Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Demi cinta, nyawa bisa tak berharga
SELAMAT MEMBACA!
Keadaan macam apa ini? Dara menatap pria di depannya dengan jantung yang berdetak kencang, juga rasa kasihan mendengar pria itu memohon pertolongannya. Namun, Dara sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan Ambo.
Mereka masih berdiri di tempat yang sama. Mata para manusia di sekitar, sesekali melirik ke arah Ambo yang menahan tangan Dara agar tidak pergi. Sungguh, Dara ingin sekali mendengar isi hati pria yang sesungguhnya hingga menangis seperti itu. Akan tetapi, Bila memaksa untuk pergi saja karena takut.
"Saya bisa teriak, loh. Biar kamu ditangkap sama mereka," seloroh Bila, pada akhirnya.
"Dar, gue mohon! Bicara bentar sama gue!" ucap Ambo.
Dara bingung. Sebenarnya, ia pun sama takutnya seperti Bila saat berhadapan dengan Ambo. Namun, bila mendengar suara Ambo yang bergetar, membuat kakinya berhenti untuk tidak pergi.
Perlahan, Dara melepaskan cengkraman tangan Ambo, sambil menatap dengan dalam. "Kita bicara lain kali. Mungkin, kamu bisa bilang sama Dino biar dia sampaikan ke aku," tutur Dara.
Ambo hanya diam menanggapi ucapan Dara. Sedangkan Bila, dia segera menarik tangan sang putri untuk pergi.
Melihat kepergian Dara, tubuh Ambo meluruh ke tanah. Tidak peduli orang-orang menatapnya aneh, ia hanya sedang meratapi nasibnya. Pria itu kacau, dia menangis di keramaian, melupakan identitas yang sebenarnya. Sungguh, dunia percintaannya tak pernah berjalan mulus.
"Gue harus gimana lagi, biar Nasya maafin gue," gumamnya, sambil sesenggukan dan pundak yang naik turun.
〜🦋〜
Rindu yang berat itu kini terobati. Waktu akan selalu bisa menyembuhkan lara, hanya perlu sabar menunggu dan pasti akan bertemu.
Malam terlihat begitu indah. Bulan sabit tersenyum melihat sepasang kekasih itu bertemu. Dara telah lama menanti kehadiran Dino di teras rumahnya. Melihat lelaki tampan menghentikan motor di depan rumah, membuat manik Dara berbinar.
Dino berjalan dengan kaki panjangnya, kemudian mengulas senyum ketika sudah menginjakkan kaki di lantai rumah itu. Lalu, Dara berdiri dari kursi dan menghampiri suaminya. "Lo nungguin gue?" tanya Dino, dengan wajah usil menggoda Dara.
Baru juga bertemu, Dara sudah dibuat kesal. Kini, menurutnya, bersama tidak menjadi lebih daripada berjauhan. "Nggak! Percaya diri banget, sih," celetuk Dara. Dia memalingkan wajahnya yang memerah. "Aku lagi cari udara segar."
Dino mengangguk singkat, kemudian menatap wajah gadis itu yang sengaja berpaling darinya. "Gak kangen?" seloroh Dino.
Pertanyaan jenis apa itu? Tega sekali dia menanyakannya. Seharusnya, ia yang mengatakan rindu terlebih dahulu, bukan malah bertanya hingga membuat pihak perempuan menjadi malu.
"Nggak!" jawab Dara dengan ketus, melotot kepada Dino. Helaan napas panjang keluar dari bibir Dara. "Ditungguin Bunda." Lalu, gadis itu menghentakkan kaki ke lantai dan melenggang masuk.
Senyum tipis terbit dari wajah lelaki itu, istrinya terlihat menggemaskan.
Dino merasa lega akan seluruh masalah mungkin telah usai. Namun, masih ada beberapa yang perlu ia selesaikan lagi. Perasaan bangga terhadap dirinya sendiri karena merasa berhasil menjaga gadisnya, Dino baru kali pertama merasakan kepercayaan diri menggebu seperti ini.
Seluruh hidupnya benar-benar telah ia serahkan untuk melindungi Dara hingga mati. Sebuah janji yang tidak pernah berani diucapkannya.
Bila sudah menyiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan kembali menantunya. Anak gadisnya juga turut membantu, meski membuat emosi Bila naik turun. "Ayo, dimakan!" ujar Bila. "Dara juga bantuin masak, loh!" Ia menyodorkan capcai sayur dan udang kepada Dino.
Dino tersenyum tipis. "Dara masak capcai ini?" tanyanya. Bila mengangguk menanggapinya. Lalu, Dino tidak segan untuk mengambil beberapa sendok lauk tersebut.
"Awas asin!" celetuk Tino, dengan mulutnya yang penuh nasi.
Dara waktu itu membawa sendok dan kebetulan berjalan di belakang Tino, segera dia melayangkan pukulan di kepala cowok itu dengan benda di tangannya. Lalu, dia melotot ke arah Tino yang meringis kesakitan.
Dino tidak menggubrisnya, ia kemudian menyuapi mulutnya dengan sayuran itu, membuat Dara menatapnya sambil menanti.
Dino mengunyah tanpa ekspresi, hal tersebut membuat Dara menunduk menatap piringnya. "Nggak enak ya, No?" celetuk Dara, dengan suara yang begitu pelan.
Lelaki itu menoleh mendengarnya. Gadis yang duduk di sampingnya itu terlihat begitu kecewa. Dino tersenyum tipis. "Enak, kok," ucap Dino, lantas membuat Dara mengangkat kepala. "Cobain, deh!"
Antara percaya dan tidak. Biasanya, ucapan tak selalu sesuai kenyataan. Tino yang dulunya sering merasakan masakan asin kakaknya, hanya mengerutkan dahi sambil menatap piring berisi capcai di depannya. Rasa penasaran kian menguap, Tino dengan ragu mengambil sesendok capcai, kemudian perlahan memasukkan ke mulutnya.
Mata cowok itu menutup sambil mengunyah, takut makanan tersebut akan merusak indra perasa miliknya. Lalu, Tino terbelalak, menatap tajam ke arah Dara yang kesal karena ia telah meremehkan kakaknya.
"Iya, enak," ujar Norman, setelah mencoba masakan putrinya itu. Dia tidak jauh berbeda dengan Tino, tadinya kurang percaya bahwa masakan Dara benar-benar seenak ini. "Berarti kamu ada kemajuan selama menikah dengan Dino!"
Dara hampir tersedak, melirik ke arah suaminya yang tersenyum tipis kepada ayahnya. Dino menoleh, dengan cepat Dara memalingkan wajah.
Gadis itu kian semakin sadar, rasa cinta terhadap suaminya telah tumbuh. Bahkan, untuk melakukan hubungan jarak jauh, akan Dara tolak di kemudian hari. Lalu, senyum Dino, ia tidak pernah menampilkan itu di depan para teman-temannya, hanya pada Dara dan keluarga Dara.
Setelah makan malam usai, Dino mengajak Dara ke kamar gadis itu untuk membicarakan suatu hal. Dara pun sama, ada yang perlu ia sampaikan kepada suaminya itu.
Dino menunggu terlebih dahulu karena Dara harus membantu Bila membersihkan sisa makan malam. Lelaki itu merebahkan tubuhnya di kasur, sambil menatap jam tangan yang diangkatnya. Dino masih bingung dengan ini semua. "Ambo ambil jam ini dari Agun, dia buat cerita kalau Agun udah buang jam ini, terus ceweknya marah," gumam Dino. Namun, masih ada yang mengganjal di pikirannya. "Sepenting apa jam ini? Benda keramat juga bukan."
Frustrasi sudah. Dino bangun dari tidurannya dengan kasar, kemudian mendapati sosok Dara yang sedang menutup pintu. "Kaget gue, Ra. Gue kirain bidadari," celetuk Dino.
Dara berdecak, kemudian duduk di samping suaminya itu. "Kaget itu biasanya karena lihat hantu," jawab Dara, dengan ketus. Sebenarnya, dia masih kesal akan perkataan Dino yang tidak sesuai fakta. "Katanya ke sini pagi, kenapa bohong?" Setelah mengatakannya, Dara membuang muka.
Gadis itu marah, Dino tahu. "Bengkel rame banget. Anak-anak gak bisa ngurus," ujar Dino. "Maaf, Ra."
Rupanya, Dara sekarang benar-benar tidak bisa marah kepada lelaki itu. Dia menghela napas, kemudian memutuskan untuk menatap kembali Dino, yang memasang wajah melas. "Ya udah. Mau bicara soal apa?" tanya Dara.
Tanpa berlama-lama, Dino pun sangat penasaran dengan beberapa pertanyaan yang memenuhi pikirannya. Dino menyodorkan jam tangan bermodel laki-laki dan berwarna hitam tersebut. Saat itu, Dara benar-benar mengingat betul. "Kayak jam punya Kak Agun," ungkap Dara, sambil mengerutkan dahi melihat jam itu. "Tapi, seingat aku itu hilang."
Dara mencoba mengingat, sungguh benda itu sangat mirip dengan kepunyaan kakaknya. "Punya siapa? Dapet dari mana kamu?" tanya Dara, yang rupanya masih belum mengerti bahwa itu memang milik almarhum Agun.
"Jam tangan Agun, dapet dari Ambo waktu itu," jawab Dino.
Bibir Dara terbuka lebar, matanya terbelalak kaget. "Kok bisa?" pekik Dara, dengan suara nyaring.
"Satu hari sebelum Kakak lo dihajar, Ambo ambil jam tangan itu, dan dia buat cerita seolah Agun buang jam itu." Dara mencermati setiap kata yang keluar dari bibir Dino. "Dia mau rusak hubungan Agun sama pacarnya. Yang katanya, Agun jadian setelah si cewek mutusin Ambo," jelas Dino.
"Jadi singkatnya, Ambo fitnah Agun seolah Agun mencampakkan si cewek," sambung Dino.
Melihat kerutan di kening Dara, membuat Dino berpikir bahwa istrinya itu tidak paham. "Gue males kalau harus cerita untuk yang kedua kali." Dino memalingkan wajahnya, kemudian Dara menepuk pundak Dino dan membuatnya menoleh.
Dino mengangkat sebelah alisnya. "Kamu pikir aku nggak paham? Memangnya otak aku dangkal?" cecar Dara. Kalau begitu, Dino merasa lega karena ia sungguh akan merasa bingung jika harus menceritakan ulang. "Jadi, jam ini memang beneran punya Kak Agun, ya."
"Kayaknya gitu, sih," sahut Dino.
Dino heran, mendadak Dara menggenggam erat jam tangan tersebut dan menciumnya. "Ra?"
Dara mengulas senyum tipis. "Jam ini berarti banget buat hubungan Kak Agun sama Kak Nasya," ujar Dara.
"Nasya siapa?" tanya Dino, membuat Dara mengangkat kepala untuk menatapnya.
"Pacarnya Kak Agun. Kak Nasya kerja mati-matian demi beliin hadiah jam tangan itu buat Kak Agun. Jadi, jam itu sebagai janji mereka buat selalu bersama," kata Dara. "Benar, sih. Hari sebelum kejadian itu tiba, Kak Agun pusing cari-cari jam tangan itu."
Kali ini giliran Dino yang menyimak cerita Dara, meski terdengar kurang jelas karena Dara bercerita sambil tertawa kecil. Namun, senyuman itu menambah daya tarik Dino untuk menatapnya.
"Awalnya, Kak Agun nggak sadar kalau jamnya hilang. Tapi, setelah kencan mereka di sore hari, Kak Nasya nanyain keberadaan jam tangan itu."
"Kak Agun pulang sambil nangis-nangis nyariin jam tangannya." Dara kembali menatap jam tangan itu dengan mengingat ketika kakaknya memakai benda tersebut. "Tapi, nggak pernah ketemu."
"Sampai di malam itu, Kak Agun dateng ke rumahnya Kak Nasya buat minta maaf. Tapi sayangnya, Kak Nasya merasa nggak dihargai karena dia beneran cari uang itu sampai hampir mati, katanya."
"Aku ikutin Kak Agun diam-diam, No. Hubungan mereka selesai."
Dara menundukkan dalam kepalanya, air mata itu tidak terasa telah menetes, bahkan membasahi pipinya. Dino segera mendekat, kemudian memeluk sang istri dari samping. "Kak Agun awalnya nggak mau pulang. Aku berusaha dan berhasil buat bujuk. Tapi, aku bujuknya telat, terlalu lama."
Dara berhenti sejenak. Napasnya mulai tidak teratur. Bayangan kelam itu kembali terputar, selalu. Dara tak akan pernah bisa lupa.
"Orang yang serang Kak Agun waktu itu bilang di persidangan, kalau Kak Nasya mau bunuh diri setelah putus dari Kak Agun," lanjut Dara, dengan suara lirihnya. "Aku nggak tahu, kenapa pertengkaran soal jam tangan sampai segitu parahnya."
Dara memandang tembok di depan, sorot matanya sendu. Sekilas darah yang waktu itu menetes dari tubuh kakaknya, membuat Dara memejamkan mata. "Demi cinta, nyawa bisa nggak berharga," kata Dara.
"Ra." Suara lembut Dino membuat Dara menatapnya. "Kalaupun nyawa taruhannya dan cinta itu lo, gue juga akan relain nyawa gue," katanya.
Dara tersenyum simpul, ia tidak bisa lagi berpikir jernih.
"Aku nggak bisa maafin mereka, bahkan Kak Nasya." Dara menenggelamkan wajahnya di dekapan Dino. Lelaki itu sesekali mengusap surai halus Dara yang kini berantakan.
Lama sekali Dara menangis, tidak berucap, hanya suara tangisnya yang terdengar. Lalu, ketika gadis itu mulai lebih tenang, ia mengusap air mata dan melepaskan pelukan itu. "Kemarin aku ketemu mereka, No! Ambo bilang mau minta tolong," gumam Dara.
"Waktu itu juga. Ambo bilang, dia mau ketemu sama kamu," ujar Dino.
Tanpa sadar, Dara menggelengkan kepala. "Nggak mau," katanya.
"Terserah kamu," ujar Dino, kemudian mengelus pucuk kepala Dara.
Keadaan Dara kacau sekali. Mata memerah, hidungnya sampai mengeluarkan lendir. Manik Dara melebar. Tunggu sebentar! Dino mengucapkan apa? "No, kamu tadi bilang kamu?"
Ah, Dino malu sekali. Ia terbawa suasana.
🦋