tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Gema yang Tertinggal
Dunia tidak pernah benar-benar membiarkan sebuah legenda mati tanpa perlawanan. Di sudut-sudut gelap internet, di forum-forum yang dulu memuja "The Resonance", sebuah gerakan baru lahir. Mereka menyebut diri mereka "The Silencers". Mereka tidak lagi mencari suara Arlo; mereka mencari keheningan yang ia tinggalkan.
Di Cornwall, musim gugur mulai mewarnai dedaunan menjadi jingga kemerahan. Arthur sedang menutup toko instrumennya ketika seorang pemuda kurus dengan jaket hitam kebesaran berdiri di depan pintu. Pemuda itu tidak membawa instrumen untuk diperbaiki, melainkan sebuah perekam suara digital tua—model yang sangat dikenal Arthur sebagai bagian dari perlengkapan awal Marcus.
"Aku tahu siapa kau," ucap pemuda itu. Suaranya gemetar karena kegembiraan yang aneh. "Kau adalah Arsiteknya. Kau yang meruntuhkan mercusuar itu."
Arthur tetap tenang, meskipun jantungnya berdenyut sedikit lebih cepat. Ia melanjutkan mengunci pintu. "Kau salah orang, Nak. Nama saya Arthur. Saya hanya tukang kayu yang sesekali memperbaiki biola."
Warisan Terlarang
Pemuda itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Leo, tidak menyerah. Ia mengikuti Arthur menuju kedai kopi kecil di ujung jalan. "Dunia menjadi aneh sejak transmisi itu berhenti, Sir. Orang-orang melaporkan bahwa mereka tidak bisa lagi merasakan musik dengan cara yang sama. Seolah-olah 'About You' telah mengubah cara otak manusia memproses harmoni. Kami butuh kau untuk memperbaikinya."
Arthur berhenti melangkah. Ia menatap Leo dengan tatapan yang dalam dan penuh duka. "Musik tidak rusak, Leo. Persepsi kalian yang rusak karena kalian terbiasa disuapi emosi buatan lewat frekuensi. Kalian mencari jalan pintas untuk merasakan sesuatu, padahal perasaan itu seharusnya tumbuh dari pengalaman hidup, bukan dari getaran mesin."
Leo mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah file audio. Suaranya hanya berupa desis statis putih (*white noise*). "Ini adalah rekaman dari reruntuhan mercusuar sebulan yang lalu. Ada kode di dalamnya. Kode yang tidak bisa kami pecahkan. Mereka bilang, ini adalah pesan terakhir Marcus."
Arthur terpaksa mendengarkan. Namun, alih-alih angka atau frekuensi, ia mendengar sesuatu yang jauh lebih organik. Itu adalah suara ombak, suara burung camar, dan di sela-selanya... suara tawa Elara yang terekam secara tidak sengaja.
Marcus tidak meninggalkan senjata. Di akhir hayatnya, saat mesin itu meledak, yang tersisa hanyalah kebisingan alam yang murni.
Penyerahan Terakhir
Arthur mengambil perekam suara itu dari tangan Leo. Dengan satu gerakan tenang namun bertenaga, ia menghapus file tersebut di depan mata pemuda itu.
"Jangan mencari hantu di dalam mesin, Leo," kata Arthur pelan. "Jika kau ingin merasakan resonansi, pergilah ke pantai. Duduklah di sana sampai kau merasa bosan, sampai kau merasa kedinginan, dan sampai kau mulai mendengar detak jantungmu sendiri. Itulah satu-satunya frekuensi yang asli."
Leo tampak kecewa, bahkan marah, namun kewibawaan yang terpancar dari mata Arthur membuatnya bungkam. Ia berbalik dan menghilang di antara kabut senja Cornwall, membawa sisa-sisa obsesinya yang kini tak punya tempat bernaung.
Rahasia Kecil Elara
Malam itu, Arthur kembali ke rumah. Ia menemukan Elara sedang berdiri di balkon, menatap kanvas kosong. Di atas meja di sampingnya, terdapat sebuah surat kabar lama dengan foto udara reruntuhan mercusuar.
"Apakah mereka akan terus datang, Arlo?" tanya Elara tanpa menoleh. Ia masih terkadang memanggilnya dengan nama lama itu di saat-saat rentan.
"Mungkin," jawab Arthur sambil memeluknya dari belakang. "Manusia selalu haus akan keajaiban, bahkan jika keajaiban itu menghancurkan mereka. Tapi mereka tidak akan menemukan apa pun di sini. Kita sudah tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada mereka."
Elara berbalik, menyentuh wajah Arthur. "Ada satu hal yang tidak pernah kukatakan padamu tentang malam terakhir di mercusuar itu."
"Apa?"
"Sebelum kau memasukkan rekaman detak jantungmu, aku sempat menyentuh salah satu server cadangan. Aku tidak menghancurkannya, Arthur. Aku mengirimkan perintah 'delete' ke seluruh server pusat di dunia yang menyimpan algoritma Marcus. Aku bukan hanya menghentikan transmisinya... aku menghapus keberadaan 'About You' dari sejarah digital secara permanen."
Arthur tertegun. Selama ini ia mengira kehancuran fisik mercusuar itu yang mengakhiri semuanya. Ternyata, Elara-lah yang memastikan bahwa gema itu tidak akan pernah bisa dibangkitkan lagi oleh siapa pun.
"Jadi, tidak ada lagi cadangan?" tanya Arthur memastikan.
"Tidak ada. Bahkan di ingatan komputer tercanggih sekalipun, 'About You' kini hanyalah sebuah mitos yang tak bisa dibuktikan," Elara tersenyum penuh kemenangan.
Mereka berdiri di sana, di bawah langit malam yang luas, menyadari bahwa mereka benar-benar telah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh Marcus: mereka menguasai suara
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐