Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi itu tenang. Terlalu tenang malah.
Arka lagi bantu Arven ngerjain soal matematika di meja makan.
Arkana mewarnai.
Arsha baca buku sambil sesekali ngintip Arka.
Aruna lagi nyeduh kopi waktu ponsel Arka bunyi.
Sekali.
Dua kali.
Terus nggak berhenti.
Arka ngelirik layar.
Nama asistennya.
Dia angkat.
“Iya?”
Suara di ujung sana cepat banget.
“Pak… ada artikel naik pagi ini. Soal kehidupan pribadi Bapak.”
Arka langsung duduk tegak.
“Seberapa besar?”
“Portal bisnis besar. Judulnya… agak sensasional.”
Arka diam beberapa detik.
“Tim hukum sudah lihat?”
“Sudah. Tapi… ada foto Bapak di depan rumah ini.”
Arka langsung nengok jendela.
Aruna yang lihat ekspresinya langsung tahu ini bukan telepon biasa.
“Ada apa?” tanya Aruna pelan.
Arka menutup telepon sebentar.
“Rumor keluar.”
Aruna menegang sedikit.
Anak-anak ikut nengok.
Arven langsung nanya,
“Rumor apa?”
Arka nggak mau bohong.
“Orang kantor tahu aku sering di sini.”
Arkana mengerutkan kening.
“Kenapa itu masalah?”
Arka menjawab jujur,
“Karena dunia luar suka bikin cerita sendiri.”
Arsha pelan bertanya,
“Mereka bilang apa tentang kita?”
Arka menarik napas.
“Bahwa aku punya keluarga rahasia.”
Sunyi.
Aruna duduk pelan.
“Cepat sekali.”
Arka menatapnya.
“Kamu takut?”
Aruna menjawab jujur,
“Aku takut anak-anak disorot.”
Arven langsung nyaut,
“Kita nggak salah.”
Arka tersenyum kecil.
“Iya. Kalian nggak salah.”
Telepon Arka bunyi lagi.
Kali ini Alden.
Begitu diangkat, suara Alden langsung terdengar.
“Lo tenang dulu.”
Arka menjawab datar,
“Udah telat.”
Alden lanjut,
“Media cuma tahu sebagian. Mereka belum tahu detail anak-anak.”
Arka berdiri dan jalan ke teras.
“Dan gue mau itu tetap begitu.”
Alden nada suaranya lebih serius.
“Pa dan Ma sudah baca berita.”
Arka diam.
“Mereka nggak marah. Mereka cuma khawatir Aruna diserang opini publik.”
Arka menatap halaman depan rumah kecil itu.
“Gue akan lindungi mereka.”
Alden jawab pelan,
“Bukan cuma lo. Kita juga.”
Di ruang tamu, Aruna duduk di lantai bareng anak-anak.
Suasana nggak panik, tapi tegang tipis.
Arkana bertanya pelan,
“Bunda… orang luar bakal datang ke sini?”
Aruna menjawab lembut,
“Mungkin ada yang ingin tahu. Tapi rumah ini tetap aman.”
Arsha memeluk lututnya.
“Aku nggak suka kalau orang lihat kita aneh.”
Aruna mendekat.
“Kita tidak aneh.”
Arven menatap pintu.
“Kalau ada yang ganggu… papa marah nggak?”
Aruna tersenyum kecil.
“Papa bukan orang yang mudah diam.”
Anak-anak agak tenang.
Arka masuk lagi.
Dia duduk di depan mereka.
“Aku mau jelasin sesuatu. Dunia kerja papa besar. Banyak orang lihat hidup papa bukan cuma sebagai pribadi, tapi berita.”
Arven langsung nanya,
“Berarti kita jadi berita?”
Arka menggeleng.
“Tidak kalau papa bisa jaga.”
Arkana bertanya lagi,
“Kita harus sembunyi?”
Arka menatap mereka satu per satu.
“Tidak. Tapi kita tidak perlu jelaskan hidup kita ke semua orang.”
Arsha pelan berkata,
“Aku cuma mau hidup biasa.”
Arka menjawab lembut,
“Kita usahakan itu.”
Siang hari, ibunya Arka menelepon Aruna.
Bukan nada formal.
Nada ibu ke ibu.
“Kamu sudah lihat berita?”
“Sudah.”
“Kamu tidak sendirian menghadapi ini.”
Aruna menatap dapur kecilnya.
“Saya tidak takut pada berita. Saya takut dampaknya ke anak-anak.”
Ibunya Arka menjawab tenang,
“Keluarga kami akan berdiri di depan, bukan di belakang.”
Aruna terdiam.
Itu bukan janji kosong.
Itu posisi.
Sore hari, ayah Arka datang.
Bukan membawa solusi dramatis.
Cuma duduk di ruang tamu.
Dia melihat Arka bicara pelan dengan anak-anak.
Lalu berkata tenang,
“Kehidupan pribadi tidak harus menjadi tontonan.”
Arka menjawab,
“Tapi orang luar tidak peduli.”
Ayahnya menatapnya.
“Yang penting kamu tidak membiarkan tekanan luar mengubah sikap di dalam rumah.”
Kalimat itu sederhana, tapi kena.
Malamnya, rumah agak lebih sunyi dari biasanya.
Anak-anak tidur lebih cepat.
Aruna dan Arka duduk di meja makan.
Tidak ada lampu terang.
Hanya cahaya kecil dari dapur.
Aruna bicara duluan.
“Kalau tekanan makin besar… kamu akan pilih apa?”
Arka menjawab tanpa ragu,
“Aku tidak akan menukar kalian dengan citra.”
Aruna menatapnya lama.
“Ini bukan ujian kecil.”
“Aku tahu.”
“Kamu tidak bisa mundur setengah jalan.”
“Aku juga tidak mau maju setengah hati.”
Sunyi.
Aruna akhirnya berkata pelan,
“Aku tidak menyesal kamu datang. Tapi aku takut dunia memaksa kita berubah.”
Arka menjawab tenang,
“Dunia boleh ribut. Rumah tetap rumah.”
Aruna menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya sejak rumor itu muncul—
Dia merasa tidak sendirian menghadapi luar.
Di kamar anak-anak, Arven berbisik,
“Menurut kalian papa bakal tetap tinggal kalau dunia ribut?”
Arkana menjawab pelan,
“Dia masih di sini.”
Arsha memeluk bantal,
“Kalau dia tetap di sini besok… berarti dia beneran keluarga.”
Lampu dimatikan.
Rumah kecil itu tetap sederhana.
Tapi malam itu ada satu perubahan besar:
Masalah tidak lagi datang dari masa lalu.
Sekarang datang dari dunia luar.
Dan keluarga kecil ini harus belajar—
Bertahan bersama, bukan bersembunyi sendiri-sendiri.