NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak di Bali

Setelah tiga hari yang penuh akhirnya pekerjaan mereka di Bali selesai juga. Nana berdiri di depan pintu connecting room dengan harapan kecil di matanya.

Tok tok tok!

"Apa lagi, Haruna?" suara berat Abian terdengar dari dalam, disusul suara gesekan koper yang ditutup.

Nana membuka pintu sedikit. "Pak... kita beneran pulang hari ini? Maksud saya, ini kan Bali, Pak. Masa kita tidak jalan-jalan dulu sebentar? Ke pantai sebentar saja atau beli oleh-oleh dulu?"

Abian muncul di ambang pintu sambil merapikan jam tangannya. "Tidak ada jalan-jalan. Jadwal saya di Jakarta sudah menumpuk. Cepat bawa kopermu ke lobi."

"Yahhh..." gerutu Nana sambil menyeret kopernya dengan lemas.

Mereka berdiri menunggu lift dalam keheningan. Abian tiba-tiba menoleh ke arah Nana yang masih menekuk wajahnya.

"Haruna, kamu sudah pesan tiket kita?" tanya Abian santai.

Nana mengerjapkan mata, menoleh dengan ekspresi heran yang sangat nyata. "Hah? Tiket apa, Pak?"

Abian berdecak, seolah pertanyaan Nana adalah hal paling konyol sedunia. "Tiket kita pulang, Nana. Kamu pikir kita mau berenang sampai Jakarta?"

Nana melongo, mulutnya sedikit terbuka. "Loh? Bukannya Bapak yang pesankan? Kan waktu berangkat ke sini juga Bapak yang beli sendiri secara mendadak. Saya pikir Bapak sudah beli tiket PP"

"Saya cuma beli tiket berangkat karena saya tidak tahu kapan rapat ini akan selesai," sahut Abian tanpa dosa.

"Kamu itu sekretaris, Haruna. Harusnya kamu punya inisiatif untuk memesan tiket pulang begitu saya bilang kita selesai hari ini."

"Tapi Pak...."

"Cepat cari di aplikasi sekarang. Saya mau penerbangan sore ini juga," potong Abian tegas saat pintu lift terbuka.

Nana dengan panik langsung membuka semua aplikasi pencarian tiket pesawat di ponselnya. Jari-jarinya menari cepat di atas layar, sementara Abian berdiri di sampingnya sambil bersedekap, menunggu dengan tidak sabar.

Wajah Nana perlahan memucat. Ia menyegarkan halaman pencarian berkali-kali, tapi hasilnya tetap sama.

"Gimana? Sudah dapat?" tanya Abian dingin.

Nana menelan ludah, menatap Abian. "Pak... gawat."

"Gawat kenapa? Harganya mahal? Pesan saja, jangan pelit."

"Bukan mahal, Pak. Tapi tidak ada!" seru Nana panik.

"Semua penerbangan dari Bali ke Jakarta untuk hari ini sudah take off atau sudah penuh total karena ada acara kenegaraan dan long weekend. Bahkan untuk besok pun, tidak ada jadwal penerbangan yang tersisa, Pak. Semuanya sold out!"

Abian terdiam, kacamata hitamnya hampir merosot. "Kamu bercanda? Periksa maskapai lain."

"Sudah semua, Pak! Garuda, Batik, sampai maskapai yang logonya singa itu pun tidak ada yang tersisa sampai lusa!" Nana menunjukkan layar ponselnya.

"Kita... kita terjebak di Bali, Pak."

Abian memijat pangkal hidungnya, menghela napas panjang yang terdengar sangat frustrasi. "Sial. Ini semua karena kamu tidak punya persiapan, Haruna."

"Lho, kok saya? Bapak yang tidak kasih instruksi!" protes Nana berani.

Abian terdiam sejenak, lalu menatap Nana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jadi... kita harus tinggal di sini dua hari lagi?"

Nana mengangguk pelan. "Sepertinya begitu, Pak. Kecuali Bapak mau pulang naik kapal feri terus sambung bus antar kota selama dua puluh jam."

Abian membayangkan dirinya duduk di bus ekonomi yang panas. "Tidak mungkin. Ya sudah, pesan kembali kamar hotel kita. Jangan sampai kita luntang-lantung di lobi."

Nana seketika tersenyum lebar, rasa kantuknya hilang. "Yes! Akhirnya bisa jalan-jalan!" batinnya bersorak.

Beruntung bagi Nana, meski tiket pesawat ludes, hotel tempat mereka menginap masih memiliki beberapa kamar kosong karena ada tamu yang membatalkan pesanan. Akhirnya, mereka resmi menambah masa tinggal dua hari lagi di Bali.

Malam harinya, suasana Bali terasa begitu hidup. Suara deburan ombak berpadu dengan musik sayup-sayup dari kafe di pinggir pantai. Nana yang sudah bosan setengah mati di dalam kamar, memutuskan untuk mengetuk pintu penghubung.

Tok tok tok!

"Pak Abian? Bapak sudah tidur?" tanya Nana.

Pintu terbuka, memperlihatkan Abian yang masih sibuk dengan laptopnya di atas meja kerja. Kacamata bertengger di hidungnya.

"Ada apa lagi, Haruna? Saya sedang memeriksa laporan triwulan," ucap Abian tanpa menoleh.

"Jalan-jalan keluar yuk, Pak? Cari udara segar atau sekadar makan gelato di jalanan. Masa di Bali cuma lihat layar laptop terus," ajak Nana antusias.

Abian melirik Nana sekilas, lalu kembali ke layar. "Tidak. Saya lelah. Kalau kamu mau jalan-jalan, silakan sendiri. Tapi jangan jauh-jauh dan jangan pulang di atas jam sepuluh."

Nana mengembuskan napas panjang, bahunya merosot. "Bapak benar-benar definisi orang paling membosankan sedunia. Padahal di luar sana suasananya enak banget, Pak."

"Keputusan saya sudah bulat. Saya tidak mau membuang energi untuk hal yang tidak produktif," jawab Abian datar.

Nana mendengus kesal. "Ya sudah kalau Bapak tidak mau. Saya pergi sendiri saja. Jangan kangen ya, Pak!"

Nana langsung berbalik dan menuju lemarinya. Karena udara malam di pantai Bali terkadang cukup menusuk, ia memilih pakaian yang nyaman. Ia mengenakan Hoodie berwarna abu-abu yang agak kebesaran dan celana panjang jogger hitam. Ia menguncir rambutnya asal, mengambil tas kecil, dan langsung melesat keluar kamar.

Abian sempat mencuri pandang saat Nana berjalan menuju pintu keluar. Penampilan Nana yang tertutup rapat dari atas sampai bawah entah kenapa membuatnya merasa lebih tenang daripada melihat Nana memakai kaos ketat sore tadi.

"Dasar gadis keras kepala," gumam Abian setelah pintu tertutup.

Namun, baru lima menit Nana pergi, Abian mulai tidak fokus. Ia menatap layar laptopnya, tapi pikirannya melayang.

"Dia pergi sendiri? Di tempat asing seperti ini? Bagaimana kalau ada orang mabuk yang mengganggunya? Atau bagaimana kalau dia bertemu pria parasit sejenis Rian lagi di sana?"

Abian menutup laptopnya dengan keras. Ia berdiri, mengambil kunci kamar dan jaketnya.

"Sial. Kalau dia hilang, saya yang repot cari asisten baru," dalihnya pada diri sendiri, padahal jantungnya mulai berdegup khawatir.

Nana duduk di sebuah kursi plastik di warung makan pinggir jalan yang cukup ramai. Aroma sate lilit dan sambal matah yang harum menggoda seleranya.

"Nah, begini dong. Makan di pinggir jalan, kena angin malam, baru namanya liburan," gumam Nana.

Ia tampak sangat asyik, sesekali menyeka keringat tipis di dahi karena sambalnya yang cukup pedas. Tudung hoodienya ia biarkan lepas, memperlihatkan wajahnya yang terlihat polos tanpa make-up.

Tanpa Nana sadari, sebuah mobil hitam pelan-pelan berhenti tidak jauh dari warung tersebut. Di dalamnya, Abian memperhatikan dari balik kaca jendela yang tertutup rapat.

"Dia benar-benar makan di tempat seperti itu?" batin Abian sambil mengerutkan kening. "Higienis tidak ya? Bagaimana kalau besok dia sakit perut."

Abian menyandarkan punggungnya di kursi mobil, terus mengamati dari kejauhan.

"Dasar aneh. Dikasih hotel bintang lima dengan makanan mewah, malah milih makan di atas trotoar," gumam Abian. Namun, sudut bibirnya sedikit terangkat tanpa ia sadari.

Tiba-tiba, dua orang pemuda lokal yang tampaknya agak mabuk berjalan mendekati meja Nana. Mereka mulai mencoba mengajak Nana berbicara, bahkan salah satunya mencoba duduk di samping Nana.

Wajah Nana langsung berubah tegang. Ia mencoba menggeser duduknya dan tersenyum kaku, berusaha menolak dengan sopan.

"Sial," umpat Abian di dalam mobil. Ia tidak menunggu satu detik pun lagi. Abian segera membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan langkah lebar.

Nana yang mulai merasa terdesak mencoba menjauhkan piringnya. "Maaf Mas, saya mau selesai," ucap Nana dengan suara bergetar.

Salah satu pemuda itu justru tertawa dan mencoba menyentuh lengan hoodie Nana. "Buru-buru banget, Neng? Temenin kita dulu dong, mumpung malam masih panjang."

Tepat saat tangan pemuda itu hampir menyentuh Nana, sebuah tangan kekar dan dingin mendarat di bahu Nana, menariknya masuk ke dalam pelukan yang protektif.

"Ada masalah di sini?" suara berat dan rendah itu terdengar sangat mengintimidasi.

Nana mendongak dan terkesiap. Abian berdiri di sana, masih dengan kemeja kantor yang lengannya digulung.

Tatapannya pada kedua pemuda itu tajam seolah ingin melubangi kepala mereka.

"Siapa lu?" tanya salah satu pemuda itu.

Abian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mempererat rangkulannya di bahu Nana, menarik tubuh gadis itu hingga menempel erat di dadanya.

"Saya suaminya," ucap Abian bohong dengan nada yang sangat meyakinkan.

"Kalian punya masalah dengan istri saya?"

Mendengar kata istri, kedua pemuda itu langsung bertukar pandang. Melihat postur tubuh Abian yang tinggi tegap dan tatapan siap membunuh miliknya, mereka akhirnya mundur teratur sambil bergumam minta maaf, lalu pergi menjauh.

Setelah kedua orang itu hilang dari pandangan, Nana segera melepaskan diri dari rangkulan Abian. Jantungnya berdegup sepuluh kali lipat lebih cepat, bukan karena takut pada pemuda tadi, tapi karena aroma parfum wood and musk milik Abian yang masih tertinggal di hidungnya.

"Pak! Bapak kok ada di sini?!" seru Nana sambil menenangkan dadanya yang naik turun.

"Dan tadi apa? Suami? Bapak ngaco ya?"

Abian mengusap telapak tangannya ke celana, berpura-pura santai padahal hatinya juga berantakan. "Tadi itu taktik darurat, Haruna. Kalau saya bilang saya bosmu, mereka tidak akan takut. Malah dikira saya sedang menculik karyawannya."

Nana mengerucutkan bibirnya. "Ya mana saya tahu bakal ada orang mabuk, Pak. Tapi... terima kasih sudah menolong."

"Cepat berdiri. Kita pulang sekarang. Tidak ada bantahan."

"Tapi Pak...."

"Sekarang, Haruna. Atau saya benar-benar akan membuatmu jadi istri saya supaya kamu tidak bisa membantah perintah saya lagi," ancam Abian asal bicara karena emosinya yang sedang campur aduk.

1
Mundri Astuti
wayuluhhhhh keder dah si abi...pantes Nana fasih bhs jepang, lah bapaknya org jepang taunya.

author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!