Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04 : Tebing jurang
Ainur memicingkan mata, dia seperti melihat tangan kecil berjari-jari mungil terulur keluar memukul bagian bawah jendela.
Seperti ada sesuatu tak kasat mata berdiri di bagian depan kabin, menarik kaki memakai sandal platform berbahan kayu, atasnya ditutup kain beludru, jika berjalan berbunyi khas.
Sebelah kaki Ainur sudah menjejak ke tanah. Namun tangannya dicekal mba Neng, wanita berwajah tenang itu menggeleng tegas.
Pak kusir ikut mencegah, mengatakan sesuatu tanpa menoleh ke belakang, dikarenakan sedang menjaga Kuda agar tidak melakukan hal fatal, sebab mereka berada di jalan sedikit berbahaya. “Jangan nyonya! Pinggiran jalan ini bila diguyur hujan lebat sering terjadi longsor. Takutnya, tanahnya tidak lagi padat, sewaktu-waktu bisa luruh.”
Pikiran Inur bercabang, matanya tetap memandang pada gerakan kecil nyaris tidak tampak di ketinggian sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
Mba Neng, menekan lagi cekalannya, mengembalikan fokus sang nyonya muda.
Meskipun enggan, Ainur naik ke atas kereta, saat bersamaan – apa yang dia lihat tadi sudah lenyap, pun tidak ada jendela kayu.
“Mba Neng, ikuti arah jari telunjukku! Apa mbak ada lihat sesuatu?”
Sang pelayan mengikuti instruksi, dia tidak ada melihat apapun selain pepohonan rindang.
Ainur merasa kecewa mendapati gelengan kepala, lalu memerintahkan pak kusir menjalankan Kuda.
‘Aku nggak mungkin salah lihat? Tadi itu ada dua daun jendela terbuka, lalu dua atau tiga tangan kecil mirip lengan bayi memukul-mukul,’ netranya masih memperhatikan meskipun Kuda sudah melaju meninggalkan tepian jurang.
Kurang lebih setengah jam kemudian, kereta Kuda memasuki halaman asri, luas yang kanan kirinya dipenuhi tanaman bunga, ada juga bibit sayur mayur.
Tempat pembibitan ini tidak memiliki nama, namun sudah terkenal hingga desa-desa tetangga hingga wilayah kabupaten. Pemiliknya hampir tak pernah menunjukkan wajah, cuma tujuh orang pekerjanya yang melayani pembeli, berurusan dengan pelanggan.
Di bagian paling belakang, terlindungi pohon pinus, dikelilingi kolam ikan air tawar – berdiri bangunan kokoh rumah panggung terlihat angkuh. Di sanalah tempat tinggal pemilik usaha yang katanya warga desa bernama – Dwipangga.
Ainur turun dengan dibantu mba Neng. Mereka berjalan ke tempat khusus pohon bunga mawar, mencari yang warna kuning, kesukaan bu Mamik.
“Mbak, kamu saja yang pilih ya, aku mau lihat-lihat kolam ikan,” beritahunya, dia kurang suka bercocok tanam.
Mba Neng mengangguk, kakinya melangkah di antara polybag tanaman sudah berbunga, dan banyak pula masih kuncup.
Ainur berjalan tanpa benar-benar berkeinginan melihat kolam ikan. Beberapa pekerja pria menyapa sopan, mengangguk kepala mereka. Sekali lihat saja sudah paham jika pelanggan kali ini dari kalangan atas.
Sapaan ramah itu dibalas sopan, Ainur terus berjalan sampai dia melepaskan sandal karena terganggu oleh suaranya.
Maniknya tertarik oleh tirai melambai-lambai terbuat dari cangkang kerang. Hal yang sulit ditemukan karena wilayah ini jauh dari laut. Ainur mendekati bangunan seperti paviliun berada di belakang rumah panggung.
Semakin dekat dia dengan teras samping paviliun, telinganya dimanjakan oleh bunyi gesekan kerang di jalin benang pancing.
Perasaan Ainur tidak takut, lebih ke tenang dan seperti ada kekuatan magis yang tetap mendorongnya maju. Mengesampingkan adab, hingga hilang sopan santun.
‘Aroma ini?’ Hidungnya menyempit, mencium bau seperti kayu lapuk bercampur rumput segar. Tubuhnya menegang, samar-samar teringat akan wewangian alami tapi sangat kuat di indera penciumannya.
Sekelebat bayangan hitam merengkuh tubuhnya sebelum dia tiba-tiba terbangun dari mimpi menyeramkan sekaligus mendebarkan. ‘Ini wangi yang sama.’
Ainur berbalik, bertepatan dengan itu matanya bersitatap dengan manik baru pernah dilihatnya seumur hidup. Seolah waktu terhenti, ia terhipnotis oleh iris kuning terang. Berdiri berjarak dua langkah dari posisinya.
"Den Dwipangga," panggil sebuah suara pria dibelakang sosok tegap berkulit coklat gelap, rambut ikal sebahu, rahang tegas di hiasi jambang tipis. Sepasang alisnya tebal, dan dia memiliki warna mata langka dengan kelopak menjorok kedalam.
"Hem. Ya?"
Suaranya rendah, berat dan dalam. Jenis suara bas.
Ainur masih terpaku bahkan tidak berkedip. Dia bukan terpesona oleh ketampanan nyaris tak masuk akal ini, melainkan terkejut kala mencium aroma yang baru tadi pagi melekat dalam ingatannya hingga kini.
"Ibu memanggil Aden, katanya ada perlu."
"Keluar dari sini!" usirnya tanpa basa-basi.
"Eh ... maaf." Dia mengangguk dalam, baru menyadari sudah lancang masuk ke wilayah pribadi seseorang.
Ainur membungkuk, menunduk dan mundur baru berbalik. Perasaannya campur aduk, rasa terkejut masih mendominasi sampai tidak memperhatikan arah kakinya.
"Mungkin benar yang dikatakan mas Aryo, dan lainnya. Aku mengalami delusi, bisa jadi lama kelamaan ndak waras," gumamnya pelan sarat kesedihan.
"Tunggu!" Dia berhenti, memandang sekeliling, lalu terpaku pada jalanan berbukit di atas tempat pembibitan. "Bukankah pepohonan ini sama seperti yang aku lihat di jurang tadi?"
Ainur mengamati daun pinus, kulit batangnya kasar. Ia mendongak seolah tengah mengukur seberapa tinggi pohon ini.
Kala merasa belum puas, Ainur mendekati salah satu pohon. Meneliti diameternya. "Besarnya pun sama, bisa jadi masih satu wilayah dengan jurang tadi."
Biasanya, dalam suatu tempat. Apalagi pas dulu pembukaan lahan – pemiliknya akan menanam pohon jenis tertentu sekaligus banyak, sehingga besarnya pun merata. Biar bisa dipanen bersamaan, sekali waktu.
Ainur membandingkan dengan pepohonan yang dia lihat pada tepian jurang, sama-sama pinus. Besarnya pun tak jauh berbeda. 'Apa mungkin jurang tadi masih kepunyaannya pemilik pembibitan ini?'
Sebuah tepukan pada pundak membuat tubuh Ainur nyaris terlonjak. Dia berbalik. "Mbak, bisa ndak kalau datang itu jangan tiba-tiba, kasih aba-aba dulu?"
Mba Neng tengah menenteng sepasang sandal Ainur. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk bibir, mengatakan kalau dia bisu.
Ainur merasa bersalah, dan meminta maaf. Mengambil alas kakinya lalu memakainya. Mereka berjalan ke kereta Kuda, bersiap pulang dengan membawa tujuh polybag tanaman bunga mawar.
'Nanti tak tanya mas Aryo, hutan belantara ini milik siapa?' ia bertekad mencari tahu, rasa penasarannya kembali utuh bahkan lebih tinggi dari yang lalu terkubur dalam sanubari.
***
Malam hari dikediaman Tukiran.
Kursi meja makan diduduki formasi keluarga lengkap. Pada bagian tengah, ada pak Tukiran, suaminya bu Mamik, berumur lima puluh dua tahun.
Citranti dan suaminya pun ikut makan malam di sini, mereka terlihat mesra berbagi lauk dan sayur.
Diam-diam Ainur memperhatikan, sesuatu yang sebelumnya enggan dia lakukan dikarenakan tidak sopan.
Namun sekarang semuanya seperti berbeda, walaupun dia tidak tahu dimana letak perbedaan itu.
"Sayang, kenapa ndak makan? Menunya tidak enak, ya?" Daryo mengelus lembut rambut panjang sang istri yang digerai.
"Enak. Cuma nggak nafsu, perutku sedikit sakit, mungkin efek mau datang bulan."
"Daryo, lapisi tilam tempat tidur kalian dengan handuk putih, lalu alas kasur! Sebagai seorang suami, kewajiban kamu membersihkan darah kotor istrimu!" titah pak Tukiran.
'Apa benar, kalau mencuci kain penuh bercak darah menstruasi tugas laki-laki berstatus suami ...?'
.
.
Bersambung.
ainur gak di bawa jalan jalan ke desanya dwipa lagi ya kak,,,biar dia lihat aktivitas warga di sana juga
menghanguskan mu si paling pintar.