Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
“Apa?” Arsy menatap perawat itu dengan mata membelalak. “Tapi saya anaknya. Saya cuma mau menemani Ayah saya.”
Perawat itu tersenyum tipis dan mencoba untuk tetap bersikap ramah meski situasinya genting.
“Kami perlu ruang dan fokus penuh untuk menangani kondisi beliau. Mohon tunggu di luar.”
“Tapi—” suara Arsy bergetar. “Ayah saya sendirian di dalam.”
“Dokter dan tim medis akan menangani beliau sebaik mungkin,” jawab perawat itu dengan tegas tapi pelan. “Percayakan pada kami.”
Pintu itu mulai ditutup perlahan.
“Ayah!” Arsy tanpa sadar berteriak. Tangannya terulur, seolah ingin meraih ayahnya untuk terakhir kali. “Ayah, Arsy di sini! Ayah jangan takut!”
Namun pintu itu tetap menutup rapat, memisahkan Arsy dari satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Suara pintu yang tertutup itu terdengar begitu jelas di telinga Arsy. Ia berdiri terpaku di depan pintu IGD. Matanya menatap kosong tulisan di pintu itu, seolah berharap tulisan itu bisa memberinya jawaban. Tubuhnya gemetar. Kakinya terasa lemas. Arsy mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan mencoba menahan tangis yang kembali naik ke tenggorokan.
“Ya Allah…” bisiknya lirih. “Hamba mohon tolong selamatkan ayahku.”
Di balik pintu itu, suasana jauh dari kata tenang. Pak Rahman terbaring di atas ranjang IGD dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya. Monitor jantung berbunyi ritmis, tapi nadanya tak stabil. Angka-angka di layar naik turun, membuat dahi para dokter dan perawat berkerut tegang.
“Tekanan darahnya turun,” ucap salah satu perawat.
“Siapkan obat jantung,” sahut dokter dengan suara tegas. “Kita harus cepat.”
Seorang dokter pria paruh baya berdiri di sisi ranjang Pak Rahman. Tangannya dengan cekatan memeriksa respon pupil mata, tekanan darah, dan denyut nadi.
“Serangan jantungnya cukup berat,” kata dokter pada timnya. “Ada indikasi penyumbatan serius.”
“Apakah pasien ini memiliki riwayat penyakit, dokter?” tanya perawat lain.
“Anaknya bilang ada riwayat penyakit jantung,” jawab dokter itu. “Kita stabilkan dulu. Pasang infus tambahan.”
Suara alat-alat medis semakin ramai. Beberapa perawat bergerak cepat, memasang infus, menyiapkan obat, dan mencatat setiap perubahan kecil pada monitor. Wajah Pak Rahman tetap pucat. Dadanya naik turun tidak beraturan. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski ruangan itu terasa dingin oleh pendingin udara.
“Kita harus berusaha secepat mungkin,” ucap dokter itu lagi. “Waktu sangat menentukan.”
Sementara itu, di luar ruang IGD, Arsy mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia berjalan mondar-mandir di lorong depan IGD. Langkahnya cepat, tak tentu arah. Tangannya saling meremas, sesekali mencengkeram jilbabnya sendiri. Setiap beberapa detik, ia berhenti tepat di depan pintu IGD. Menempelkan telinganya dan berharap bisa mendengar suara ayahnya. Tapi yang terdengar hanya suara samar alat-alat medis dan langkah kaki perawat.
“Ayah…” bisiknya lagi. “Ayah yang kuat, ya. Jangan tinggalkan Arsy sendirian di dunia ini. Arsy hanya punya ayah disini dan Arsy belum siap untuk kehilangan ayah.”
Arsy kembali berjalan mondar-mandir lalu berhenti untuk menatap pintu. Ia mengusap air matanya sebentar lalu berjalan lagi. Waktu terasa berjalan lambat. Setiap detik terasa seperti satu menit. Setiap menit terasa seperti satu jam. Arsy duduk sebentar di bangku besi di depan IGD. Namun tak sampai satu menit, ia kembali berdiri. Duduk membuat pikirannya semakin liar.
Bagaimana jika ayahnya tidak bangun lagi?Bagaimana jika ini terakhir kalinya ia mendengar suara ayahnya? Bagaimana jika semua ini benar-benar salahnya?
“Ini salah aku,” gumam Arsy sambil menutup wajah. “Semua ini salah aku.” Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Bahunya bergetar hebat. “Kalau saja aku lebih cepat mengetahui pengkhianatan yang dilakukan Radit, kalau saja aku bisa dengan cepat menyadari semuanya… Ayah pasti tidak akan mengalami semua ini.”
Pikiran Arsy kemudian melayang ketika ia mengingat wajah ayahnya yang pucat sebelum ambruk. Tatapan ayahnya yang penuh luka dan kecewa. Dan rasa bersalah itu menghantam Arsy bertubi-tubi. Arsy kembali berdiri. Langkahnya semakin cepat, hampir berlari kecil menyusuri lorong pendek itu dan membuat seorang perawat sempat menegurnya.
“Maaf mbak, mohon duduk dan tenang, ya.”
Namun Arsy hanya mengangguk singkat tanpa benar-benar mendengarkan. Kakinya terus bergerak. Jantungnya berdegup tak karuan.
Tak lama kemudian, pintu IGD akhirnya terbuka. Arsy yang sedang berjalan langsung berhenti mendadak. Napasnya tercekat. Matanya membelalak saat melihat seorang dokter keluar dari ruang IGD. Dokter itu melepas masker dari wajahnya. Wajahnya tampak serius, lelah, dan tidak membawa kabar baik.
Arsy langsung berlari kecil menghampirinya.
“Dok… Dokter!” suaranya bergetar. “Ayah saya gimana, Dok? Ayah saya baik-baik aja, kan?”
Dokter itu menatap Arsy beberapa detik. Tatapan itu membuat dada Arsy semakin sesak.
“Kamu keluarga Pak Rahman Syahira?” tanya dokter itu.
“Iya, Dok. Saya anaknya.” jawab Arsy yang membuat dokter itu mengangguk pelan.
“Kondisi ayah kamu saat ini…” dokter itu berhenti sejenak, seperti mencari kata yang tepat. “Masih dalam kondisi kritis.”
Kalimat itu langsung membuat kaki Arsy lemas.
“Kritis…?” Arsy mengulang lirih. “Maksud dokter gimana?”
Dokter itu menarik napas dalam.
“Ayah kamu mengalami serangan jantung yang cukup fatal. Penyumbatannya cukup berat, dan kami sedang berusaha menstabilkan kondisinya.”
Dunia Arsy seperti runtuh seketika. Kata fatal bergema di kepalanya. Berulang-ulang.
“Fatal…” bibirnya bergetar. “Jadi… Ayah saya—”
“Kami masih berusaha semaksimal mungkin,” potong dokter itu cepat. “Tapi kamu harus siap dengan segala kemungkinan.”
Kalimat itu menjadi pukulan terakhir yang membuat Arsy benar-benar hancur. Air matanya jatuh dengan deras. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terhuyung, hampir jatuh jika tidak segera berpegangan pada dinding rumah sakit.
“Ya Allah…” isaknya pecah. “Ayah…”
Tangannya menutup mulut, menahan tangis yang semakin keras. Dadanya terasa sakit. Napasnya pendek-pendek. Di hadapannya, dokter itu berdiri dengan wajah serius dan mencoba untuk menenangkan perasaannya.
"Tolong kuatkan perasaan anda mbak, saat ini kita hanya bisa memasrahkan semuanya kepada sang pencipta. Kalau tidak ada yang mau ditanyakan lagi, saya permisi dulu." Ucap dokter sebelum meninggalkan Arsy untuk menangani pasiennya yang lain.
Pintu ruang IGD itu kembali terbuka dengan bunyi pelan yang nyaris tak terdengar, tapi bagi Arsy, suara itu seperti membuka gerbang menuju kenyataan yang paling ia takuti.
“Silakan, Mbak. Tapi jangan lama-lama,” ucap seorang perawat dengan suara pelan, sambil sedikit membuka pintu dan memberi isyarat agar Arsy masuk.
Arsy mengangguk pelan. Tangannya terlihat gemetar saat menyentuh gagang pintu. Untuk sesaat, ia ragu. Kakinya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk melangkah lebih jauh. Dadanya terasa sesak. Napasnya pendek-pendek. Ia takut. Takut melihat apa yang menunggunya di balik pintu itu.
Namun pada akhirnya, Arsy tetap melangkah masuk.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit