanya menangkap Defit.

Wajahnya berubah merah. “Kamu?! Berani-beraninya kembali!”

Defit berdiri kaku. “Saya hanya”

“Keluar!” teriak Pak Armand. “Sekarang!”

Saat Pak Armand melangkah maju, tiba-tiba lampu ruang tamu berkedip hebat.

Srek… srek…

Angin dingin berembus entah dari mana. Tirai bergerak sendiri. Suhu ruangan turun drastis.

Bu Ratna muncul dari lorong, wajahnya pucat. “Armand… aku dengar suara”

Belum selesai ia bicara, rak pajangan bergetar.

Grrrk…

Patung-patung kecil jatuh satu per satu. Kaca berderai. Bu Ratna menjerit.

“Apa yang kamu lakukan?!” teriaknya pada Defit.

“Aku tidak melakukan apa pun!” Defit membalas, panik.

Namun di dalam dirinya, sesuatu berdenyut cepat, kuat menjawab ketakutan di ruangan itu.

Maya menatap Defit, mata terbelalak. “Defit… hentikan…”

Defit menutup mata, menggenggam tangannya. “Aku tidak tahu caranya…”

Getaran berhenti mendadak.

Keheningan jatuh seperti palu.

Pak Armand terengah, wajahnya pucat. Bu Ratna terisak. Tidak ada yang berani bicara.

Defit membuka mata. Jantungnya berdegup keras.

Ia mundur selangkah. Lalu dua. Lalu berbalik.

“Aku pergi,” katanya lirih. “Dan aku tidak akan kembali.”

Ia melangkah keluar sebelum siapa pun bisa menghentikannya.

Di halaman belakang, angin berputar pelan. Pohon tua itu berderak lembut, seolah menyambut.

Defit tidak menoleh.

Namun ia tahu, mulai malam ini,

rumah itu telah merasakan kehadirannya kembali

dan ketakutan telah menemukan alamatnya.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!