NovelToon NovelToon
BENANG HAMPIR PUTUS

BENANG HAMPIR PUTUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Pengganti / CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Dinding Sempit

Hujan turun menderu, menghantam atap taksi tua yang membawa Aris dan Arini menembus kemacetan Jakarta yang menyesakkan. Taksi itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan apartemen tua yang tampak kusam di pinggiran kota. Bangunan itu adalah antitesis dari kemegahan rumah besar keluarga Aris; cat dindingnya mengelupas menunjukkan lapisan semen yang lembap, dan koridornya remang-remang dengan lampu neon yang berkedip seolah sedang sekarat. Ini adalah saksi bisu dari dunia baru yang harus mereka jalani.

​Aris turun lebih dulu ke tengah rintik hujan yang deras. Ia segera membuka pintu untuk Arini, melepas jaket satu-satunya yang ia bawa untuk melindungi kepala istrinya dari siraman air langit. Tangan lainnya menjinjing tas kecil berisi pakaian seadanya—hanya itu yang sempat mereka bawa sebelum gerbang kemewahan tertutup rapat di belakang mereka.

​"Maaf, Arini. Hanya ini yang bisa aku sewa dengan sisa uang di rekening pribadiku sebelum Ibu membekukan semuanya pagi tadi," ujar Aris saat mereka berdiri di depan pintu kayu unit nomor 4B yang tampak ringkih.

​Arini menatap pintu kusam itu, lalu beralih menatap wajah Aris yang basah oleh sisa hujan. Ia melihat harga diri suaminya yang terluka hebat, namun ia juga melihat ketegasan yang belum pernah ada sebelumnya. Arini meraih tangan Aris, meremasnya lembut untuk menyalurkan kekuatan.

​"Jangan pernah minta maaf untuk ini, Mas. Kita punya atap di atas kepala kita, dan kita punya satu sama lain. Itu sudah jauh lebih dari cukup," bisik Arini dengan tulus.

​Saat pintu terbuka, bau debu yang tertinggal lama dan udara pengap langsung menyergap indra penciuman mereka. Ruangan itu sangat sempit; hanya terdiri dari satu ruang tengah kecil yang menyatu dengan dapur yang hanya muat untuk satu orang, serta satu kamar tidur dengan kasur tipis yang sudah mulai cekung di bagian tengahnya. Tidak ada pelayan yang membungkuk sopan, tidak ada Bi Ijah yang menyiapkan air hangat, dan tidak ada sopir yang menunggu di lobi.

​Aris meletakkan tas mereka di lantai marmer yang kusam, lalu terduduk di sebuah kursi kayu tua—satu-satunya kursi di sana. Ia menangkupkan wajahnya di kedua telapak tangan, bahunya yang tegap tampak merosot. Keheningan malam itu terasa sangat berat, hanya dipecahkan oleh suara tetesan air dari atap yang bocor di sudut ruangan. Aris baru menyadari bahwa melepaskan warisan triliunan rupiah memang mudah diucapkan sebagai bentuk heroik, namun menjalaninya adalah perang mental yang menguras tenaga.

​"Aku merasa sangat gagal," gumam Aris, suaranya teredam oleh telapak tangannya sendiri. "Aku membawamu keluar dari rumah orang tuamu dengan janji akan menyelamatkan mereka, tapi sekarang aku justru membawamu ke tempat yang bahkan tidak layak untuk disebut rumah."

​Arini mendekat, ia berlutut di depan Aris, menarik perlahan tangan suaminya agar mereka bisa saling menatap. "Mas, lihat aku. Di rumah besar itu, aku merasa seperti burung di dalam sangkar emas. Aku cantik, aku berkecukupan, tapi aku tidak bisa bernapas. Di sini... mungkin udaranya sedikit berdebu dan sempit, tapi aku bisa bernapas dengan lega karena aku tahu pria yang ada di depanku adalah pria yang jujur. Kita mulai dari awal, Mas. Aku masih punya pekerjaan terjemahanku, dan kamu... kamu adalah Aris. Kamu punya otak dan kemampuan yang tidak bisa dibekukan oleh siapa pun, termasuk Ibu."

​Aris menatap istrinya dengan haru yang membuncah. Ia menarik Arini ke dalam pelukannya, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu. Untuk pertama kalinya, mereka merasakan keintiman yang bukan berasal dari gairah sesaat atau tuntutan kontrak, melainkan dari rasa saling membutuhkan yang sangat mendalam di tengah kehancuran.

​Hari-hari berikutnya adalah sebuah pelajaran pahit namun berharga tentang bertahan hidup. Aris, pria yang biasanya memerintah ratusan karyawan dengan satu jentikan jari, kini harus belajar bagaimana mencuci pakaiannya sendiri di mesin cuci tua yang berisik dan sering macet. Ia mulai melamar pekerjaan di berbagai perusahaan konsultan menengah. Banyak yang menolaknya secara halus karena nama besarnya dianggap sebagai ancaman atau bahkan sekadar lelucon bagi para pemilik perusahaan yang takut berurusan dengan pengaruh Ibu Sofia. Namun, Aris tidak menyerah; ia membuang gengsinya jauh-jauh.

​Sementara itu, Arini bekerja lembur mengejar proyek-proyek terjemahan yang tersisa. Ia duduk di meja kayu kecil setiap malam, ditemani lampu belajar yang redup yang cahayanya sesekali berkedip. Suatu malam, Aris pulang dengan wajah yang sangat pucat dan lelah, namun ia membawa sebungkus nasi goreng pinggir jalan yang baunya sangat menggugah selera.

​"Aku belum dapat pekerjaan tetap," ujar Aris sambil meletakkan bungkusan itu di atas lantai yang mereka alasi dengan koran bekas. "Tapi aku berhasil mendapatkan proyek lepas sebagai konsultan keuangan untuk sebuah firma kecil di pinggiran kota. Hasilnya tidak seberapa, tapi cukup untuk membayar sewa bulan depan tanpa harus menjual barang lagi."

​Arini tersenyum lebar, ia bangkit dan memeluk Aris erat, tidak peduli dengan bau keringat dan debu jalanan yang menempel di kemeja suaminya. "Itu awal yang luar biasa, Mas! Aku sangat bangga padamu."

​Mereka makan nasi goreng itu bersama-sama di atas lantai. Di tengah kesederhanaan yang mungkin dianggap menyedihkan oleh orang lain, mereka justru menemukan percakapan-percakapan yang jauh lebih bermakna daripada makan malam formal di restoran bintang lima. Mereka bisa tertawa tentang kegagalan Aris saat mencoba memasak telur pagi tadi yang berakhir gosong, dan mereka berdiskusi tentang impian-impian kecil yang selama ini terkubur oleh tuntutan keluarga besar.

​Namun, kedamaian itu terus-menerus terusik oleh bayang-bayang kekuasaan Ibu Sofia. Aris tahu ibunya sedang memantau mereka dari kejauhan, menunggu dengan sabar sampai mereka kelaparan, menyerah, dan kembali merangkak memohon ampunan. Di sisi lain, Clara mulai mendengar kabar tentang kejatuhan Aris. Bagi Clara, Aris yang miskin memang tidak lagi berguna, namun rasa sakit hatinya karena dicampakkan membuatnya ingin melihat Aris menderita lebih jauh.

​Suatu sore, saat Arini sedang sendirian di apartemen mencoba merampungkan bab terakhir terjemahannya, pintu diketuk dengan sangat keras. Saat ia membukanya, bukan Aris yang berdiri di sana, melainkan seorang pria berseragam resmi yang membawa sepucuk surat dengan kop resmi pengadilan.

​"Nyonya Arini? Saya diperintahkan untuk menyampaikan surat gugatan pembatalan pernikahan dari pihak Nyonya Sofia. Anda dan Tuan Aris diminta hadir di mediasi minggu depan di Pengadilan Agama Jakarta Selatan," ujar pria itu datar.

​Tangan Arini gemetar hebat saat memegang surat itu. Ibu Sofia benar-benar serius dengan ancamannya. Wanita itu ingin menghapus keberadaan Arini dari hidup Aris secara hukum, seolah-olah pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan cetak di atas kertas yang harus dihapus bersih. Arini menutup pintu dan bersandar di baliknya, tubuhnya luruh ke lantai, air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Ia takut—bukan takut hidup miskin, tapi takut jika hukum dan kekuasaan absolut Ibu Sofia akan memisahkan mereka tepat di saat cinta mereka baru saja menemukan akarnya di tengah badai.

​Saat Aris pulang malam itu dan melihat surat itu tergeletak di meja, wajahnya yang lelah seketika mengeras. Ia tidak lagi tampak sedih atau putus asa; ia tampak sangat marah. Dengan gerakan cepat, ia merobek surat itu menjadi dua bagian.

​"Dia pikir dia bisa membeli cinta dan komitmen kita dengan hukum?" geram Aris, suaranya bergetar karena amarah. "Dia salah besar. Aku akan menghadapi ini. Aku akan membuktikan di depan hakim bahwa pernikahan ini bukan lagi tentang kontrak sialan yang dia temukan di brankas itu."

​Aris memegang wajah Arini dengan kedua tangannya, menatapnya dengan api yang menyala-nyala di matanya. "Jangan takut, Arini. Kita sudah kehilangan rumah besar itu, kita sudah kehilangan uang warisan, tapi aku tidak akan membiarkan kita kehilangan satu sama lain. Aku akan bertarung untukmu, untuk kita, sampai titik darah terakhir."

​Malam itu, di apartemen sempit yang hanya diterangi lampu jalanan yang menembus jendela kaca yang kotor, mereka bersiap untuk perang yang sesungguhnya. Perang melawan tradisi, kekuasaan uang, dan seorang ibu yang belum bisa melepaskan kendali atas hidup anaknya. Mereka tahu, kemenangan mungkin masih sangat jauh dan terjal, tapi bagi mereka, memiliki satu sama lain di dalam ruang sempit itu sudah terasa seperti memiliki seluruh dunia di genggaman mereka.

​Hujan di luar sana seolah tidak berniat berhenti, suaranya menghantam atap seng bangunan apartemen tua itu dengan irama yang memekakkan telinga, namun di dalam hati Aris dan Arini, sebuah keberanian baru telah lahir. Mereka tidak lagi takut pada kemiskinan; mereka hanya takut pada perpisahan yang dipaksakan.

1
deepey
kasihan aris
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Sebaiknya jarang terlalu berharap lebih Arini, kalo tidak sesuai ekspetasi, nanti km bakal jauh lebih sakit dari sekarang.
deepey: semoga benar-benar muncul harapan buat arini
total 1 replies
Serena Khanza
najis banget ketemu model laki kek aris.. kek nya nama aris dimana mana nyebelin ya😏 yang viral itu juga namanya aris, eh disini namanya aris juga 🙄😌
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Hunk
Dalem banget bagian ini… dialognya kerasa dingin tapi justru nusuk. Aris kelihatan realistis, tapi di saat yang sama kejam tanpa sadar. Sementara Arini posisinya bikin miris—dia jatuh cinta pada versi yang bahkan mungkin nggak pernah benar-benar ada. Konflik emosinya kerasa kuat dan relate, apalagi soal pernikahan yang cuma “kesepakatan”. Penasaran banget kelanjutannya bakal sejauh apa perasaan Arini bertahan atau malah hancur.
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Miris banget nasib Arini harus hidup dibawah keputusan orang lain, bahkan untuk mendapatkan hak nya sendiri, hak untuk bahagia aja engga bisa 🙃
Fra
Kasihan sekali kamu Arini, demi membantu keluarga juga lho ini ;(
Sedih
Serena Khanza
aku suka sama ceritanya , bener2 kehidupan pernikahan yang tanpa cinta tapi disini dikemas dengan cerita yang menurutku asik gitu buat di baca nya gak berat gak yang rumit gitu.. semangat terus thor 💪🏻
Serena Khanza
sejauh ini untuk di awal bab kerasa banget sih dua manusia yang menikah tanpa cinta, yg satu ingin sedikit aja ada perhatian/setidaknya kek aku disini loh ada gitu, sedangkan yang satu kek naif, sok gak butuh, sok gak peduli atau mungkin ada sesuatu nih..
Hunk
Bagus cerita nya tentang nikah kontrak.

Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.
Hunk: iya sama sama. Senang bisa membantu🙏
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Begini lah gambaran nyata kalo menikah tanpa perasaan
deepey
arini big hug for u
deepey
semangat berkarya ya kk 💪
Kaka's: trimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!