NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Melihat Braja yang selalu riang itu, Ki Baraya akhirnya mengambil keputusan besar.

“Braja… kalau kau memang tak tahu siapa orang tuamu, maka mulai hari ini anggaplah aku ayah angkatmu. Kau boleh memanggilku Ayah. Kau akan punya ibu, punya kakak, punya keluarga. Apa kau mau?”

Mata Braja membesar. Bibirnya bergetar, lalu senyumnya merekah lebar seperti matahari pagi.

“M-mau… aku mau… Ayah…” ucapnya lirih, lalu semakin mantap, “Aku mau, Ayah!”

Laras yang menyaksikan itu ikut terharu. Dadanya terasa hangat. Akhirnya ayahnya benar-benar menerima Braja sebagai anak angkat.

“Bagus,” ujar Ki Baraya, tersenyum tipis. “Tapi kalau mau jadi anak Ayah, kau harus belajar silat. Aku tahu kau sudah punya dasar kemampuan. Namun dengan latihan yang benar, kekuatanmu akan terarah dan semakin meningkat.”

“Si… silat? Apa itu?” tanya Braja polos.

Ki Baraya terkekeh pelan. “Jadi kau belum tahu silat? Baiklah. Akan Ayah perlihatkan. Ayo turun. Tak perlu merayap. Ayah tahu kau sudah punya dasar ilmu peringan tubuh.”

Ki Baraya melompat turun lebih dulu. Tubuhnya melayang ringan sebelum mendarat dengan kokoh tanpa suara. Braja menyusul, gerakannya masih sedikit canggung, namun jelas ia berbakat.

“Ayah, jangan lama-lama! Masa aku sendirian di atas?” keluh Laras dari atas.

“Hanya sebentar, Nak. Setelah ini Ayah naik lagi,” jawab Ki Baraya.

Laras mengangguk.

“Perhatikan baik-baik, Braja.”

Ki Baraya lalu memperlihatkan jurus-jurus tangan kosong yang dikuasainya. Dari gerakan dasar—pukulan lurus, tangkisan, tendangan rendah—semuanya tampak sederhana namun penuh tenaga tersembunyi. Perlahan, gerakannya meningkat. Semakin cepat. Semakin tajam.

“Hup! Hiya! Heaaah!”

Kaki dan tangannya berputar di udara, lincah namun tetap tertata. Setiap langkah seperti memiliki irama. Braja terpaku, matanya berbinar. Selama ini ia hanya tahu memukul dan mencakar dengan naluri. Namun silat… ternyata indah, teratur, dan mematikan dalam keanggunannya.

Gerakan Ki Baraya makin sulit diikuti pandangan. Kadang ia tampak melayang. Kadang berkelebat seperti bayangan.

Lalu ia berhenti sejenak.

“Ini…salah satu jurus pamungkas Ayah. Aji Tapak Wesi.”

Tangan Ki Baraya perlahan menghitam, seakan dilapisi baja. Urat-uratnya menegang. lalu ia melesat cepat dan menghentakkan pukulan ke arah pohon-pohon kecil di depan mereka.

“Brak! Brak! Brak!”

Pohon-pohon itu hancur berantakan seolah dihantam ledakan dahsyat.

“Prok! Prok! Prok!”

Braja bertepuk tangan penuh kekaguman.

“Ayah… hebat sekali! Suatu hari nanti… aku juga ingin bisa sekuat Ayah!”

Ki Baraya menoleh, menatapnya dalam-dalam.

“Bukan hanya kuat, Braja. Ayah ingin kau menjadi lebih dari itu. Kuat yang melindungi. Bukan kuat yang menyakiti.”

Angin sore berhembus pelan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Braja merasa… ia benar-benar punya rumah.

Setelah mempertontonkan kemampuannya, Ki Baraya menatap Braja dengan sorot mata yang lebih lembut.

“Braja… bagaimana dengan ratumu? Apakah ia akan mengizinkan kau tinggal bersamaku?” tanya Ki Baraya tenang.

Braja menundukkan kepala. Wajahnya yang tadi cerah mendadak muram. Ada bayangan ragu di matanya. Namun tak lama kemudian ia kembali menengadah.

“Ayah… aku harus berbicara dulu dengan Ratu. Jika malam ini beliau mengizinkan, aku akan datang ke rumah,” jawabnya pelan, namun tegas.

Ki Baraya mengangguk.

“Braja. Sekarang Ayah melihatmu sebagai manusia seutuhnya. Kau harus hidup sebagai manusia. Ayah tak hanya akan mengajarimu silat, tapi juga bercocok tanam, bertani, dan cara hidup yang benar. Kau tak bisa selamanya tinggal di dalam goa bersama ratumu. Tapi Ayah tak akan memaksa. Mudah-mudahan kau diizinkan.”

“Doakan aku, Ayah…”

“Tentu.”

Braja pun berbalik, melangkah masuk ke dalam hutan. Sementara Ki Baraya hendak pulang.

Namun tiba-tiba—

“Ayaaaaahhh! Aku masih di atas pohoooon! Ayah kejaaaam!”

Ternyata Laras masih tertinggal di atas pohon.

Ki Baraya mendongak, lalu tertawa kecil sambil menggeleng.

“Hehe… Ayah lupa ada siluman kecil yang tak bisa turun sendiri dari pohon.”

“Huh! Ayah itu yang siluman! Siluman pelupa!” balas Laras kesal.

Braja yang hendak pergi pun tersenyum kecil. Ia melompat naik dengan ringan, lalu menurunkan Laras dengan hati-hati.

“Terima kasih, Braja…” bisik Laras.

Braja hanya tersenyum, lalu berlari masuk ke rimbunnya hutan.

Waktu pun berlalu.

Di dalam rumah, Ki Baraya duduk bersama keluarganya. Ia menceritakan semua kejadian di atas pohon—tentang kemampuan Braja, tentang jiwanya yang kuat, dan alasan mengapa ia ingin mengangkat anak itu menjadi putra.

Nyi Lestari, istrinya, mendesah pelan.

“Hm… kasihan juga anak itu. Sejak lahir ia tak punya orang tua. Yang membesarkannya pun seorang ratu yang tak jelas apakah manusia atau jin. Menurutku, tindakanmu sudah tepat, Kakang. Aku setuju bila Braja tinggal di sini.”

Ki Baraya tersenyum lega.

“Syukurlah kau setuju. Anak itu harus dibimbing. Bila ia dibiarkan hidup liar di hutan, hawa silumannya bisa menguasainya saat ia dewasa. Dan itu akan menjadi petaka bagi desa. Sudah menjadi kewajiban kita untuk membimbingnya.”

“Kau benar, Kakang Baraya. Tapi… apakah ratunya akan mengizinkan?” tanya Nyi Lestari lagi.

“Itu yang belum kutahu. Mudah-mudahan saja malam ini ia datang.”

Namun suasana berubah ketika Jatisangkar angkat bicara.

“Ayah… apakah Ayah sudah gila? Braja itu siluman! Kita tak akan bisa mengubahnya. Justru ia akan menjadi petaka bagi rumah ini!”

“Kakang! Jaga ucapanmu! Ayah masih waras. Dan Braja bukan siluman!” sela Laras sengit.

“Diam kau, Laras! Sejak awal kaulah yang membawa bencana itu kemari!” balas Jatisangkar tajam.

“Cukup!” suara Ki Baraya menggelegar.

Semua terdiam.

“Kenapa kalian malah bertengkar? Ini sudah menjadi keputusan Ayah. Jatisangkar, Ayah tidak sembarang menerima anak orang. Ayah sudah mengamatinya dengan baik. Memang ada hawa siluman dalam dirinya, tapi ia mampu menguasainya. Jiwa manusianya lebih kuat. Kau harus menerima keputusan ini. Bukalah hatimu. Jangan egois. Ayah tidak suka sifat keras kepalamu itu.”

“Tapi Yah—”

“Tak ada tapi. Kau harus belajar menerima kehadiran Braja.”

Jatisangkar mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Ia berdiri dengan wajah kusut, lalu beranjak menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun.

Pintu kamarnya tertutup agak keras.

Di balik pintu itu, Jatisangkar bersandar pada dinding. Dadanya naik turun menahan amarah… namun jauh di dalam hatinya, ada rasa takut yang tak ingin ia akui.

Di ruang utama, suasana menjadi sunyi.

Ki Baraya menatap lampu minyak yang bergoyang pelan tertiup angin malam.

“Semoga anak itu benar-benar datang malam ini…” gumamnya lirih.

Dan di kejauhan, dari arah hutan, terdengar suara burung malam bersahut-sahutan—seolah menandakan bahwa sesuatu sedang diputuskan di balik kegelapan.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!