NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Benteng yang Tak Tergoyahkan

Setelah keheningan yang panjang, Aruna menarik napas perlahan. Matanya beralih dari dokumen di pangkuannya menuju Pak Baskara. "Pak Baskara, bisakah Bapak meninggalkan kami berdua sebentar? Saya butuh bicara serius dengan Rian."

​Pak Baskara sempat ragu, matanya melirik Rian lalu kembali ke Aruna. Namun, melihat ketegasan di mata putri majikannya itu, ia akhirnya mengangguk. "Baik, Aruna. Saya akan berjaga tepat di depan pintu bersama tim yang lain. Jika ada apa-apa, tekan tombol daruratnya."

Pintu tertutup rapat, menyisakan Aruna dan Rian dalam ruang VIP yang mendadak terasa lebih sempit. Rian masih berdiri tegak seperti patung, namun tatapannya tak lepas dari Aruna.

"Kemarilah, Rian," panggil Aruna pelan.

Rian melangkah mendekat hingga berdiri tepat di samping tempat tidur. "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu, Aruna?"

Aruna menatap mata tajam itu. Mata yang tadi sempat melunak dan menunjukkan sisi lain yang tak pernah ia duga. "Tentang yang tadi... maaf aku menarik tanganku. Bukan karena aku tidak menghargaimu, tapi ada bagian dari diriku yang masih ketakutan. Aku belum terbiasa dengan kebaikan yang terasa begitu nyata, sementara lukaku yang dulu masih belum mengering."

"Aku mengerti," potong Rian dengan suara rendah yang menenangkan. "Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Tugas aku adalah melindungi kamu, termasuk dari rasa tidak nyaman yang mungkin saya timbulkan."

Rian menarik napas panjang, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mengatakan apa yang sedari tadi menyesakkan dadanya. "Aruna, Pak Adiwangsa tadi sempat membisikkan sesuatu di lorong. Beliau bilang... kunci terakhir Sanubari ada pada detak jantung kamu. Aku tidak peduli seberapa besar aset yang mereka perebutkan, tapi bagi aku, nyawa kamu adalah segalanya. Perasaan aku ini..."

Belum sempat Rian menyelesaikan kalimatnya, sebuah benturan keras mendorong pintu kamar.

BRAKK!

Pintu VIP yang seharusnya terkunci rapat itu terbuka paksa. Tristan berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu kasar. Urat-urat di lehernya tegang, dan matanya yang merah meradang menatap tajam ke arah mereka berdua

"Aruna! Kita belum selesai bicara!" teriak Tristan sambil melangkah lebar menuju tempat tidur. Tangannya terjulur, hendak menegang bahu Aruna yang masih terlihat sangat lemah

Namun, sebelum jemari Tristan sempat menyentuh helai kain selimut Aruna, sebuah bayangan bergerak lebih cepat dari kilat

Dalam sekejap, Rian sudah berdiri tegak di depan Aruna, menjadi tameng hidup yang tak tergoyahkan. Dengan satu tangan, Rian memegang pergelangan tangan Tristan, sementara tangan lainnya menahan dada pria itu agar tidak maju selangkah pun.

"Sudah saya katakan tadi," bisik Rian, suaranya kini terdengar seperti geraman serigala yang siap menerkam. "Jangan. Sentuh. Dia."

Tristan berusaha memberontak, matanya menatap tajam ke arah Rian. "Minggir, kamu anjing penjaga! Kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa!"

Rian tetap terdiam di posisinya. Tubuhnya yang tegap sedikit pun tidak goyah, seolah kakinya telah menyatu dengan lantai untuk memastikan tidak ada satu inci pun celah bagi Tristan untuk lewat. Genggamannya pada pergelangan tangan Tristan semakin mengencang hingga terdengar bunyi gemeletuk tulang yang membuat Tristan meringis kesakitan.

Tristan tidak menyerah begitu saja. Sambil menahan nyeri yang hebat, otaknya yang licik terus mencari celah. Begitu melihat posisi kaki Rian, ia segera melancarkan serangan balasan yang tak terduga. Dengan gerakan curang, Tristan menghentakkan kaki kanannya, menendang punggung kaki Rian dengan sekuat tenaga menggunakan tumit sepatunya yang keras.

Rian tersentak. Rasa nyeri yang panas dan tajam menjalar dari kakinya, membuat tumpuannya goyah sesaat. Celah sempit itu dimanfaatkan Tristan untuk menyentak tangannya hingga terlepas. Bukannya menyerang Rian kembali, Tristan justru melompat ke sisi tempat tidur, meraih leher Aruna yang masih terbaring lemah.

"Jangan ada yang bergerak!" Tristan berteriak, suaranya tak terdengat dan bergetar karena emosi yang tidak bisa, membuat suasana di kamar itu seketika menakutkan. Tangannya memegang bahu Aruna dengan kasar, sementara tangan lainnya memasukkan tangan ke saku jasnya, mengeluarkan sebuah benda tajam kecil. Mungkin sebuah pisau lipat dan mengarahkannya tepat ke wajah Aruna yang pucat. Aruna terdiam, napasnya tertahan melihat kilatan logam yang hanya berjarak beberapa inci dari matanya.

"Kamu pikir kamu bisa membuangku begitu saja, Aruna? Kamu dan seluruh harta Sanubari adalah milikku!" Tristan mengatur napasnya yang tak karuan. Matanya melirik gelisah ke arah pintu yang diguncang keras dari luar. Ia tahu waktunya tidak banyak, kepungan para pengawal mulai terasa di balik dinding kamar itu. "Aku akan pergi sekarang. Tapi ingat, ini belum selesai!'"

Tristan menyeret tubuh Aruna yang lemah, menggunakan gadis itu sebagai tameng untuk menahan langkah Rian. Ia terus melangkah mundur menuju balkon, memastikan mata pisau itu tetap menempel di dekat leher Aruna. Begitu sampai di samping pintu, dengan gerakan cepat ia menghempaskan tubuh Aruna kembali ke kasur, lalu melompat keluar menuju koridor darurat.

Rian segera menghambur ke sisi Aruna, memastikan gadis itu tidak terluka lebih jauh. Saat itulah Pak Baskara berhasil mendobrak pintu masuk bersama dua pengawal lainnya. Wajah Pak Baskara pucat pasi saat melihat Tristan sudah menghilang dan Aruna yang gemetar ketakutan.

​"Kenapa dia bisa lolos?!" bentak Pak Baskara pada anak buahnya, suaranya menggelegar penuh kemarahan. "Bagaimana mungkin satu orang bisa menembus penjagaan di depan dan kabur begitu saja dari sini?"

Rian berdiri, kembali mengenakan topeng profesionalnya yang dingin. Namun, rahangnya yang mengatup keras menunjukkan betapa besar hasratnya untuk segera memburu Tristan. Ia menatap ke arah balkon yang terbuka, menyadari bahwa permainan Tristan jauh lebih licik dari yang mereka duga. Ada orang dalam yang sengaja membukakan jalan bagi pria itu.

Pelarian Tristan tidak berlangsung lama. Di ujung koridor darurat yang gelap, langkahnya terhenti secara paksa. Pasukan pria berseragam hitam dengan senjata lengkap sudah menutup akses keluar. Tristan terpojok, napasnya tak karuan, matanya mencari celah yang sudah tertutup rapat.

​"Menyerahlah, Tristan. Kamu hanya memperburuk keadaanmu sendiri," suara berat itu muncul dari balik barisan pengawal.

Pak Adiwangsa melangkah maju. Meskipun usianya tak lagi muda, wibawanya sanggup membuat nyali Tristan menciut seketika. Namun, sebelum Pak Adiwangsa sempat memberikan perintah untuk menangkap Tristan, sesosok wanita dengan langkah anggun namun angkuh muncul dari arah lift.

​"Hentikan semua ini!"

Siska berdiri di sana, menatap Tristan dengan tatapan yang sulit diartikan antara benci dan keinginan untuk melindungi sisa-sisa harga diri mereka. "Tristan, cukup. Kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri di depan keluarga besar."

Tristan tertawa sinis, ia menghapus keringat di dahinya dengan tangan gemetar. "Keluarga besar? Yang mana, Siska? Mereka yang hanya menonton saat aku dijebloskan ke penjara?"

Suasana semakin panas ketika tiba-tiba, sekelompok orang lain muncul dari arah tangga darurat. Mereka mengenakan setelan mahal, dipimpin oleh seorang pria paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Pak Adiwangsa, namun dengan gurat wajah yang jauh lebih licik.

Dia adalah Hardian Adiwangsa, saudara jauh yang selama ini mengincar posisi di dewan direksi.

"Sepertinya sedang ada reuni keluarga yang cukup meriah di sini," ucap Hardian dengan nada meremehkan. Ia melangkah santai, berdiri di antara kubu Pak Adiwangsa dan Tristan yang terpojok. "Pak Tua, jangan terlalu keras pada anak muda. Tristan mungkin salah, tapi bukankah dia masih punya hak bicara soal aset Sanubari? Bagaimanapun, dia pernah menjadi bagian dari keluarga ini."

Rian, yang sejak tadi sudah berada di luar kamar untuk mengawasi situasi, bergerak maju dan berdiri tepat di samping Pak Adiwangsa. Matanya menatap tajam ke arah Hardian. Ia mencium aroma pengkhianatan yang sangat kuat. Inilah "tikus" yang sebenarnya saudara jauh yang membuka jalan bagi Tristan agar kekacauan ini terjadi.

"Siapa yang memberimu hak untuk mencampuri urusan internal kami, Hardian?" suara Pak Adiwangsa terdengar keras, dingin dan mematikan.

Hardian tersenyum tipis, matanya melirik ke arah pintu kamar Aruna. "Aku punya hak sebagai pemegang saham minoritas yang merasa investasiku terancam karena drama keluarga kalian. Dan Tristan... dia punya informasi yang kami butuhkan."

Di tengah kepungan itu, Tristan mulai merasa mendapat dukungan. Ia kembali berdiri tegak, menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar mantan suami yang terbuang, melainkan alat politik bagi musuh-musuh dalam selimut keluarga Adiwangsa.

Rian mengepalkan tangannya di balik punggung. Situasi ini bukan lagi sekadar soal fisik, tapi perang kekuasaan. Dan di dalam sana, Aruna masih sangat rapuh. Rian bersumpah, siapa pun yang berani melangkah satu senti saja menuju kamar Aruna, ia tidak akan segan untuk benar-benar "melumpuhkan" mereka selamanya.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!