NovelToon NovelToon
MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYESALAN ADNAN.

Rumah Sakit Jakarta menjadi saksi bisu berakhirnya penderitaan Adnan dengan gips beratnya. Namun, dasar Adnan yang memiliki jiwa bisnis tinggi, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan perhatian lebih dari istri kecilnya. Begitu gips dibuka, Adnan sengaja memasang wajah lemas dan berpura-pura kakinya masih kaku tidak bisa digerakkan.

"Nayla, sepertinya prosedurnya gagal. Saya masih tidak bisa merasakan kaki saya," keluh Adnan dengan nada dramatis saat mereka sampai di rumah.

Nayla yang merasa bersalah karena kejadian di dermaga kemarin langsung panik. Ia memapah Adnan dengan penuh perasaan. Dion yang bermaksud ingin membantu mengangkat Adnan ke sofa langsung mendapatkan tatapan maut dan isyarat tangan dari Adnan untuk segera pulang. Dion yang paham hanya bisa menghela napas dan berpamitan.

"ByBy, pelan-pelan ya. Duh, apa dokter tadi salah potong saraf ya?" tanya Nayla cemas.

"Mungkin. Tapi kalau kamu yang urus, mungkin akan lebih cepat sembuh. Nayla, malam ini tidurlah di kamar saya, supaya kalau saya perlu ke kamar mandi ada yang bantu," ucap Adnan melancarkan aksinya.

Nayla mengerutkan kening, ia teringat aturan ketat di awal pernikahan mereka. "Bukankah ByBy sendiri yang melarang saya masuk ke kamar Byby? Katanya kamar itu area terlarang seperti wilayah nuklir bagi saya?"

Adnan berdehem, mencari pembenaran. "Itu dulu sebelum kamu menyelamatkan nyawa saya di tengah laut. Aturan itu sudah saya bakar di pantai kemarin."

Nayla hendak memprotes lagi, namun tiba-tiba Adiva datang merengek dan menarik ujung gamis Nayla. "Myma... bobo... Diva, udah ngantuk."

Nayla langsung merasa lega luar biasa. "Nah! Anak Byby mau tidur sama saya! Jadi saya tidur di kamar Adiva saja ya By! Byby kan sudah besar, kalau butuh apa-apa teriak saja pakai toa!"

Tanpa menunggu jawaban Adnan, Nayla segera menggendong Adiva dan masuk ke kamar gadis kecil itu. Ia langsung mengunci pintu rapat-rapat. Nayla merasa gerah dan ingin tidur dengan nyaman. Ia melepas hijabnya, membiarkan rambut hitamnya yang tebal dan panjang terurai indah, lalu mengganti bajunya dengan daster pendek tanpa lengan agar lebih leluasa.

Ditengah malam, Adnan yang ternyata memiliki kunci cadangan diam-diam membuka pintu kamar Adiva. Ia masuk dengan langkah perlahan, kakinya yang katanya "mati rasa" ternyata bisa melangkah dengan sangat tegap. Saat ia sampai di samping tempat tidur, Adnan terpaku.

Di bawah remang lampu tidur, ia melihat sosok Nayla yang sangat berbeda. Selama berbulan-bulan menikah, Nayla selalu menutup rapat tubuh dan rambutnya di depan Adnan karena merasa belum sepenuhnya diterima. Namun malam ini, Adnan melihat kecantikan asli istrinya. Rambut hitam tebal yang jatuh di bantal, lengan yang putih bersih, serta leher yang jenjang.

Adnan merasa sangat menyesal karena pernah membangun dinding pemisah yang begitu tinggi di antara mereka. Dengan gerakan lembut agar tidak membangunkan Adiva, ia menggendong tubuh mungil Nayla yang sedang kelelahan itu dan membawanya ke kamar utama. Nayla yang memang sangat letih setelah bertarung di laut tidak bangun sedikit pun.

Adnan membaringkan Nayla di tempat tidurnya yang luas, lalu ia ikut berbaring di sampingnya. Ia menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya, menghirup aroma rambut istrinya yang menenangkan sampai akhirnya mereka berdua terlelap.

Keesokan paginya

"ALLAHU AKBAR! MALING!"

Teriakan Nayla meledak tepat saat adzan subuh berkumandang. Ia tersentak bangun dan mendapati dirinya berada dalam dekapan lengan kekar Adnan. Nayla segera menarik selimut tebal untuk menutupi kepala dan seluruh tubuhnya sampai menyerupai kepompong.

"Kenapa Byby ada di kamar Adiva?! Dan kenapa Byby peluk-peluk saya?!" protes Nayla dari balik selimut.

Adnan mengucek matanya dengan santai. "Coba kamu lihat sekelilingmu, Nayla. Ini kamar siapa?"

Nayla melirik sedikit dari celah selimut. Matanya membelalak melihat interior kamar yang serba putih dan abu-abu. "Loh? Kok saya bisa di sini? Kok Byby bisa pindahin saya? Katanya kaki Byby mati rasa?!"

"Kamu mungkin tidur sambil berjalan, Nayla. Saya juga kaget tiba-tiba ada istri kecil saya naik ke kasur ini," bohong Adnan dengan wajah paling jujur sedunia.

Nayla mencoba menggaruk kepalanya yang gatal karena bingung, tapi tangannya terhalang selimut. "Nggak mungkin! Saya nggak pernah tidur sambil jalan kecuali kalau mencium bau sate padang lewat!"

"Sudahlah, jangan ditutupi terus. Saya sudah lihat semuanya semalam. Rambutmu sangat indah, Nay," ucap Adnan lembut.

"Nggak boleh! Kan Byby sendiri yang bilang jangan berharap lebih! Byby sendiri yang kasih batas!" Nayla tetap bertahan di balik selimut.

Adnan menghela napas, ia mendekati Nayla dan menarik selimut itu perlahan. Nayla mencoba menahan, namun tenaga Adnan jauh lebih kuat. Begitu selimut terbuka, rambut acak-acakan Nayla terlihat. Adnan tersenyum tulus, ia mengusap pipi Nayla lalu mengecup dahi istrinya dengan lembut.

"Nay, maafkan saya untuk yang dulu. Sekarang, saya ingin serius dengan pernikahan ini, Jadi berikan saya kesempatan ya," bisik Adnan.

Jantung Nayla serasa mau meledak. Ia segera melompat turun dari tempat tidur dan lari tunggang langgang kembali ke kamarnya tanpa menoleh lagi. Adnan yang melihat itu hanya bisa tersenyum puas.

Pagi harinya, suasana di meja makan terasa sangat canggung. Nayla tidak berani menatap mata Adnan. Ia hanya mengambil sepotong roti, mengunyahnya dengan cepat, lalu menyambar kunci motor sportnya.

"Saya pergi dulu ya! Mau ujian masuk kuliah! Assalamualaikum!" teriak Nayla sambil berlari keluar.

"Nayla! Biar saya antar!" teriak Adnan, namun suara deru mesin motor Nayla sudah lebih dulu menghilang di kejauhan.

Adnan menghela napas kecewa. Adiva yang sedang makan sereal tiba-tiba menatap ayahnya dengan tatapan menghakimi. "Makanya Papa... jangan jutek sama Myma. Papa marah terus, Myma nggak suka."

Adnan melongo. "Masa Myma nggak suka sama Papa? Terus Myma sukanya sama siapa?"

"Myma sukanya sama Om Dion! Om Dion baik, suka kasih cokelat," celetuk Adiva polos.

Seketika Adnan melirik Dion yang baru saja masuk untuk memberikan laporan harian. Tatapan Adnan begitu menyeramkan sampai Dion merasa bulu kuduknya berdiri.

"Pak... ada apa ya? Kenapa menatap saya seperti mau memotong gaji?" tanya Dion gemetar.

"Dion, kalau saya lihat kamu dekat-dekat dengan Nayla lagi, saya akan kirim kamu ke kantor cabang di Afrika untuk mengurus singa," ancam Adnan serius.

Dion langsung menangkupkan tangan pada Adiva. "Diva sayang, tolong jangan fitnah Om. Om cuma mau kerja dengan tenang, nggak mau jadi pawang singa!"

Sementara itu di ruang ujian, Nayla benar-benar tidak fokus. Bayangan Adnan saat mengecup dahinya terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia memegang dahinya berkali-kali sambil senyum-senyum sendiri, lalu tiba-tiba menggeleng kuat.

"Hus! Hus! Pergi kau lalat pengganggu! Jangan ganggu konsentrasi saya!" gumam Nayla sambil mengibaskan tangannya di udara untuk mengusir bayangan Adnan.

Tiba-tiba, seorang pengawas ujian yang sudah berdiri di samping meja Nayla sejak tadi berdehem sangat keras. "Peserta nomor 112, apa yang sedang Anda lakukan? Anda mengusir saya?"

Nayla tersentak kaget. Ia melihat pengawas itu sudah melotot marah. "Eh, bukan Pak! Tadi ada... anu... ada nyamuk gede banget lewat di depan mata saya!"

"Anda tidak sopan! Keluar dari ruangan ini sekarang! Anda saya nyatakan tidak boleh mengikuti ujian!" bentak sang pengawas.

Nayla langsung lemas. Ia bangkit dan memohon dengan wajah paling memelas. "Pak, tolong Pak! Saya tadi bukan usir Bapak, saya lagi usir bayangan suami saya yang mukanya kayak Es Balok itu! Saya mohon, kalau saya nggak lulus, saya bakal disuruh jadi pembantu di rumah sendiri!"

Melihat Nayla yang hampir menangis dan menceritakan suaminya yang "Es Balok", sang pengawas akhirnya luluh dan merasa kasihan. "Ya sudah, sekali lagi kamu berisik, saya benar-benar akan keluarkan kamu."

Nayla kembali mengerjakan soal dengan emosi yang meledak-ledak di dalam hati. Ini semua gara-gara ByBy! Kenapa sih dia mendadak jadi manis begitu? Dasar Es Balok mencair! Bikin ujian saya jadi nano-nano begini!

Apakah Nayla akan berhasil lulus ujian di tengah gangguan jantungnya yang terus berdegup kencang karena Adnan?

---

So terus dukung Author ya, jangan lupa berikan Bintang 🌟 Like 👍🏻 Vote ♥️ nya oke.. biar Author semakin gencar updatenya 😉

1
Reni Setia
makasih author untuk novelnya yab
Umi Maryam
minta di komen aku komen ga di snggap.
Umi Maryam
kenapa sih komen aku ga pernah masuk iih sebel deh..
Umi Maryam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Umi Maryam
aku duka nih kalau cewe nya badas plus cerdas ga menye2 yg bisa nya mewek di pojokan ,cuus aah thor semangat.
Yanti Parera
puas bangeet aq baca nya semangat trs ya thor untk krya2 selnjut nys👍
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒂𝒈𝒖𝒔 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 👍👍👍👏👏👏😘😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒉𝒂𝒑𝒑𝒚 𝒆𝒏𝒅𝒊𝒏𝒈😘😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑨𝒍𝒉𝒂𝒎𝒅𝒖𝒍𝒊𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒉𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒅𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂 😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒎 𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒍𝒊𝒂𝒕 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒔𝒌𝒓𝒏𝒈 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒘𝒂𝒍𝒂𝒖𝒑𝒖𝒏 𝒓𝒂𝒈𝒂 𝒅𝒊𝒂 𝒔𝒅𝒉 𝒕𝒅𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒍𝒈 😭😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒘𝒆𝒆𝒕𝒏𝒚𝒂 😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒌𝒓𝒏𝒈 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒉𝒓𝒔 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒋𝒂𝒈𝒂 𝒂𝒎𝒂𝒏𝒂𝒉 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒎 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒋𝒂𝒈𝒂 𝒑𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒂𝒔𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒏𝒚𝒂 💪💪
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒕𝒆𝒓𝒉𝒂𝒓𝒖 😭😭😭
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒕𝒆𝒓𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒉𝒂𝒎𝒊𝒍 𝒍𝒈 𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒈𝒂𝒌 𝒅𝒊 𝒌𝒃 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉𝒂𝒏 𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒓 𝒎𝒔𝒉 𝒌𝒆𝒄𝒊𝒍 𝒉𝒓𝒔 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒅𝒊𝒌 𝒚𝒈 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒋𝒂𝒓𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒈𝒂𝒌 𝒋𝒂𝒖𝒉 𝒖𝒎𝒖𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒓 𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒓
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒑𝒆𝒓𝒄𝒖𝒎𝒂 𝒏𝒚𝒆𝒔𝒆𝒍 𝒋𝒈 𝒌𝒂𝒓𝒏𝒂 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒎 𝒈𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝒍𝒈 😏😏 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒆𝒔𝒂𝒍𝒂𝒏 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒆𝒓𝒕𝒂𝒏𝒂𝒎 𝒅𝒊 𝒉𝒂𝒕𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒅𝒊𝒂 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 😔😏 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒆𝒈𝒐𝒊𝒔
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉𝒂𝒏 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒎 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒏𝒊𝒌𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 𝒄𝒖𝒎𝒂 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒎𝒖 𝒃𝒓𝒑 𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒂𝒋𝒂 𝒕𝒓𝒖𝒔 𝒚𝒈 𝒍𝒃𝒉 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉𝒂𝒏 𝒍𝒈 𝒅𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒂𝒋𝒂𝒍 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒆𝒎𝒑𝒖𝒕 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒎 𝒃𝒂𝒓𝒖 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒎𝒖 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒃𝒂𝒃𝒚 𝒕𝒘𝒊𝒏𝒔 𝒏𝒚𝒂 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 😭😭 𝒌𝒐𝒌 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒈𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒋𝒆𝒏𝒈𝒖𝒌 𝒂𝒚𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒌𝒓𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒎 𝒃𝒂𝒓𝒖 𝒔𝒆𝒅𝒊𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒏𝒚𝒆𝒔𝒆𝒍 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 😏😏 𝒊𝒕𝒖 𝒋𝒈 𝒔𝒊 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 𝒑𝒐𝒔𝒆𝒔𝒊𝒇𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒏𝒈𝒆𝒕𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊 𝒈𝒂𝒌 𝒃𝒐𝒍𝒆𝒉𝒊𝒏 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒎𝒖 𝒂𝒚𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒑𝒅𝒉𝒍 𝒅𝒂𝒉 𝒕𝒉 𝒌𝒍 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑵𝒂𝒚𝒍𝒂 𝒈𝒂𝒌 𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉 😔😏 𝒋𝒖𝒋𝒖𝒓 𝒅𝒊 𝒑𝒂𝒓𝒕 𝒊𝒏𝒊 𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒏𝒚𝒆𝒔𝒆𝒌 𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒅𝒊𝒉 𝒍𝒊𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒚𝒈 𝒔𝒖𝒔𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒎𝒖 𝒂𝒏𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒑𝒅𝒉𝒍 𝒅𝒊𝒂 𝒌𝒂𝒚𝒂 𝒓𝒂𝒚𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒔 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒎𝒖 𝒂𝒏𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒃𝒏𝒕𝒓 𝒌𝒂𝒓𝒏𝒂 𝒔𝒅𝒉 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒑𝒖𝒍𝒂𝒏𝒈 😭😭
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒑𝒓𝒆𝒎𝒂𝒏 𝒃𝒖𝒏𝒈𝒂 𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒏𝒈𝒂𝒌𝒂𝒌 😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒆𝒕𝒆𝒓𝒍𝒂𝒍𝒖𝒂𝒏 𝒔𝒊 𝑨𝒅𝒏𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝑨𝒅𝒊𝒗𝒂 𝒈𝒂𝒌 𝒃𝒍𝒉 𝒍𝒊𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒊𝒏 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒂𝒅𝒊𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒍 𝒈𝒊𝒕𝒖 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝑨𝒅𝒊𝒗𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒃𝒆𝒏𝒄𝒊 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒂𝒅𝒊𝒌"𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒅𝒊𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒔𝒊𝒔𝒊𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑯𝒂𝒔𝒚𝒊𝒎 😏😠😠
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑱𝒂𝒃𝒓𝒊𝒌 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒘𝒂𝒏"𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒏𝒈𝒂𝒌𝒂𝒌 𝒂𝒋𝒂 😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝒄𝒆𝒑𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒉𝒂𝒕 𝒍𝒈 𝒚𝒂 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 😉😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!