NovelToon NovelToon
Gelang Giok Pembawa Rezeki

Gelang Giok Pembawa Rezeki

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir / CEO / Ruang Ajaib
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Keputusan Besar

Sabtu pagi, Suyin bangun dengan tekad bulat. Setelah semalam mikir panjang—bahkan sampai mimpi tentang kebun sayuran raksasa—ia sudah ambil keputusan.

Ia akan terima tawaran dari Bu Lina.

"Ini kesempatan yang nggak datang dua kali," gumamnya sambil meraih ponsel. Jam baru menunjukkan pukul enam pagi, tapi Suyin sudah segar bugar—efek minum air ajaib setiap hari.

Sebelum menghubungi Bu Lina, Suyin harus pastikan dulu bahwa ia benar-benar sanggup memenuhi pesanan rutin. Itu berarti harus produksi massal di ruang dimensi.

Tanpa buang waktu, ia langsung masuk ke ruang dimensi.

WUSH!

Pagi di dalam ruang dimensi terasa lebih cerah dari biasanya. Matahari—atau apapun sumber cahaya di langit dimensi ini—bersinar hangat. Udara segar dengan aroma tanah dan rumput basah menyambut.

Suyin berjalan cepat ke area tanaman. Sayuran yang ditanam kemarin pagi sudah tumbuh setinggi lima sentimeter—kecambah sehat berwarna hijau segar.

"Dua hari lagi bisa panen," perkiranya sambil menyiram satu per satu dengan gembor.

Tapi dua hari nggak cukup kalau mau mulai supply ke restoran Senin depan. Ia harus tanam LEBIH BANYAK sekarang.

Suyin menggulung lengan baju, mengambil cangkul, dan mulai kerja.

Area tanah kosong yang masih luas—sekitar setengah hektar—ia bagi jadi beberapa zona:

Zona 1: Tomat (5 bedengan besar)

Zona 2: Sayuran daun - sawi, kangkung, bayam (10 bedengan)

Zona 3: Selada berbagai jenis (8 bedengan)

Zona 4: Sayuran eksotis - kale, arugula, pak choy (6 bedengan)

Zona 5: Cabai dan terong (4 bedengan)

Total: 33 bedengan baru!

Suyin bekerja seperti kerasukan. Mencangkul, menggemburkan tanah, membuat bedengan, menanam benih satu per satu, menyiram... Tangannya kotor penuh tanah, keringat bercucuran—tapi ia nggak peduli.

Di dalam ruang dimensi, waktu berjalan berbeda. Yang terasa seperti enam-tujuh jam kerja keras, di luar baru berlalu sekitar empat puluh menit.

Saat selesai, Suyin berdiri di tengah "ladang" barunya yang luas. Puluhan bedengan tersusun rapi, tanah masih basah dari siraman air ajaib. Pemandangan yang memuaskan.

"Ini... ini kebun beneran," ucapnya sambil tersenyum bangga. "Bukan lagi hobi nanem-nanem di balkon. Ini agrobisnis!"

Ia duduk di kursi lipat dekat mata air, minum air ajaib untuk pulihkan tenaga. Tubuh yang tadi capek langsung segar kembali dalam hitungan detik.

Suyin menatap keliling ruang dimensinya. Dua hektar yang dulunya sebagian besar kosong, sekarang mulai penuh dengan tanaman. Masih ada area kosong sih, tapi sudah jauh lebih produktif.

"Dengan percepatan waktu sepuluh kali lipat, tiga hari di luar sama dengan tiga puluh hari di sini. Cukup untuk sebagian besar sayuran dari benih sampai panen," hitungnya dalam hati.

Berarti Senin depan—empat hari lagi waktu nyata—sebagian besar tanaman sudah bisa dipanen!

"Perfect," gumamnya puas.

Sebelum keluar, Suyin sempatkan cek gudang penyimpanan. Rak-rak kayu sudah ia tata lebih rapi kemarin, dengan label untuk setiap jenis sayuran. Ada juga timbangan digital yang dibawa dari apartemen untuk nimbang hasil panen.

Semua sistemnya mulai proper. Nggak asal-asalan lagi.

Dengan perasaan optimis, Suyin keluar dari ruang dimensi.

Kembali di apartemen, jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Suyin langsung mandi—badan kotor banget—lalu ganti baju santai.

Pukul delapan, ia menelepon nomor yang tertera di kartu nama Bu Lina.

Nada sambung... dua kali... tiga kali...

"Halo, Lina's Organic Kitchen, dengan Lina," jawab suara perempuan ramah di seberang.

"Selamat pagi, Bu Lina. Saya Lin Suyin. Bibi Wang sudah sampaikan tentang pesanan sayuran?"

"Oh, Mbak Suyin! Iya, sudah! Bagaimana? Apakah Mbak bisa terima pesanan rutin dari saya?" suara Bu Lina terdengar excited dan penuh harap.

Suyin menarik napas. "Saya bisa, Bu. Tapi ada beberapa syarat yang perlu kita sepakati."

"Oke, silakan."

"Pertama, pesanan harus di-order minimal tiga hari sebelumnya. Saya butuh waktu persiapan panen."

"Tidak masalah. Saya biasanya planning menu seminggu sebelumnya."

"Kedua, kalau ada perubahan pesanan mendadak atau pembatalan, harus konfirmasi H-2. Karena sayuran organik fresh, nggak bisa disimpan lama."

"Mengerti. Setuju."

"Ketiga, harga yang Ibu tawarkan kemarin—tomat Rp 15.000 per kg, sayuran daun Rp 20.000 per kg, selada Rp 12.000 per kepala—saya setuju. Tapi pembayaran harus lunas saat delivery."

"Deal! Saya juga lebih nyaman cash on delivery."

Suyin tersenyum lega. "Kalau begitu, kita mulai dari minggu depan ya, Bu. Ibu bisa kasih detail pesanan pertamanya?"

Mereka menghabiskan sepuluh menit berikutnya membahas detail: jenis sayuran apa saja, berapa banyak, jadwal delivery—setiap Senin dan Kamis pagi jam sembilan ke restoran.

Setelah tutup telpon, Suyin langsung catat semua di notes ponsel. Total pesanan pertama:

Tomat: 10 kg

Sawi hijau: 3 kg

Kangkung: 3 kg

Bayam: 2 kg

Selada romaine: 15 kepala

Arugula: 1 kg (sayuran premium, Bu Lina mau coba)

Estimasi pemasukan per delivery: Rp 650.000

Dua kali seminggu berarti Rp 1.300.000 per minggu, atau sekitar Rp 5.200.000 per bulan dari satu restoran!

Suyin menatap angka itu dengan mata melebar. Lima juta sebulan. Hampir sama dengan gaji kantornya!

"Gila..." bisiknya. "Ini baru satu restoran. Kalau Bu Lina beneran rekomendasiin ke restoran lain..."

Potensinya unlimited.

Tapi Suyin cepat-cepat mengingatkan diri sendiri: jangan terlalu excited. Satu-satu dulu. Buktikan dulu bisa konsisten supply ke Bu Lina.

Siang itu, Suyin pergi ke supermarket buat beli perlengkapan packing—plastik ziplock ukuran besar, box kardus untuk delivery, label stiker, spidol permanen. Semua untuk bikin packaging lebih profesional.

Di kasir, total belanja Rp 250.000. Investasi lagi, tapi necessary.

Sepulang dari supermarket, Suyin mampir ke apartemen Bibi Wang untuk kasih kabar.

"BI WANG! Aku terima tawaran Bu Lina!" serunya begitu Bibi Wang buka pintu.

"BENARAN?! Alhamdulillah!" Bibi Wang langsung peluk Suyin. "Aku tahu kamu pasti bisa!"

"Makasih banyak ya, Bi, udah bantuin aku connect sama Bu Lina. Ini komisi buat Bibi." Suyin menyodorkan amplop berisi Rp 200.000.

Bibi Wang menggeleng keras. "Nggak usah, Suyin! Aku nggak bantu karena mau komisi. Aku seneng banget lihat kamu berkembang gini!"

"Bi, please. Anggap ini terima kasih. Bibi udah kayak keluarga sendiri buat aku."

Akhirnya setelah dipaksa-paksa (dengan lembut), Bibi Wang menerima. Tapi dengan syarat: uangnya akan dipake buat beliin makanan buat Suyin yang suka lupa makan kalau sibuk.

"Deal!" Suyin tersenyum.

Mereka ngobrol sebentar—Bibi Wang kasih tips-tips jualan, cerita soal ibu-ibu arisan yang pada penasaran gimana Suyin bisa produksi sayuran sebagus itu.

"Aku cuma bilang kamu punya supplier rahasia," kata Bibi Wang sambil tertawa. "Biar misterius!"

"Bagus, Bi! Biar nggak banyak yang tanya-tanya."

Sore hari, Suyin balik ke apartemen dan langsung eksekusi packaging.

Ia keluarkan semua tomat dan sayuran sisa dari kulkas—hasil panen sebelumnya yang masih ada. Sortir yang masih segar, buang yang mulai layu (untung cuma sedikit).

Lalu mulai packing satu per satu dengan plastik ziplock, kasih label tulisan tangan: "Lin's Organic Farm - Tomat Cherry" atau "Lin's Organic Farm - Sawi Hijau".

"Lin's Organic Farm..." Suyin mengulang nama yang baru aja ia bikin dadakan itu. "Sounds legit!"

Ia bahkan bikin cap stempel improvisasi dari kentang yang diukir—teknik yang dilihat di YouTube—untuk stempel logo sederhana: huruf "L" di dalam kotak.

Hasilnya... lumayan! Nggak se-profesional brand besar sih, tapi jauh lebih rapi dari sebelumnya.

Suyin foto hasil packagingnya, post di status WhatsApp dengan caption: "Lin's Organic Farm - Fresh from the garden! Pre-order available 🌱"

Dalam lima menit, banyak yang reply: teman kantor, mantan teman kuliah, bahkan sepupu jauh yang biasanya nggak pernah kontak.

Mira (teman kantor): "Suyin, aku mau pesen tomat 2 kg! Kapan bisa diambil?"

Dina (teman kantor): "Wah sekarang udah ada brand-nya! Keren! Aku mau pesen sayuran paket lengkap!"

Tante Susan (tante jauh): "Nak, ini sayuran organik beneran? Tante mau coba dong. Tante lagi diet."

Pesanan mulai berdatangan lewat chat. Suyin sampai kewalahan bales satu-satu.

Dalam satu jam, total pre-order mencapai:

15 kg tomat

20 ikat sayuran campur

30 kepala selada

Estimasi pemasukan: sekitar Rp 850.000!

"Oh my God..." Suyin terduduk di sofa, menatap ponsel yang nggak berhenti bunyi notifikasi. "Ini... ini meledak!"

Ia seneng sih, tapi juga mulai overwhelmed. Bisa nggak ya produksinya ngejar demand sebanyak ini?

Suyin langsung masuk ke ruang dimensi untuk cek ulang.

WUSH!

Tanaman-tanaman yang ditanam pagi tadi sudah tumbuh lebih besar—kecambah setinggi sepuluh sentimeter. Sayuran yang ditanam beberapa hari lalu sudah mulai bisa dipanen dalam dua hari ke depan.

"Kalau kerja extra hard weekend ini..." Suyin menghitung dalam hati. "Harusnya bisa penuhi semua pesanan."

Tapi itu berarti ia harus spend hampir semua waktu weekend di ruang dimensi. Nggak masalah sih—toh nggak ada rencana lain juga.

"Oke. Weekend ini full farming mode. Let's do this!"

Suyin menghabiskan sisa sore itu—atau lebih tepatnya, berjam-jam di waktu ruang dimensi—untuk menanam lebih banyak lagi benih, menyiram semua tanaman, bahkan mulai eksperimen dengan pupuk organik yang dibeli dari toko pertanian.

Ternyata pupuk organik di ruang dimensi efeknya jadi berkali-kali lipat. Tanaman yang diberi pupuk tumbuh lebih cepat dan lebih subur.

"Noted. Pupuk organik \= wajib!" catat Suyin di notes ponsel.

Saat keluar dari ruang dimensi, hari sudah malam. Jam menunjukkan pukul delapan.

Suyin langsung pesan makanan delivery—nasi goreng seafood dan es teh manis—karena laper banget. Sambil nunggu makanan datang, ia cek ponsel.

Ada pesan dari nomor nggak dikenal.

Nomor tak dikenal: "Ms. Lin, ini Xiao Zhen. Klien proyek Pondok Indah kemarin. Saya sudah transfer DP. Mohon cek email untuk detailnya. Terima kasih."

Xiao Zhen... nama itu langsung bikin Suyin ingat klien misterius yang menatap gelang gioknya dengan tatapan aneh kemarin.

Ia buka email—benar, ada email dari perusahaan Xiao Corporation dengan attachment kontrak dan bukti transfer DP sebesar Rp 50.000.000.

Lima puluh juta!

Suyin hampir jatuh dari sofa.

Itu DP untuk proyek desain interior rumah mewahnya. Berarti proyek jalan, dan Suyin kebagian komisi lumayan dari kantor.

Tapi yang bikin Suyin merinding—di bagian bawah email ada PS:

"PS: Gelang Anda sangat menarik. Saya kebetulan mengenal seorang kolektor barang antik. Kalau Anda tertarik untuk appraisal, saya bisa bantu connect. - XZ"

Suyin menatap layar ponsel lama.

Xiao Zhen... kenapa dia masih mikirin gelangnya?

"Suspicious," gumam Suyin sambil menggenggam gelang giok di tangannya.

Tapi sebelum ia sempat overthinking, bel apartemen berbunyi—makanan delivery sudah datang.

Suyin memutuskan untuk nggak balas email Xiao Zhen dulu. Fokus ke bisnis sayuran. Klien misterius bisa dipikirkan nanti.

Malam itu, sambil makan nasi goreng, Suyin bikin to-do list untuk minggu depan:

TO-DO LIST:

✅ Panen massal Minggu sore

✅ Packing semua pesanan Minggu malam

✅ Delivery ke Bu Lina Senin pagi

✅ Delivery ke pre-order customer Senin siang

✅ Tanam ulang untuk panen berikutnya

✅ Cari supplier packaging yang lebih murah

✅ Riset cara promote Lin's Organic Farm

Dan satu item terakhir yang ia tulis dengan ragu:

✅ Cari tahu siapa sebenarnya Xiao Zhen

Suyin menatap item terakhir itu lama.

Ada sesuatu tentang pria itu. Sesuatu yang bikin instingnya waspada... tapi juga penasaran.

"Nanti aja deh mikirin dia," putusnya sambil coret item terakhir. "Sekarang fokus yang penting dulu."

Ia menghabiskan makan malam, mandi, lalu tidur lebih awal—besok akan jadi hari yang panjang dan melelahkan.

Tapi Suyin tidur dengan senyum di wajah.

Hidupnya berubah total. Dari desainer interior biasa jadi petani dimensi dengan bisnis yang mulai booming.

Dan ini baru awal.

Masih banyak petualangan—dan mungkin bahaya—yang menunggu di depan.

Tapi Suyin siap.

Dengan gelang giok di tangannya dan tekad di hatinya, ia siap menghadapi apapun.

1
Andira Rahmawati
nemu cerita bagus nihhh paling suka baca novel yg fantasi apalagi yg ada ruang ajaibnya👍👍👍
Diah Susanti
diatas dibilang 'putri adik nenek' yang menurutku maknanya 'bibinya suyin'. tapi disini dia menyebutkan dirinya 'cucunya juga'🤔🤔🤔🤔
Wahyu🐊: Anda Terlalu Teliti😅🙏 Nanti Aku Revisi Kalau Udah Tamat Masih Panjang Perjalanan nya
total 1 replies
Wahyu🐊
Nanti aku Revisi Oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!