NovelToon NovelToon
Di Balik Kontrak Pernikahan

Di Balik Kontrak Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Dinding Sempit

Hujan turun menderu, menghantam atap taksi tua yang membawa Fikar dan Kiki menembus kemacetan Jakarta yang menyesakkan. Taksi itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan apartemen tua yang tampak kusam di pinggiran kota. Bangunan itu adalah antitesis dari kemegahan rumah besar keluarga Fikar, cat dindingnya mengelupas menunjukkan lapisan semen yang lembap, dan koridornya redup dengan lampu yang berkedip seolah sedang sekarat. Ini adalah saksi bisu dari dunia baru yang harus mereka jalani.

​Fikar turun lebih dulu ke tengah rintik hujan yang deras. Ia segera membuka pintu untuk Kiki, melepas jaket satu-satunya yang ia bawa untuk melindungi kepala istrinya dari siraman air langit. Tangan lainnya menjinjing tas kecil berisi pakaian seadanya, hanya itu yang sempat mereka bawa sebelum gerbang kemewahan tertutup rapat di belakang mereka.

​"Maaf, Kiki. Hanya ini yang bisa aku sewa dengan sisa uang di rekening pribadiku sebelum Ibu membekukan semuanya pagi tadi," ujar Fikar saat mereka berdiri di depan pintu kayu unit nomor 4B yang tampak ringkih.

​Kiki menatap pintu kusam itu, lalu beralih menatap wajah Fikar yang basah oleh sisa hujan. Ia melihat harga diri suaminya yang terluka hebat, namun ia juga melihat ketegasan yang belum pernah ada sebelumnya. Kiki meraih tangan Fikar, meremasnya lembut untuk menyalurkan kekuatan.

​"Jangan pernah minta maaf untuk ini, Mas. Kita punya atap di atas kepala kita, dan kita punya satu sama lain. Itu sudah jauh lebih dari cukup," bisik Kiki dengan tulus.

​Saat pintu terbuka, bau debu yang tertinggal lama dan udara pengap baunya langsung tercium. Ruangan itu sangat sempit, hanya terdiri dari satu ruang tengah kecil yang menyatu dengan dapur yang hanya muat untuk satu orang, serta satu kamar tidur dengan kasur tipis yang sudah mulai cekung di bagian tengahnya. Tidak ada pelayan yang membungkuk sopan, tidak ada Bi Ijah yang menyiapkan air hangat, dan tidak ada sopir yang menunggu di lobi.

​Fikar meletakkan tas mereka di lantai marmer yang kusam, lalu terduduk di sebuah kursi kayu tua, satu-satunya kursi di sana. Ia menangkupkan wajahnya di kedua telapak tangan, bahunya yang tegap tampak merosot. Keheningan malam itu terasa sangat berat, hanya dipecahkan oleh suara tetesan air dari atap yang bocor di sudut ruangan. Fikar baru menyadari bahwa melepaskan warisan triliunan rupiah memang mudah diucapkan sebagai bentuk heroik, namun menjalaninya adalah perang mental yang menguras tenaga.

​"Aku merasa sangat gagal," gumam Fikar, suaranya teredam oleh telapak tangannya sendiri. "Aku membawamu keluar dari rumah orang tuamu dengan janji akan menyelamatkan mereka, tapi sekarang aku justru membawamu ke tempat yang bahkan tidak layak untuk disebut rumah."

​Kiki mendekat, ia berlutut di depan Fikar, menarik perlahan tangan suaminya agar mereka bisa saling menatap. "Mas, lihat aku. Di rumah besar itu, aku merasa seperti burung di dalam sangkar emas. Aku cantik, aku berkecukupan, tapi aku tidak bisa bernapas. Di sini... mungkin udaranya sedikit berdebu dan sempit, tapi aku bisa bernapas dengan lega karena aku tahu pria yang ada di depanku adalah pria yang jujur. Kita mulai dari awal, Mas. Aku masih punya pekerjaan terjemahanku, dan kamu... kamu adalah Fikar. Kamu punya otak dan kemampuan yang tidak bisa dibekukan oleh siapa pun, termasuk Ibu."

​Fikar menatap istrinya dengan haru yang membuncah. Ia menarik Kiki ke dalam pelukannya, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu. Untuk pertama kalinya, mereka merasakan keintiman yang bukan berasal dari gairah sesaat atau tuntutan kontrak, melainkan dari rasa saling membutuhkan yang sangat mendalam di tengah kehancuran.

​Hari-hari berikutnya adalah sebuah pelajaran pahit namun berharga tentang bertahan hidup. Fikar, pria yang biasanya memerintah ratusan karyawan dengan satu jentikan jari, kini harus belajar bagaimana mencuci pakaiannya sendiri di mesin cuci tua yang berisik dan sering macet. Ia mulai melamar pekerjaan di berbagai perusahaan konsultan menengah. Banyak yang menolaknya secara halus karena nama besarnya dianggap sebagai ancaman atau bahkan sekedar lelucon bagi para pemilik perusahaan yang takut berurusan dengan pengaruh Ibu Sofia. Namun, Fikar tidak menyerah, ia membuang gengsinya jauh-jauh.

​Sementara itu, Kiki bekerja lembur mengejar proyek-proyek terjemahan yang tersisa. Ia duduk di meja kayu kecil setiap malam, ditemani lampu belajar yang redup yang cahayanya sesekali berkedip. Suatu malam, Fikar pulang dengan wajah yang sangat pucat dan lelah, namun ia membawa sebungkus nasi goreng pinggir jalan yang baunya langsung tercium.

​"Aku belum dapat pekerjaan tetap," ujar Fikar sambil meletakkan bungkusan itu di atas lantai yang mereka alasi dengan koran bekas. "Tapi aku berhasil mendapatkan proyek lepas sebagai konsultan keuangan untuk sebuah firma kecil di pinggiran kota. Hasilnya tidak seberapa, tapi cukup untuk membayar sewa bulan depan tanpa harus menjual barang lagi."

​Kiki tersenyum, ia bangkit dan memeluk Fikar erat, tidak peduli dengan bau keringat dan debu jalanan yang menempel di kemeja suaminya. "Itu awal yang luar biasa, Mas! Aku sangat bangga padamu."

​Mereka makan nasi goreng itu bersama-sama di atas lantai. Di tengah kesederhanaan yang mungkin dianggap menyedihkan oleh orang lain, mereka justru menemukan percakapan-percakapan yang jauh lebih bermakna daripada makan malam formal di restoran bintang lima. Mereka bisa tertawa tentang kegagalan Fikar saat mencoba memasak telur pagi tadi yang berakhir gosong, dan mereka berdiskusi tentang impian-impian kecil yang selama ini terkubur oleh tuntutan keluarga besar.

​Namun, kedamaian itu terus-menerus terusik oleh bayang-bayang kekuasaan Ibu Sofia. Fikar tahu ibunya sedang memantau mereka dari kejauhan, menunggu dengan sabar sampai mereka kelaparan, menyerah, dan kembali merangkak memohon ampunan. Di sisi lain, Clara mulai mendengar kabar tentang kejatuhan Fikar. Bagi Clara, Fikar yang miskin memang tidak lagi berguna, namun rasa sakit hatinya karena dicampakkan membuatnya ingin melihat Fikar menderita lebih jauh.

​Suatu sore, saat Kiki sedang sendirian di apartemen mencoba merampungkan bab terakhir terjemahannya, pintu diketuk dengan sangat keras. Saat ia membukanya, bukan Fikar yang berdiri di sana, melainkan seorang pria berseragam resmi yang membawa sepucuk surat dengan kop resmi pengadilan.

​"Nyonya Kiki? Saya diperintahkan untuk menyampaikan surat gugatan pembatalan pernikahan dari pihak Nyonya Sofia. Anda dan Tuan Fikar diminta hadir di mediasi minggu depan di Pengadilan Agama Jakarta Selatan," ujar pria itu datar.

​Tangan Kiki gemetar hebat saat memegang surat itu. Ibu Sofia benar-benar serius dengan ancamannya. Wanita itu ingin menghapus keberadaan Kiki dari hidup Fikar secara hukum, seolah-olah pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan cetak di atas kertas yang harus dihapus bersih. Kiki menutup pintu dan bersandar di baliknya, tubuhnya luruh ke lantai, air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Ia takut, bukan takut hidup miskin, tapi takut jika hukum dan kekuasaan absolut Ibu Sofia akan memisahkan mereka tepat di saat cinta mereka baru saja menemukan akarnya di tengah badai.

​Saat Fikar pulang malam itu dan melihat surat itu tergeletak di meja, wajahnya yang lelah seketika mengeras. Ia tidak lagi tampak sedih atau putus asa, ia tampak sangat marah. Dengan gerakan cepat, ia merobek surat itu menjadi dua bagian.

​"Dia pikir dia bisa membeli cinta dan komitmen kita dengan hukum?" geram Fikar, suaranya bergetar karena amarah. "Dia salah besar. Aku akan menghadapi ini. Aku akan membuktikan di depan hakim bahwa pernikahan ini bukan lagi tentang kontrak sialan yang dia temukan di brankas itu."

​Fikar memegang wajah Kiki dengan kedua tangannya, menatapnya dengan api yang menyala-nyala di matanya. "Jangan takut, Kiki. Kita sudah kehilangan rumah besar itu, kita sudah kehilangan uang warisan, tapi aku tidak akan membiarkan kita kehilangan satu sama lain. Aku akan bertarung untukmu, untuk kita, sampai titik darah terakhir."

​Malam itu, di apartemen sempit yang hanya diterangi lampu jalanan yang menembus jendela kaca yang kotor, mereka bersiap untuk perang yang sesungguhnya. Perang melawan tradisi, kekuasaan uang, dan seorang ibu yang belum bisa melepaskan kendali atas hidup anaknya. Mereka tahu, kemenangan mungkin masih sangat jauh dan terjal, tapi bagi mereka, memiliki satu sama lain di dalam ruang sempit itu sudah terasa seperti memiliki seluruh dunia di genggaman mereka.

​Hujan di luar sana seolah tidak berniat berhenti, suaranya menghantam atap seng bangunan apartemen tua itu dengan beraturan yang memekakkan telinga, namun di dalam hati Fikar dan Kiki, sebuah keberanian baru telah lahir. Mereka tidak lagi takut pada kemiskinan, mereka hanya takut pada perpisahan yang dipaksakan.

1
SHLDC’s Company
kalau pernikahan sama kiki sdh 2 th,harusnya anak clara sdh lahir ya.
aku kok bingung bacanya...
Murni Dewita
👣
Hunk
Apakah ini yang di sebut Cinta karena terbiasa. Atau Aris hanya khawatir jika Arini terluka sandiwara nya bakal terbongkar atau ibu nya akan khawatir.💪🙏
Val07
sok2an kai aris, ntar kmu yg ga bsa lepas dr arini.😡
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
Serena Khanza
udahlah arini mending abaikan aris aja gak usah berharap banyak sama dia. ego nya aris lebih besar tertutup ego yang segede gunung salju😌
Panda
kak kok kayanya aku pernah baca yaaaaa
Kaka's: baca di mana hayoo... 🤭🤭🤭
total 1 replies
deepey
kasihan aris
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Sebaiknya jarang terlalu berharap lebih Arini, kalo tidak sesuai ekspetasi, nanti km bakal jauh lebih sakit dari sekarang.
deepey: semoga benar-benar muncul harapan buat arini
total 1 replies
Serena Khanza
najis banget ketemu model laki kek aris.. kek nya nama aris dimana mana nyebelin ya😏 yang viral itu juga namanya aris, eh disini namanya aris juga 🙄😌
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Hunk
Dalem banget bagian ini… dialognya kerasa dingin tapi justru nusuk. Aris kelihatan realistis, tapi di saat yang sama kejam tanpa sadar. Sementara Arini posisinya bikin miris—dia jatuh cinta pada versi yang bahkan mungkin nggak pernah benar-benar ada. Konflik emosinya kerasa kuat dan relate, apalagi soal pernikahan yang cuma “kesepakatan”. Penasaran banget kelanjutannya bakal sejauh apa perasaan Arini bertahan atau malah hancur.
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Miris banget nasib Arini harus hidup dibawah keputusan orang lain, bahkan untuk mendapatkan hak nya sendiri, hak untuk bahagia aja engga bisa 🙃
Fra
Kasihan sekali kamu Arini, demi membantu keluarga juga lho ini ;(
Sedih
Serena Khanza
aku suka sama ceritanya , bener2 kehidupan pernikahan yang tanpa cinta tapi disini dikemas dengan cerita yang menurutku asik gitu buat di baca nya gak berat gak yang rumit gitu.. semangat terus thor 💪🏻
Serena Khanza
sejauh ini untuk di awal bab kerasa banget sih dua manusia yang menikah tanpa cinta, yg satu ingin sedikit aja ada perhatian/setidaknya kek aku disini loh ada gitu, sedangkan yang satu kek naif, sok gak butuh, sok gak peduli atau mungkin ada sesuatu nih..
Hunk
Bagus cerita nya tentang nikah kontrak.

Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.
Hunk: iya sama sama. Senang bisa membantu🙏
total 2 replies
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Begini lah gambaran nyata kalo menikah tanpa perasaan
deepey
arini big hug for u
deepey
semangat berkarya ya kk 💪
Kaka's: trimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!