NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda / Tamat
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Tiga bulan telah berlalu sejak badai yang dibawa Paman Wijaya mereda. Kehidupan di kediaman Pramoedya kini jauh lebih tenang, meskipun "ketenangan" di sana selalu diiringi dengan suara tawa Shaka yang mulai belajar merangkak cepat dan omelan-omelan kecil Awan yang masih saja protektif.

Pagi itu, sinar matahari masuk dengan lembut ke kamar utama. Jasmine terbangun dengan rasa yang sangat tidak asing—perutnya terasa diaduk, dan ada rasa asam yang naik ke tenggorokannya. Ia segera berlari menuju kamar mandi, menutup pintunya rapat-rapat agar tidak membangunkan Awan.

"Ugh... hoekk!"

Jasmine bersandar di wastafel, wajahnya pucat. Ia mengira ini adalah sisa-sisa maag-nya yang kambuh karena kemarin ia sempat telat makan siang saat menemani Shaka bermain. Namun, rasa mual ini terasa berbeda. Lebih... intens.

Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Awan berdiri di sana dengan rambut acak-acakan dan wajah yang penuh kekhawatiran.

"Kamu kenapa lagi?" tanya Awan. Suaranya rendah, namun nada paniknya tidak bisa disembunyikan. Ia segera menghampiri Jasmine, memijat tengkuk istrinya dengan lembut. "Kan aku udah bilang, jangan telat makan. Kamu itu bandel banget kalau dikasih tau."

Jasmine membasuh mulutnya, menatap pantulan dirinya di cermin. "Cuma mual biasa kok, Wan. Mungkin salah makan semalam."

Awan mendengus, ia mengambil handuk kecil dan menyeka kening Jasmine. "Nggak ada yang biasa kalau kamu sudah muntah-muntah begini. Ayo, balik ke kasur. Aku panggil dokter sekarang."

"Nggak usah, Awan... aku beneran nggak apa-apa," protes Jasmine.

"Aku nggak terima bantahan, Jasmine," ucap Awan mutlak. Ia kemudian mengangkat Jasmine secara bridal style, membawanya kembali ke ranjang seolah-olah Jasmine adalah porselen yang bisa pecah kapan saja.

Awan tidak memanggil dokter umum. Ia justru teringat sesuatu. Sikap Jasmine beberapa hari terakhir sangat aneh. Istrinya itu menjadi sangat hobi makan mangga muda yang dipetik dari halaman belakang, dan ia menjadi sangat sensitif terhadap bau parfum kopi yang biasa Awan gunakan.

Awan menatap Jasmine yang sedang berbaring lemas. Mata pria itu menyipit, otaknya yang tajam mulai menghubungkan titik-titik petunjuk.

"Jasmine..." panggil Awan pelan. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan istrinya. "Kapan terakhir kali kamu... kamu tahu maksudku, kan?"

Jasmine mengerjap, mencoba mengingat-ingat. Wajahnya perlahan berubah memerah saat menyadari arah pembicaraan Awan. "Harusnya minggu lalu, tapi... tapi belum datang."

Awan terdiam. Jantungnya berdegup kencang, sebuah perasaan asing yang lebih hebat dari kemenangan bisnis mana pun menghujam dadanya. Tanpa berkata apa-apa, ia berdiri dan mengambil kunci mobilnya.

"Kamu tunggu di sini. Jangan turun dari kasur!" perintah Awan.

"Mau ke mana, Awan?"

"Beli sesuatu!" sahutnya ketus sambil melesat keluar kamar.

Sepuluh menit kemudian, Awan kembali dengan napas tersengal-sengal. Di tangannya ada sebuah kantong plastik dari apotek yang berisi lima merk test pack berbeda.

"Coba semuanya. Sekarang," ucap Awan sambil menyodorkan benda-benda itu.

Jasmine tertawa geli melihat tingkah suaminya. "Awan, satu aja cukup kali..."

"Enggak! Aku mau hasil yang akurat. Kalau perlu aku beli laboratoriumnya sekalian," balas Awan dengan wajah yang sangat serius, membuat Jasmine akhirnya menyerah dan masuk kembali ke kamar mandi.

Awan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi seperti setrikaan. Ia menggigit kuku jarinya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Ketegangan ini jauh lebih gila daripada saat ia menghadapi Paman Wijaya di gudang tua dulu.

Cklek.

Jasmine keluar dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyodorkan lima buah alat kecil itu di atas telapak tangannya.

Awan mengambilnya satu per satu. Semuanya menunjukkan hal yang sama: Dua garis merah.

Pria kaku itu membeku. Seluruh dunianya seolah berhenti berputar. Ia menatap benda di tangannya, lalu menatap perut Jasmine yang masih rata, lalu kembali ke benda itu lagi.

"Ini... ini beneran?" suara Awan bergetar hebat. "Maksudnya, di dalam sini... ada 'Awan kecil'?"

Jasmine mengangguk, air matanya tumpah. "Iya, Awan. Kamu bakal jadi Papa secara biologis."

Awan menjatuhkan test pack itu ke lantai, lalu ia memeluk Jasmine dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di leher Jasmine, menghirup aroma istrinya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, Jasmine merasakan bahu Awan bergetar. Sang gunung es itu menangis.

"Terima kasih, Jasmine... terima kasih," bisik Awan parau. "Aku... aku nggak pernah bayangin bakal dapet kebahagiaan kayak begini."

Jasmine mengusap rambut suaminya. "Kamu pantes bahagia, Awan. Kamu udah berkorban banyak buat aku dan Shaka. Sekarang, Tuhan kasih titipan langsung buat kamu."

Setelah momen haru itu berlalu, sifat asli Awan kembali muncul—bahkan kali ini naik ke level yang sangat mengkhawatirkan.

"Oke, mulai hari ini, kamu dilarang naik turun tangga," ucap Awan sambil menatap tangga rumah mereka seolah-olah itu adalah jurang maut. "Aku bakal pasang lift di dalam rumah minggu depan."

"Awan! Itu berlebihan!" protes Jasmine sambil tertawa.

"Nggak ada yang berlebihan buat anak aku dan kesehatan kamu!" balas Awan judes. Ia segera mengambil ponselnya. "Halo, Sekertaris Kim? Batalkan semua jadwalku di luar kota untuk sembilan bulan ke depan. Aku akan bekerja sepenuhnya dari rumah. Dan cari koki nutrisi terbaik di Jakarta, aku mau menu harian yang sempurna untuk ibu hamil."

Awan menutup teleponnya dan kembali menatap Jasmine. Ia berlutut di depan Jasmine, lalu mencium perut Jasmine dengan sangat lembut.

"Denger ya, Nak... jangan nakal di dalam sana. Jangan bikin Bunda mual-mual terus, atau Papa bakal kasih kamu jadwal belajar bisnis sejak dalam kandungan," gumam Awan, membuat Jasmine tertawa sampai mengeluarkan air mata.

"Awan, kamu ini ada-ada aja. Masa bayi diancem gitu?"

"Habisnya dia bikin kamu muntah tadi. Aku nggak suka liat kamu sakit," ucap Awan sambil mendongak, menatap Jasmine dengan cinta yang begitu tulus. "Aku sayang kamu, Jasmine. Banget."

Jasmine tertegun. Itu adalah pertama kalinya Awan mengucapkan kata "sayang" secara gamblang tanpa embel-embel judes atau alasan tanggung jawab.

"Aku juga sayang kamu, Awan," jawab Jasmine pelan.

Siang harinya, Suster Lastri membawa Shaka masuk ke kamar. Bayi itu merangkak dengan riang ke arah Awan. Awan mengangkat Shaka dan mendudukkannya di samping Jasmine.

"Shaka, liat ini..." Awan menunjukkan foto hasil test pack tadi (yang sudah ia foto dan ia jadikan wallpaper ponselnya). "Di perut Bunda ada adik kamu. Kamu harus jagain dia ya? Jangan tendang-tendang Bunda lagi kalau lagi main."

Shaka hanya memiringkan kepalanya, lalu menepuk-nepuk perut Jasmine sambil berteriak, "Diiik! Diik!"

Jasmine dan Awan saling berpandangan. Kebahagiaan mereka kini lengkap. Awan yang dulu kaku dan penuh kebencian, kini telah bertransformasi menjadi seorang suami dan ayah yang luar biasa. Ia memang masih kaku, masih sering mengomel, dan masih sangat protektif, tapi semua itu adalah caranya untuk mencintai.

Malam harinya, saat mereka bersiap untuk tidur, Awan menyelimuti Jasmine dengan sangat teliti, memastikan tidak ada sudut kaki Jasmine yang kedinginan.

"Wan, boleh aku minta satu hal?" tanya Jasmine.

"Apa? Kamu mau mangga lagi? Atau mau makan sesuatu yang aneh? Bilang aja, aku bakal cariin biarpun harus ke luar negeri malam ini juga."

"Bukan... aku cuma mau kamu janji. Jangan terlalu panik selama sembilan bulan ke depan. Aku bukan orang sakit, aku cuma hamil," pinta Jasmine.

Awan terdiam sejenak, lalu ia mengecup kening Jasmine. "Aku nggak janji, sayang. Tapi aku bakal usahain buat nggak pasang CCTV di setiap sudut kamar mandi."

Jasmine tertawa dan memukul lengan Awan pelan. Di bawah naungan malam yang damai, mereka menyambut masa depan baru. Perjalanan mereka mungkin dimulai dari sebuah keterpaksaan dan duka, namun kini mereka sedang menulis bab baru yang dipenuhi dengan cinta yang tak terhingga.

.

1
Ika Marbun
penulis ga mau dikomen sumpah baca komen luh iningue males lanjut lagi, payah lu Thor
Nadhira Ramadhani: ya tinggal gausah baca kak. repot banget wkwk. kakak kan tinggal baca. komen yang lain masa gak bisa wkwk.
total 1 replies
Sri Muryati
cerita nya Bagus aku suka author
Mia Camelia
😔
Mia Camelia
gak sangka si awan jdi cowo bodoh bgini, kebakar cemburu😔
thor balikin awan yg dulu dong, yg selalu tenang dan cerdik. ah masa mereka mau cerai ??😔
Siti Dede
Aku suka ceritanya
awesome moment
klo sdh bersahabat sm miras...y mmg g berotak. jd pas klo awan bgitu.
Mia Camelia
awan keren banget cinta nya sebesar samudra ke jasmine😄☺🥰
Mia Camelia
waduh 😔ini musuh baru lgi
Mia Camelia
thor ayo up date lagi yg sering dong, cerita nys menyentuh hati banget☺👍
pdm
yuk semangat lanjut ke bab selanjutnya
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!