Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Suasana di ruang kerja Awan berubah menjadi pusat komando. Peta digital Zurich dan skema gedung perkantoran milik Paman Wijaya terpampang di layar besar. Rencananya sederhana namun berisiko tinggi: Jasmine akan bertindak sebagai "umpan" yang pura-pura lelah dengan sikap posesif Awan dan ingin bernegosiasi dengan Paman Wijaya demi masa depan Shaka.
"Gue nggak suka ini," gerutu Awan sambil memasangkan sebuah pelacak GPS sekecil kancing di balik kerah jaket Jasmine. Tangannya gemetar hebat. "Gue bener-bener nggak suka liat lo masuk ke kandang serigala itu sendirian."
Jasmine memegang tangan Awan, mencoba menenangkan. "Hanya tiga puluh menit, Wan. Begitu dia mengeluarkan dokumen palsu itu dan mengaku di depan kamera tersembunyi ini, kamu dan Andre masuk. Kita butuh bukti pengakuan dia."
Awan menangkup wajah Jasmine, menatapnya dengan intensitas yang meluap. "Kalau dalam sepuluh menit gue nggak denger suara lo dari earpiece ini, gue bakal ratain tempat itu. Masa bodoh sama rencana, masa bodoh sama hukum."
Tempat pertemuan yang diminta Paman Wijaya bukan di kantor mewah, melainkan di sebuah gudang distribusi tua di pinggiran kota yang sudah tidak terpakai. Alasannya agar "rahasia keluarga" tidak bocor.
Jasmine turun dari mobil taksi—yang sebenarnya dikemudikan oleh orang kepercayaan Awan—dan melangkah masuk ke dalam gudang yang remang-remang. Bau debu dan besi berkarat menusuk hidung. Di ujung ruangan, Paman Wijaya duduk di kursi kebesarannya, dikelilingi oleh tiga orang pria berbadan tegap dengan tatapan dingin.
"Akhirnya kamu sadar juga, Jasmine," ucap Paman Wijaya dengan senyum kemenangannya. "Awan itu berbahaya. Dia menikahi kamu hanya untuk harta Hero. Berikan tanda tanganmu di berkas perwalian ini, dan aku akan pastikan kamu dan Shaka hidup mewah di Paris."
Jasmine berpura-pura ragu, matanya melirik ke arah kamera kancingnya. "Bagaimana aku bisa percaya Paman? Paman bahkan mencoba membawa polisi untuk mengambil Shaka."
"Itu hanya gertakan agar Awan panik!" Paman Wijaya tertawa, suaranya menggema jahat. "Dengar, Hero itu bodoh. Dia menyimpan aset sebesar itu di Swiss tanpa pengamanan ketat. Aku hanya butuh namamu untuk mencairkannya. Setelah itu, Awan akan aku singkirkan. Selamanya."
Di dalam mobil van yang terparkir dua blok dari sana, Awan meremas alat komunikasinya hingga berderit. "Dia baru saja bilang mau nyingkirin gue... bajingan," desis Awan.
"Tahan, Wan. Sedikit lagi," bisik Andre yang memantau layar.
Namun, Paman Wijaya ternyata tidak sebodoh yang mereka kira. Salah satu pengawalnya mendekati Jasmine dengan alat pendeteksi sinyal.
Tiiiit! Tiiiit!
Wajah Paman Wijaya langsung berubah gelap. "Kamera? GPS? Jadi ini jebakan, Jasmine?"
"Paman, aku—"
PLAK!
Paman Wijaya menampar Jasmine hingga tersungkur. "Kurang ajar! Kalian pikir aku tidak tahu Awan sedang memantau?" Ia memberi kode pada anak buahnya. "Matikan pengacak sinyal dan bawa dia ke dalam ruang pendingin. Kita gunakan dia sebagai sandera agar Awan menyerahkan kunci digital dari Andre!"
Seketika itu juga, layar di van Awan menjadi static (bersemut). Suara Jasmine menghilang.
"JASMINE!!!" raung Awan. Ia tidak menunggu instruksi Andre lagi. Ia langsung menginjak gas mobil van itu, menerjang pagar besi gudang dengan kecepatan penuh.
BRAAAKKK!
Mobil van itu menghantam pintu gudang hingga hancur berkeping-keping. Awan keluar dari mobil bahkan sebelum kendaraannya berhenti sempurna. Wajahnya tidak lagi terlihat kaku; wajahnya terlihat seperti iblis yang sedang murka.
Dua orang pengawal Paman Wijaya mencoba menghadang, namun Awan menerjang mereka dengan amarah yang membabi buta. Ia tidak peduli pada luka; ia memukul, menendang, dan membanting siapa pun yang menghalangi jalannya menuju ruangan tempat Jasmine dibawa.
"DIMANA ISTRI GUE?!" teriak Awan. Suaranya menggetarkan seisi gudang.
Paman Wijaya muncul dari balik pintu ruang pendingin dengan pisau kecil di leher Jasmine yang sudah terikat di kursi. "Berhenti, Awan! Satu langkah lagi, dan aku akan pastikan Jasmine menyusul Hero!"
Awan berhenti. Napasnya memburu, darah menetes dari buku jarinya yang pecah. Matanya menatap Jasmine yang menangis ketakutan. Saat itu, Awan bukan lagi seorang CEO, ia adalah seorang pria yang sedang melihat dunianya terancam runtuh.
"Paman..." suara Awan mendadak menjadi sangat tenang, ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakannya tadi. "Lo boleh ambil semua harta Hero. Lo boleh ambil saham gue di Pramoedya Group. Tapi kalau lo sentuh ujung rambut Jasmine... gue bakal pastiin lo nggak bakal pernah keluar dari gudang ini hidup-hidup."
Paman Wijaya tertawa gemetar. "Berikan kuncinya!"
Di saat perhatian Paman Wijaya teralihkan oleh gertakan Awan, Andre yang masuk lewat atap gudang melepaskan tembakan gas air mata tepat di tengah-tengah mereka.
Pshhhhhhhh!
Asap putih memenuhi ruangan. Dalam hitungan detik, Awan menerjang ke arah Paman Wijaya di tengah kabut asap. Ia mencengkeram tangan paman yang memegang pisau, memelintirnya hingga terdengar bunyi tulang patah.
"ARRGGGHHHH!!!" jerit Paman Wijaya.
Awan tidak berhenti di situ. Ia memberikan satu pukulan telak ke wajah pamannya hingga pria tua itu terkapar tak berdaya. Tanpa membuang waktu, Awan segera melepaskan ikatan Jasmine.
"Jas! Lo nggak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Awan panik. Ia memeluk Jasmine dengan tangan yang gemetar hebat, memeriksa setiap jengkal tubuh istrinya.
Jasmine memeluk leher Awan erat-erat, terisak di dadanya. "Aku nggak apa-apa, Wan... aku nggak apa-apa."
Polisi tiba beberapa menit kemudian bersamaan dengan Andre yang berhasil mengamankan semua dokumen palsu Paman Wijaya. Paman Wijaya diseret keluar dengan tangan terborgol, wajahnya yang angkuh kini hancur dan penuh ketakutan.
Awan duduk di bak belakang mobil ambulans bersama Jasmine, menyelimuti istrinya dengan jaketnya yang besar. Ia tidak mau melepaskan genggaman tangannya sedikit pun.
"Maafin gue," gumam Awan. "Gue seharusnya nggak biarin lo jadi umpan. Gue hampir gila tadi pas sinyalnya ilang."
Jasmine menyandarkan kepalanya di bahu Awan. "Kita berhasil, Wan. Mas Hero pasti bangga sama kamu. Kamu nggak jadi monster, kamu jadi pelindung."
Awan mencium puncak kepala Jasmine. "Gue cuma mau jadi suami lo, Jas. Cuma itu."
Andre mendekati mereka dengan senyum tipis. "Semua sudah beres. Brankas di Swiss aman, dan Paman Wijaya akan membusuk di penjara seumur hidup atas percobaan pembunuhan dan penipuan."
Awan menatap Andre, lalu memberikan anggukan kecil—sebuah tanda hormat dan terima kasih yang sangat jarang ia berikan pada orang lain.
Malam itu, mereka kembali ke rumah. Shaka terbangun dan langsung merentangkan tangannya minta digendong. Awan mengambil putranya itu, menciuminya berkali-kali seolah meyakinkan diri bahwa mereka semua masih bersama.
"Tidur bareng di kamar utama ya malam ini," perintah Awan dengan nada judesnya yang sudah kembali. "Gue nggak mau lo jauh-jauh dari pandangan gue buat minimal satu bulan ke depan."
Jasmine tertawa. "Iya, suamiku yang posesif."
Di bawah sinar bulan yang masuk lewat jendela, keluarga kecil itu akhirnya bisa bernapas lega. Badai telah berlalu, dan cinta yang tumbuh di antara luka kini telah menemukan akarnya yang paling kuat.