NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengenali Si Penabrak

Kota Jakarta, 

Pagi yang menyelimuti kota dengan kabut tipis seperti tirai mistis. Di tepi jalan raya yang ramai, Fauzan Arfariza berdiri tegak, wajahnya dipenuhi campuran kegelisahan dan tekad yang tak terucap.

Ia menatap deretan mobil yang tak henti-hentinya mengalir seperti sungai kehidupan yang tak pernah berhenti, setiap kendaraan membawa cerita, mungkin penderitaan, mungkin harapan.

Di balik mata yang lelah itu, bayangan ibunya, Masni Mulyadi, terus menghantui. Ia telah dirawat di rumah sakit selama berhari-hari, membutuhkan operasi segera dengan biaya lima puluh juta rupiah—sebuah jumlah yang terasa seperti gunung yang tak mampu ia angkat sendiri.

Fauzan telah mencoba segala cara, dari pinjam uang tetangga hingga menjual barang-barang terakhir, tapi semuanya sia-sia. Kekosongan di dompetnya seperti jurang yang menganga, menelan setiap upaya dengan dingin.

"Kau harus bayar biaya operasi segera, atau aku jamin ibumu takkan bertahan hingga hari ini," desis suara kasar dari seorang pria yang tak dikenal, suara yang terdengar seperti angin malam yang membawa kutukan.

Fauzan menoleh, hatinya berdegup kencang.

"Kau masih berani meminjam uang? Kau bahkan belum bayar utang dari keluarga kami sebelumnya..." Lanjut suara itu, penuh ejekan yang menusuk seperti pisau.

"Tak ada uang! Tak ada uang! Apa urusanku dengan hidup atau matinya ibuku?" Fauzan membalas dengan suara serak, tapi di dalam hatinya, ia merasa seperti boneka yang diputar oleh takdir yang kejam.

Ia adalah yatim piatu, satu-satunya pengingat akan ibunya adalah kalung Batu Combong yang selalu ia kenakan di dada, simbol adopsi yang penuh makna.

Namun, kini, tanpa uang, ia merasa seperti tak berdaya di hadapan maut yang mengintai. Dalam keputusasaan, Fauzan memutuskan jalan terakhir yang paling berbahaya: memanipulasi menjadi korban kecelakaan mobil.

Ia tahu ini melanggar hati nuraninya, tapi apa pilihan lain? "Aku akan bayar segera begitu dapat uang," gumamnya, suara yang hampir tak terdengar. Ia menatap lagi ke jalan, lima puluh juta rupiah bukanlah jumlah kecil; ia harus menemukan mobil yang tepat, yang bisa memberinya peluang.

Tiba-tiba, sebuah mobil Ferarri merah berlogo Kuda Jingkrak meluncur pelan, seperti singa yang mengintai mangsa. "Itu dia!" seru Fauzan, langkahnya cepat maju dua langkah, lalu melompat ke depan mobil itu dengan keberanian yang hampir gila.

Ia telah menonton kasus kecelakaan palsu di internet, tahu prosedurnya: muncul tiba-tiba, pengemudi akan rem mendadak, lalu ia akan berbaring di bawah roda dan menuntut uang.

Tapi takdir sering kali bermain curang. Pengemudi adalah seorang gadis cantik yang membuat hati Fauzan berdegup kencang. Saat melihat seseorang muncul di depannya, ia berteriak ketakutan, bukan rem, melainkan melepaskan setir dengan kedua tangan dan menutup mata.

"Apa yang terjadi? Kau tak rem, malah tutup mata? Dan apa itu gas?" Fauzan berteriak, tapi terlambat. Ferarri itu melaju seperti kuda liar yang lepas kendali, menyeretnya ke udara.

Dengan suara ledakan yang menggema, ia terlempar lebih dari sepuluh meter, seperti layang-layang yang tali putus. Di tengah udara, ia merasakan tulang-tulangnya retak, darah segar memenuhi mulutnya, memercik ke tanah seperti tinta kehidupan yang hilang.

"Jangan memprovokasi kecelakaan dengan pengemudi perempuan..." Itu pikiran terakhirnya sebelum kegelapan menyelimutinya, seperti tirai yang menutup panggung drama kehidupan.Setelah kecelakaan itu, kerumunan orang berkumpul, berbisik-bisik tentang kejadian mengerikan, tapi tak seorang pun melihat darah yang ia ludahkan memercik ke kalung Batu Combong di dadanya.

Dalam sekejap, kalung itu menyerap darahnya seperti tanah yang haus. Fauzan, yatim piatu yang selalu mengenakan kalung itu sebagai pengingat adopsi, merasakan panas samar dari dada.

Lalu, di Samudra Kesadarannya, suara gemuruh menggema: "Fauzan Arfariza, terimalah Warisan Sekte Medis Kuno!"

Seorang pertapa Tua berpakaian hijau, rambut dan jenggot putihnya seperti salju abadi, muncul di sana.

"Aku Resi Purbaya Arfariza dari Sekte Medis Kuno. Kau telah menerima warisanku, dan kau wajib taati aturan Sekte: sembuhkan yang sakit, praktikkan ilmu medis ke seluruh dunia.

"Tidak sampai disitu. Kemudian, ribuan potongan informasi bergabung ke otaknya: teknik  Beladiri, metode ilmu medis, seni pedang mistis, berbagai keterampilan lainnya. Semua itu langsung terintegrasi dengan ingatannya, menjadi jelas seperti berasal dari alam bawaan.

Saat itu, kalung Batu Combong di dadanya semakin panas, berubah menjadi aliran Energi Vital kuat yang membanjiri tubuhnya. Setelah Energi Vital masuk, otot dan tulangnya cepat memperkuat, luka parah yang baru saja ia alami perlahan sembuh.

Rasa nyaman ekstrem menyelimutinya, dan Fauzan segera jatuh ke tidur dalam.Setelah periode tak terukur, kesadarannya kembali. Ia membuka mata, melihat lingkungan putih bersih yang murni; ia berada di ruang rumah sakit.

Apa yang baru saja terjadi? Apakah mimpi? Ia menyentuh dadanya secara naluriah; hanya benang merah yang tersisa dari kalung itu. Batu Combong telah menghilang. Ia jelas saja tertabrak keras oleh Ferarri, tapi kini tak merasakan sakit sama sekali. Sebaliknya, ia merasa lebih baik dari sebelumnya, setiap serat otot penuh kekuatan. Ilmu medis, seni mistis, dan teknik budidaya pedang yang ia pelajari di otaknya semua jelas, membuktikan ini bukan mimpi, melainkan warisan sejati dari Sekte Medis Kuno.

"Kau sudah bangun!" Suara terkejut bergema di telinganya, diikuti wajah cantik yang memukau muncul di depannya. Wanita itu memiliki rambut panjang yang mengalir ke bahu, wajahnya begitu indah tanpa cela, ditambah tubuhnya yang berbentuk indah dan anggun, sungguh cantik hingga batas ekstrem. Ia tak bisa menahan pandangannya; ia tak pernah melihat wanita cantik seperti itu dalam hidupnya; bahkan selebriti cantik di TV pun tak sebanding.

"Maaf sekali. Namaku Nora Ananta. Aku baru dapat SIM kemarin, dan tak menyangka menabrakmu hari ini!" Hanya saat itu Fauzan ingat bahwa gadis penyesal di depannya adalah pemilik Ferarri. Ia tak menaruh dendam pada gadis itu; ia sengaja memprovokasi kecelakaan, jadi tak bisa menyalahkannya.

Sebaliknya, hatinya dipenuhi rasa syukur. Jika tak bertemu pengemudi perempuan ini, ia takkan dapat warisan dari Sekte Medis Kuno.Melihat ia tak berbicara, Nora Ananta melanjutkan, "Jangan khawatir, aku akan tanggung jawab atas menabrakmu. Istirahatlah di sini. Aku akan bayar semua biaya medismu hingga sembuh total dan pulang.

" Melihat gadis di depannya tak menunjukkan kesombongan seorang gadis kaya, kesan Fauzan padanya membaik drastis. Ia berkata, "Terima kasih, aku baik-baik saja." "Aku sangat takut kemarin; aku bahkan menabrakmu sejauh itu.

" Nora Ananta berkata, memukul dada penuhnya, "Anehnya, dokter bilang kau baik-baik saja setelah pemeriksaan, hanya pingsan sementara karena gegar otak. Ini benar-benar mukjizat.

"Mobilku dikirim perbaikan besar, tapi kau baik-baik saja. Tak terbayangkan." Mendengar kata 'pingsan', hati Fauzan berdegup kencang, dan ia bertanya dengan cemas, "Berapa lama kau pingsan?"

Nora Ananta menjawab, "Sekitar setengah hari. Dokter awalnya bilang kau tak akan bangun hingga setelah 24 jam..." "Setengah hari?" Fauzan tiba-tiba duduk. Ibunya masih dalam kondisi kritis di rumah sakit, dan ia tak bisa menunda di sini lagi. Kini, dengan warisan dari Sekte Medis Kuno, tak ada yang bisa ungguli ilmu medisnya di dunia. Ia tak lagi butuh dokter lain untuk operasi; ia bisa sembuhkan penyakit ibunya sendiri.

Dalam kepanikan, ia meraih tangan Nora Ananta dan bertanya dengan antusias, "Di mana ini?" Nora Ananta terkejut dengan reaksinya dan bahkan lupa menarik tangannya, secara refleks berkata, "Ini Rumah Sakit Pusat." Ibunya di Rumah Sakit Jakarta, yang masih jauh.

Fauzan melompat dari tempat tidur, memakai sepatu, dan berlari keluar. Nora Ananta memanggil dari belakang, "Hei, kau mau ke mana? Dokter bilang istirahatlah..." "Aku baik sekarang. Cukup proses pulang." Fauzan berkata, lalu berlari keluar Rumah Sakit Pusat, menuju Rumah Sakit Jakarta.

Saat lewat apotek, ia beli sebungkus jarum perak dan masukkan ke saku.Di ruang ICU Rumah Sakit Jakarta, dokter penanggung jawab, Dr. Syarif Sudrajat, membolak-balik kelopak mata Masni Mulyadi dan menatap alat-alat di samping tempat tidur. Ia berkata pada perawat, Indah Purnama, "Orang ini sudah dipastikan mati. Lanjutkan langkah selanjutnya." "Mengerti, Dr. Syarif." Indah Purnama menjawab, mengambil seprai putih, dan bersiap menutupi mayat itu.

Dr. Syarif menatap Masni Mulyadi yang terbaring, matanya penuh ketidakpedulian, tanpa penyesalan atau rasa bersalah. "Jika keluarganya bisa bayar 50.000.000 juta untuk operasi, dan aku yang lakukan sendiri, mungkin masih ada harapan untuk hidup. Sayangnya, ia orang miskin; tak bisa kumpul uang sedikit itu. Tanpa uang, ia hanya bisa menunggu kematian.

Tiba-tiba, Fauzan berlari masuk dari luar, melihat seprai di tangan Indah Purnama, ia berteriak, "Berhenti! Apa yang kau lakukan?"

Indah Purnama terkejut dan berhenti, berkata, "Pasien sudah mati..." "Bodoh! Ibuku tak mati!" Fauzan telah menerima warisan dari Sekte Medis Kuno. Dengan sekali pandang, ia paham kondisi Masni Mulyadi sempurna.

Ia saat ini dalam keadaan henti napas sebelum mati, bukan benar-benar mati. Ia maju, mendorong Indah Purnama ke samping, mengeluarkan jarum perak dari saku, dan dengan kecepatan kilat, menancapkan jarum demi jarum ke tubuh Masni Mulyadi.Dalam kegelapan yang menyelimuti, Fauzan merasakan kekuatan baru mengalir seperti sungai yang tak terlihat, membawa keseimbangan dan kestabilan ke tubuhnya.

Ia tahu, dengan warisan ini, ia bisa ubah takdir, sembuhkan yang sakit, dan bangun kembali apa yang hampir hancur. Di ruang ICU yang dingin, jarum-jarum perak itu seperti pedang spiritual, menusuk titik-titik vital dengan presisi tak tertandingi. Setiap jarum membawa energi vital medis yang kuat, membangkitkan denyut jantung yang lemah, mengembalikan aliran darah yang terputus.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!