Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Arash
Arash muncul dari dapur membawa nampan berisi tiga cangkir porselen yang mengepulkan aroma kopi arabika yang kuat. Ia meletakkan nampan itu di meja dengan gerakan yang sangat tenang, meski di dalam kepalanya ia sedang menyusun strategi pertahanan tingkat tinggi.
"Ya, Kek?" Arash duduk di samping Raisa, tanpa ragu ia merangkul bahu Raisa dan menariknya mendekat, sebuah tindakan posesif yang sengaja ditunjukkan untuk meredam kecurigaan Kakek.
"Kakek bertanya kenapa istrimu tampak sangat kelelahan," ujar Kakek dengan nada menuntut. "Jika kau memperlakukannya seperti staf biasa yang kau peras tenaganya sampai subuh, Kakek sendiri yang akan menyeretmu keluar dari kursi CEO itu."
Arash menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang tampak "nakal" namun penuh kepalsuan muncul di sudut bibirnya. Ia mengeratkan pelukannya di bahu Raisa, jemarinya membelai lengan Raisa dengan gerakan yang seolah-olah sangat intim.
"Maafkan kami, Kek," Arash memulai, suaranya merendah menjadi bariton yang hangat. "Sebenarnya, Raisa kelelahan bukan karena pekerjaan kantor. Memang semalam kami membawa pulang beberapa dokumen, tapi itu hanya alasan agar kami bisa menghabiskan waktu berdua lebih awal tanpa gangguan telepon dari paman-paman."
Arash melirik Raisa dengan tatapan yang sangat dalam, seolah-olah mereka baru saja berbagi rahasia ranjang yang membara. "Kakek sendiri yang mendesak kami untuk segera memberikan cicit, bukan? Nah, semalam ... pembicaraan tentang dokumen itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih 'produktif'. Kami baru benar-benar bisa memejamkan mata saat fajar hampir menyingsing."
Mata Raisa membelalak. Ia menatap Arash dengan ekspresi ngeri yang tertahan. Berani-beraninya dia berbohong sejauh itu! batin Raisa menjerit. Ia ingin sekali mencubit perut Arash sampai biru, namun di depan Kakek, ia hanya bisa menunduk dengan wajah yang mendadak memerah padam—yang ironisnya justru meyakinkan Kakek bahwa cerita Arash benar adanya.
"Oho!" Kakek tertawa terbahak-bahak, tawanya yang menggelegar memenuhi ruangan. "Jadi begitu ceritanya? Kau memang keras kepala seperti mendiang ayahmu, Arash. Kalau soal ambisi, kau nomor satu."
Kakek menatap Raisa dengan pandangan yang kini melembut dan penuh kasih. "Maafkan Kakek, Raisa. Kakek tidak bermaksud mencampuri urusan privasi kalian terlalu dalam. Tapi Kakek senang mendengarnya. Kau harus sabar menghadapi Arash, dia memang pria yang tidak tahu waktu jika sudah menginginkan sesuatu."
"I-iya, Kek. Arash memang ... sangat bersemangat," sahut Raisa dengan suara yang hampir tidak keluar. Ia merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.
Arash mengambil cangkir kopi dan memberikannya pada Raisa, jemarinya sengaja menyentuh tangan Raisa lebih lama dari yang seharusnya. "Minumlah, Sayang. Kau butuh kafein untuk memulihkan tenagamu setelah 'perjuangan' kita semalam."
Raisa menerima cangkir itu dengan tangan gemetar. Ia menatap cairan hitam di dalamnya, seolah ingin menenggelamkan Arash di sana. Di balik wajah dinginnya yang kini dipasangi topeng suami idaman, Arash memberikan kedipan mata yang sangat tipis pada Raisa—sebuah tanda kemenangan sekaligus peringatan bahwa sandiwara ini belum berakhir.
"Bagus," Kakek menyesap kopinya dengan puas. "Kalau begitu, Kakek tidak akan berlama-lama. Segera siapkan diri kalian. Kakek ingin melihat kalian di acara makan malam keluarga minggu depan. Dan Arash, jangan biarkan Raisa menyentuh laporan apa pun hari ini. Biar sekretaris lain yang mengerjakannya. Istrimu butuh istirahat untuk ... 'proyek' kalian selanjutnya."
Setelah Kakek dan pengawalnya pergi, suasana apartemen yang tadi hangat mendadak kembali membeku. Arash langsung melepaskan rangkulannya dari bahu Raisa seolah-olah wanita itu baru saja berubah menjadi bara api. Ia berdiri, merapikan jasnya, dan kembali ke mode CEO-nya yang tanpa perasaan.
"Jangan menatapku seperti itu," cetus Arash tanpa melihat Raisa yang masih terduduk kaku di sofa. "Itu satu-satunya cara agar Kakek tidak memeriksa ruang kerjaku dan menemukan tumpukan dokumen audit yang belum kau selesaikan. Anggap saja itu kompensasi karena kau sudah membuatku bangun kepagian."
Raisa meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras di atas meja. "Kau keterlaluan, Arash! Kau membuat Kakek berpikir kita ... kita melakukan 'itu' sepanjang malam!"
Arash berbalik, menatap Raisa dengan pandangan sarkasnya yang paling tajam. "Lalu kau ingin aku jujur? Mengatakan bahwa aku menguncimu di ruang kerja dan memaksamu bekerja sampai pingsan? Itu akan membuatku didepak dari perusahaan dalam waktu lima menit. Jadi, berhentilah bertingkah seperti drama ratu. Mandilah, kau bau kertas arsip."
Arash berjalan menuju pintu keluar tanpa sedikit pun rasa bersalah, meninggalkan Raisa yang hanya bisa meremas bantal sofa dengan kemarahan yang meluap-luap.
Pintu apartemen baru saja tertutup dengan bunyi dentum yang berat, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara Arash dan Raisa. Arash berdiri mematung di dekat konsol meja, tangannya masih memegang kunci mobil, sementara Raisa masih terduduk di sofa dengan wajah yang merah padam—campuran antara amarah yang tertahan dan rasa malu yang luar biasa akibat bualan Arash di depan Kakek tadi.
"Kau benar-benar tidak punya hati, ya?" suara Raisa memecah kesunyian, tajam dan bergetar. "Bisa-bisanya kau mengarang cerita serendah itu hanya untuk menyelamatkan posisimu? Kakek sekarang mengira kita ... kita ...."
"Kakek mengira kita sedang menjalankan fungsi sebagai suami istri yang normal," potong Arash tanpa menoleh. Ia meletakkan kunci mobil dengan bunyi klunting yang keras. "Dan di duniamu yang penuh utang itu, Raisa, 'normal' adalah kemewahan yang tidak bisa kau beli. Jadi, berhentilah bersikap seolah aku baru saja menodai kehormatanmu. Ini murni strategi."
"Strategi?" Raisa berdiri, melangkah mendekati Arash. "Kau menginjak-injak harga diriku di depan keluargamu sendiri! Kau membuatku terlihat seperti wanita yang hanya bisa ... ah, sudahlah! Kau tidak akan pernah mengerti."
Arash berbalik dengan cepat. Langkahnya yang lebar dalam sekejap sudah memangkas jarak di antara mereka. Ia berdiri menjulang di depan Raisa, auranya kembali mencekam seperti saat di kantor kemarin.
"Yang tidak mengerti itu kau. Jika Kakek tahu kau kelelahan karena aku menghukummu lembur, dia akan mulai menyelidiki ada apa dengan pernikahan kita. Dan jika dia tahu ini semua hanya kontrak untuk melunasi utang judi ayahmu, kita berdua selesai. Aku kehilangan perusahaan, dan kau ... kau akan melihat ayahmu membusuk di penjara. Pilih mana?"
Raisa terdiam. Kata-kata Arash selalu seperti belati; dingin, tajam, dan tepat sasaran. Ia membuang muka, tak sanggup menatap iris gelap pria itu yang seolah bisa menembus hingga ke dasar ketakutannya.
"Sekarang, mandi dan bersiaplah," ujar Arash, suaranya sedikit melunak namun tetap otoriter. "Kakek mengirimkan pesan singkat tadi. Karena dia pikir kau 'kelelahan', dia mengirimkan seseorang untuk mengantarkan paket khusus sore ini. Dia menyebutnya 'dukungan keluarga'."
"Paket apa lagi?" tanya Raisa curiga.
"Entahlah. Dengan Kakek, biasanya itu berarti sesuatu yang sangat tradisional dan sangat merepotkan," jawab Arash sembari berjalan menuju kamarnya. "Pastikan kau ada di rumah saat paket itu sampai. Aku ada rapat mendadak dengan paman-pamanku untuk meredam gosip rapat kemarin."