NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Kota Cahaya

Pintu baja raksasa itu bergeser dengan desis hidrolik yang halus, menyemburkan aroma yang sudah lama dilupakan oleh indra penciuman manusia di permukaan: bau tanah basah setelah hujan dan keharuman vegetasi yang tumbuh subur. Li Wei melangkah melewati ambang pintu, matanya yang terbiasa dengan remang parit sektor tujuh dan neon pasar gelap kini harus berkedip cepat menyesuaikan diri. Di hadapan mereka, sebuah rongga raksasa di bawah kerak bumi telah diubah menjadi simfoni cahaya dan kehidupan.

"Selamat datang di satu-satunya tempat di mana matahari tidak dibutuhkan untuk melihat harapan," Lin berujar pelan sembari melangkah di depan, stafnya mengetuk lantai batu yang halus.

Xiao Hu berlari kecil melewati Li Wei, wajahnya yang biasanya kusam oleh jelaga kini bersinar terkena pendar bioluminesensi biru dan hijau yang merambat di sepanjang dinding gua. "Kak Li! Lihat! Pohonnya bersinar! Dan... dan udaranya tidak membuat tenggorokanku gatal!"

Li Wei menarik napas panjang. Udara di sini terasa murni, tanpa jejak amonia dari gorong-gorong kimia atau bau ozon dari ledakan gas saraf yang pernah hampir merenggut nyawa mereka. "Ini mustahil. Bagaimana kalian menyuplai oksigen dan energi untuk kota sebesar ini tanpa terdeteksi radar termal Kekaisaran?"

"Panas bumi," Chen Xi menyahut, suaranya terdengar lebih stabil meskipun matanya masih sembab. Ia menyentuh salah satu pilar bangunan yang tampak seperti perpaduan antara beton dan akar pohon raksasa. "Mereka menggunakan sirkulasi termal dari inti bumi sebagai daya utama. Tidak ada emisi Qi yang bisa dilacak oleh satelit orbital. Ini adalah arsitektur bio-organik paling murni yang pernah kulihat."

"Arsitektur yang lahir dari keputusasaan, Chen Xi," Lin menoleh, menatap mantan muridnya itu dengan mata mekanis yang berdenyut redup. "Saat faksi Naga Laut membuang kita sebagai aset kedaluwarsa, bumi adalah satu-satunya pelindung yang tidak meminta bayaran."

Mereka berjalan menyusuri jembatan gantung yang terbuat dari jalinan kabel serat optik dan akar yang dikeraskan. Di bawah mereka, warga kota beraktivitas dengan tenang. Ada yang bercocok tanam di ladang hidroponik vertikal, ada pula yang terlihat sedang memperbaiki komponen sirkuit di bengkel-bengkel terbuka. Tidak ada jubah militer sutra antipeluru yang kaku seperti di Kekaisaran, hanya pakaian rami sederhana yang tampak nyaman.

"Kalian memiliki pabrik senjata mandiri di sana," Li Wei menunjuk ke sebuah kompleks logam di sisi tebing yang mengeluarkan percikan api biru. Matanya yang tajam menangkap barisan rangka exoskeleton yang sedang dirakit.

"Kami tidak mencari perang, Li Wei. Tapi kami tahu perang akan mencari kami," jawab Lin datar. "Kau terlihat sedang menghitung jumlah personil tempur kami. Apakah itu insting seorang perwira, atau ambisi seorang pengkhianat?"

Li Wei berhenti berjalan, tangannya secara refleks menyentuh hulu Bailong-Jian yang terasa hangat akibat resonansi dengan lingkungan kota. "Insting seorang pria yang bosan menjadi mangsa. Jika tempat ini adalah masa depan, maka masa depan butuh pedang yang lebih tajam untuk menjaganya."

"Jawaban yang jujur," Lin mengangguk kecil. "Ikutlah. Xiao Hu butuh makan, dan kau butuh melihat sesuatu yang mungkin bisa mengubah cara pandangmu terhadap pedang itu."

Mereka sampai di sebuah alun-alun kecil yang dikelilingi oleh taman bio. Di tengahnya, terdapat sebuah air mancur yang airnya berpendar keperakan. Xiao Hu langsung bergabung dengan sekelompok anak kecil yang sedang bermain dengan robot serangga mekanik. Tawa bocah itu pecah, sebuah suara yang terdengar asing namun sangat dirindukan oleh telinga Li Wei.

Seorang wanita paruh baya mendekati mereka membawa nampan berisi mangkuk-mangkuk kayu. "Kalian pasti tamu yang dibawa Lin. Silakan, sup sayuran ini baru saja matang. Tanpa nutrisi sintetis."

Chen Xi menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar. Saat uap sup itu menerpa wajahnya, ia memejamkan mata. "Bau ini... seperti dapur ibuku sebelum Kekaisaran mengambil alih distrik kami."

Li Wei duduk di bangku kayu panjang, menyesap cairan hangat itu. Rasanya jauh lebih nyata daripada ransum biskuit jamur yang mereka makan saat bersembunyi di bunker reruntuhan. "Apa yang kalian inginkan dariku, Lin? Kalian tidak membawa algojo sepertiku hanya untuk jamuan makan."

"Kami butuh seseorang yang mengerti cara berpikir Zhao Kun," Lin duduk di depan Li Wei, wajah parut peraknya tampak mengerikan di bawah cahaya taman, namun nadanya tenang. "Kau adalah murid kesayangannya. Kau tahu bagaimana dia menggerakkan bidak-bidaknya. Kami punya teknologi, tapi kami butuh komandan yang tahu kapan harus menyerang."

"Aku bukan lagi komandan siapa pun," Li Wei meletakkan mangkuknya, matanya menatap tajam ke arah Lin. "Aku hanya ingin menghancurkan sistem yang memanen keluarga Li sebagai baterai."

"Dan untuk itu, kau butuh lebih dari sekadar dendam," Chen Xi menyela, ia duduk di samping Li Wei, membiarkan bahu mereka bersentuhan sejenak. "Li Wei, pedangmu butuh evolusi. Neuro-Sync milikmu sudah mencapai batas L4. Jika kau ingin menghadapi level yang lebih tinggi di luar sana, kau harus membiarkan teknologi Void menyatu dengan Bailong-Jian."

Li Wei menatap pedangnya. Logamnya tampak sedikit retak akibat duel panjang melawan pembunuh bayangan di lembah putih sebelumnya. "Berapa harganya? Apa yang harus kukorbankan kali ini?"

"Hanya martabatmu sebagai prajurit Kekaisaran," Lin tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak kaku di wajahnya yang rusak. "Kau harus belajar menjadi bagian dari rakyat, bukan penguasa atas mereka. Besok, aku akan membawamu ke bengkel inti. Tapi malam ini, cobalah untuk menjadi manusia. Lihatlah Xiao Hu. Dia sudah menemukan rumahnya."

Li Wei menoleh ke arah Xiao Hu yang kini sedang belajar merajut kabel bersama warga lokal. Anak itu terlihat begitu hidup, seolah ketakutan saat tentara Kekaisaran mendobrak pintu bengkel tuanya dulu hanyalah mimpi buruk yang jauh.

"Dia adalah jangkar kita, kan?" bisik Chen Xi pelan, hampir tak terdengar di tengah keriuhan pasar kecil di dekat mereka.

"Dia adalah satu-satunya alasan aku belum menjadi monster sepenuhnya, Chen Xi," sahut Li Wei dengan suara berat.

Malam di Kota Void ditandai dengan meredupnya pendar bioluminesensi secara bertahap, memberikan suasana temaram yang menenangkan. Li Wei berdiri di balkon kecil penginapan mereka, menatap ke arah "langit" yang merupakan stalaktit bercahaya. Di sampingnya, Chen Xi berdiri dalam diam, menikmati angin sepoi-sepoi dari sistem ventilasi alami kota.

"Apakah kau benar-benar percaya kita bisa menang?" tanya Chen Xi tiba-tiba.

Li Wei tidak langsung menjawab. Ia merasakan denyut nadi bumi di bawah telapak kakinya yang tidak beralas. "Aku tidak tahu tentang menang. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa aku punya sesuatu yang layak untuk dipertahankan, lebih dari sekadar kehormatan militer yang kosong."

Chen Xi menoleh, menatap profil wajah Li Wei yang keras. Ia mengulurkan tangan, ragu sejenak sebelum menyentuh jemari Li Wei yang kasar karena bertahun-tahun memegang senjata. "Terima kasih telah membawaku sampai ke sini, meskipun kau punya setiap alasan untuk membenciku."

Li Wei tidak menarik tangannya. Sentuhan Chen Xi terasa hangat, sebuah kontras yang tajam dengan dinginnya logam pedang yang biasa ia dekap setiap malam. Di bawah pendar cahaya biru yang mulai meredup, ia bisa melihat pantulan dirinya di mata wanita itu—bukan sebagai perwira yang haus darah, melainkan sebagai pria yang sedang mencari jalan pulang.

"Kita semua punya dosa yang harus dibayar, Chen Xi," ujar Li Wei, suaranya parau tertiup angin buatan. "Kau membangun algoritmanya, dan aku mengeksekusinya. Jika kau monster, maka aku adalah taringnya. Kita hanya dua sisi dari mata uang yang sama yang kini sudah tidak laku lagi."

Chen Xi tertawa kecil, sebuah tawa getir yang pecah di kesunyian balkon. "Setidaknya uang tidak laku bisa dilebur menjadi sesuatu yang baru. Lin bilang dia bisa memodifikasi pedangmu. Apakah kau siap untuk itu? Menggabungkan teknologi Void dengan jiwa Kekaisaran bisa menyebabkan penolakan saraf pada Neuro-Sync milikmu."

"Aku sudah melewati batas overclock lima belas detik saat membantai zombie di lorong kaca laboratorium," Li Wei menatap telapak tangannya sendiri. "Sarafku sudah rusak, Chen Xi. Sedikit modifikasi ilegal tidak akan membuatnya lebih buruk. Aku butuh kekuatan untuk memastikan Xiao Hu tidak perlu lagi bersembunyi di dalam lemari saat ada suara ledakan."

"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri," bisik Chen Xi sembari merapatkan jubahnya. "Tidurlah. Besok akan menjadi hari yang panjang."

Keesokan paginya, Kota Void terasa berbeda. Bau tanah basah yang semalam menenangkan kini terasa lebih tajam, seolah bumi sedang memperingatkan sesuatu. Li Wei melangkah menuju bengkel inti, sebuah struktur kubah besar di pusat kota tempat aroma oli dan logam panas menyatu dengan kelembapan gua. Di sana, Lin sudah menunggu di depan sebuah tanur energi yang memancarkan cahaya putih menyilaukan.

"Letakkan Bailong-Jian di altar transmisi," perintah Lin tanpa basa-basi.

Li Wei melepas pedangnya, merasakan berat senjata itu untuk terakhir kalinya sebelum meletakkannya di atas bantalan magnetik. Saat tangan Lin mulai menari di atas layar holografik, barisan kode biner berwarna ungu mulai merambat ke bilah pedang, mengisi retakan-retakan kecil yang didapat Li Wei selama pertempuran di lembah putih.

"Kristal Void ini akan menyerap energi panas bumi dan mengubahnya menjadi frekuensi resonansi," Lin menjelaskan sambil memantau grafik stabilisasi. "Pedangmu tidak lagi hanya memotong fisik, tapi akan mengganggu aliran Qi pada lawan. Ini adalah evolusi yang tidak dimiliki oleh Jenderal Kekaisaran mana pun."

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan?" tanya Li Wei sembari memantau Xiao Hu yang sedang asyik membantu seorang teknisi tua merajut kabel di sudut ruangan.

"Beberapa jam. Gunakan waktu ini untuk mempelajari peta taktis gerbang luar. Aku punya perasaan bahwa kedamaian ini tidak akan bertahan lama," Lin menatap Li Wei dengan mata mekanisnya yang berkedip cepat.

Li Wei mengangguk. Ia menghabiskan waktu sore itu di taman bio, memperhatikan bagaimana warga Void hidup dalam simfoni yang teratur. Ia belajar cara mengolah tanaman umbi hutan yang menjadi bahan dasar sup mereka, merasakan tekstur tanah yang murni di jemarinya. Ada kedamaian yang asing di sini, sebuah kehidupan yang hampir membuatnya ingin meletakkan senjata selamanya.

"Inikah masa depan yang kau bayangkan saat masih di Naga Laut?" tanya Li Wei saat ia melihat Chen Xi sedang sibuk dengan tablet datanya di dekat air mancur.

"Ini lebih dari sekadar bayangan, Li Wei. Ini adalah bukti bahwa kita bisa hidup tanpa harus saling memangsa," jawab Chen Xi tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Tapi data ini mengkhawatirkanku. Frekuensi radio di sekitar lembah putih mulai mengalami gangguan statis yang tidak wajar. Seperti ada jammer skala besar yang sedang mendekat."

Li Wei menajamkan pendengarannya. Insting perwiranya mendadak berdenyut kencang. "Tingkat berapa gangguan itu?"

"Sangat tinggi. Jika ini adalah patroli biasa, mereka tidak akan menggunakan pengacak sinyal tingkat militer," Chen Xi berdiri, wajahnya mendadak pucat.

Tepat saat kata-kata itu keluar, sebuah raungan memekakkan telinga merobek langit-langit batu gua. Alarm kota meledak dalam nada tinggi yang menusuk saraf. Cahaya biru bioluminesensi seketika berubah menjadi merah pekat yang berdenyut cepat—tanda Siaga Satu.

"Warga! Segera menuju bunker dekontaminasi!" suara Lin menggema melalui sistem pengeras suara kota, kali ini penuh dengan urgensi yang nyata.

Li Wei berlari secepat kilat menuju bengkel inti. Ia melihat Lin sedang berusaha menarik Bailong-Jian dari altar yang belum sepenuhnya stabil. Percikan listrik statis menyambar-nyambar di udara.

"Belum selesai! Proses sinkronisasinya baru mencapai delapan puluh persen!" teriak Lin di tengah deru alarm.

"Tidak ada waktu lagi!" Li Wei menerjang maju, mengabaikan peringatan keamanan dan menyambar hulu pedangnya. Arus listrik liar menyengat lengannya, membuat saraf Neuro-Sync miliknya berteriak kesakitan, namun ia tidak melepaskannya.

Ia menyarungkan pedang yang masih bergetar itu dan berbalik mencari Xiao Hu. Bocah itu berdiri membeku di tengah alun-alun, matanya membelalak ketakutan melihat debu dan reruntuhan batu mulai jatuh dari langit-langit gua.

"Xiao Hu! Ke sini!" teriak Li Wei sembari menyambar tubuh kecil itu dan mendekapnya erat.

Chen Xi tiba di sampingnya, napasnya tersengal. "Li Wei! Radar menangkap sinyal di gerbang atas! Itu bukan sekadar patroli. Itu adalah unit penghancur saraf!"

Sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh kota, menjatuhkan pilar-pilar kristal dan memadamkan sebagian besar pencahayaan. Di tengah kegelapan yang diselingi kilatan merah, suara Lin terdengar berat melalui alat komunikasi mereka.

"Mereka sudah di sini. Zhao Kun tidak mengirim pasukan... dia mengirim rudal saraf ke gerbang gua."

Li Wei menatap ke arah terowongan masuk yang kini mulai dipenuhi asap hitam. Rasa hangat yang baru saja ia rasakan di kota ini menguap, digantikan oleh dingin yang familier dari dendam yang kembali membara. Ia menghunus pedangnya yang kini memancarkan pendar ungu liar.

"Pergilah ke gerbang belakang bersama warga, Chen Xi! Bawa Xiao Hu!" perintah Li Wei, suaranya kembali menjadi suara seorang komandan yang dingin dan penuh perhitungan.

"Lalu kau?" Chen Xi mencengkeram lengan Li Wei, matanya memohon.

"Aku akan memastikan mereka membayar setiap inci tanah yang mereka rusak di sini," Li Wei menatap ke arah reruntuhan gerbang. "Dunia ini mungkin gila, tapi kota ini terlalu berharga untuk hancur sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!