Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluk Hangat untuk Melsha
Pagi ini adalah hari pertamaku kembali bekerja. Tidak sendiri, aku berangkat bersama kakak ipar sepupuku yang juga ingin mencari peruntungan.
Kebetulan, kemarin aku mendapat informasi bahwa pabrik tempatku bekerja sedang membuka lowongan baru.
"Mbak, sudah siap belum?" tanyaku saat memasuki rumahnya yang hanya berjarak beberapa rumah dari kediaman orang tuaku.
"Sudah, ayo berangkat," sahutnya semangat.
Kami berangkat berboncengan menggunakan motor miliknya. Jalanan pagi itu sudah mulai padat dan ramai. Kami berangkat sekitar pukul 07:12, waktu yang pas agar tiba di sana sebelum jam masuk pukul 08:00.
Setibanya di pabrik, semua karyawan baru dikumpulkan di dalam gedung untuk diperkenalkan satu per satu oleh mandor.
Kakak ipar sepupuku ditempatkan di bagian gudang, sementara aku berada di bagian depan sebagai staf packing yang bertugas membungkus paket-paket pesanan.
Selama bekerja di perusahaan ini, aku tidak pernah terlibat masalah atau mencari kerusuhan.
Rekan-rekan kerja mengenalku sebagai sosok yang pendiam, namun murah senyum dan mudah bergaul. Aku selalu berusaha menjaga kinerjaku agar tetap profesional.
Namun, di tengah kesibukan bekerja, tiba-tiba seorang senior memanggil namaku. Perasaanku mendadak tidak enak dan bingung.
Ada apa ini? Mengapa aku diminta menuju ke ruangan direktur? Seingatku, semua pekerjaanku terselesaikan dengan baik tanpa ada kesalahan.
"Yani, bisa ikut saya sebentar ke ruangan?" pintanya dengan nada serius.
Aku hanya bisa mengangguk pelan sembari menutupi kegugupanku. "Baik, Pak," jawabku sopan sambil sedikit menundukkan kepala, mengikuti langkahnya dengan sejuta pertanyaan di dalam benak.
Di dalam ruangan, aku hanya terdiam. Ada rasa takut untuk memulai pembicaraan lebih dulu, khawatir jika salah kata malah akan berakibat buruk bagiku.
"Yani, duduk sini. Saya mau bicara dengan kamu," ucap Pak Rizky, mandorku. Ia kemudian menoleh ke arah rekan kerjanya, "Yodi, kamu keluar dulu, ya. Jangan ganggu kami bicara."
Setelah Pak Yodi keluar, jantungku berdegup makin kencang. Ini pertama kalinya aku dipanggil ke ruangan seperti ini. "Iya, Pak. Ada apa ya Pak Rizky panggil saya?" tanyaku ragu.
"Duduk dulu, ada yang perlu saya bicarakan," ujarnya tenang. Aku pun duduk di kursi tepat di hadapannya. "Kamu tahu kenapa saya suruh datang ke sini?"
Aku menggeleng pelan. "Saya kurang tahu, Pak."
"Saya panggil kamu ke sini untuk memberikan bonus atas lemburan kamu kemarin. Selain itu, selamat, kamu sekarang terpilih menjadi karyawan tetap. Mulai minggu depan, kamu akan dapat jadwal lembur rutin," ucapnya sambil tersenyum.
Mendengar itu, dadaku terasa plong. Aku kira dipanggil karena melakukan kesalahan, ternyata Pak Rizky menyukai kinerjaku yang penuh semangat. Aku tidak bisa menyembunyikan senyum bahagiaku.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak. Berarti untuk hari ini tidak ada lemburan lagi, kan?" tanyaku memastikan sebelum beranjak.
"Tidak ada. Untuk gaji pokok tetap sama seperti yang lain, tapi bonus ini langsung dari bos untuk karyawan yang berprestasi," paparnya. Aku mengangguk paham.
"Sangat baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."
Begitu keluar dari ruangan dan menuju kantin, teman-temanku langsung mengerumuni dengan tatapan menggoda. "Cie, yang habis dapat bonus!" seru Angel.
"Apaan sih, Ngel? Bonusku tidak sebanyak punyamu kali. Kamu kan sudah jauh lebih senior di sini," balasku menggodanya balik.
"Ahahaha, iya juga ya. Ya sudah, syukuri saja. Nanti juga bakal dapat lebih banyak lagi, yang penting semangat kerjanya!" ujar Angel menyemangati.
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar, lalu beralih ke Mbak Esti, kakak sepupuku. "Oh iya, Mbak, hari ini bawa bekal apa?"
"Aku bawa sayur nangka, tempe goreng, sama sambal," jawabnya.
"Wah, mau dong sayur nangkanya sedikit," pintaku yang langsung disambut anggukan oleh Mbak Esti.
"Nih, ambil saja," katanya sambil menyodorkan kotak bekalnya.
"Sebagai gantinya, ini Mbak coba ayam suirku. Aku masak sendiri lho ini," ucapku sambil memberikan kotak bekalku padanya.
Mbak Esti menatapku tidak percaya. "Oh ya? Memang kamu bisa masak?" tanyanya bercanda.
Aku terkekeh, "Heeh, ya bisalah! Masak aku kalah sama anak kecil?"
"Hahaha, iya, iya, aku percaya kok," sahutnya sambil mencicipi masakanku.
Kami menikmati jam istirahat dengan makan bersama di kantin. Setelah selesai, kami merapikan kotak bekal masing-masing.
Sambil menunggu jam masuk pukul satu siang, suasana kantin tampak beragam, ada karyawan yang asyik bermain ponsel, ada yang mencuri waktu untuk tidur siang, dan ada juga yang berbincang santai sambil tertawa bersama.
Untuk sejenak, aku melupakan semua beban di rumah. Di sini, aku merasa dihargai sebagai manusia.
Dibandingkan mengobrol, aku lebih memilih untuk tidur sejenak. Bagiku, tidur meski hanya beberapa menit sudah lebih dari cukup untuk mengistirahatkan badan dan memulihkan tenaga sebelum kembali menghadapi tumpukan pekerjaan.
Setelah masa istirahat usai, seluruh karyawan pun kembali ke posisinya masing-masing. Suara mesin dan kesibukan pabrik kembali memenuhi ruangan hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat.
Sore harinya saat jam pulang kantor tiba, aku melihat Mbak Esti sudah menungguku di parkiran.
"Loh, Mbak? Kirain malah sudah pulang duluan," tanyaku sedikit terkejut.
"Yah, kalau aku pulang duluan, terus kamu bagaimana nasibnya?" ucapnya sambil menonyor kepalaku pelan, bercanda.
"Hehehe... iya juga sih," sahutku sambil nyengir.
"Ya sudah, ayo buruan naik. Anakku sudah mencariku, kata kakaknya tadi lewat pesan," ujar Mbak Esti mengajakku segera bergegas.
Mbak Esti memang memiliki dua anak perempuan. Yang sulung berusia 12 tahun bernama Citra, dan yang bungsu bernama Aqhilla baru berusia tiga tahun.
Sementara suaminya, Mas Yanto, hari ini sedang bekerja sebagai buruh bangunan. Jadi, selama Mbak Esti bekerja, Citra-lah yang bertugas menjaga adiknya.
Kami pun pulang seperti biasa. Mbak Esti yang mengendalikan kemudi di depan, sementara aku duduk manis membonceng di belakang sambil menikmati angin sore.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di rumah Mbak Esti. Dari sana, aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju rumah orang tuaku.
Langkahku terasa ringan karena hari ini aku membawa kabar baik tentang pekerjaanku.
Setelah sekitar 18 menit berjalan, aku pun sampai di depan rumah. Lelahku seketika luruh saat melihat sosok mungil yang sudah menyambutku di depan pintu.
Anak perempuanku, Melsha, seolah tahu ibunya sudah pulang dari perjuangan mencari nafkah.
"Halo, kesayangan! Mama pulang..." seruku begitu melihat wajah mungil itu di balik pintu.
Melihat Melsha seolah tahu jadwal kepulanganku membuat hatiku meleleh. Begitu matanya menangkap sosokku, binar kebahagiaan terpancar dan dia memberikan senyum paling lebar yang pernah kulihat.
Rasa lelah setelah seharian bekerja di pabrik seketika sirna tanpa sisa. Pelukan kecilnya dan jemari mungilnya yang mencoba menggapai wajahku membuat hatiku penuh sesak oleh cinta.
"Mama sayang banget sama kamu, Nak. Kamu adalah segalanya bagi Mama..." ucapku tulus sembari menggendong, memeluk, dan menghujani pipinya dengan ciuman gemas. Biasanya aku pulang saat dia sudah terlelap, tapi hari ini aku pulang lebih awal dan bisa melihat sambutan sehangat ini.
"Iiiih, gemas banget sih! Muah! Muah!" Saking semangatnya aku menciumi Melsha, dia justru mulai merengek karena merasa terganggu. Mamak yang melihat itu langsung memukul bahuku pelan.
Plakk!
"Sudah, sini! Kasihan anaknya, bukannya senang kamu ciumi, malah kamu bikin dia menangis," omel Mamak. Aku hanya bisa meringis sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Sana mandi dulu! Sini sayang, ikut Nenek," ujar Mamak sambil mengambil alih Melsha dari gendonganku.
"Oke deh, Mama mandi dulu ya, Em—?" Belum sempat aku mencium Melsha sekali lagi, tangan Mamak sudah bersiap siaga untuk "mendarat" lagi di bahuku. Aku pun hanya bisa terkekeh dan segera lari menuju kamar mandi.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Selesai mandi, aku dikejutkan oleh kedatangan dua orang tamu asing yang mengenakan jas hitam dan membawa tas kantor.
Penampilan mereka sangat formal namun terasa mengintimidasi. Aku segera mempersilakan mereka duduk dengan perasaan waswas.
"Maaf, mencari siapa ya, Pak?" tanyaku sopan.
"Iya Bu, kedatangan kami ke mari ingin mencari yang namanya Ahmad. Apakah Ibu kenal dengan beliau?" tanya salah satu dari mereka. Aku sempat bingung, namun tetap mencoba waspada.
"Iya, itu suami saya. Ada apa ya Pak, kalau boleh tahu?"
"Jadi begini, Bu. Beliau memiliki tanggungan hutang kepada perusahaan kami sebesar tiga juta rupiah. Dan sampai saat ini, hutang tersebut belum dikembalikan sepeser pun," jelasnya tegas.
Mendengar itu, aku dan Mamak tersentak kaget. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Tiga juta? Dari mana dia meminjam uang sebanyak itu dan digunakan untuk apa?
Beruntung saat itu Bapak sedang tidak di rumah. Jika Bapak ada, aku yakin kedua penagih hutang ini tidak akan disambut dengan kepala dingin.
"Bukannya saya bermaksud menyembunyikan suami saya, Pak. Tapi jujur, saya memang tidak tahu dia ada di mana, bersama siapa, atau sedang apa sekarang. Kami sudah lama pisah ranjang," terangku apa adanya.
Aku tidak ingin melindungi orang yang bahkan tidak memikirkan nasib anak istrinya. Aku sudah benar-benar lepas tangan dan tidak mau tahu lagi tentang urusan Ahmad. Mendengar kejujuranku, kedua pria berjas itu tampak mengerti.
"Oh, begitu ya, Bu. Kalau begitu, kami permisi dulu," ucap salah satunya. Aku hanya mengangguk singkat melepas kepergian mereka.
Setelah bayangan mereka menghilang dari pagar, aku segera masuk ke dapur untuk makan malam, mencoba mengabaikan rasa muak yang kembali muncul akibat ulah suamiku.
Selesai makan, barulah aku memiliki waktu berkualitas dengan putri kecilku. Setelah berminggu-minggu didera jadwal lembur yang padat hingga hampir tak punya waktu bermain, malam ini adalah momen yang sangat berharga.
Namun, baru sebentar kami bercanda, Melsha mulai memegang botol susunya sambil mengucek-ngucek matanya yang mungil.
"Oh, anak Mama ternyata sudah mengantuk ya? Yuk, sini Mama susui," ucapku lembut. Aku segera membawanya ke tempat tidur, merebahkannya dengan hati-hati sambil memberikan susu.
Kupandangi wajah tenangnya yang perlahan mulai terlelap. Rasanya damai sekali melihatnya seperti ini. "Tidurlah, sayangku cantik. Mama akan memelukmu dengan erat supaya kamu tidur nyenyak dan merasa nyaman.
Semoga mimpimu indah, kelak tumbuh menjadi perempuan yang pintar dan bahagia. Mama mencintaimu selamanya, putri kesayangan Mama," bisikku lirih sambil mengecup keningnya dengan penuh kasih.
Di saat seperti ini, aku semakin sadar bahwa Melsha adalah satu-satunya alasan bagiku untuk terus berjuang, meski badai masalah yang dibawa ayahnya tak kunjung reda.
Bersambung...