Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Rumah Kaca
Alamat itu tertera jelas di bukti transfer digital yang sempat kufoto dari layar ponsel Papa: *Residence 88, Unit 12B*.
Aku tahu tempat ini. Bukan apartemen kelas atas seperti penthouse kami di SCBD, tapi jelas bukan tempat kos-kosan kumuh dengan atap bocor yang sering dikeluhkan Siska saat kami makan siang di kantin kampus dulu. Residence 88 adalah apartemen kelas menengah di kawasan Tebet, tempat para eksekutif muda atau simpanan pejabat biasa disembunyikan. Sewanya dua puluh lima juta per tiga bulan. Angka yang remeh bagi Papa, tapi setara dengan gaji Siska selama enam bulan sebagai staf junior.
Aku memarkirkan mobil Honda Jazz-ku—hadiah ulang tahun ke-17 yang kini terasa seperti kandang besi—di seberang jalan, di bawah naungan pohon trembesi yang rimbun. Kaca film mobilku cukup gelap, menyembunyikan wajahku dari dunia luar, tapi mataku leluasa mengawasi gerbang masuk apartemen itu.
Jam di dasbor menunjukkan pukul tujuh malam. Langit Jakarta sudah gelap, menyisakan polusi cahaya oranye yang memantul di awan mendung. Di rumah, Papa bilang ada rapat direksi mendadak dengan investor dari Surabaya. Rini, sekretaris Papa yang mulai berpihak padaku, memberitahu jadwal asli: Papa sudah meninggalkan kantor sejak pukul lima sore. Kosong. Tidak ada rapat.
Tanganku gemetar saat meraih ponsel. Aku menekan nama Siska di daftar kontak. Nada sambung terdengar tiga kali sebelum suaranya yang renyah dan ceria menyapa telingaku.
"Halo, Alana! Tumben telepon malem-malem?"
Suaranya begitu polos. Begitu meyakinkan. Jika aku tidak menemukan anting itu, jika aku tidak melihat bukti transfer itu, aku pasti akan tertipu mentah-mentah.
"Hai, Sis," jawabku, berusaha menekan nada getir di tenggorokanku agar terdengar senormal mungkin. "Lagi di mana? Aku lagi di daerah Tebet nih, mau mampir ngasih oleh-oleh dari Tante Sarah yang baru balik dari Jepang. Katanya kamu suka matcha, kan?"
Jeda sejenak. Aku bisa membayangkan otak Siska bekerja cepat, memilah kebohongan mana yang paling aman digunakan.
"Yah, sayang banget, Lan!" serunya dengan nada penyesalan yang dibuat-buat. "Gue masih di kantor nih. Lembur parah. Pak Hendra minta revisi proposal proyek Kemang malam ini juga. Deadline besok pagi."
Kebohongan bertumpuk di atas kebohongan. Papa tidak ada di kantor. Siska tidak ada di kantor.
"Oh, gitu ya? Kasihan banget," sahutku datar. "Ya udah, aku titip di resepsionis kantor aja atau gimana?"
"Eh, jangan!" potongnya cepat. Terlalu cepat. "Maksud gue, gue lagi ngerjain ini di... di kafe deket kosan gue yang lama. Wi-Fi kantor lagi down. Lo pulang aja dulu, Lan. Besok aja di kantor ketemuannya. Lagian gue belum mandi, kucel banget."
"Oke kalau gitu. Don't work too hard, Sis."
"Thanks, Alana. You're the best."
Sambungan terputus. Aku menatap layar ponsel yang menghitam, memantulkan wajahku yang pucat. *You're the best*. Kalimat itu terdengar seperti ludah di wajahku.
Sepuluh menit berlalu. Mataku mulai terasa perih karena terus menatap gerbang masuk. Lalu, sebuah sedan Mercedes-Benz hitam dengan plat nomor yang sangat kuhapal meluncur pelan memasuki area apartemen. Mobil Papa. Mobil dinas yang seharusnya membawa beliau ke rapat direksi, kini berbelok mulus ke lobi apartemen kelas dua.
Jantungku berdegup kencang, memukul-mukul rusuk. Rasanya seperti saat akan presentasi sidang skripsi, tapi kali ini yang dipertaruhkan bukan nilai, melainkan kewarasanku.
Aku menunggu dua menit setelah mobil itu menghilang ke area drop-off, lalu menyalakan mesin. Aku tidak masuk ke area parkir apartemen—terlalu berisiko dikenali satpam jika Papa sering ke sini. Aku memutar balik dan parkir di minimarket 24 jam di sebelah gedung apartemen.
Dengan mengenakan topi baseball dan masker medis—penyamaran yang wajar di Jakarta pasca-pandemi—aku berjalan kaki menuju lobi Residence 88. Kaca lobi yang besar dan transparan memberiku akses visual tanpa perlu masuk ke dalam.
Dan di sanalah mereka.
Papa berdiri di dekat meja resepsionis, mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung sesiku—tanda bahwa dia sudah 'lepas dinas'. Jas mahalnya tersampir di lengan kiri. Di sebelahnya, Siska berdiri mengenakan dress sutra selutut berwarna merah marun. Itu bukan baju kerja. Itu baju rumah. Baju yang dipakai wanita untuk menyambut pasangannya pulang.
Yang membuat perutku mual bukan keberadaan mereka berdua di sana, melainkan interaksi kecil di antara mereka.
Siska tertawa pelan, lalu tangannya bergerak alami merapikan kerah kemeja Papa yang sedikit berantakan. Papa tidak menepis. Papa justru memiringkan kepalanya sedikit, menikmati sentuhan itu, lalu tangan kanannya terulur memegang pinggang Siska. Jempol Papa mengusap kain sutra di pinggang Siska dengan gerakan intim, gerakan pemilik terhadap barang miliknya.
Itu bukan gestur atasan dan bawahan. Itu bukan gestur paman dan keponakan. Itu gestur seorang pria dengan wanitanya.
Mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang baru pulang belanja bulanan. Normal. Bahagia. Menjijikkan.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku jaket denimku. Tanganku gemetar, membuat fokus kamera sulit didapat. *Tarik napas, Alana. Tahan.*
*Klik.*
Satu foto. Papa memegang pinggang Siska.
*Klik.*
Dua foto. Siska menatap Papa dengan tatapan memuja yang dulu kupikir hanya ditujukan pada idola Korea-nya.
Mereka berjalan menuju lift. Aku memberanikan diri mendekat ke pintu kaca otomatis. Sensor pintu mendeteksi kehadiranku dan terbuka. Hembusan udara AC lobi menerpa wajahku, membawa aroma pewangi ruangan aroma lavender murahan yang kontras dengan parfum Chanel yang biasa dipakai Mama—sebelum Mama meninggal.
Aku berhenti di balik pilar besar dekat pintu masuk, berpura-pura sibuk dengan ponsel. Mataku melirik ke arah lift. Pintu lift terbuka. Papa membiarkan Siska masuk lebih dulu, tangannya melindungi kepala Siska agar tidak terbentur pintu lift—sebuah kesopanan yang tidak pernah ia lakukan padaku bertahun-tahun ini.
Sebelum pintu lift tertutup, aku melihat pantulan mereka di cermin dinding lift. Siska menyandarkan kepalanya di bahu Papa. Pintu tertutup. Angka digital di atas lift mulai berganti.
Lantai G... 1... 2...
Angka itu terus naik dan berhenti di angka 12. Sesuai dengan catatan transfer. Unit 12B.
Kakiku lemas. Aku mundur perlahan, keluar dari lobi sebelum satpam yang duduk di meja resepsionis menyadari gerak-gerikku yang mencurigakan. Udara Jakarta yang panas dan lembap menampar kulitku begitu aku keluar, tapi rasanya lebih baik daripada udara dingin di dalam sana yang penuh kepalsuan.
Aku kembali ke mobil, membanting pintu, dan menguncinya. Rasanya ingin berteriak, tapi suaraku tertahan di tenggorokan. Air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya luruh, tapi bukan air mata kesedihan cengeng. Ini air mata kemarahan.
Siska berbohong soal lembur. Papa berbohong soal rapat. Mereka menciptakan dunia kecil mereka sendiri di lantai 12, dibiayai dengan uang perusahaan, dibiayai dengan kepercayaan yang kuberikan.
Aku membuka galeri ponsel. Memperbesar foto yang baru saja kuambil. Wajah Siska terlihat jelas. Wajah Papa terlihat jelas. Tidak ada lagi penyangkalan. Ini bukan sekadar 'main gila' sesaat. Mereka sudah membangun rumah tangga bayangan.
Aku ingat Siska pernah bilang bulan lalu, "Gue pengen banget punya figur ayah yang bisa ngelindungin gue, Lan. Bokap gue kan udah nggak ada." Waktu itu aku merasa kasihan. Aku bahkan menyuruhnya menganggap Papa sebagai ayahnya sendiri.
Betapa bodohnya aku.
Siska tidak mencari ayah. Dia mencari dompet berjalan dan status. Dan Papa? Papa hanyalah laki-laki tua yang egonya perlu dipuaskan oleh gadis muda yang menatapnya seolah dia adalah raja dunia.
Aku melempar ponsel ke jok samping. Tiba-tiba, layar menyala. Sebuah pesan masuk dari Papa.
*"Alana, Papa mungkin pulang larut malam ini. Negosiasi alot. Kamu makan malam duluan saja, jangan tunggu Papa. Kunci pintu."*
Aku menatap pesan itu lama sekali. Jemariku mengetik balasan.
*"Oke, Pa. Semangat kerjanya. Hati-hati."*
Aku menekan tombol kirim.
Ini adalah kebohongan pertamaku yang sadar dan terencana pada Papa. Jika mereka bisa bermain peran, maka aku juga bisa. Aku tidak akan melabrak mereka malam ini. Tidak dengan tangan kosong dan emosi meledak-ledak yang hanya akan membuatku terlihat seperti anak kecil tantrum. Papa akan dengan mudah memutarbalikkan fakta, mengatakan aku salah paham, atau lebih parah lagi, menghentikan akses keuanganku sebelum aku siap.
Aku menyalakan mesin mobil. Suara deru halus Honda Jazz memecah keheningan parkiran minimarket.
Malam ini, Alana yang naif mati di parkiran minimarket Tebet.
Aku akan pulang ke rumah besar yang dingin itu. Aku akan makan malam sendiri di meja makan jati yang terlalu panjang untuk satu orang. Dan besok pagi, saat Papa pulang dengan kemeja kusut dan bau parfum Siska yang samar, aku akan tersenyum. Aku akan menjadi putri penurut yang mereka kira tidak tahu apa-apa.
Sambil menyetir membelah kemacetan Gatot Subroto, otakku mulai menyusun rencana. Foto ini tidak cukup. Aku butuh lebih. Aku butuh akses ke keuangan Papa. Aku butuh tahu seberapa dalam Siska sudah menancapkan kukunya di perusahaan. Dan yang terpenting, aku harus memastikan saat bom waktu ini meledak, aku tidak ikut hancur bersamanya.
Aku melirik spion tengah, menatap mataku sendiri. Tatapan itu sudah berubah. Tidak ada lagi binar ceria mahasiswi baru lulus. Yang ada hanya tatapan dingin seorang arsitek yang sedang melihat bangunan yang harus diruntuhkan.
"Oke, Siska," bisikku pada bayangan di spion. "Mari kita lihat siapa yang akan bertahan paling akhir."