Aluza, seorang Office girl cantik di Bandara, terjebak dalam kenangan Ivan mantan kekasihnya yang sudah lama meninggal.
Namun di hari pertama Aluza bekerja ia di pertemukan kembali dengan seorang pilot bernama Bara yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Ivan
Tapi Bara yang mirip Ivan itu ternyata memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Dia kasar, angkuh, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.
Aluza terjebak dalam dilema, apakah dia bisa melupakan Ivan dan jatuh cinta dengan Bara, atau justru Bara akan menjadi racun yang menghancurkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pertunangan Yang Tertunda
Ruang tamu yang tadi nya terasa ramai kini berubah menjadi sunyi ketika mereka semua melihat kedatangan Bara Bersama seorang wanita.Terlebih ketika Bara mengatakan jika wanita yang ada disampingnya adalah pacarnya.
lalu ke datangan Diva membawa papa dan mama nya kemari untuk apa? apa hanya untuk di permalukan lagi?
Vina mencoba mencairkan suasana yang terasa tegang,ia menghampiri Bara. Dan mencoba mengatakan jika apa yang di ucapkan Bara tidak benar.“Bara kamu pasti kelelahan kan makanya kamu bicara ngelantur, kemudian Vina mencoba menarik tangan Aluza.“Ini pasti hanya teman kamu kan, iya kan kamu pasti temanya Bara”
Aluza yang belum sempat menjawab, kemudian Bara lebih erat merangkul lengannya lagi, bahkan bukan hanya lengan tapi Bara juga merangkul pinggang Aluza juga.
“Ma, untuk apa aku berbohong. Aluza memang pacar ku, ah maksudku bukan hanya pacar tetapi kita akan segera menikah juga"
Vina yang masih mencoba mencairkan suasana, tiba-tiba wajahnya pucat ketika Bara mulai mengakan hal yang sebenarnya, bahkan hampir saja tubuhnya ambruk kalau bukan suaminya Bayu lah yang menahan tubuhnya.
“Pa, tolong bantu mama untuk duduk”lirih Vina pada suaminya Bayu.
“Bara apa-apaan kamu ini, kamu tidak tau kalau hari orang tua Diva datang, dan kamu malah membawa seorang wanita lain ke rumah ini. lalu apa kamu tidak memikirkan perasaan mereka?"Tanya papa setelah membantu Vina istri nya untuk duduk.
“Maaf semuanya sebenarnya aku sama sekali tidak menginginkan pertunangan ini, sebenarnya mama lah yang sibuk menjodohkan aku dengan Diva. Padahal aku dak Diva hanya sebatas teman kerja tidak lebih, jadi sebelum ini terlalu jauh makanya aku nekat memperkenalkan pacar sekaligus calon istri ku pada kalian semua”
Diva merasa wajahnya memanas karena malu, dia tidak menyangka jika Bara akan membawa pacar ke rumah nya ,apa lagi di saat dirinya datang kembali ke rumah Bara karena hendak membicarakan masalah pertunangan.tapi entah kenapa wajah wanita yang ada di samping Bara begitu tidak asing di lihat.
Papa Diva berdiri dari duduknya, wajahnya berubah merah padam.“Lihatlah ma.papa juga bilang apa! untuk apa kita datang ke rumah ini lagi kalau hanya untuk di permalukan!”
Mama Diva juga berdiri dari tempat duduknya.
“Kalau tau nya di permalukan seperti ini lagi! lebih baik saya tidak perlu datang lagi ke sini!”
Diva mencoba menahan emosi nya, tapi matanya tidak bisa berbohong. dia melirik Aluza dengan tajam seolah-olah ingin mengatakan.“Kamu yang menyebabkan semua ini”
Namun tiba-tiba Ayu mamanya menarik Diva untuk ikut berdiri di saat Diva mulai menjelaskan.
“Pa, ma tenanglah jangan seperti ini aku yakin Bara dan wa__”
Papa Diva memberikan tamparan kerasnya di wajah Diva membuat Diva terhenti berbicara, ia menangis sambil memegang wajah nya yang terasa sakit.
"Jangan sebut nama Bara lagi! Kamu tidak pantas lagi menyebut namanya!"
Mama Diva juga mengangguk setuju.“Mending kamu cari pria lain saja, kamu itu cantik berpendidikan pasti akan ada banyak sekali pria yang suka sama kamu!"
Diva masih memegang wajahnya, air mata mulai menetes. "Pa, Ma... aku..." Tapi Papa Diva tidak mau mendengarnya, "Diva, kita pulang sekarang!"
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Suasana menjadi tegang ketika tak lagi Diva dan keluarga nya di rumah besar ini.seketika semua menjadi sunyi kembali hanya ada suara hembusan nafas berat yang terdengar.
“Kamu di bayar berapa untuk berpura-pura menjadi pacar Bara!?”
Suara itu memecah kesunyian, membuat Bara dan Aluza menoleh ke arah sumber suara. Vina berdiri lalu melangkahkan kakinya mendekati wanita yang tak asing baginya.
Sedari tadi Aluza hanya membisu bahkan sepatah kata ia tak Utarakan, namun sekarang pertanyaannya itu seperti mengintimidasi nya.
"Cepat Katakan Kamu di bayar berapa untuk berpura-pura menjadi pacar anak saya Bara?" Vina menatap Aluza dengan tajam.
Aluza mulai bergetar,bahkan Bara merasakan jika tangan Aluza berkeringat dingin.
“Bu, s-say__
“Ma, mama apa-apaan sih. Siapa yang membayar Aluza?
“Kamu jangan berbohong Bara, jelas-jelas mama tau dia wanita yang sudah mempermalukan kamu di clubbing itu kan, dia wanita yang sudah berani tampar kamu. Apa kamu lupa akan hal itu ha!?"
“Mama benar, memang Aluza dan aku pernah ada kesalahpahaman waktu itu, tapi kan sekarang aku telah menjadikannya sebagai pacar. Emangnya salah?"
Vina tertawa tipis.“Ck.mustahil jika kamu bisa secepat itu menjadikan seorang wanita yang kamu benci sebagai seorang pacar?"Vina tertawa seolah ia masih tak percaya. Apa yang membuat kamu berubah pikiran?"
Bara menatap Aluza dengan lembut, "Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa aku merasa nyaman dengan Aluza bukan karena hanya dia cantik tapi dia baik dan Aku mencintainya."
Seketika air mata Aluza menetes,ia begitu tersentuh ketika Bara mengatakan kalimat yang Pernah Ivan katakan sebelumnya. Bahkan Aluza merasa bahwa Bara sedang kerasukan arwah Ivan.
“Hey, kok kamu nangis?katakan apa ada kata-kata ku tadi yang menyakiti hati mu?”Bara menumpukan kedua tangan pada wajah Aluza sambil menghapus jejak air mata Aluza dengan jempolnya.
Aluza menatap Bara dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, lalu mencoba menyingkirkan tangan Bara. "Tidak apa-apa, Bara. Aku baik-baik saja." Suaranya terdengar sedikit dingin, mencoba menutupi perasaan yang masih bergejolak.
Papa Bara yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara, "Bara, apa kamu yakin dengan pilihanmu ini? Kita tidak tahu apa-apa tentang wanita ini." Suaranya lebih tenang dari pada Vina, tapi masih ada nada kekecewaan.
Bara menatap papanya, "Papa, aku yakin. Aku tahu apa yang aku inginkan. Aluza bukan seperti yang Papa dan Mama pikirkan."
Papa Bara mengangguk, "Oke, Bara. Jika kamu yakin, maka kami akan mendukungmu. Tapi, tolong jaga hubungan ini dengan baik."
Vina menatap suaminya dengan mata yang tajam setajam silet "Apa kamu juga akan membela Bara? Apa kamu tidak melihat bahwa wanita ini hanya ingin memanfaatkan Bara?"
Suaminya, Papa Bara, menatap Vina dengan tenang, "Papa tidak membela siapa-siapa, Ma. papa hanya ingin melihat Bara bahagia. Dan papa tidak berpikir bahwa Aluza adalah wanita yang tidak jelas."
“Iya tapi wanita ini tidak berpendidikan,Dia tidak sekaya kita! Dia hanyalah seorang OB di bandara Pa lalu apa pantas wanita ini bersanding dengan bara yang merupakan seorang pilot!”
Tiba-tiba kakek datang dia terlihat ceria terus berjalan tergesa-gesa bersama tongkat jalan andalan nya.
Kakek Bara tersenyum lebar, “ Bara, akhirnya kamu membawa jodohmu ke rumah ini juga! kakek sudah sangat lama menunggu ini!"
Kakek Bara menatap Aluza dengan mata yang bersinar, "Cinta tidak memandang kasta, Vina! Yang penting mereka saling mencintai."