NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Gitagracia Gea

Genre: Romance Drama


"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."

Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.

Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.

Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Ke Benua Baru

Dua tahun setelah suksesnya Festival Kreativitas Dunia di Indonesia, program Bumi Kreatif telah berkembang menjadi organisasi internasional yang dikenal luas. Cabang pertama di luar negeri telah dibuka di Kenya, Afrika, dan sekarang mereka akan memulai perjalanan baru untuk membangun program di Peru, Amerika Selatan.

Di bandara Internasional Soekarno-Hatta, tim inti Bumi Kreatif Indonesia berkumpul untuk berangkat ke Lima, Peru. Nara, Dito, Reza, dan Rendra sedang mengecek barang bawaan mereka yang sebagian besar adalah alat seni, buku pedoman program, dan karya seni anak-anak Indonesia yang akan mereka tunjukkan sebagai contoh.

"Peru adalah negara dengan budaya yang sangat kaya," ucap Dito yang telah melakukan riset mendalam tentang negara tersebut. "Mereka punya warisan Inca yang luar biasa dan banyak seniman muda berbakat yang membutuhkan dukungan untuk mengembangkan bakat mereka."

Reza yang membawa buku catatan penelitiannya menambahkan, "Saya telah berkomunikasi dengan beberapa organisasi lokal di sana. Mereka mengatakan bahwa banyak anak-anak dari komunitas adat dan daerah terpencil memiliki bakat seni luar biasa tapi tidak punya akses ke pendidikan yang memadai."

Rendra yang telah menangani kerja sama internasional menunjukkan dokumen kerja sama yang telah disiapkan. "Kita akan bekerja sama dengan pemerintah lokal dan universitas di Peru untuk membangun pusat pendidikan kreatif pertama di sana. Jika berhasil, ini akan menjadi contoh untuk negara-negara lain di Amerika Selatan."

Nara melihat ke arah pesawat yang akan membawa mereka menjelajah benua baru. Hati nya penuh dengan campuran rasa gugup dan semangat. "Ini adalah langkah besar bagi kita. Kita tidak hanya akan membantu anak-anak di sana, tapi juga akan belajar banyak dari budaya dan kreativitas mereka yang unik."

 

DI LIMA, PERU

Setelah penerbangan yang panjang, mereka tiba di Lima pada pagi hari. Udara yang hangat dan matahari yang cerah menyambut mereka. Mereka langsung disambut oleh perwakilan dari pemerintah lokal dan organisasi mitra bernama "Arte para Todos" (Seni untuk Semua).

"Salam hangat dari Peru!" ucap Maria – ketua organisasi Arte para Todos yang memiliki wajah ramah dan mata yang penuh semangat. "Kami telah menunggu kedatangan kalian dengan sangat sabar. Program kalian di Indonesia telah menjadi inspirasi bagi kami."

Mereka langsung dibawa untuk melihat lokasi yang akan menjadi pusat pendidikan kreatif pertama di Peru – sebuah gedung tua yang pernah menjadi sekolah tapi sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun. Meskipun kondisi gedungnya kurang baik, tapi lokasinya sangat strategis dan memiliki nuansa yang hangat.

"Kita bisa mengubah tempat ini menjadi pusat kreatif yang indah," ucap Nara saat melihat setiap sudut gedung. "Kita akan menggabungkan elemen arsitektur lokal dengan desain modern yang ramah bagi penyandang disabilitas."

Pada sore harinya, mereka mengunjungi komunitas adat Quechua di daerah pegunungan dekat Cuzco. Anak-anak di sana sangat antusias menyambut kedatangan mereka, membawa karya seni tangan mereka sendiri – anyaman dari bulu alpaka, ukiran kayu, dan lukisan tentang kehidupan mereka di pegunungan.

"Saya tidak bisa percaya dengan keahlian mereka dalam membuat karya seni ini," ucap Reza saat melihat seorang anak kecil yang membuat anyaman dengan tangan yang terampil. "Mereka sudah punya bakat alami yang luar biasa, yang perlu kita bantu untuk dikembangkan lebih jauh."

 

DI KOMUNITAS QUECHUA

Mereka menghabiskan beberapa hari di komunitas tersebut, belajar tentang budaya dan cara hidup mereka. Nara dan timnya mengajarkan teknik lukis dan membuat kerajinan tangan baru, sementara anak-anak lokal mengajarkan mereka cara membuat anyaman tradisional dan menyanyi lagu-lagu adat mereka.

"Seni adalah bahasa universal yang bisa menghubungkan orang dari berbagai budaya," ucap Nara saat sedang bersama anak-anak membuat lukisan kolaboratif yang menggabungkan motif Indonesia dan Peru. "Setiap garis dan warna memiliki makna yang bisa kita pahami tanpa perlu kata-kata."

Salah satu anak perempuan bernama Sofia yang berusia 12 tahun menarik perhatian mereka. Dia sangat berbakat dalam melukis dan sering menggambar kehidupan sehari-hari komunitasnya. Namun karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu, dia tidak bisa melanjutkan pendidikan dan harus membantu orang tuanya bekerja di ladang.

"Aku ingin bisa melukis setiap hari dan belajar lebih banyak tentang seni," ucap Sofia dengan suara lembut saat menunjukkan buku gambarnya yang penuh dengan lukisan indah. "Aku berharap suatu hari nanti karya ku bisa dilihat oleh orang-orang di seluruh dunia."

Nara memeluknya dengan lembut. "Kamu akan bisa mewujudkan impianmu, sayang. Kita akan membangun pusat pendidikan kreatif di sini yang akan membantu kamu dan teman-temanmu untuk belajar dan mengembangkan bakatmu."

 

PERENCANAAN PEMBANGUNAN PUSAT

Setelah kembali ke Lima, mereka segera mulai merencanakan pembangunan pusat pendidikan kreatif. Mereka mengundang arsitek lokal untuk membantu mendesain gedung yang tidak hanya fungsional tapi juga mencerminkan budaya Peru.

"Kita akan menggunakan bahan bangunan lokal sebanyak mungkin," ucap arsitek Carlos saat menunjukkan desain gedungnya. "Kita juga akan membuat ruang terbuka yang bisa digunakan untuk kegiatan komunitas dan pameran seni."

Rendra yang menangani keuangan dan sumber daya menunjukkan rencana kerja sama dengan beberapa perusahaan lokal dan internasional yang telah menyatakan minat untuk memberikan dukungan. "Kita telah mendapatkan sponsor untuk pembangunan gedung dan beasiswa bagi anak-anak yang membutuhkan. Kita juga akan bekerja sama dengan pengrajin lokal untuk membuat produk kreatif yang bisa dijual untuk mendanai program berkelanjutan."

Dito sedang mengatur kerja sama dengan sekolah dan universitas di Peru untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan lokal. "Kita tidak akan hanya menyalin program dari Indonesia. Kita akan mengembangkan kurikulum yang menggabungkan metode terbaik dari Indonesia dengan budaya dan kebutuhan khusus Peru."

Reza yang telah melakukan penelitian tentang pendidikan inklusif di negara berkembang sedang merencanakan program khusus untuk anak-anak penyandang disabilitas dan dari komunitas adat. "Kita akan mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi mereka, termasuk penggunaan bahasa isyarat dan media yang mudah diakses."

 

MALAM HARI – DI ATAS PUNCAK GUNUNG

Untuk merenungkan dan membahas rencana mereka secara mendalam, mereka pergi ke sebuah puncak gunung dekat Cuzco yang memiliki pemandangan indah ke situs kuno Machu Picchu. Di sana, mereka bisa melihat keindahan alam Peru dan merasakan energi budaya yang kuat dari situs bersejarah tersebut.

"Melihat pemandangan seperti ini membuat saya menyadari betapa kaya nya budaya di dunia ini," ucap Nara saat sedang melihat matahari terbenam di balik pegunungan. "Setiap negara memiliki cerita dan kreativitas yang unik yang perlu kita hargai dan pelajari."

Dito mengambil selembar kertas dan mulai menggambar sketsa program yang akan mereka bangun. "Kita bisa membuat program pertukaran anak-anak seniman antara Indonesia dan Peru. Mereka bisa belajar satu sama lain tentang budaya dan seni, serta membuat karya kolaboratif yang menunjukkan persatuan antara kedua negara."

Reza yang sedang melihat buku catatan tentang tanaman lokal yang bisa digunakan sebagai bahan seni menambahkan, "Kita juga bisa mengembangkan program pendidikan tentang seni berkelanjutan, menggunakan bahan alam yang mudah didapat dan tidak merusak lingkungan."

Rendra tersenyum sambil melihat ke arah kota yang jauh di bawah. "Saya sudah membayangkan bagaimana pusat pendidikan kreatif kita akan berdiri di sana, menjadi tempat berkumpulnya anak-anak berbakat dari seluruh Peru. Mereka akan menjadi generasi muda yang mengubah negara ini menjadi lebih baik."

Mereka duduk bersama di atas puncak gunung, berbagi makanan tradisional Peru yang mereka bawa, dan merencanakan masa depan yang penuh harapan. Namun suasana hangat tersebut tiba-tiba menjadi sedikit serius ketika Maria menghubungi mereka dengan kabar mengejutkan.

"Maaf mengganggu perjalanan kalian," ucap Maria melalui telepon. "Ada beberapa kelompok yang tidak senang dengan program kita. Mereka mengatakan bahwa kita sedang mencoba menanamkan budaya asing dan merusak budaya lokal Peru. Mereka bahkan telah melakukan beberapa tindakan yang mengganggu persiapan pembangunan kita."

Pada hari berikutnya, mereka datang ke lokasi pembangunan pusat pendidikan kreatif dan menemukan bahwa beberapa bahan bangunan telah dirusak dan ada tulisan kebencian di tembok gedung yang akan direnovasi. Teks yang tertulis adalah: "Jangan datang dan rusak budaya kita!"

Mereka juga menemukan sebuah surat yang ditinggalkan oleh kelompok yang menyatakan bahwa mereka akan melakukan segala cara untuk menghentikan pembangunan pusat pendidikan kreatif jika mereka tidak pergi dari Peru.

"Kita tidak bisa menyerah begitu saja," ucap Nara dengan tekad yang kuat. "Kita harus mencari tahu mengapa mereka merasa seperti ini dan menemukan cara untuk menjelaskan bahwa kita tidak ingin merusak budaya lokal, melainkan ingin membantu mengembangkan dan mempromosikannya ke dunia."

Mereka kemudian mengetahui bahwa kelompok tersebut bukan hanya orang yang takut akan perubahan, tapi juga ada elemen yang ingin mengambil keuntungan dari lahan tempat pusat akan dibangun. Mereka bekerja sama dengan beberapa pejabat korup yang ingin menjual lahan tersebut kepada pengembang properti.

Apakah mereka akan berhasil membujuk kelompok tersebut dan membuktikan bahwa program mereka benar-benar bermanfaat bagi masyarakat lokal? Dan bagaimana cara mereka mengungkap korupsi yang terjadi dan menyelamatkan lokasi pembangunan pusat pendidikan kreatif?

Selain itu, Sofia dari komunitas Quechua datang dengan ide brilian yang mungkin bisa menjadi solusi untuk menghubungkan budaya lokal dengan program mereka – sebuah festival seni yang menggabungkan tradisi Quechua dengan seni modern yang akan menunjukkan keindahan budaya Peru kepada dunia...

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!